Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Rumah Ki Suryo Prawangsa. Waktu yang sama.
Di sebuah rumah joglo kecil yang tersembunyi di balik rumpun bambu, seorang lelaki tua duduk bersila di pendopo. Ki Suryo Prawangsa dalang terkenal yang dulu pernah tampil di Alun-Alun Utara, dahulunya pernah menjadi murid dari Ki Sarowang Prawangsa.
Tapi hari ini, ia tidak sedang mendalang. Ia sedang menatap sebuah keris kecil yang tergeletak di hadapannya. Keris yang dibawa Bayu.
"Jadi... sudah dimulai," bisiknya pada diri sendiri.
Di depannya, Bayu duduk bersimpuh. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia sudah tidak tidur selama berhari-hari. Tapi ia masih waras. Masih bisa berpikir jernih. Berkat keris itu.
"Saya mohon, Ki. Lepasin ikatan ini. Saya nggak tahan lagi. Setiap malam dia muncul. Setiap detik suaranya ada di kepala saya. Saya..."
"Kamu tahu siapa gadis itu?" tanya Ki Suryo, suaranya tenang.
"Lusi Arimbi. Mahasiswi Akuntansi. Dulu... dulu saya kira dia cuma cewek biasa."
"Dia bukan cewek biasa." Ki Suryo meletakkan kerisnya. "Dia darah daging guruku. Ki Sarowang Prawangsa. Dan kalau dia sudah memakai Semar Mesem..." lelaki tua itu menghela napas. "...saya tidak bisa melawan."
"Kenapa?! Ki kan muridnya?! Pasti ada ilmunya! Pasti ada penawarnya!"
"Penawar Semar Mesem cuma ada dua: kematian pengirim, atau pengirim sendiri yang melepas ikatannya. Tidak ada yang lain." Ki Suryo menatap Bayu dengan mata tua yang penuh penyesalan. "Dan saya... saya tidak berhak mencampuri urusan keluarga Sarowang. Tidak setelah apa yang terjadi dulu."
"Apa yang terjadi dulu, Ki?"
Ki Suryo tidak menjawab. Ia hanya menatap keris di hadapannya, dan di matanya ada kenangan pahit yang tidak ingin ia ungkit.
"Ada satu hal yang bisa saya bantu," katanya akhirnya. "Pergilah ke Gunung Lawu. Temui Ki Sarowang. Minta maaf. Minta ampun. Mungkin... mungkin kakek buyut gadis itu masih punya belas kasihan."
Bayu menatap lelaki tua itu dengan putus asa. "Itu satu-satunya cara?"
"Itu satu-satunya cara."
Kampus Universitas Adiloka. Siang harinya.
Acara bazar masih berlangsung. Tapi fokus semua orang sudah bukan lagi pada makanan atau pertunjukan musik. Fokus semua orang adalah pada tiga laki-laki yang duduk di meja sudut kantin, mengelilingi seorang gadis berjilbab hitam.
Irawan di kiri. Dimas di kanan. Rendy di depan.
Tiga anggota geng paling populer di kampus. Tiga laki-laki yang dulu tidak ada yang berani melawan. Sekarang, mereka duduk seperti bawahan yang menunggu perintah dari bos mereka.
"Lus, lo mau minum apa? Gue beliin." Irawan.
"Lus, lo capek? Gue ada minyak angin." Dimas.
"Lus, lo mau makan? Gue punya cokelat." Rendy.
Mereka bertiga berbicara hampir bersamaan, saling berlomba untuk mendapatkan perhatian Lusi. Seperti burung merak yang memamerkan bulunya. Seperti anjing yang menggonggong minta dielus.
Lusi duduk di tengah, diam. Matanya tidak menatap mereka. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah lapangan basket yang mulai sepi.
Di mana Bayu? Kenapa dia belum muncul?
Ia sudah mengirimkan mantra yang sama. Ia sudah melakukan ritual yang sama. Tapi Bayu masih belum sepenuhnya terikat. Keris itu... keris sialan itu...
"Kak Dimas," tiba-tiba ia bersuara.
"Iya, Lus?!" Dimas langsung menegakkan punggungnya.
"Kamu tahu di mana Bayu?"
Wajah Dimas berubah. Ada sesuatu di matanya sesuatu yang bertahan. Kesadaran. "Bayu? Nggak... nggak tahu. Dia ngilang. Sejak lo balik."
"Kamu yakin?"
"Yakin! Gue sumpah! Dia nggak bisa dihubungi. Ponselnya mati. Tempat kosnya kosong. Dia... dia kayak hilang ditelan bumi."
Lusi menatap Dimas lama. Lalu ke Rendy. Lalu ke Irawan. "Kalau gitu, kalian bertiga... cari dia."
"Cari Bayu?" Irawan mengerutkan dahinya. "Buat apa, Lus?"
"Buat apa, Wan?" Lusi tersenyum senyum dingin yang sama yang selalu muncul sekarang. "Buat ngumpulin kalian semua. Biar lengkap. Kayak dulu."
Ketiganya saling berpandangan. Tidak ada yang berani membantah.
Malam harinya. Kost Lusi. Pukul 22.00.
Lusi duduk di depan meja. Tiga foto masih tergeletak di sana Irawan, Dimas, Rendy. Bayangan hitam di atas foto Dimas dan Rendy sekarang sudah sama pekatnya dengan foto Irawan. Ikatan sudah hampir sempurna. Tiga dari empat.
Tapi foto Bayu... bayangannya masih samar. Masih berkedip-kedip. Masih tidak stabil.
Lusi menyentuh foto itu. Jemarinya dingin.
"Kamu di mana, Bayu? Kenapa kamu sembunyi? Kenapa kamu beda dari yang lain?"
Karena dia tahu, bisik suara di kepalanya. Sejak awal, dia tahu ada sesuatu dalam dirimu.
Lusi ingat percakapan di perpustakaan. Ingat tatapan mata Bayu yang selalu tajam, selalu menyelidiki. Dulu ia mengira itu kebiasaan. Sekarang ia tahu, itu insting.
Bayu tidak seperti yang lain. Ia bukan sekadar pengikut. Ia adalah pengamat. Dan seorang pengamat... selalu selangkah lebih maju.
Tapi Lusi tidak akan menyerah. Ia sudah terlalu jauh. Ia sudah mengorbankan terlalu banyak. Kekosongan di dadanya, kehampaan yang ia rasakan setiap hari semuanya tidak boleh sia-sia.
"Besok," bisiknya. "Besok aku cari kamu sendiri."
Ponselnya bergetar. Pesan dari Irawan.
"Lus, gue udah nyariin Bayu seharian. Nggak ketemu. Dimas juga nyariin. Rendy juga. Dia beneran ngilang. Tapi gue denger dari temennya temen, dia pernah keliatan di daerah Ngampel. Deket rumah dalang tua. Ki Suryo. Itu kan kakek gue sendiri. Tapi kenapa Bayu ke sana ya? Tumben. Eh, ngomong-ngomong, lo udah makan? Udah mandi? Udah tidur? Gue di rumah, susah tidur. Tapi nggak apa-apa. Asal lo sehat. Gue sayang lo. Selamat malam."
Lusi menatap pesan itu.
Bayu ke rumah Ki Suryo.
Jadi benar. Ada hubungan antara Bayu dan dalang tua itu. Keris pusaka. Ki Suryo. Ki Sarowang. Semuanya terhubung. Tapi apa benang merahnya?
Ia meraih kotak kayu di lacinya. Masih tertutup. Masih hangat.
Kapan aku harus buka ini, Mbah?
Kotak itu tidak menjawab. Hanya bergetar pelan, seolah berbisik: Sabar.
Keesokan harinya. Minggu pagi.
Bi Tun muncul lagi di kost Lusi. Kali ini wajahnya lebih serius.
"Nduk, Bi Tun udah cari info soal Bayu. Dia emang ke Ngampel. Ke rumah Ki Suryo."
"Aku tahu." Lusi mengangguk. "Irawan yang kasih tahu."
"Tapi dia udah pergi dari sana. Tadi pagi. Ada yang lihat dia naik bus jurusan Tawangmangu."
Lusi menegang. "Tawangmangu? Ke arah... Gunung Lawu?"
"Iya." Bi Tun menatap Lusi dengan tatapan khawatir. "Dia... dia mau ke rumah Ki Sarowang."
Keheningan.
Bayu pergi ke Gunung Lawu. Ke rumah kakek buyutnya. Untuk apa? Minta perlindungan? Minta ampun? Atau... sesuatu yang lain?
"Aku harus ke sana," kata Lusi sambil berdiri.
"Tunggu, Nduk. Ki Sarowang pesen... kamu nggak usah pulang dulu. Beliau bisa ngatasin sendiri."
"Tapi, Bi…"
"Kata Ki Sarowang, kamu harus tetap di sini. Selesaikan apa yang belum selesai." Bi Tun menatap Lusi tajam. "Masih ada satu yang belum terikat sepenuhnya kan?"
Lusi menunduk. "Bayu. Tapi dia malah pergi."
"Dia akan balik. Dia pasti balik. Semar Mesem nggak akan biarin dia pergi selamanya." Bi Tun menggenggam tangan Lusi. "Sabar, Nduk. Sebentar lagi. Tunggu aja."
Rumah Ki Sarowang. malam harinya.
Bayu tiba di depan gerbang kayu jati hitam dengan napas tersengal. Tubuhnya gemetar. Bukan karena lelah tapi karena setiap sel di tubuhnya berteriak memintanya untuk kembali ke Surabaya. Kembali ke Lusi. Kembali ke sumber magnet yang menariknya tanpa ampun.
Keris di tangannya bergetar hebat. Menolak energi yang mencoba memaksanya menyerah.
"Permisi..." suaranya serak. "Saya... saya mau ketemu Ki Sarowang..."
Gerbang itu tidak terbuka.
Tapi dari balik gerbang, sebuah suara tua yang dalam terdengar.
"Masuk."
Dan Bayu masuk. Ke dalam rumah dukun paling sakti di tanah Jawa. Ke dalam sarang naga yang cucunya sedang memburunya.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥