NovelToon NovelToon
Cincin Pengkhianatan

Cincin Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Its Efa

Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.

Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...

“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

[ pertunangan menyakitkan ]

Hari itu akhirnya tiba.

Langit cerah. Angin sore berembus pelan, menggerakkan kelopak-kelopak mawar putih yang memenuhi halaman rumah masa kecil Vincent.

Rumah itu dipenuhi tawa.

Anak-anak panti berlarian sambil membawa balon putih.

Damian dan para petinggi Black Raven berdiri dengan pakaian terbaik mereka.

Tak jauh dari sana...

Puluhan polisi bersenjata telah mengepung area dari berbagai arah.

Mereka menunggu.

Hanya menunggu satu kode.

Di dalam kamar, Rhea menatap bayangannya di cermin.

Gaun putih yang dikenakannya begitu indah.

Namun hari ini...

Gaun itu terasa lebih berat daripada seragam polisi yang biasa ia kenakan.

Ponselnya bergetar.

Komandan.

"Zhava."

"Ya..."

"Semua tim sudah siap."

"Setelah cincin terpasang..."

"...jalankan tugasmu."

Panggilan terputus.

Rhea memejamkan mata.

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

"Maafkan aku..."

Di halaman, Vincent berdiri dengan jas hitam yang dijahit khusus untuk hari itu.

Damian merapikan dasinya.

"Bos gugup?"

Vincent tersenyum kecil.

"Sangat."

Damian tertawa.

"Saya baru tahu Bos bisa gugup."

Vincent memandang kotak beludru hitam di tangannya.

"Hari ini..."

"...aku akhirnya punya alasan untuk hidup."

Belasan tamu mulai berkumpul.

Musik mengalun pelan.

Saat Rhea melangkah keluar dari rumah, semua orang terdiam.

Gaun putih itu membuatnya terlihat begitu anggun.

Vincent terpaku.

Matanya tidak pernah berpaling sedetik pun.

"Kau cantik."

Suara Vincent hampir berbisik.

Rhea memaksakan senyum.

"Terima kasih."

Di balik senyumnya...

Hatinya perlahan hancur.

Vincent menggenggam tangan Rhea.

Mereka berjalan menuju taman yang dipenuhi mawar putih.

Anak-anak panti bertepuk tangan riang.

"Om Vincent!"

"Kak Rhea!"

"Cepat pasang cincinnya!"

Tawa kecil memenuhi taman.

Tak seorang pun menyadari...

Bahwa di balik pagar rumah, puluhan laras senjata telah diarahkan ke tempat itu.

Vincent menarik napas panjang.

Lalu berlutut di hadapan Rhea.

Ia membuka kotak beludru hitam.

Cincin berlian itu berkilau diterpa cahaya matahari sore.

"Rhea Azlyn."

Suara Vincent bergetar.

"Aku mungkin bukan pria baik."

"Masa laluku dipenuhi darah."

"Tanganku pernah memegang pistol lebih sering daripada menggenggam bunga."

"Tapi sejak bertemu denganmu..."

"...aku belajar kalau seseorang sepertiku masih boleh bermimpi."

Matanya mulai memerah.

"Aku ingin meninggalkan semuanya."

"Aku ingin hidup sederhana."

"Aku ingin pulang ke rumah yang dipenuhi mawar putih ini..."

"...bersamamu."

Vincent mengangkat cincin itu.

"Maukah kau menjadi istriku?"

Tangis Rhea pecah.

Ia menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar.

Semua tamu mengira itu adalah tangis bahagia.

Padahal...

Itu adalah tangis seorang wanita yang sebentar lagi akan menghancurkan pria yang paling ia cintai.

Dengan tangan gemetar...

Rhea menganggukkan kepala.

"Iya..."

Suara tepuk tangan menggema.

Anak-anak bersorak kegirangan.

Vincent tersenyum lebar.

Senyum paling tulus yang pernah ia miliki.

Perlahan...

Ia memasangkan cincin itu ke jari manis Rhea.

Tepat saat cincin itu melingkar sempurna...

Rhea menutup matanya.

Air mata terus mengalir.

Lalu...

Dengan tangan yang gemetar...

Ia melepaskan genggaman tangan Vincent.

Kode itu telah diberikan.

BRAAK!

Pintu gerbang didobrak.

Suara sirene memekakkan telinga.

"POLISI! JANGAN BERGERAK!"

Puluhan polisi bersenjata menyerbu halaman rumah.

Anak-anak panti menjerit ketakutan.

Para tamu panik berlarian.

Damian langsung berdiri di depan Vincent.

"Bos!"

Vincent tidak bergerak.

Tatapannya hanya tertuju kepada Rhea.

Rhea perlahan mengangkat kedua tangannya.

Dari balik gaunnya...

Ia mengeluarkan sebuah borgol.

Tangannya gemetar hebat.

Air matanya tak berhenti mengalir.

Perlahan...

Ia melangkah mendekati Vincent.

Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca.

Hingga akhirnya...

Ia berdiri tepat di hadapan pria yang baru saja melamarnya.

Vincent menatap borgol itu.

Lalu menatap wajah Rhea.

Tatapannya kosong.

Seolah seluruh dunianya runtuh dalam satu detik.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar...

Rhea berbisik,

"Maafkan aku..."

Tangannya perlahan memborgol kedua pergelangan tangan Vincent.

Klik.

Suara borgol yang mengunci terdengar begitu pelan.

Namun bagi Vincent...

Suara itu lebih memekakkan daripada ribuan peluru.

Seluruh halaman mendadak sunyi.

Vincent tidak melawan.

Tidak berteriak.

Tidak mencoba melarikan diri.

Ia hanya memandang cincin yang baru beberapa detik lalu ia pasangkan di jari Rhea.

Lalu tersenyum.

Senyum yang begitu hancur hingga membuat semua orang yang melihatnya ikut merasakan sesak.

Air mata akhirnya jatuh dari mata Vincent.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun...

Pria yang mampu bertahan dari hujan peluru itu...

Menangis.

Ia menatap Rhea tanpa sedikit pun kebencian.

Dengan suara yang serak, ia berbisik,

"Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun..."

"...adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?"

Rhea menangis semakin keras.

Namun kali ini...

Ia tak mampu menjawab.

Karena jawaban yang paling jujur...

Sudah terlambat untuk didengar. 💔

1
Anne Soraya
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!