Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Viona yang sudah menahan sakit sejak tadi akhirnya kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya hampir ambruk.
“Viona!” seru Bibi Ma sambil segera menopang tubuh gadis itu.
Dylan langsung mengabaikan Clara dan bergegas menghampiri Viona.
“Bibi Ma, apa yang terjadi?” tanyanya dengan wajah serius.
“Tuan Muda, bekas jahitan Viona kembali berdarah. Tadi Nona Clara mendorongnya hingga pinggangnya membentur meja,” jawab Bibi Ma dengan cemas.
Wajah Dylan langsung berubah dingin.
Tanpa berkata apa-apa, ia membuka sedikit bagian pakaian di sekitar pinggang Viona untuk memeriksa lukanya.
Perban putih yang baru diganti sehari sebelumnya telah berubah merah karena darah.
Tatapan Dylan langsung mengeras.
“Jay!”
“Iya, Tuan!”
“Cepat hubungi Dokter Fang. Minta dia datang sekarang juga!”
“Baik, Tuan!”
Tanpa menunggu lebih lama, Dylan langsung menggendong Viona.
Viona yang wajahnya sudah pucat menggenggam pelan lengan baju Dylan.
“Tuan Muda... a-aku... aku benar-benar tidak menamparnya...” ucapnya terbata-bata sambil menahan sakit.
Dylan menunduk menatap wajah Viona.
“Aku tahu.”
Jawaban singkat itu membuat Viona membelalakkan mata.
Dylan kemudian mengangkat pandangannya ke arah Clara.
Sorot matanya begitu dingin hingga membuat Clara tanpa sadar mundur selangkah.
Viona terbaring menyamping di atas ranjang.
Wajahnya pucat, sementara keringat dingin terus membasahi dahinya akibat menahan rasa sakit di pinggang.
Dylan segera mengambil kotak P3K yang berada di dalam kamar.
Ia mengeluarkan kasa steril, cairan antiseptik, dan perban bersih.
“Tuan Muda...” lirih Viona.
“Jangan bergerak,” ucap Dylan. “Dokter Fang sedang dalam perjalanan. Aku hanya akan menghentikan pendarahannya terlebih dahulu.”
“Iya...”
Dengan hati-hati, Dylan membuka perban yang sudah dipenuhi darah.
Tatapan matanya langsung mengeras.
Bekas jahitan itu kembali terbuka di bagian luar, dan darah masih terus merembes keluar.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil kasa yang telah dibasahi antiseptik, lalu membersihkan darah di sekitar luka dengan gerakan sangat pelan.
“Ah...” Viona meringis pelan ketika cairan antiseptik menyentuh lukanya.
“Bertahan sebentar,” ujar Dylan tanpa menghentikan tangannya. “Kalau darahnya tidak dibersihkan, luka ini akan lebih mudah terinfeksi.”
Viona menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa perih.
Setelah darah di sekitar luka dibersihkan, Dylan mengambil beberapa lembar kasa steril dan menekannya perlahan di atas bekas jahitan untuk menghentikan pendarahan.
“Jangan bergerak dulu,” katanya.
Viona hanya mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar kamar.
Dokter Fang bersama Jay segera masuk membawa koper medis.
Dokter Fang melihat kasa yang menempel di pinggang Viona lalu mengangguk.
“Bagus. Kau sudah menghentikan pendarahannya sementara.Sekarang biar aku yang menangani lukanya.”
“Lakukan yang terbaik,” perintah Dylan dengan nada tegas.
Dokter Fang mengangguk.
“Tenang. Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”
Sambil mengenakan sarung tangan medis, Dokter Fang melirik Dylan.
“Dylan, bagaimana kau merawatnya sampai lukanya kembali terbuka? Ini bukan masalah kecil. Sudah dua bulan sejak operasi, tapi bekas jahitannya masih sering terbuka. Kondisi seperti ini sangat berbahaya.”
“Semua ini karena Clara,” jawab Dylan dengan wajah dingin.
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar.
Dokter Fang hanya menghela napas sebelum kembali fokus mengobati Viona.
Sementara itu...
Dylan berdiri di koridor mansion.
Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi pemantau CCTV yang terhubung dengan seluruh kamera di rumah.
Tatapannya semakin dingin saat rekaman mulai diputar.
Semua kejadian terekam dengan sangat jelas.
Mulai dari Clara yang melempar uang ke arah Viona...
Menghina Viona dan Bibi Ma...
Mendorong tubuh Viona hingga pinggangnya menghantam meja...
Merebut lalu membanting ponsel Bibi Ma hingga hancur...
Mengangkat tangan hendak menampar Viona...
Hingga saat Viona menahan pergelangan tangannya.
Yang membuat tatapan Dylan berubah semakin tajam adalah rekaman berikutnya.
Terlihat jelas...
Saat pintu mansion terbuka dan dirinya baru saja masuk.
Clara sengaja menarik tangan Viona, lalu menggunakan tangan gadis itu untuk menampar wajahnya sendiri.
Plak!
Semuanya terekam tanpa ada satu pun sudut yang terlewat.
Dylan menghentikan rekaman itu.
Rahangnya mengeras.
“Clara...” gumamnya pelan.
“Berani sekali kau bertindak sesuka hati."
“Tuan!” seru Jay sambil menghampiri Dylan.
Dylan menyerahkan ponselnya.
“Boikot nama Clara dari dunia hiburan. Sebarkan rekaman CCTV ini. Aku ingin namanya menjadi topik utama hari ini. Pastikan tidak ada lagi perusahaan yang berani menggunakan jasanya sebagai bintang iklan maupun duta merek.”
Jay menerima ponsel itu dengan ragu.
“Tuan... kalau video ini disebarkan, kariernya akan hancur.”
“Itu memang yang aku inginkan,” jawab Dylan dingin. “Dia berani membuat keributan di rumahku dan menyentuh orangku. Berarti dia sudah siap menanggung akibatnya.”
Jay terdiam.
Dylan melanjutkan, “Satu lagi. Ajukan tuntutan pidana atas tindakan kekerasan terhadap Viona. Sampaikan kepada media bahwa aku, Dylan Jiang, adalah pihak yang mengajukan tuntutan.”
“Baik, Tuan.”
“Seorang artis yang bertindak semena-mena tidak pantas mendapat tempat di industri hiburan,” ucap Dylan dengan sorot mata tajam. “Jangan berharap publik masih akan mengingat namanya setelah ini.”
Jay mengangguk pelan.
“Saya mengerti.”
“Lakukan sekarang juga.”
“Baik, Tuan.”
Jay segera berbalik meninggalkan koridor untuk menjalankan semua perintah itu, sementara Dylan tetap berdiri menatap layar ponselnya.