NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 7 Mendadak Kawin

Purwasaga merasakan pipinya ditekan-tekan dengan lembut. Ia pun membuka sepasang kelopak matanya yang terasa lengket.

Ketika kelopak matanya terbuka, visual yang dilihatnya tidak langsung sebening gambar HD, tapi samar-samar ada gambar wajah seorang wanita berambut kuning terang. Purwasaga seketika menduga itu adalah Azhmar, wanita Elindra pertama yang dikenalnya.

Namun, semakin jelas visual yang dilihatnya, dugaannya berubah menyangkal. Rambut mungkin sama kuning, tapi modelnya berbeda, tidak keriting. Wanita itu menyentuhkan sesuatu yang lembut berulang-ulang di wajah Purwasaga dan sesuatu itu sangat wangi.

Akhirnya pandangan pemuda itu kembali terang dan bening. Ia kecewa karena wanita yang sedang membedakinya itu bukan Azhmar, tetapi wanita yang lebih tua.

“Thotong! Sampaikan bahwa pengantin lelaki sudah terbangun!” teriak wanita berambut pirang lurus itu sambil menengok ke samping.

“Baik!” sahut satu suara anak lelaki.

Purwasaga segera menengok ke kanan untuk melihat pemilik suara anak lelaki.

“Aak!” erang Purwasaga karena merasakan lehernya sakit lantaran begitu kaku.

Purwasaga tetap masih sempat melihat lewat jendela bertirai yang terbuka keberadaan seorang lelaki tanggung yang melompat. Ia tidak tahu ke mana lelaki tanggung berambut merah gelap itu melompat.

Anak remaja lelaki yang bernama Thotong tersebut melompati pagar balkon lalu meluncur perosotan di atas atap sebuah rumah.

Setelah meluncur seperti di sebuah wahana hiburan, Thotong lepas landas dari tepian atap. Dia pun mengudara yang pada sisi bawahnya ada keramaian hiasan kain warna-warni yang diikat terbentang secara indah. Selain itu, di bawah juga ada keramaian orang-orang berambut berbagai warna dengan tangan-tangan yang bercahaya ungu.

“Pengantin lelaki sudah bangun!” teriak Thotong keras sambil mendarat di tanah dengan kokoh.

Dak dak dak…!

Dengan wajah tersenyum, Thotong berlari menerobos keramaian warga Negeri Elindra. Ia masuk ke sebuah rumah yang memiliki hiasan kain-kain indah lagi warna-warni. Semua orang terlihat memakai pakaian yang semarak dan terkesan itu adalah pakaian hari raya. Orang-orang itupun mengenakan berbagai macam perhiasan emas dan permata.

Thotong akhirnya berhenti di pintu sebuah kamar yang terbuka. Pintu kamar itu dipenuhi hiasan bunga warna ungu dan sangat harum.

“Sorak (Kakak) Lintha, suami Sorak sudah bangun. Sudah siap adu bawah. Hahaha!” seru Thotong lalu tertawa.

“Hahaha!” tawa orang-orang yang ada di dalam kamar dan di luar kamar, hampir semuanya adalah wanita bertangan ungun muda.

Thotong berkata kepada seorang wanita cantik jelita berambut biru terang yang sedang duduk di atas ranjang. Taburan bunga warna ungu nan harum memenuhi kasur dan lantai. Wanita yang adalah Lintha itu dalam penampilan yang penuh oleh perhiasan emas permata. Pakaian merah terangnya memiliki model rok yang besar mengembang sampai menutupi seluruh kaki wanita besar tersebut.

Dia duduk di kepala ranjang dengan posisi dikelilingi oleh tumpukan bantal berwarna biru terang pula.

Lintha dalam kondisi mengenakan pakaian pengantin wanita Elindra. Dia tersenyum lebar mendengar kabar yang dibawa oleh Thotong dan bonus candaannya.

“Kerabat wanita pengantin wanita segera jemput pengantin lelaki!” terdengar satu teriakan kepada khalayak.

Maka riuhlah para perempuan yang merupakan keluarga dari Lintha. Sejumlah perempuan segera bergerak keluar dari kamar dan muncul dari ruangan lain. Mereka bergerak untuk pergi menjemput pengantin lelaki yang tidak lain adalah Purwasaga.

Lintha yang sangat cantik di hari itu hanya tersenyum lebar begitu bahagia.

Sementara itu di dalam kamar tempat Purwasaga dirias.

“Hentikan!” sergah Purwasaga kepada wanita separuh baya yang mendandaninya.

Wanita tersebut seketika menghentikan aktivitas tangannya.

“Siapa kau?” tanya Purwasaga.

“Namaku, Singsing. Aku perias pengantin,” jawab wanita tersebut.

Terkejut Purwasaga mendengar kata “pengantin”. Ia segera memerhatikan dirinya. Ternyata dia telah berganti pakaian kepada pakaian warna merah terang yang banyak asesoris perak, emas dan permatanya.

“Lelaki Manusia itu calon suamiku!”

Tiba-tiba di dalam pikiran Purwasaga terngiang teriakan Lintha kala berada di Pertarungan Darah Biru di Rumah Makan Darah Biru.

“Maksudmu … aku ini pengantin?” tanya Purwasaga dengan mata mendelik kepada Singsing.

“Ya. Kau pengantin lelaki dan sudah menjadi seorang suami,” jawab Singsing seraya tersenyum dengan lirikan menggoda Purwasaga.

Namun, pemuda manusia itu justru kian terkejut mendengar klaim bahwa dirinya sudah menjadi seorang suami.

“Siapa pengantin perempuannya?” tanya Purwasaga setelah terdiam sejenak, seolah-olah tidak percaya bahwa ini nyata.

“Istrimu adalah Noni Lintha, putri Rungga Waka Wakar,” jawab Singsing. “Kau adalah menantu On Pengusaha Dunia Elindra. Kau beruntung karena telah dipilih oleh Noni Lintha.”

“Kapan aku menikah atau dinikahkan dengan Noni Lintha?” tanya Purwasaga tampak emosi, itu terdengar dari intonasi suara dan ekspresi wajahnya.

“Ketika kau tidak sadarkan diri, Purwasaga,” jawab Singsing.

“Bagaimana bisa aku dinikahkan sedangkan aku tidak sadarkan diri?” protes Purwasaga.

“Menikah dalam kondisi tidak sadarkan diri atau bahkan sudah mati, adalah perkara yang dibolehkan di Negeri Elindra ini. Kau tidak bisa menolaknya, Rungga Muda,” jelas Singsing.

“Lalu berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Purwasaga.

“Lima hari.”

“Tidak, tidak, tidak. Aku pasti bermimpi,” ucap Purwasaga seperti orang yang kehilangan separuh kesadarannya.

Dia lalu bergerak ke tepian kasur.

“Aakkk!” erangnya karena ia merasakan seolah-olah tubuhnya penuh luka saat dia bergerak.

Ia teringat sebelum kehilangan kesadaran di dalam Pertarungan Darah Biru. Serangan Pasukan Jarum Kedua Rendhang mampu menembus ilmu Kepompong Sutera Bajanya.

“Kau mau ke mana, Purwasaga?” tanya Singsing sambil meraih tangan Purwasaga yang hendak meninggalkan ranjang pengantin.

“Tidak, aku tidak mau menikah di negeri asing ini, aku memiliki masa depan yang cerah di negeriku!” teriak Purwasaga lalu mendorong tangan Singsing yang juga mendorong tubuh si wanita.

Prakr!

Perlengkapan rias yang dipegang oleh tangan kiri Singsing jadi terjatuh dari tangan dan berserakan di lantai.

Purwasaga lepas dari cekalan Singsing. Ia dengan terhuyung, sambil menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya, belari ke luar lewat pintu kamar yang terbuka.

“Hihihik…!”

Saat Purwasaga keluar ke balkon, suara tawa ramai wanita memancing perhatiannya. Di sebuah tangga yang arahnya naik ke lantai atas tersebut, Purwasaga melihat serombongan wanita warna-warni ceria sedang naik sambil tertawa-tawa gembira.

“Eh, itu pengantin lelakinya!” seru salah satu wanita bertangan ungu itu sambil menunjuk Purwasaga di atas balkon.

Teriakan satu wanita itu membuat rekan-rekannya berhenti tertawa dan menengok ke arah tunjukan.

Dipandang serentak seperti itu, terkejut Purwasaga dan berubah panik. Dia cepat menengok melihat kondisi sekitar.

Melihat gelagat yang ditunjukkan oleh Purwasaga yang semakin tampan setelah dirias, wanita tadi kembali berteriak.

“Pengantin lelakinya mau kabur!”

“Cepat tangkap! Jangan sampai kabur!” teriak wanita yang lain sambil duluan berlari naik karena dia yang paling depan.

Teriakan-teriakan wanita yang kencang itu semakin membuat Purwasaga panik. Ia pun teringat ketika sempat melihat remaja lelaki bernama Thotong melompati pagar pembatas balkon tersebut.

Maka, sebelum para wanita berambut kuning, biru, merah dan hitam itu menyergapnya, Purwasaga memutuskan melompat melewati pagar pembatas.

Ia jatuh di atap dan meluncur menuju turun.

“Akk!” jerit Purwasaga ketika bokongnya menghantam atap yang keras dengan kontur melengkung menuju bawah.

Namun, ternyata ada dua orang wanita yang berkesaktian. Keduanya juga melompati pagar balkon dan turun ke atap. Namun, mereka tidak ikut perosotan seperti Thotong atau Purwasaga.

Mereka cukup mendaratkan ujung kakinya di atap lalu bertolak lagi terbang seperti dua burung raksasa nan cantik.

Seeets!

Ketika bokong Purwasaga lepas landas dari ujung pinggiran atap, tubuh pemuda itu mengudara untuk menuju jatuh.

Namun, tiba-tiba ada dua tali sinar biru melesat dari belakang dan melilit kedua lengan Purwasaga.

Kedua wanita pelesat tali sinar biru itu cepat menarik tali sinar yang ujung lainnya terlilit di tangan mereka. Itu membuat tubuh Purwasaga yang meluncur maju ikut tertarik naik lagi.

“Aakkk!” pekik Purwasaga ketika tahu-tahu lehernya telah dipiting oleh satu ketek wanita.

Pada saat yang sama, wanita yang lain menyergap kedua kakinya dan memeluknya dengan kencang, bermaksud menguncinya.

Jleg!

Ketika kedua wanita itu mendarat di tanah, mereka sedang mengunci leher dan kedua kaki Purwasaga.

“Hihihik!” tawa keduanya.

“Hahahak…!” tawa orang banyak dari warga Bangsa Penjaga Biru. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
Om Rudi: 🤣🤣🤣🤣sing sabar Mbak Ayu
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!