"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Kiss
Sisa-sisa jeritan menyakitkan dari tiga pria tadi masih berdenging hebat di telinga Senja. Namun saat ini, di dalam kabin SUV hitam milik Arsen, semuanya mendadak sunyi. Hanya ada suara deru halus mesin mobil yang berpadu dengan ritme konstan rintik hujan yang menghantam atap kaca.
Senja duduk di kursi penumpang, tubuhnya bergetar hebat. Dia memeluk dirinya sendiri erat-erat, mencoba menyembunyikan kemeja putihnya yang robek di bagian bahu dan dadanya karena kancing-kancingnya terlepas brutal. Blazer kerja abu-abunya sudah hancur tak berbentuk, tertinggal di trotoar basah sana.
Arsen duduk di kursi pengemudi. Dia tidak langsung menjalankan mobil. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan napasnya masih memburu berat—sisa dari adrenalin murka yang baru saja dia tumpahkan pada para penjahat di luar.
Tanpa menoleh, Arsen melepaskan jas hitam mahalnya dengan satu sentakan, lalu menyampirkannya ke atas bahu Senja yang terbuka. Aroma parfum Arsen yang maskulin dan menenangkan langsung menyelimuti indra penciuman Senja. Namun, rasa aman itu tidak serta-merta menghapus trauma yang baru saja terjadi.
Pertahanan Senja runtuh total. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh begitu deras, membasahi pipinya yang pucat. Isakan kecilnya berubah menjadi tangisan frustrasi yang memecah keheningan kabin.
"Kenapa..." bisik Senja di sela tangisnya, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan.
Arsen perlahan melepaskan cengkeramannya dari setir, lalu memutar tubuhnya menghadap Senja. Mata elangnya menatap lekat-lekat wajah asistennya yang kacau.
"Kenapa Bapak akhir-akhir ini berlebihan banget sama saya?!" Senja tiba-tiba mendongak, menatap Arsen dengan pandangan mata yang basah, marah, sekaligus sangat rapuh. "Apa saya melakukan kesalahan besar di kantor? Apa ada tugas yang bikin Bapak benci banget sama saya?!"
"Senja—"
"Kenapa harus saya yang jadi target mereka, Arsen?!" potong Senja, suaranya meninggi, menembus batas formalitas karena rasa takut yang sudah di ubung-ubung kepala. Dia memukul dada Arsen dengan tangan gemetarnya, meluapkan seluruh emosinya. "Gue cuma asisten kreatif! Gue cuma mau kerja tenang buat bayar cicilan rumah Ibu! Kenapa orang-orang menyeramkan itu tadi robek baju gue? Kenapa mereka sebut nama lo seolah-olah gue ini barang berharga lo?! Apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup lo, Arsen?! Kenapa sekarang hidup gue yang jadi taruhannya?!"
Tangisan Senja semakin histeris. Dadanya naik-turun karena napas yang sesak, dan tubuhnya meringkuk semakin dalam di bawah balutan jas Arsen. Dia merasa tersesat di dalam dunia gelap yang sama sekali tidak dia pahami.
Arsen terdiam membeku. Pria yang biasanya selalu punya jawaban mutlak dan dingin untuk mengintimidasi orang lain itu kini kehilangan kata-kata. Melihat air mata Senja, mendengar ketakutan murni dari bibir perempuan itu, dan menyaksikan bekas cengkeraman memar di pergelangan tangan Senja... sesuatu di dalam dada Arsen terasa hancur berkeping-keping. Rasa bersalah yang teramat sangat menyiksanya.
Arsen membuka sabuk pengamannya dengan cepat, lalu bergeser mendekat ke kursi penumpang. Tanpa memedulikan penolakan Senja, Arsen meraih kedua pergelangan tangan perempuan itu, menghentikan pukulan lemahnya, lalu menggenggamnya dengan sangat erat namun lembut.
"Senja, tatap saya," perintah Arsen, suaranya tidak lagi dingin, melainkan terdengar sangat parau dan bergetar menahan emosi yang bergejolak.
Senja menggeleng, mencoba memalingkan wajahnya yang basah oleh air mata. Namun, Arsen melepaskan satu tangannya untuk menangkup pipi Senja, memaksa perempuan itu menatap lurus ke dalam sepasang mata elangnya yang kini berkilat pekat oleh rasa frustrasi, penyesalan, dan... kepemilikan yang teramat dalam.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Sama sekali tidak," ucap Arsen, suaranya merendah, terdengar begitu tulus dan dalam di keheningan malam. "Mereka mengincar kamu bukan karena kamu salah. Mereka mengincar kamu... karena malam itu kamu menyelamatkan nyawa saya di apartemen. Dan yang paling sialan..."
Arsen menggantung kalimatnya sejenak. Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat Arsen yang memburu menyapu kulit wajah Senja. Tatapan mata pria itu turun ke bibir Senja yang bergetar menahan tangis, sebelum kembali mengunci mata perempuan itu.
"...karena saya tidak bisa lagi menyembunyikan dari dunia luar seberapa berartinya kamu bagi saya, Senja Naura."
Senja tertegun, tangisnya mendadak terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak menatap Arsen.
"Orang-orang di luar sana tahu, saya tidak pernah peduli pada siapa pun. Tapi melihat bagaimana saya mengamuk di basemen malam itu demi melindungi kamu, musuh-musuh saya sadar kalau kamu adalah satu-satunya kelemahan yang saya punya sekarang," bisik Arsen lagi, ibu jarinya bergerak lembut menghapus air mata di pipi Senja. "Saya ketakutan setengah mati malam ini saat tahu kamu melanggar aturan dan ponsel kamu mati. Saya hampir gila, Senja."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan intens dari mulut sang tiran, jantung Senja mendadak berdegup gila-gilaan, mengalahkan rasa takutnya sejenak. Sebelum Senja sempat mencerna semuanya atau membalas ucapan itu, Arsen sudah tidak bisa lagi menahan pembatas di antara mereka.
Arsen menundukkan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada, dan langsung membungkam bibir Senja dengan ciuman yang sangat intens.
Ciuman itu tidak dimulai dengan kelembutan, melainkan sebuah ledakan dari rasa lega yang luar biasa karena mendapati Senja masih hidup dan aman di pelukannya. Ada rasa posesif yang pekat, rasa cemas yang tersisa, dan gairah yang selama ini Arsen kunci rapat-rapat di balik jas kerjanya yang kaku.
Senja sempat tersentak kaget, namun hangatnya bibir Arsen dan dekapannya yang protektif perlahan meruntuhkan seluruh sisa ketakutannya. Perlahan, tangan Senja yang bebas bergerak naik, meremas kemeja hitam di dada Arsen, membalas ciuman pria itu dengan kepasrahan murni di tengah badai hujan yang kian menderas di luar sana. Malam itu, di dalam mobil yang terkunci, Senja akhirnya paham: hidupnya yang tenang memang sudah berakhir, tapi dia kini berada di tempat paling aman di dunia—di dalam pelukan sang penguasa bawah tanah.