Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. SBR
...~•Happy Reading•~...
Janet tidak bisa berbicara. Dia menggerakan tangan ke arah pintu untuk minta izin keluar ruangan. Karena jika tetap berada di situ dan berbicara, hanya ada suara tangis yang keluar dari bibirnya.
Tanpa menunggu persetujuan Gevaro dan Jensen, Janet membuka pintu dan keluar begitu saja membuat Gevaro dan Jensen tercengang. "Tolong lihat dia." Perintah Gevaro dan kembali duduk di kursi kebesarannya.
Namun saat Jensen membuka pintu, dia terkejut melihat Janet duduk jongkok sambil memegang dada di depan pintu. Gevaro mengisyaratkan tutup pintu dan membawa Janet pergi. "Janet, jangan di sini. Mari masuk lagi. Tidak baik dilihat karyawan lain." Bisik Jensen.
"Maaf, Pak. Saya mau ke toilet. Tadi lutut saya hampir seperti ongol-ongol." Janet menggunakan diksi yang sering dipakai bersama Reni. "Permisi, Pak. Nanti saya kembali." Janet melangkah meninggalkan Jensen tanpa melihatnya.
Sambil menghapus pipi dengan tangan, dia berjalan cepat ke toilet dan masuk untuk menyembunyikan tangisnya. 'Apakah aku akan menerima ini?' Dia bertanya di sela tangis.
Dia teringat yang dikatakan Andri ketika berniat mau mengundurkan diri. 'Apa pun pekerjaanmu di kantor, Asyer bangga padamu.' Tangisnya berhenti. 'Jika bekerja sebagai office girl saja Asyer bangga. Apa lagi sebagai sekretaris CEO.' Janet tersentak.
Dia keluar dari toilet dan membasuh wajahnya dengan air dari wastafel. Kemudian berjalan cepat ke ruang kerja CEO. "Maaf, Pak. Tadi saya tidak menyangka akan diminta jadi sekretaris." Janet meminta maaf kepada Gevaro dan Jensen.
"Apa saya bisa minta izin pulang untuk merenungi ini, Pak?" Tanya Janet sopan, seakan sebelumnya tidak terjadi pergumulan dalam batinnya. Sehingga Gevaro melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Dia menyadari, Janet sedang bimbang dan butuh orang untuk berbagi.
"Belum bisa pulang sekarang. ID cardmu sedang diproses. Lebih baik ke pantry, buatkan kopi kami." Ucap Gevaro sambil memberi isyarat kepada Jensen. Dia berpikir, mungkin dengan demikian bisa menenangkan Janet.
"Iya, Pak." Janet mengulurkan kedua tangan kepada Jensen untuk minta sachet kopi instan.
Kemudian dia mengambil cangkir lalu keluar dari ruangan. Ketika tiba di pantry, Reni melihat dia dengan mata terbelalak. "Janet, kau'kah ini?" Reni langsung memeluknya. Tanpa bisa dicegah, mereka bertangisan.
"Aku kembali lagi, Ren. Aku kedapatan tidak bersalah...." Janet menjelaskan sambil menangis.
"Aku sudah bilang, ada yang berniat jahat padamu. Yang penting kau sudah kembali." Reni melepaskan pelukan dan menghapus pipi Janet dengan tissu. "Apa Nonya terlibat?" Reni ingin tahu. Janet mengangguk, berulang kali.
"Pantas tadi mukanya ditekuk dan kecut seperti jeruk purut." Reni menggambarkan wajah Bu Letti saat kembali dan tidak keluar dari ruang kerja. "Tapi kau tidak jadi dipecat, kan, ya." Reni mau meyakinkan.
"Iya, Ren. Ini aku mau bikin minum. Hampir lupa." Janet segera memanaskan air.
"Alhamdulillah... Kau sudah bisa kerja lagi. Mari aku bantu bersihin cangkir. Kau yang ngelap." Reni tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Makasih, Ren. Mungkin aku gak balik ke sini setelah bikin kopi. Aku mau pulang untuk stabilkan hati dan pikiranku yang jungkir balik."
"Iya. Gak pa'pa. Pulang istirahatkan. Jangan sampai jumpalitan." Ucapan Reni disertai gerakan tangan membuat mereka tersenyum.
Setelah membuat kopi, Janet membawa kopi ke ruangan CEO. "Janet, kau bikin kopi di mana? Sedikit lagi, saya lupa rasa kopi seperti apa?" Tegur Gevaro yang hampir menyuruh Jensen menyusul ke pantry. Dia mengira, Janet tidak bikin kopi, tapi pulang.
"Maaf, Pak." Ucap Janet sambil meletakan kopi di depan Gevaro, lalu ke Jensen. Dia menyadari telah lama menghabiskan waktu bersama Reni.
"Segera pulang sebelum saya minta kau membuat kopi lain." Perintah Gevaro sambil memberikan isyarat kepada Jensen untuk memberikan ID card Janet.
"Terima kasih, Pak." Janet mengambil ID card dengan kedua tangan lalu keluar sebelum dia meneteskan air mata haru.
Setelah berada di lobby, Janet berjalan cepat keluar menemui ojol yang sudah menunggu. Dia ingin segera tiba di rumah untuk menenangkan hati sebelum berbicara dengan Andri.
Namun harapannya tidak terkabul. Saat tiba di rumah, dia melihat mobil Andri ada di halaman. 'Mas Andri sudah pulang?' Janet berjalan cepat.
"Maasss... Kenapa sudah pulang? Kenapa tidak bilang? Apa terjadi sesuatu?" Janet mendekati Andri yang sedang bermain dengan Asyer.
"Astaga, Dek. Gak kasih salam, malah lontar pertanyaan beruntun." Andri mengacak rambut Janet yang sudah dipeluk Asyer. "Aku sering berangkat subuh dan pulang malam. Tadi antar penumpang ke arah sini, jadi pulang lihat Asyer dan Mama." Andri menjelaskan.
"Mengapa pulang jam segini? Apa ada yang sakit?" Andri jadi was-was melihat wajah Janet yang sembab.
"Tidak Mas. Kita bisa bicara di kamar?" Bisik Janet.
"Asyer main sama Bibi dan Oma, ya. Nanti kita main lagi." Andri mengambil Asyer dari pelukan Janet lalu bawa ke Mamanya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?" Tanya Andri yang sudah menyusul ke kamar.
Janet mengangguk kuat. "Sebelum aku cerita, aku minta maaf tidak cerita sebelumnya, karna dua hari ini tidak bertemu Mas Andri."
"Iya, aku tahu. Aku berangkat subuh dan pulang kalian sudah tidur. Jadi bagaimana mau ngobrol. Ada apa?"
"Dua hari lalu aku dipecat karena...." Janet menceritakan kejadian yang dialami, membuat Andri terkejut.
"Lalu tadi ke kantor bikin apa?" Andri menahan diri, agar Janet tidak sedih.
Janet tidak menjawab, tapi memeluk leher Andri dan menangis. Membuat Andri terkejut. "Mengapa Mas tidak bilang kalau pernah kerja di sana? Mengapa tidak bilang pernah alami kecelakaan?"
Andri makin terkejut mendengar pertanyaan Janet. "Kau tahu dari mana?"
"Pak Satrio titip salam hormat buat Mas Andri." Bisik Janet. Kemudian dia menceritakan kejadian yang terjadi di ruang kerja CEO.
Andri menarik nafas panjang. "Lupakan kalau aku pernah kerja di sana dan alami kecelakaan. Bekerja di mana saja, itu bisa terjadi."
"Seperti yang aku bilang, bekerja apa saja dengan hati. Kalau kita bekerja dengan baik, tanpa berniat jahat, akan mendapat ganjaran setimpal. Ingat, Tuhan tidak tidur." Andri lega, nama baik Janet sudah dipulihkan.
"Iya, Mas. Ada lagi yang mau aku bilang, aku diminta ganti sekretaris itu. Tapi aku tidak mau..." Janet menceritakan tentang pengangkatannya.
"Dek, kenapa menolak? Kesempatan itu tidak datang dua kali. Apa pun alasan dia memilihmu sebagai sekretarisnya, terima. Mungkin dia sedang memperbaiki kesalahan. Itu sesuatu yang baik buatmu."
"Karena kalau pimpinan lain, mungkin kau tidak akan masuk kategori. Tapi Tuhan mau angkat seseorang, selalu punya tangga ajaib buatnya."
"Jadilah kebanggaan kami, terutama Asyer." Andri jadi mengusap kepala Janet.
"Kalau soal cara kerja, kita bisa diskusikan di sini. Kalau ada yang tidak paham, tanya aku. Pakai ini sebagai pukulan balik padanya. Kau bukan wanita lemah yang gampang diabaikan, atau dibuang."
Janet kembali memeluk Andri yang memberikan semangat dan selalu mendukungnya untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...