Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai
Di usia kehamilannya yang mulai menginjak ke lima bulan, Namira terpeleset dari tangga di rumah majikannya. Alhasil dia mengalami pendarahan yang menyebabkan keguguran.
Mama Sofia dan Dava sangat terpukul atas kehilangan janin di rahim Namira. Sebab itu satu-satunya yang bisa menyatukan Namira dengan Dava. Namun bagi Namira, di satu sisi ia sedih karena kehilangan anaknya, tapi di sisi lain Tuhan tengah memberi jalan yang terbaik untuk dirinya, supaya ia bisa terlepas dari Dava.
Sementara majikannya merasa bersalah atas keguguran Namira. Sebab beliau yang meminta untuk Namira kerja di hari itu. Padahal sebelumnya beliau meminta agar Namira berhenti sementara ketika dia sedang hamil. Biaya rumah sakit Namira pun di tanggung olehnya.
Pada akhirnya, Namira kembali memproses perceraiannya dengan Dava. Sebab tidak ada hal lain yang bisa ia pertahankan untuk hubungan ini. Ia tidak lagi memberi kesempatan untuk pria itu, cukup sekali saja. Ia tidak ingin tersakiti dua kali.
***
Satu bulan pasca keguguran, pihak pengadilan agama memberi tahu jika proses perceraian hampir selesai. Tidak ada mediasi, Namira tidak menginginkannya.
Sampai akhirnya mereka pun resmi bercerai. Mama Sofia kecewa atas keputusan Namira, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apapun untuk itu, sebab Namira tidak salah di sini. Putranya lah yang tidak tahu diri.
Mama Sofia memeluk erat Namira di halaman parkir pengadilan agama. Sangat berat untuk melepaskan menantu seperti Namira. Sampai kapanpun, mama Sofia akan tetap menganggap Namira bagian dari keluarganya.
"Mama hargai keputusan kamu, meskipun mama kecewa. Tapi apapun keputusan kamu itu pasti yang terbaik. Mama do'akan semoga kamu mendapat kebahagiaan di luar sana, Namira," ucap mama Sofia usai melepaskan pelukannya.
Namira mengangguk. Ia pun sedih sekaligus terharu memiliki mertua sebaik mama Sofia.
"Maafin aku ya, ma. Aku benar-benar udah gak bisa buat mempertahankan rumah tangga aku sama mas Dava," ucap Namira.
"Iya, mama ngerti, sayang. Dan mama yakin kamu juga pasti berat untuk memutuskan ini. Mama harap kamu mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik dari Dava. Mama juga berharap Dava bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jujur, mama masih berharap kalian bisa bersatu lagi suatu hari nanti oleh keajaiban. Tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. Berharap yang terbaik untuk semuanya."
"Aku minta maaf kalau selama aku jadi menantu mama, aku menyakiti hati mama baik di sengaja atau tidak. Maaf juga belum bisa jadi menantu yang seperti mama idamkan."
"It's okay, Namira. Kamu menantu mama yang sangat perfect. Justru mama yang minta maaf kalau selama mama jadi mertua mama, mama yang bisa jadi melukai hati kamu. Mama yang selalu terburu-buru meminta cucu yang tanpa mama sadari itu menyakiti perasaan kamu."
Namira mengangguk, lekas menyeka sisa air mata di pipinya. Pandangannya kemudian beralih pada pria yang menunggu mama Sofia di kejauhan. Raut wajah pria itu menyimpan banyak sekali penyesalan. Akan tetapi itu tidak akan pernah merubah keputusan dirinya.
Namira mendapati pesan masuk dari driver taksi online yang ia pesan jika driver sudah sampai di titik dimana ia memberi lokasi.
"Ma, taksi aku udah datang. Aku pergi duluan, ya. Salam untuk papa," pamit Namira.
"Iya, hati-hati, ya. Sampai bertemu lagi, Namira. Mama harap kamu tidak akan pernah melupakan mama, Dava juga."
Namira mengangguk. Kemudian pergi karena drivernya mengirim pesan lagi.
Mama Sofia menatap punggung kepergian Namira. Ia baru saja kehilangan sosok orang yang begitu baik akibat kesalahan putranya.
_Bersambung_