“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 Malam aneh
Dua mangkuk mie ayam mengepul tersaji, lagi-lagi tatapan ibu penjual itu seperti ragu olehnya — Arumi memilih untuk tidak menggubris nya ia dengan cepat menyantap mie ayan tersebut matanya melirik ke Samudra
" Kamu ngga makan? " Tanya Arumi menghentikan suapan pertamanya. Samudra menggeleng kan kepalanya " Mau "
" Tapi kenapa lesu? " Tanya Arumi menatap wajah Samudra yang agak berubah ekspresi nya. " Mau di suapin dong aku makan biasanya di suapin mama! " Goda Samudra
" Ck bilang aja abang modus kan!, mau makan di suapin? " Cebik Arumi ia menaruh sepasang sumpit yang ia kenakan untuk makan, di meja perkataan Arumi menyita perhatian para pengunjung
" Abang mau di suapin kamu! " Pintanya memelas membuat Arumi menghela napas panjang " Bang! Malu tauk keliatan sama orang! " Kesal Arumi ia tidak tahan oleh Samudra yang membuatnya malu,
" Yaudah kita makan satu piring berdua aja gimana?, abang ngga terlalu lapar sebenarnya " Sahut Samudra membuat Arumi menggeram ia menyodorkan sumpit Samudra langsung memakainya, ia memakan mie ayam tersebut dari mangkuk Rumi
" Kalau ngga mau pesan tuh bilang!, biar ngga boros! " Kesal Rumi ia pun menyuap dari satu mangkuk yang sama, namun suapan nya terhenti saat sebuah mie yang ternyata Sambungannya di suap oleh Samudra juga.
Membuat keduanya seperti menyuap mie dari satu sumber yang sama— Seumur hidupnya tidak pernah ia merasakan hal seperti ini, wajah Samudra yang tampan selalu menghantuinya Samudra mengedipkan matanya tubuh Arumi bergetar hebat lalu terkulai lemah
****
" Akhhh!! " Pekikan itu nyaring sekali Arumi memukul pipinya yang dingin, ia segera sadar atas apa yang ia telah lakukan. " Aku kenapa ada di kamar? Bukannya tadi? " Gumam Arumi entah kenapa kepalanya berdenyut sakit.
Ia memijat kepalanya yang terasa pening, ingatan nya kembali pada malam itu ia makan mie ayam. Bersama Samudra namun kenapa tetiba ia ada di rumah sewanya?
Matanya terbelalak saat melihat jam dinding, " Astaghfirullah, udah jam delapan! " Pekik Arumi ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi ia ada shift pagi hari ini.
Arumi menghela napas lega melihat supermarket tersebut belum banyak orang bahkan belum di buka, ada beberapa teman-temannya yang sedang menata beberapa bahan makanan ada juga yang mengepel lantai.
" Tumben telat? " Tegur Dinda salah satu kasir senior yang selalu membantunya.
" Biasa ka Malam Minggu tadi malam, pasti Rumi pergi sama cowonya! " Celetuk Raisa yang sedang menyusun kotak rokok untuk di jual
" Maaf banget ya telat "
" Ngga apa-apa " Sahut mereka
" Oh ya kemarin pas kamu pulang. Pak Arsya bilang temui dia nanti jam sepuluh di ruangannya " Kata Dinda
" Untuk apa kak? " Tanya Arumi wajahnya pucat pasi
Dinda menepuk bahu Arumi, " Ngga usah takut Pak Arsya baik kok!, apalagi kamu rekomendasi dari Sepupu Pak Arsya " Dinda menenangkan seolah tahu apa yang di pikirkan Rumi
" Sepupu Pak Arsya yang Namanya S-
" Mbak saya mau isi pulsa " Kalimat Raisa terpotong saat ada pelanggan yang membeli pulsa. Rumi segera melayani pelanggan tersebut ketakutan menghantui dirinya
Ia takut kalau di pecat ia sadar ia kerja disitu karena atas permintaan Samudra, sebagai balas budi karena sudah menolong nya saat ia mau bunuh diri — jadinya ia setuju sekali untuk kerja di sana.
" Semoga aku tidak di pecat " Gumam Arumi ketakutan menghantui nya. Ia padahal baru dua bulan di supermarket tersebut — ia sudah begitu kerasan sekali, pandangannya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya. " Dikit lagi "