"Tidak!!" teriak seorang wanita yang masih memakai baju pengantin di tubuhnya. wanita itu bernama Renita Aprilia Anggraini. seorang wanita cantik yang memiliki kulit seputih porselen. dan wajah yang sangat cantik.
Sayangnya, kecantikannya itu tidak sejalan dengan kebahagiaannya. karena, tepat di malam pengantin, sebuah tragedi terjadi dan menimpa sang suami. hingga membuat wanita itu, seketika menjadi histeris.
Apalagi, saat semua orang mengatakan bahwa suaminya yang bernama Adrian Marcel Wijayanto dinyatakan meninggal oleh semua orang.
Membuat Reni, begitulah sapaan orang-orang. seketika jatuh pingsan. dan harus menjalani perawatan hingga berhari-hari
Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya jika gadis cantik itu tahu kebenaran tentang sang suami dan juga keluarganya? apa yang akan dilakukan oleh Renita, terhadap tradisi konyol yang diterapkan di keluarganya sendiri?
Mampukah, gadis cantik itu melawan tradisi keluarganya yang terkesan sangat aneh dan kuno?
Yuk Simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Tabah
Beberapa hari kemudian.
Kondisi Renita semakin lama semakin parah. morning sickness wanita itu, juga semakin parah. membuat Renita, tidak mempunyai tenaga untuk hanya sekedar membawa tubuhnya beranjak dari tempat tidur.
"kita harus membawanya ke rumah sakit yang ada di kota,"ucap Hendri pada istrinya.
Karena memang di sini, akses ke semua aspek sangatlah terbatas. dan jika harus memenuhi aspek kesehatan, mereka diharuskan menuju ke pusat kota yang jaraknya lumayan jauh.
"sekarang kita harus memeriksakan kandunganmu,"ucap Marina kepada Putrinya. saat ini mereka semua, berada di ruang keluarga. suasana masih sedikit menegangkan. karena mereka semua, baru saja mendapatkan kabar mengejutkan itu.
Renita dan Hendri yang mendengar itu, seketika saling pandang."aku takut Bunda,"ucap wanita itu Seraya menundukkan kepala. dan dengan segera, mengusap air matanya secara perlahan.
"tenang Sayang, Ada bunda di sini."ucapnya Seraya menggenggam tangan Renita dengan penuh kasih sayang
Karena bagaimanapun juga, Marina adalah seorang ibu yang baru saja mendapatkan kemalangan. tidak ada seorang ibu pun, yang menginginkan anaknya mendapatkan kemalangan seperti itu
Mendengar ucapan bundanya, Renita dengan perlahan-lahan melakukan kepala. dan dengan segera, wanita itu melangkahkan kakinya dengan di papah oleh sang Ayah. Karena sejujurnya, wanita itu merasa tidak bertenaga.
Selain karena morning sickness yang semakin parah, batin wanita itu, juga saat ini merasa terguncang dengan keadaan yang menimpa tubuhnya itu.
****
Di sepanjang jalan, Renita tak henti-hentinya menangis. karena meretuki kemalangan yang bertubi-tubi menimpa dirinya itu.
Sementara Marina, wanita paruh baya itu ikut menitikan air mata. karena tidak kuasa melihat kenyataan pahit yang mereka harus hadapi itu.
"sabar sayang, kita semua ada di dekatmu. "ucap Marina Seraya menggenggam tangan dari putrinya itu.
Renita yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian kembali memejamkan mata. karena kepalanya, benar-benar terasa sangat pusing saat ini.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil yang membawa mereka semua, telah sampai di sebuah rumah sakit yang terbilang cukup mewah di kota terpencil seperti itu.
"sepertinya fasilitasnya oke."ucap nirna Soraya menatap ke sekeliling bangunan itu.
Hendri yang mendengar itu, ikut melihat ke sekeliling. dan tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepala. pertanda bahwa apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya seorang yang mengenakan pakaian berwarna putih. hal itu membuat Marina dan yang lain, seketika menoleh ke arah sumber suara.
Mereka sejenak terkejut. karena ternyata, di rumah sakit ini tenaga medis yang menghampiri pasien. bukan pasien yang menghampiri tenaga medis. mungkin karena, tempat ini adalah kota terpencil.
"kami akan memeriksakan kandungan anak kami."ucap Marina yang baru saja tersadar dari lamunannya.
Dokter laki-laki itu, menganggukkan kepala. kemudian menatap ke arah Renita, dengan tatapan yang sulit diartikan. membuat Renita yang menyadari itu, seketika menundukkan kepala.
"kalau begitu mari ikut saya,"ucap dokter laki-laki itu. Soraya sekali lagi, menatap ke arah Renita. membuat wanita itu seketika menundukkan kepala.
*****
Kini mereka semua, berada di sebuah ruangan. dengan dokter tampan itu yang saat ini ada di hadapan mereka.
"apa keluhan anda?"Tanya Dokter tampan itu Seraya sesekali menetap ke arah Renita.
"apa tidak ada Dokter wanita?"tiba-tiba saja, Renita mengeluarkan suaranya. membuat semua orang yang ada di sana, seketika menoleh ke arah dirinya.
"mohon maaf, di rumah sakit ini dokter kandungan hanya saya. tapi anda tenang saja, yang akan melakukan pemeriksaan itu adalah asisten perawat."ucap dokter laki-laki itu Seraya menunjukkan ke arah seorang perawat yang ada di sampingnya.
Membuat Renita yang mendengar itu, seketika menghela nafas lega."syukurlah kalau begitu."gumam wanita itu dalam hati
Akhirnya Renita berbaring di ranjang itu. dan perawat wanita itu mulai memeriksa kondisi Renita.
"nah semuanya, Anda bisa melihat kan jika di dalam rahim ini, Ada sosok makhluk kecil yang sangat menggemaskan yang disebut janin, jadi selamat atas kehamilannya nona."ucap dokter laki-laki itu yang bernama Arnold Milton itu.
Degh
Jantung Renita dan kedua orang tuanya, seakan ingin lepas dari tempatnya. saat mendengar ucapan dari dokter itu.
Marina yang mendengar itu, segera menggenggam tangan putrinya dan menatapnya dengan tatapan yang menggambarkan, kau harus tabah. begitulah arti tatapan dari Marina.
Renita yang melihat itu, menganggukkan kepala. Soraya tersenyum kecil. sementara dihadapan mereka, laki-laki yang berseragam jas putih itu, seketika menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang sulit diartikan.
*****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita termenung di atas tempat tidur. dan tak berselang lama, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
"kau kenapa?"tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Susanti Ibu dari Desi.
Sementara wanita itu, hanya mendongakkan kepalanya sebentar. dan setelah itu, kembali menatap sendu ke arah sebuah foto yang memang ia abadikan bersama dengan sang suami.
"aku merindukan bang Adrian "gumam wanita cantik itu Seraya berderai air mata.
Hal itu membuat Susanti yang mendengarnya, seketika langsung memeluk tubuh putrinya dengan erat. mencoba untuk menguatkan wanita cantik itu.
"kamu yang sabar ya. kamu harus tabah,"ucap Susanti Soraya memeluk tubuh putrinya.
Desi yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala."aku akan tabah menunggumu bang Adrian."kuman wanita itu penuh dengan keyakinan.
Susanti yang mendengarnya, tersenyum dengan hangat. kemudian mengajak putrinya itu untuk keluar dari dalam kamar. karena memang semenjak kepergian dari Adrian, isi menjadi sedikit murung dari biasanya.
Hal itu membuat Susanti merasa sedikit khawatir. hingga wanita paruh baya itu, menyuruh suaminya untuk mencari tahu keberadaan menantu mereka itu.
Namun sampai sekarang, mereka semua belum mendapatkan hilal Di mana keberadaan Adrian. apalagi laki-laki tampan itu, berada di sebuah kota besar. pasti akan sulit untuk mereka mencari keberadaan laki-laki itu.
Desi segera menganggukkan kepalanya. dan dengan segera, mengikuti ke mana arah langkah ibunya itu.
"kau harus sabar Desi berdoa saja agar suamimu cepat kembali dan membawamu ke kota untuk bertemu dengan keluarganya."ucap Santoso. saat melihat istri dan anaknya baru saja keluar dari dalam kamar.
Desi yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil.
"aku berharap, di dalam sini lekas tumbuh makhluk kecil menggemaskan."ucap Desi penuh harap Seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Kedua sudut bibirnya, seketika melengkung membentuk sebuah senyuman. saat mengingat momen indah bersama Adrian. walaupun mereka menikah di suasana yang tidak tepat, tapi Adrian memperlakukan dan menunaikan kewajibannya dengan baik.