Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Aula Kecil Kekaisaran berubah menjadi neraka dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan di lantai marmer, bercampur dengan debu plester yang jatuh dari langit-langit. Suara dentingan pedang beradu menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga.
Putri Li Yuexin tidak mundur meski darah sudah mengalir dari luka sayatan di lengan kirinya, menodai hanfu putihnya menjadi merah muda pucat, tapi rasa sakit itu hanya membuatnya lebih fokus.
Adrenalin membanjiri darahnya, mempertajam indranya hingga setiap gerakan pembunuh bayaran terlihat lambat baginya.
"Jaga Ayahanda!" teriak Putri Li Yuexin pada dua penjaga kekaisaran yang tersisa, sambil menebas kaki seorang penyerang yang mencoba menerobos barisan pertahanan menuju Kaisar Li Zhengyuan.
Kaisar duduk terpaku di singgasananya, wajahnya pucat karena shock, matanya tertuju pada putra bungsunya, Pangeran Jianyu, yang berdiri dengan tenang di tengah kekacauan seperti maestro dari kehancuran.
"Pangeran Jianyu telah mengkhianati negara!" seru Kakek Shen Guotai yang baru saja menerobos masuk melalui pintu utama, diikuti oleh puluhan pasukan elit bersenjata tombak. "Tangkap dia hidup-hidup! Jangan biarkan dia bunuh diri!"
Melihat bala bantuan tiba, kelima pembunuh bayaran panik. Mereka menyadari misi mereka gagal. Dengan sigap, tiga dari mereka memutuskan untuk kabur melalui jendela yang pecah, sementara dua lainnya memilih untuk bertarung sampai mati untuk melindungi majikan mereka.
Putri Li Yuexin melihat celah. Saat salah satu pembunuh mengalihkan perhatiannya ke arah Kakek Shen Guotai, dia meluncur maju seperti elang. Pedang pendeknya berkilat di bawah cahaya lentera yang bergoyang-goyang.
Dengan satu gerakan yang cepat dan tepat, dia menusuk bahu pembunuh itu, melumpuhkan tangan kanannya, lalu menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam tengkuk pria itu hingga pingsan.
Satu lawan tersisa.
Pembunuh terakhir itu meraung, mengarahkan pedangnya langsung ke leher Putri Li Yuexin. Ini adalah serangan nekat, penuh kebencian dan Putri Li Yuexin tidak menghindar.
Dia membiarkan bilah pedang itu mendekat, lalu dengan gerakan putar tubuh yang elegan, gerakan yang dia pelajari dari gulungan strategi militer kuno. Dia menghindari tebasan itu hanya dalam jarak milimeter, dan menginjak pergelangan kaki penyerangnya.
Crack
Suara tulang retak terdengar jelas. Pembunuh itu berteriak kesakitan dan jatuh berlutut. Sebelum dia bisa bangkit, ujung pedang Putri Li Yuexin sudah menempel di tenggorokannya.
"Menyerah lah," perintah Putri Li Yuexin dingin. Matanya tidak berkedip.
Pembunuh itu menatapnya dengan ngeri, lalu menjatuhkan pedangnya.
Keheningan turun perlahan di aula yang hancur itu. Pasukan dari Kakek Shen Guotai segera mengamankan para pembunuh yang pingsan dan yang menyerah. Suara langkah kaki berat bergema saat mereka menyeret tahanan keluar.
Namun, mata semua orang tertuju pada satu sosok.
Pangeran Jianyu
Dia masih berdiri di tempat yang sama dengan jubah putihnya kini kotor oleh debu dan percikan darah dari para prajurit maupun dari pembunuh bayaran yang dia bawa.
Wajahnya yang tadi arogan kini tampak kosong, hampa. Dia tahu ini adalah akhir sudah tidak ada lagi jalan keluar untuknya.
Kakek Shen Guotai maju, dengan diapit oleh penjaga. "Pangeran Jianyu. Letakkan senjatamu, kau ditangkap atas tuduhan upaya kudeta dan upaya pembunuhan terhadap Kaisar."
Pangeran Jianyu tidak bergerak. Dia menatap Kaisar Li Zhengyuan, ayahnya sendiri. Ada air mata di sudut matanya, tapi bukan air mata penyesalan. Itu adalah air mata kekecewaan.
"Ayahanda," kata Pangeran Jianyu pelan, suaranya serak. "Apakah Ayahanda pernah bertanya pada saya... apa yang saya rasakan? Selama ini, saya hanya bayangan. Bayangan dari Kakak Putra Mahkota yang sempurna. Bayangan dari Ibu yang ambisius. Saya tidak punya identitas sendiri. Sampai hari ini."
Kaisar menutup matanya, rasa sakit yang mendalam terlihat di wajahnya yang keriput. "Jianyu... kau memilih jalan yang salah, kekuasaan bukan hakmu untuk diambil dengan darah."
"Jika tidak diambil, maka tidak akan pernah diberikan," balas Pangeran Jianyu pahit.
Tiba-tiba, Pangeran Jianyu mengangkat tangannya. Di genggamannya, terdapat sebuah belati kecil beracun itu adalah senjata terakhir yang dia sembunyikan.
"Jangan!" teriak Putri Li Yuexin.
Tapi semua sudah terlambat, Pangeran Jianyu tidak menyerang siapa pun. Dia menusukkan belati itu ke dadanya sendiri.
Darah merah gelap menyembur, menodai jubah putihnya yang sudah kotor. Pangeran Jianyu terhuyung mundur, lalu jatuh berlutut. Napasnya tersengal-sengal, matanya mulai kehilangan fokus.
Putri Li Yuexin berlari mendekat, meski hatinya campur aduk. Dia sebenarnya membenci pria ini, tapi melihat saudara tirinya mati di depan mata ayahnya adalah pemandangan yang menghancurkan jiwa siapa pun.
Pangeran Jianyu menatap Putri Li Yuexin. Bibirnya bergetar, berusaha mengucapkan sesuatu. Putri Li Yuexin membungkuk, mendekatkan telinganya.
"Kau... menang, Adik," bisik Pangeran Jianyu, darah mengalir dari sudut mulutnya. "Tapi ingat... takhta... adalah kutukan. Selamat menikmati... nerakamu."
Napasnya berhenti. Tubuhnya ambruk ke lantai yang dingin.
Kaisar Li Zhengyuan mengeluarkan suara ratapan yang menyayat hati, suara seorang ayah yang kehilangan anaknya, bukan sebagai Kaisar yang kehilangan pengkhianat.
Kaisar berlari mendekati jenazah Pangeran Jianyu, memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu, menangis tersedu-sedu.
Putri Li Yuexin mundur selangkah, memberi ruang bagi Kaisar untuk berduka. Dia merasa lelah, sangat lelah. Bukan fisik, tapi jiwa. Balas dendamnya telah selesai. Gu Wenhao hancur. Selir Rong dipenjara. Keluarga Han runtuh. Dan sekarang, Pangeran Jianyu mati.
Semua musuh utamanya telah disingkirkan.
Tapi kenapa dia tidak merasa bahagia?
Dia menatap tangannya yang masih memegang pedang berdarah. Tangannya yang dulu lembut, hanya memegang kuas dan buku, kini telah belajar membunuh.
Putri Li Yuexin yang dulu mungkin akan jijik melihat hal ini. Tapi Putri Li Yuexin yang sekarang tahu bahwa ini adalah harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup.
Kakek Shen Guotai meletakkan tangannya di bahu Putri Li Yuexin. Sentuhan itu hangat dan menenangkan.
"Semua sudah berakhir, cucuku," kata kakeknya pelan. "Kau telah menyelamatkan negara. Kau telah menyelamatkan keluargamu."
Putri Li Yuexin hanya mengangguk pelan. Dia menyarungkan pedangnya kembali.
"Bersihkan aula ini," perintah Kakek Shen Guotai pada pasukannya dengan suara berwibawa, meski matanya sedih melihat Kaisar yang hancur. "Dan siapkan upacara pemakaman kerajaan untuk Pangeran Jianyu. Sebagai anggota keluarga, bukan sebagai pengkhianat. Biarlah sejarah mencatat kebenarannya, tapi biarlah kasih sayang dari seorang ayah yang menutup matanya."
Malam itu,
Istana kembali sunyi, tapi kesunyian kali ini berbeda. Bukan kesunyian sebelum badai, tapi kesunyian setelah badai besar telah lewat, meninggalkan puing-puing dan keheningan yang menyakitkan.
Putri Li Yuexin kembali ke Istana Bulan Giok. Qingyu menunggu di pintu, menangis lega saat melihat nonanya selamat.
"Nona..." Qingyu memeluknya erat.
Putri Li Yuexin membalas pelukan itu, memejamkan matanya. "Sudah selesai, Qingyu. Kita aman."
Tapi di dalam hatinya, dia tahu. Keamanan adalah ilusi karena takhta masih goyah. Kaisar semakin tua dan rapuh setelah kejadian malam ini. Dan Faksi Timur, meski menang, sekarang memegang kekuasaan mutlak yang bisa membuat mereka arogan.
Putri Li Yuexin telah memenangkan perang. Tapi apakah dia siap untuk damai?
Dia berjalan ke kamarnya, membuka jendela, dan menatap bulan purnama yang akhirnya muncul dari balik awan. Cahayanya perak dan dingin, menerangi dunia yang baru saja berubah selamanya.
Besok, kehidupan barunya akan dimulai. Kehidupan di mana dia bukan lagi korban, bukan lagi pembalas dendam, tapi... apa?
Itu adalah pertanyaan yang harus dia jawab sendiri.