Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak Pelaku
“Kamu kenal di mana?” Nada suara Eris terdengar cemburu.
“Aku tidak kenal. Hanya saja aku pernah melihatnya, kemarin di klub Butterfly. Namanya Riri kalau tidak salah. Dia bekerja sebagai LC di klub itu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ada jin yang mengikutinya. Dia menyukai perempuan itu. Namanya Jongkok, eh … Jongko eh … ah pokoknya mirip seperti itulah.”
“Jung Kook?” tanya Eris.
“Nah iya, Jung Kook. Tapi di mana dia?”
Pandangan Ahqam beredar, mencoba mencari sosok Jung Kook. Namun dia tidak menemukannya.
“Sebaiknya kamu beritahu Asep dan Nino soal Riri. Biar aku yang menemuinya.”
Secepat kilat Ahqam kembali ke dekat Nino dan Asep. “Nama korban itu adalah Riri. Dia bekerja sebagai LC di klub Butterfly.”
“Kamu yakin?” tanya Nino.
“Ya. Aku bertemu dengannya semalam. Ada salah satu kaumku yang mengikutinya. Dia menyukai Riri. Sepertinya aku akan mencarinya dulu.”
Tanpa menunggu persetujuan Nino dan Asep, Ahqam langsung menghilang. Sontak duo kancing cetet itu saling berpandangan. “Tumben si Ahqam punya inisiatif. Biasanya harus perang urat saraf dulu.”
“Jangan-jangan si Ahqam naksir,” celetuk Nino.
“Sssttt … jangan asal ngomong. Kalau si Eris dengar bisa berabe. Mereka bucin aja kita puyeng, apalagi kalau mereka ribut.”
“Oh iya,” Nino terkekeh setelahnya.
Nino menemui beberapa personel yang masih berada di lokasi. “Cari tahu siapa pemilik bangunan ini,” perintah Nino pada salah satu personel.
“Siap.”
“Coba tanyakan pada warga sekitar, apakah mereka melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan semalam.”
“Siap.”
“Tempatkan dua orang personel untuk menjaga tempat ini.”
“Siap.”
Setelah itu, Nino dan Asep segera meninggalkan lokasi. Mereka akan menuju ATCS untuk melihat rekaman CCTV saat malam hingga dini hari.
Selang lima belas menit kemudian keduanya sudah tiba di kantor ATCS. Setelah melapor ke bagian pelayanan, mereka diarahkan menuju ruang kontrol.
Keduanya berbincang sebentar dengan kepala seksi yang membawahi bagian manajemen rekayasa dan pengendalian lalu lintas.
Pria itu kemudian memanggil supervisor yang bertanggung jawab atas ruang kontrol. Seorang pria yang tingginya hampir sama dengan Nino mendekat.
“Perkenalkan, ini Anindito, biasa dipanggil Dito. Dia supervisor di ruang kontrol ini. Dia yang akan membantu kalian mencarikan rekaman yang dibutuhkan.”
“Terima kasih, Pak.”
Pria bernama Anindito itu langsung memperkenalkan diri. Anindito adalah sosok yang ramah. Dia segera memandu Nino dan Asep. Keduanya dipersilakan duduk di depan layar monitor yang tersusun menjadi satu layar besar.
“Rekaman di daerah mana yang ingin dilihat?” tanya Anindito.
“Daerah Braga, dekat klub Butterfly.”
“Waktunya?”
“Sekitar jam sebelas malam sampai jam tiga dini hari.”
Jari Anindito bergerak lincah di atas keyboard. Dalam waktu singkat, dia sudah berhasil mendapatkan beberapa rekaman CCTV yang berada di sekitar TKP.
Satu jam berlalu. Namun, tidak ada satu pun rekaman yang mereka periksa menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.
Keduanya memutuskan memperluas lokasi pencarian. Asep mengucek matanya yang terasa perih karena terus-menerus menatap layar monitor.
Nino meregangkan tubuhnya sejenak. Mata pria itu juga terasa lelah karena sedari tadi terus memperhatikan layar monitor.
Keduanya tetap bertahan di ruang kontrol, berharap ada petunjuk pelaku pembunuhan.
Selama dua jam mereka berada di ruang kontrol, tetapi tidak ada yang bisa didapat. Di setiap rekaman CCTV yang mereka amati, tidak ada tanda-tanda pelaku pembunuhan. Keduanya pun meninggalkan gedung ATCS tanpa hasil.
“Mustahil kalau jejaknya tidak ada sama sekali,” ujar Asep setelah berada di dalam mobil.
“Mungkin dia berhasil meretas sistem ATCS,” jawab Nino sambil menyalakan mesin mobil.
“Ya, hanya itu penjelasan masuk akal. Bagaimana kalau kita temui Dipta? Siapa tahu dia bisa memulihkan rekaman yang dihapus.”
“Ide bagus.”
Nino segera menjalankan kendaraan roda empatnya. Pria itu mengarahkan mobil menuju Grand Amaris, gedung apartemen tempat Pradipta tinggal.
***
Atas perintah Nino, Gilang diantarkan pulang oleh petugas yang berada di TKP. Begitu tiba di kontrakan Nino dan Asep, Prisa membaringkan tubuh Gilang di kasur lalu segera keluar dari raganya. Pemuda itu langsung tertidur begitu Prisa keluar dari raganya.
Cukup lama Gilang tertidur, hampir dua jam lamanya. Perlahan pemuda itu membuka matanya. Pelan-pelan dia menegakkan tubuhnya. Dengan mata setengah terpejam, dia melihat sekeliling.
“Kok gue bisa di rumah Pak Nino,” gumam Gilang pelan.
Gilang mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Setelah beberapa saat dia berhasil mengingat apa yang terjadi. Selesai kuliah, Prisa dan Nilan mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya. Namun dirinya pergi ke toilet lebih dulu.
Selesai menuntaskan hajat, saat akan meninggalkan toilet, Prisa dan Nilan muncul. Mereka membawa hantu lain yang ingin bertemu dengannya.
Secepat kilat Gilang keluar dari kamar. Begitu sampai di ruang tengah, tampak Eris, Prisa dan Nilan sedang berkumpul. Di antara mereka ada sosok lain. Sosok yang dilihatnya di toilet kampus tadi.
“Akhirnya kamu bangun juga, Lang,” ujar Nilan.
“Dia siapa?” Gilang menunjuk pada Riri. Dia masih takut berada di dekat arwah baru yang wujudnya terlihat menakutkan.
“Ri, kamu bisa ubah wujudmu?” tanya Eris yang menyadari ketakutan Gilang.
Tanpa berlama-lama, Riri langsung mengubah penampilannya. Sekarang yang terlihat wujud asli Riri sebelum pembunuhan terjadi. Melihat perubahan wujud Riri, ketakutan Gilang perlahan menghilang. Dia duduk di sofa, dekat dengan Eris.
“Kenalkan ini Riri, dia juga korban pembunuhan sepertiku,” Nilan langsung mengenalkan Riri kepada Gilang.
Gilang melemparkan senyuman tipis. Riri memang cantik, tetapi dia bukan perempuan biasa melainkan arwah penasaran. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melihat sekelilingnya. Semua yang bersamanya merupakan makhluk astral.
“Dia sama sepertiku. Korban pembunuhan dan pelakunya juga sama,” ujar Nilan membuyarkan lamunan Gilang.
“Yang benar?” tanya Gilang terkejut.
“Iya. Luka yang dialaminya sama denganku dan pelakunya juga memakai topeng Rahwana.”
“Apa kamu sudah bilang pada Pak Nino dan Pak Asep?”
“Sudah.”
“Kamu nggak bisa lihat apa gitu pas berhadapan dengan dia?”
Riri menggeleng pelan. Wajah arwah itu kembali sendu. Dia teringat pada ibunya yang sedang sakit. Pasti sekarang wanita itu sedang bertanya-tanya tentang keberadaannya.
“Astaghfirullah!”
Gilang terlonjak ketika tiba-tiba Ahqam muncul di dekatnya. Meski sudah pernah melihat Ahqam sebelumnya, tetapi pemuda itu masih belum terbiasa melihat penampakan Ahqam yang menyeramkan.
Tubuhnya tinggi besar,dengan rambut panjang yang dikuncir setengah, seperti pendekar zaman dulu.
“Kamu sudah berhasil menemukan Jung Kook?” tanya Eris.
“Belum,” jawab Ahqam sambil menggeleng.
“Jung Kook siapa?” tanya Gilang penasaran.
“Dia jin yang menyukai Riri. Dia sering mengikuti dan mengawasi Riri.”
“Kalau dia jin dan sering mengikuti Riri, kenapa dia tidak bisa menolongnya saat dibunuh?”
Refleks Gilang menutup kepalanya saat Ahqam mengarahkan tinjunya. Namun tinju jin itu hanya menembus kepalanya saja. Tidak bisa menyakiti sedikit pun. “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?” tanya Ahqam santai.
“Ya tinggal bilang, nggak usah diperagain!” sewot Gilang. “Bikin jantungan aja.”
“Kamu tuh jadi laki-laki penakut banget. Dikit-dikit pingsan, bikin repot orang.”
“Ya gimana nggak pingsan kalau penampakannya nyeremin kayak kamu. Ngaca sana! Nggak malu apa sama Eris? Dia tuh cantik. Kok mau sih sama jin buluk kayak kamu.”
Mata Ahqam langsung melotot. Warna matanya berubah merah seiring dengan wajahnya yang memerah.
Eris langsung menenangkan kekasihnya itu. Usapan lembut di punggung Ahqam berhasil meredakan emosinya.
Pada saat bersamaan Nino dan Asep tiba. Setelah memberikan perintah pada Pradipta, keduanya memutuskan kembali ke rumah.
Suasana menjadi lebih tenang setelah kedatangan Nino dan Asep. Nino meminta Riri mendekat padanya.
“Siapa namamu?”
“Riri.”
“Coba sentuh keningku. Aku ingin melihat kejadian saat pelaku itu membunuhku.”
Riri melihat pada Nilan sebentar. Melihat anggukan Nilan, Riri pun mengarahkan telunjuknya ke kening Nino. Ketika telunjuknya menyentuh kening Nino, cahaya putih langsung mengelilingi pria itu.
***
Gilang berani amat sama Ahqam🤣
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/