NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dimas Dapat Surat

Seminggu berlalu

Selama seminggu ini Dimas masih menjadi pengangguran. Pekerjaannya hanya makan tidur saja di rumah mengandalkan uang tabungannya yang tidak seberapa. Dia sudah beberapa kali mencari pekerjaan dengan memasukkan lamaran di perusahaan‑perusahaan namun hasilnya nihil. Perusahaan tidak mau menerimanya karena kasus video yang viral seminggu yang lalu.

Usia kandungan Sintia sudah menginjak 1 bulan, dan dia lebih banyak makan dan ngemil selalu ingin makan ini dan itu. Dan benar saja, Bayu secara terang‑terangan tidak mau menafkahi Sintia meskipun itu masih kewajiban nya. Rasa sakit hati Bayu sudah mematikan hatinya, bagaimana tidak? Adik kandungnya sendiri yang sudah berselingkuh dengan istrinya.

"Mas, bagi uang dong. Hari ini aku ada praktik, dan butuh uang 300 ribu." Seru Lastri menengadahkan tangannya di hadapan Dimas yang sedang menyeruput kopi hitamnya masih mengeluarkan asap.

Ceekkkk

Dimas berdercak, baru juga menikmati kopi sudah uang dan uang lagi yang diminta adiknya itu. Kuliah baru 2 bulan tapi sudah banyak praktik yang ini dan itu.

"Kamu itu baru juga 2 bulan aktif kuliah, banyak betul praktikmu, Lastri. Kalau begini terus bisa habis hanya untuk kuliah kamu saja uangku. Kenapa sih kamu tidak minta sama mas Bayu?." Tanya Dimas dengan kesal.

"Mas Bayu bagian bayar uang semesterku. Biaya yang lainnya mas dong, termasuk uang jajanku. Sudah cepat mana uangnya, itu ojek nya sudah menunggu mas." Seru Lastri dengan sedikit memaksa.

Sebenarnya yang dia maksud tukang ojek adalah pacarnya. Yang sering antar jemput Lastri adalah pacarnya, untuk membohongi keluarga dia mengakui jika itu tukang ojek.

Dengan menggerutu akhirnya Dimas mengeluarkan uang 3 lembar warna merah dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Lastri.

"Selembar lagi untuk jajan." Ucap Lastri lagi seenaknya.

"Tidak ada, kalau mau itu tidak ya sudah." Ucap Dimas lagi dengan kesal.

"Dasar pelit." Ucap Lastri keluar rumah menghampiri sang pacar.

Dimas hanya bisa menggeleng sambil mengusap dadanya melihat kelakuan adiknya yang semakin kurangajar. Baru seperti itu, Dimas sudah dibuat kesal dan geram. Bagaimana dengan Hana dulu ? Yang menafkahi orang satu rumah dan menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Sudah begitu selalu dihina dan direndahkan. Dimas belum ada sekian persennya sudah mengeluh.

"Belanja apa, Bu?." Tanya Dimas saat ibu nya baru pulang dari warung.

"Ini telor, bayam sama tempe. Kenapa?." Tanya Ibu Sundari.

"Tidak ada ayam atau daging gitu bu? Bosan bu makan telor ,sayur serta tempe dan sayur terus. Sesekali bu bikin rendang atau sop iga gituloh bu. Seperti saat masih satu rumah sama Hana." Ucap Dimas tanpa berpikir berapa uang belanja yang dia berikan.

"Dimas, kamu itu cuma memberi Ibu uang belanja lima puluh ribu untuk 1 hari, dan kamu minta makan pakai ayam atau daging? Mikir dong Dimas, memang ada daging yang seharga lima puluh ribu? Bisa sih ibu beli daging seharga 50 ribu dan itu cuman cukup untuk sekali makan saja. Setelah itu habis kamu mau keluar uang untuk belanja lagi? Tidak kan? Jadi makanlah yang ada, ini ibu belanja saja menahan malu karena cuma begini doang belanjaannya." Seru ibu Sundari menggerutu dengan kesal.

Hhaaahhh

Dimas hanya bisa membuang nafas dengan berat. Baru juga seminggu keluar dari rumah Hana, tapi kehidupannya sudah berubah drastis. Dulu saat semua apa‑apa serba ditanggung Hana, seminggu bisa 2 kali Hana menyediakan menu daging sapi. Dan selebihnya ayam, ikan telor dan sayuran. Tahu tempe jarang ada, tapi sekarang justru itu menjadi menu hariannya.

"Ibu mau masak dulu, panggil Sintia untuk membantu ibu." Seru ibu Sundari.

"Tapi Sintia itu sedang hamil bu. Masa dia disuruh masak sih?." Tanya Dimas yang sebenarnya tidak suka jika Sintia bau dapur.

"Jangan salahkan ibu jika kalian kelaparan. Masak saja sendiri." Ucap ibu Sundari mengancam tidak akan memasak.

"Iya bu, Dimas akan panggil Sintia " Seru Dimas buru‑buru masuk ke kamar yang dia tempati bersama Sintia.

Saat masuk, Sintia baru saja selesai memakai bajunya. Kamar masih berantakan, bahkan segitiga merah milik Sintia bekas pertempuran semalam masih ada di bawah dan bercampur dengan lingerie.

"Sayang, emm.. aku ingin makan makanan yang kamu masak dengan tangan yang penuh cinta ini. Bagaimana? Apa kamu mau memasak untukku?." Ucap Dimas dengan kata‑kata yang romantisnya agar Sintia mau turun kedapur.

"Bukannya kamu tidak suka wanita yang bau asap dapur? Nanti kalau aku bau bagaimana?." Tanya Sintia.

"Iya sih, tapi kali ini aku sangat ingin makan masakan kamu. Mau ya?." Seru Dimas terus merayu Sintia.

"Baiklah, ini demi suamiku yang paling aku cintai. Dan ini sebagai hadiah karena semalam kamu sudah memuaskan aku sampai aku tidak bisa bangun lagi. Thank you my Husband, i love you." Ucap Sintia lalu mendaratkan ciuman tipis di bibir Dimas.

Sintia akhirnya turun ke dapur, dan di sana sudah ada Ibu Sundari yang sedang memotong sayuran. Dimas sendiri kembali ke ruang depan untuk menghabiskan kopi yang masih ada setengah lagi.

"Paket !!." Teriak seseorang dari luar.

"Siapa yang pesan barang?." Ucap Dimas pada dirinya sendiri.

Dimas pun beranjak lalu membuka pintu. Di depan rumah sudah ada pria berseragam mengantarkan sesuatu untuk Dimas.

"Apa benar ini rumah bapak Dimas?." Tanya orang itu dengan sopan.

"Iya benar dan saya yang bernama Dimas, tapi saya tidak pesan barang. Kenapa ada paket?." Tanya Dimas balik dengan kening berkerut.

"Maaf pak, ini bukan paket barang tapi surat. Saya cuma bertugas mengantarkan surat ini untuk pak Dimas. Harap di terima ya pak agar saya bisa segera pergi." Ucap pria pengantar surat itu.

Dimas pun menerima surat itu dan kembali masuk ke rumah. Saat sudah duduk, Dimas membuka surat itu dan betapa terkejutnya Dimas ternyata itu surat panggilan sidang dari kantor pengadilan agama.

Proses gugatan cerai Hana ternyata lebih cepat, tidak sampai menunggu 2 minggu. Satu minggu saja surat panggilan sidang pertama sudah sampai di tangan Dimas.

Dimas menggenggam surat itu dengan erat. Dia tidak terima atas gugatan cerai yang dilayangkan oleh Hana.

"Sialan kau Hana, berani kamu menggugatku?." Ucap Dimas dengan nafas yang memburu.

"Paket apa, Dim?." Tanya ibu Sundari ingin tahu.

"Surat panggilan sidang dari pengadilan agama, Bu. Ternyata Hana sudah menggugat Dimas. Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak akan menceraikan Hana." Jawab Dimas masih dikuasi emosi.

"Baguslah kalau dia yang menggugat kamu duluan, jadi kamu tidak perlu mengeluarkan uang untuk membiayai perceraian kalian. Oh iya, jangan lupa tuntun pembagian harta. Bagaimanapun kamu berhak atas harta yang dimiliki Hana, sebab Harta itu ada saat kamu masih menjadi suaminya." Ucap ibu Sundari memberi ceramah yang menjerumuskan anaknya dalam kebodohan.

Dimas tersenyum sinis, dia punya cara lain untuk mendapatkan harta Hana tanpa harus capek‑capek menuntutnya di persidangan. Pikiran licik Dimas sudah mulai berjalan, bagaimana pun dia harus bisa mendapatkan harta yang dimiliki Hana.

"Ibu tenang saja, pasti kita akan mendapatkan setengah harta yang dimiliki Hana tanpa harus menuntutnya di persidangan. Dimas akan menceraikan Hana tapi dengan syarat dia mau membagi dua harta yang dia miliki untuk Dimas. Jika dia tidak mau, sampai kapanpun Dimas tidak akan menceraikannya. Biarkan saja dia hidup tersiksa dengan hubungan yang tidak pasti." Ucap Dimas memberitahu rencana liciknya.

Heeemmm

Ibu Sundari berdehem sambil menganggukkan kepalanya. Ide dari Dimas bagus juga, dengan begitu Hana tidak ada pilihan lain selain mau membagi hartanya menjadi dua.

Di tempat kerjanya, Bayu sudah bisa mulai melupakan masalahnya. Bayu juga sudah mengurus soal perceraiannya dengan Sintia. Dia menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya.

"Masih mikirin istri kamu yang selingkuh itu? Sudah lah Bay, kamu harus move on dari wanita tukang selingkuh itu. Bukannya aku ini sudah pernah mengingatkan kamu agar terlalu percaya dengan istri, percaya boleh tapi bukan berarti kita memberi kebebasan penuh. Lihat sendirikan? Dia berselingkuh dengan adik kandungmu sendiri. Itu adik kandungmu juga bodoh dan tidak tahu diri." Ucap Anton tidak habis fikir dengan adik Bayu yang tega menggasak istri kakaknya.

"Jangan bahas soal itu lagi, Ton. Aku sudah menyerahkan semua sama pengacara, aku sudah bertekad dan yakin untuk bercerai."Ucap Bayu tidak mau lagi membahas soal Sintia.

"Ok, maaf."Jawab Anton merasa bersalah.

Hemmm

Bayu hanya menjawab dengan deheman saja. Untuk saat ini, Bayu ingin fokus bekerja dan perceraiannya. Dia juga ada niat untuk menemui Hana dan mengganti uang Hana, uang Hana yang selama 3 tahun ini Hana pakai untuk memberi makan keluarganya.

Bayu sangat malu, dia malu hati dengan Hana. Tidak akan tenang jika dia belum bertemu dan membicarakan masalah yang ada dengan Hana.

"Anton, kapan kamu pulang?."Tanya Bayu mengalihkan pembicaraan.

"Besok lusa jatah cutiku. Aku minta cuti 1 minggu Bay, soalnya anakku minta liburan ke rumah neneknya. Kalau dari awal sudah bilang minta cuti seminggu, tidak bakal kena hukum atasan seperti kamu waktu itu."Jawab Anton sambil terkekeh.

"Heemmm.. iya, saat itu aku memang tidak sengaja untuk ambil cuti seminggu lebih. Izinnya cuma 3 hari, tapi ya sudahlah. Sekarang juga jika pun aku mau cuti bingung mau pulang kemana? Ibu dan adikku pasti tinggal satu rumah dengan dua manusia tidak tahu diri itu."Seru Bayu dengan pandangan lurus ke depan.

"Sabar ya Bay, ini ujian hidup dan rumah tangga kamu. Pasti ada hikmahnya, jangan putus asa dan terus berserah sama yang kuasa. Aku percaya, di depan sana Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuk mu."Ucap Anton menasehati Bayu.

"Aamiin."

Bayu sangat bersyukur mempunyai teman baik seperti Anton. Teman‑temannya kerjanya memang baik‑baik, mereka semua sudah Bayu anggap sebagai keluarga sendiri. Hidup di perantauan itu terkadang memang sulit, harus pandai‑pandai kita menempatkan diri.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!