Sebelum lanjut, sebaiknya baca terlebih dahulu novel sebelumnya (Goodbye Daddy See You Again) biar nyambung ceritanya.
Mengisahkan tentang seorang wanita jenius memilih jadi ibu rumah tangga untuk mengurus suami dan anak-anaknya dan mempercayakan harta warisan keluarga ditangani oleh kedua adik kembarnya.
Siapa sangka tugasnya lebih berat dari kedua saudaranya karena selain tugas rumah tangga, wanita beranak dua itu juga harus bekerja keras dibalik layar untuk melindungi keluarganya dari orang-orang jahat yang menyerang lewat perusahaan dan orang-orang terdekatnya.
Tidak hanya itu, ia juga harus memiliki banyak stok kesabaran untuk mengatasi kedua adiknya yang berbeda karakter itu. Ia juga sampai harus turun tangan untuk mengatasi masalah percintaan mereka yang terbilang cukup rumit.
Bagaimana kisah Maggie, Daffa dan Daffi selanjutnya?
Kawal terus novel ini!
Happy Reading ❤🌹🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lala Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Ijin Calon Papa Mertua
Siang ini, Ike keluar dari kelas tepat pukul tiga sore, gadis itu masih uring-uringan karena om sama tantenya yang pergi di tambah lagi dengan Asry yang sedang pulang kampung untuk beberapa hari.
"Huh sendiri lagi, kesepian lagi, ke mansion ka Maggie aja deh" gumamnya sambil menatap ke layar ponselnya untuk mencari nomor sang kaka karena ia harus menghubungi terlebih dahulu sebelum ke sana.
Ike terus melangkah menuju ke arah mobil kesayangannya terparkir. Tanpa ia sadari ada seorang pria yang sedang berdiri bersandar pada mobil kesayangannya sambil menatapnya yang terlalu serius dengan ponselnya.
Ike tiba di samping mobilnya dan hendak membuka pintu namun ia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang menggunakan masker serta reben gelap yang berdiri menghalanginya.
"Maaf Pak, ini mobil saya, bisa bergeser agar saya bisa masuk?" ucap Ike yang tidak begitu memperhatikan pria itu.
"Pak,... halo pak, tolong bergeser ke sebelah sana?" ucap Ike sekali lagi karena pria itu tidak beranjak dari depannya. Pria itu tetap pada posisi semula bahkan beberapa mahasiswa yang juga akan pulang yang sedang menuju parkiran mobil pun ikut menyaksikan interaksi Ike dan pria itu.
"Jadi ini caramu menghindariku?" ucap pria misterius itu membuat Ike terkejut.
Ike menegadah dan menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Ia kenal betul siapa pemilik suara itu. Suara yang selalu ia rindukan namun harus ia akui bahwa ia harus melupakan nya.
"Tolong berpindah, aku ingin mengeluarkan mobilku" ucap Ike penuh penekanan.
"Aku tanya sekali lagi, jadi ini caramu menghindari ku?" ucap Pria itu masih tidak memberi cela kepada Ike.
Gadis itu menarik nafasnya dalam dan menghembusnya perlahan. Ia ingin membicarakan banyak hal namun ini bukan tempat yang tepat.
"Apa maumu?" ucap Ike yang mulai habis kesabarannya.
Pria itu sedikit terkejut karena sebutan yang gadis itu pakai untuk dirinya tidak seperti biasanya.
"Mana kuncinya" tanya pria itu.
"Untuk apa? ini mobilku" jawab Ike tidak ingin memberikan namun pria itu langsung menarinya dari genggaman Ike, ia menuntun Ike ke pintu penumpang dan membuka pintu kepada Ike lalu ia kembali masuk dan duduk dibalik kenudi.
Ike memilih dia saat mobilnya mulai membelah jalan ibu kota. Setelah beberapa saat, Ike mulai bertanya-tanya karena sepertinya mobil ini menuju ke arah yang berlawanan dengan rumahnya.
"Mau ke mana? aku mau pulang karena aku capek dan mau istirahat" ucap Ike.
"Nanti kamu akan istirahat jika kita tiba" ucapnya sambil tetap fokus pada mengemudi.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di salah satu gedung yang menjulang tinggi dan ternyata itu adalah salah satu apartemen yang cukup mewah dan hanya orang dari kalangan atas yang mampu tinggal di sana.
"Ayo turun" ucap pria itu.
"Nggak mau, aku mau pulang ke rumah" jawab Ike tetap duduk manis di dalam mobil.
Pria itu akhirnya melepas pengaman dengan paksa dari lingkaran gadis itu lalu ia keluar dan membuka pintu.
"Mau turun atau aku gendong?" tanya Daffa. Ya pria itu adalah Daffa yang baru tiba di indonesia siang ini.
"Aku mau pulang, titik" ucap Ike dengan suara yang mulai naik.
"Oke.. " ucap Daffa dan langsung berjongkok namun dengan cepat Ike menepis tangannya.
"Iya aku bisa turun sendiri" ucapnya ketus.
Daffa hanya mengikutinya dengan tersenyum samar karena tingkah ngambek gadis itu.
"Mana apartemen mu?" tanya Ike.
"Makanya jangan sok tahu mendahului pemiliknya" ucap Daffa langsung menggenggam tangan Ike dan menariknya masuk ke dalam lift yang akan menghantar mereka ke kamar pria itu.
Sepanjang di dalam lift keduanya memilih diam karena Ike yang memasang wajah tidak bersahabat dengan pria ini.
Setibanya di depan kamar, Daffa langsung memencet tombol yang Ike tahu bahwa itu adalah tanggal lahirnya namun ia tidak menunjukkan rasa terkejutnya karena kekesalan akan pria itu lebih besar.
"Masuk" ucap Daffa dan dengan patuh Ike melangkah masuk.
"Mau istirahat? Itu kamar yang aku siapkan untukmu dan sebelah ini punyaku" ucap Daffa dan Ike langsung pergi begitu saja.
Setelah memastikan Ike masuk ke dalam kamar, Daffa mulai menuju ke salah satu ruangan yang merupakan tempat untuk memasak. Ia menyiapkan susu dan beberapa buah roti kesukaan Ike dan membawanya ke kamar gadis itu.
Tok tok tok
"Ike, buka pintunya dulu, aku bawakan minuman untukmu. Minumlah sebelum beristirahat" ucap Daffa dari balik pintu sambil menatang minuman dan roti tadi.
Ike bangun dan membuka pintu dengan wajahnya yang masih tetap seperti semula.
"Sini, dan jangan ganggu aku karena aku mau istirahat" ucap Ike yang kembali menutup pintu kamarnya.
Daffa hanya dengan sabar menghadapi kekesalan gadis itu karena ia menyadari akan kesalahannya selama ini. Ia membiarkan gadis itu untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum menyelesaikan persolan mereka.
Daffa kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
📞Halo abang
📞Halo om Reno, aku sudah berada di indonesia. Aku minta ijin untuk membawa Ike nginap di apartemen malam ini, apakah boleh?
📞Jangan macam-macam kamu bang. Ike masih kuliah.
📞Om jangan khawatir, di apartemen ini ada dua kamar dan aku juga tidak akan melakukan hal bodoh untuknya, bukan karena aku takut sama kaka dan om tapi aku sangan mencintainya dan menghargainya.
📞Om pegang kata-katamu.
📞Baiklah om aku akan menghubungi om Arjo juga
📞Mereka sedang tidak berada di indonesia jadi nanti om yang sampaikan. Mana Ike.
📞Aku beru saja menjemputnya dari kampus dan ia sedang beristirahat di kamarnya.
📞Baiklah, jaga dia seperti om menjaganya karena dia satu-satunya harapan om dan tantemu.
📞Iya om.
Sambungan telepon berakhir, Daffa merasa sedikit lega karena papi dari gadis itu mengijinkannya.
Sambil menunggu Ike beristirahat, Daffa mengambil laptop nya dan memeriksa pekerjaan yang dia percayakan untuk asistennya itu.
Jam sudah menujuk pukul 6 magrib, Daffa keluar dari kamar dan menatap ke arah pintu kamar Ike, bahkan di dalam sana masih gelap itu tandanya gadis itu masih tidur.
"Secapek apa sih kuliahnya sampai tidur aja kaya kebo" gumam Daffa yang mendekat dan mengetok pintu. Ia membangunkan gadis itu untuk menyalakan lampu kamar karena jika semakin malam dan semakin gelap maka akan ada drama di dalam kamar itu karena gadis itu takut dengan gelap.
Tok tok tok
"Ike... Bangun sudah mau malam, lampunya belum dikontak" ucap Daffa dari balik pintu.
Tidak ada Tanda-tanda jika gadis itu bangun.
"Ike,,, hei bangun..." ucapnya sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
"Hmmm" jawab gadis itu dengan suara lemah.
Beberapa saat kemudian mulai ada cahaya di dalam kamar itu, tandanya ia sudah bangun.
Bersambung
semoga ike juga segera hamil