NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Denting jam dinding tua di ruang tengah baru saja berdentang tiga kali. Suasana di luar rumah berukuran tipe 36 itu masih didekap sunyi yang pekat. Angin malam yang dingin berembus menyelinap melalui celah-celah ventilasi udara yang sempit, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di saat sebagian besar orang masih terbuai dalam mimpi, sepasang netra kecokelatan milik Adinda sudah terbuka sempurna.

​Tubuhnya terasa remuk. Rasa lelah akibat menangis semalam berpadu dengan ketegangan otot setelah seharian berdiri di depan oven, menyisakan pening yang berdenyut di pelipisnya. Namun, Adinda tidak punya kemewahan untuk memanjakan rasa sakit. Dengan tarikan napas panjang yang diembuskan perlahan, ia menyingkirkan selimut tipis yang menutupi kakinya. Ia menoleh ke samping kasur utama. Di sana, Bagas masih mendengkur halus dengan posisi telentang, sama sekali tidak terusik oleh dinginnya fajar atau beban pikiran yang nyaris menenggelamkan istrinya.

​Adinda bangkit dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan derit kasur yang bisa membangunkan suaminya. Setelah membasuh wajah dan menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta di sudut kamar yang sempit, Adinda segera melangkah menuju dapur yang menyatu dengan ruang tengah.

​Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu sekat. Jantungnya berdesir menyadari lampu dapur berdaya rendah sudah menyala. Di dekat meja kayu panjang, sesosok remaja laki-laki bertubuh jangkung namun kurus sedang sibuk memotong simpul karet pada karung beras mini berukuran lima kilogram.

​"Dimas?" bisik Adinda dengan suara parau khas bangun tidur.

​Anak laki-laki berusia empat belas tahun itu menoleh. Wajah remajanya yang masih menyisakan sisa-sisa kantuk langsung ditarik menjadi sebuah senyuman lebar. "Selamat pagi, Ibu. Berasnya sudah aku cuci sekali, ini mau dibilas yang kedua kali sebelum masuk ke magic com besar."

​Adinda melangkah cepat mendekati putranya. Ia merebut wadah alumunium besar dari tangan Dimas. "Ya ampun, Nak. Ini baru jam tiga lewat sedikit. Kenapa kamu sudah bangun? Hari ini hari Jumat, kamu ada ujian sekolah, kan? Sana tidur lagi, biar Ibu yang kerjakan semua."

​Dimas bersikeras menahan wadah itu, enggan melepaskannya. "Aku gak ngantuk, Bu. Lagian kalau nunggu Ibu bangun dan ngerjain semuanya sendiri, nanti kateringnya telat diantar jam enam subuh. Jam setengah enam kan orang-orang kantor yang pesan sudah mulai bersiap."

​"Tapi tugas kamu itu belajar, Dimas. Bukan ikut begadang dan mandi keringat di dapur subuh-subuh begini," mata Adinda mulai berkaca-kaca. Ada rasa bersalah yang teramat besar menghujam dadanya setiap kali melihat anak tunggalnya harus menanggung beban kedewasaan sebelum waktunya.

​Dimas menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap lekat manik mata ibunya dengan sorot mata yang teramat teduh, namun menyimpan ketegasan yang luar biasa.

​"Bu, aku ini anak laki-laki Ibu. Aku sudah SMP, sudah paham mana yang benar dan mana yang salah," ucap Dimas dengan suara yang mulai memberat khas remaja pria. "Aku gak akan bisa tidur nyenyak di dalam kamar kalau tahu Ibu banting tulang sendirian di sini. Aku gak mau liat Ibu capek, apalagi kalau uang yang Ibu hasilkan dari keringat subuh begini ujung-ujungnya cuma diminta Abah buat urusan keluarganya yang gak tahu diri itu."

​Kalimat jujur dari bibir Dimas membuat kerongkongan Adinda tercekat. Ia tidak mampu berkata-kata. Dimas, anak yang dahulu ia timang dengan penuh kehati-hatian, kini telah tumbuh menjadi tameng hidupnya. Alasan Dimas begitu sederhana, namun menghantam ulu hati Adinda dengan telak. Anak itu terlalu sering menjadi saksi bisu bagaimana jatah uang belanja dapur mereka, uang spp sekolahnya, hingga modal usaha ibunya, menyuburkan gengsi keluarga besar sang ayah.

​"Ya sudah," Adinda akhirnya mengalah, menyeka sudut matanya yang basah dengan ujung daster. "Kamu bantu kupas bawang merah dan bawang putih saja, ya? Ingat, kalau matanya perih, jangan dikucek."

​"Siap, Kapten!" Dimas memberi hormat kecil, mencoba mencairkan suasana yang sempat melow.

​Ibu dan anak itu pun mulai membelah kesunyian fajar dengan harmoni kerja sama yang luar biasa. Adinda mulai menyalakan kompor gas dua tungku miliknya. Satu tungku digunakan untuk mengungkep ayam dengan bumbu kuning racikan khasnya yang harum, sementara tungku lainnya memanaskan wajan besar untuk menumis sayur mayur. Dimas duduk di kursi plastik kecil, dengan telaten mengupas satu per satu kulit bawang, memotong cabai, dan menyiapkan kotak-kotak dus yang sudah ia lipat semalam.

​Di tengah riuhnya bunyi sutil yang beradu dengan wajan dan aroma masakan yang mulai menggoda selera, ingatan Adinda melayang pada lingkaran keluarga mereka yang begitu kontras.

​Bagi Dimas, keluarga dari pihak Abah Bagas adalah sekumpulan orang asing yang menakutkan sekaligus menjengkelkan. Sejak kecil, Dimas tidak pernah merasa akrab dengan mereka. Di mata Ibu mertua Adinda dan kakak-kakak Bagas yang sukses, Bagas dan keluarganya hanyalah barisan nomor enam yang tidak punya nilai jual. Setiap kali ada acara kumpul keluarga di rumah Mas Broto, Dimas selalu dipandang sebelah mata. Sepupu-sepupunya yang seumuran, yang merupakan anak-anak dari kakak pertama hingga kakak keempat Bagas, selalu mengenakan pakaian bermerek, memegang gawai keluaran terbaru, dan bercerita tentang liburan ke luar kota atau kursus-kursus mahal.

​Sementara Dimas? Dia hanya akan duduk di sudut ruangan, mengenakan baju terbaiknya yang sebenarnya sudah agak kekecilan dan warnanya mulai pudar, menjadi sasaran sindiran tipis dari bibi-bibinya. "Eh, Dimas, sekolahnya gimana? Gak ikut les bahasa Inggris kayak si Kevin? Eman lho, sekarang kalau gak les nanti ketinggalan zaman." Atau kalimat menyakitkan dari sang Nenek, "Bagas, itu anakmu dikasih makan yang banyak, kok kurus begitu. Gak kayak cucu Ibu yang dari Mas Broto, gemuk-gemuk dan bersih."

​Mereka tidak pernah mau tahu, atau sengaja menutup mata, bahwa alasan Dimas tidak ikut les dan tubuhnya kurus adalah karena uang yang seharusnya untuk memfasilitasi pertumbuhan Dimas habis disedot oleh sistem iuran bagi rata yang mereka ciptakan sendiri.

​Sebaliknya, hubungan Dimas dengan keluarga mendiang orang tua Adinda berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Orang tua Adinda memang sudah tiada sejak Adinda masih sekolah dan ia hanya memiliki seorang kakak laki-laki kandung bernama Danu. Satunya-satunya kakak Adinda itu kini tinggal di luar kota, terpisah jarak ratusan kilometer karena tuntutan pekerjaan sebagai kepala cabang sebuah bank swasta.

​Meski terpisah jarak, kasih sayang keluarga Adinda mengalir deras tanpa jeda. Anak-anak dari Mas Danu semuanya perempuan, tiga bersaudara. Dua di antaranya kini tengah menempuh pendidikan kuliah di universitas ternama di luar negeri dengan beasiswa dan biaya penuh dari Mas Danu, sedangkan si sulung sudah bekerja mapan di Jakarta. Karena Mas Danu tidak memiliki anak laki-laki, dan anak-anak perempuannya sudah mandiri, Dimas otomatis menjadi keponakan laki-laki satu-satunya sekaligus kesayangan di keluarga besar Adinda.

​Setiap awal bulan, sebuah notifikasi transferan dari rekening Mas Danu selalu masuk ke ponsel Adinda. Nominalnya tidak pernah kurang dari satu setengah juta rupiah. Itu adalah uang saku khusus yang dikirimkan Mas Danu untuk Dimas.

Dek, ini uang buat jajan atau beli buku si Dimas, ya. Tolong jangan dipakai buat yang lain. Kalau kurang, bilang sama Mas. Mas gak punya anak cowok, jadi Dimas itu ya anak cowok Mas satu-satunya," begitu pesan singkat yang selalu dikirimkan Mas Danu setiap kali selesai mentransfer.

Hal ini tentunya di ketahui mbak Anik istri Mas Danu yang juga sangat baik dan tidak mempermasalahkan suaminya sering mentransfer uang ke Adik nya, ini pun atas perintah mbak Anik, mbak ipar Adinda.

​Namun, Adinda tahu diri. Uang dari kakaknya itu selalu ia simpan rapat-rapat dalam rekening terpisah khusus untuk masa depan Dimas, atau digunakan hanya jika ada kebutuhan sekolah Dimas yang benar-benar mendesak. Adinda sengaja merahasiakan uang bulanan dari Mas Danu ini dari pengetahuan Bagas.

Jika sampai Bagas tahu kalau Dimas selalu mendapat uang bulanan dari pamannya, Adinda sangat yakin uang itu akan langsung dipotong atau dijadikan alasan oleh Bagas untuk lepas tangan dari tanggung jawabnya membiayai anak kandungnya sendiri. "Kan ada uang dari Mas Danu, pakai itu dulu saja lah, Din. Ini Mas Broto lagi minta patungan buat bayar pajak mobil Ibu," Adinda bahkan sudah bisa meraba isi kepala suaminya jika rahasia itu terbongkar.

​"Bu, ayam ungkepnya sudah matang, ya? Biar aku pindahkan ke wadah peniris," suara Dimas membuyarkan lamunan Adinda.

​"Eh, iya, Nak. Hati-hati panas," ujar Adinda lembut, menatap putranya yang dengan cekatan menggunakan kain lap untuk mengangkat panci panas.

​Melihat punggung Dimas yang bergerak lincah, hati Adinda menghangat sekaligus teriris. Di tempat ini, di keluarga yang serba kekurangan ini, Dimas adalah permata yang paling berharga. Di saat keluarga Abahnya menganggap Dimas sepihak sebagai anak dari 'saudara yang miskin', bagi keluarga Mas Danu, Dimas adalah pangeran kecil yang selalu dirindukan. Kontras yang luar biasa ini kian memantapkan hati Adinda bahwa ia tidak boleh terus-menerus mengalah. Jika ia hancur karena kebodohan Bagas, maka masa depan Dimas yang begitu dicintai oleh pamannya juga akan ikut hancur.

​Tepat pukul lima pagi, seluruh pesanan katering berupa lima puluh kotak nasi ayam bakar madu lengkap dengan lalapan dan sambal bajak telah selesai dikemas dengan rapi. Dus-dus itu tersusun kokoh di atas meja, siap diangkut. Keringat bercucuran deras dari pelipis Dimas, membasahi kaos oblong hitam yang dipakainya. Namun, mata remaja itu berbinar puas.

​"Alhamdulillah, selesai tepat waktu, Bu!" seru Dimas riang sembari menyeka dahi dengan punggung tangannya.

​"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, anak ganteng Ibu. Tanpa kamu, Ibu pasti keteteran," Adinda mendekati Dimas, mengusap kepala putranya yang sedikit basah oleh keringat dengan penuh kasih sayang. "Sekarang kamu buru-buru mandi, ganti seragam sekolah. Ibu siapkan sarapan buat kamu."

​"Iya, Bu. Aku mandi dulu." Dimas segera melesat menuju kamar mandi dengan langkah ringan.

​Sesaat setelah pintu kamar mandi tertutup, pintu satu-satunya kamar tidur di rumah itu terbuka. Bagas keluar dengan langkah malas, menguap lebar-lebar sambil menggaruk perutnya yang buncit di balik kaos tidurnya yang sudah melar. Ia berjalan menuju dapur, matanya langsung tertuju pada tumpukan kotak katering yang rapi di atas meja, lalu beralih ke arah wajan dan panci kotor yang menumpuk di wastafel.

​Tanpa ada rasa bersalah, tanpa ada ucapan terima kasih atau pertanyaan apakah istrinya lelah karena sudah terjaga sejak jam tiga pagi, Bagas langsung membuka tudung saji di meja makan kecil.

​"Din, sarapan apa pagi ini? Kok cuma ada tempe goreng sama sambal sisa semalam? Gak ada ayam atau telur gitu? Aku kan mau berangkat kerja, butuh energi banyak," keluh Bagas dengan nada menuntut, wajahnya cemberut menatap isi piring di atas meja.

​Adinda yang sedang mengelap sisa minyak di permukaan kompor menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menatap suaminya dengan pandangan datar sebuah pandangan dingin yang belum pernah Bagas lihat sebelumnya dari mata sang istri yang biasanya selalu tunduk dan patuh.

​"Ayamnya ada di dalam kotak katering itu, Mas. Semuanya sudah dihitung pas untuk pesanan orang. Kalau kamu mau makan ayam, silakan beli sendiri di luar pakai sisa uang gaji kamu bulan ini yang tidak kamu pakai untuk iuran Mas Broto," jawab Adinda, suaranya terdengar sangat tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris udara pagi yang dingin.

​Bagas tersentak mendengar jawaban ketus istrinya. Wajahnya seketika berubah merah padam, merasa harga dirinya sebagai kepala rumah tangga terusik di pagi buta.

​"Kamu ini kenapa sih, Din? Pagi-pagi sudah sinis begitu! Cuma nanya sarapan saja jawabnya pakai bawa-bawa urusan iuran keluarga! Itu kan sudah beres semalam, kenapa dibahas lagi? Lagian, sebagai istri harusnya kamu itu ikhlas melayani suami, bukan malah perhitungan soal makanan begini!" bentak Bagas, suaranya meninggi memenuhi ruangan.

​Tepat pada saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Dimas keluar dengan seragam putih-biru yang sudah rapi dan wangi. Mendengar bentakan ayahnya kepada ibunya, langkah kaki Dimas langsung berderap cepat. Ia tidak melangkah menuju kamarnya, melainkan langsung berdiri tegap di antara Adinda dan Bagas, memisahkan ibunya dari jangkauan kemarahan sang ayah.

​"Abah kalau mau sarapan enak, ya modalin Ibu uang belanja yang benar!"

potong Dimas dengan suara lantang, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bagas tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Uang belanja dari Abah bulan ini saja sudah dipotong buat iuran beli kursi pijat Nenek bulan lalu. Semalam Abah ambil lagi uang modal kue Ibu buat patungan pesta ulang tahun Nenek. Sekarang Abah masih protes kenapa lauknya cuma tempe? Abah harusnya malu sama diri sendiri!"

​Bagas terbelalak. Ia merasa bagai disambar petir mendengar anak kandungnya sendiri yang baru bau kencur berani menceramahinya dengan kalimat yang begitu menohok.

​"Dimas! Berani kamu ya bicara begitu sama Abah?! Siapa yang ngajarin kamu jadi anak kurang ajar begini, hah?! Pasti Ibumu yang selalu cekokin kamu dengan omongan jelek tentang Abah dan keluarga Abah!" Bagas menunjuk wajah Dimas dengan jari telunjuknya yang bergetar karena amarah yang memuncak.

​"Gak ada yang ngajarin aku, Bah! Aku punya mata buat melihat sendiri gimana Ibu tiap hari kerja keras sampai sakit sakitan, sementara Abah cuma sibuk mikirin gengsi di depan Om Broto!" balas Dimas, suaranya tidak bergetar sedikit pun, mencerminkan keteguhan hati yang luar biasa. "Keluarga Abah gak pernah peduli sama kita! Di mata mereka kita ini cuma nomor sekian, tapi Abah malah mau jadi pahlawan kesiangan yang ngorbanin isi dapur kita sendiri!"

​"Dimas, sudah, Nak..." Adinda memegang pundak Dimas, mencoba meredam emosi anaknya yang menggebu-gebu. Adinda tidak ingin fokus anaknya pecah karena hari ini Dimas harus menghadapi ujian di sekolahnya.

​Bagas mendengus kasar, memalingkan mukanya dengan napas yang memburu. "Bagus ya, Din. Kamu berhasil mendidik anak ini jadi pembangkang. Ingat ya Dimas, tanpa Abah yang kasih kamu makan dan tempat tinggal di sini, kamu itu gak bakal bisa sekolah!"

​Mendengar kalimat terakhir Bagas, Dimas justru tersenyum sinis sebuah senyuman penuh rahasia yang membuat Bagas mengernyitkan dahi. Dimas tahu persis, rumah yang mereka tempati ini dibeli dari hasil keringat ibunya sendiri, dan uang sakunya yang melimpah selama ini berasal dari Om Danu, kakak ibunya yang sangat menyayanginya, bukan dari sepeser pun uang gengsi milik ayahnya.

​Dimas tidak membalas lagi makian ayahnya. Ia berbalik menghadap Adinda, menyalami tangan ibunya dengan khidmat lalu mencium pipi Adinda lembut. "Bu, Dimas berangkat sekolah dulu ya. Ibu jangan capek-capek. Soal katering, nanti biar Pak RT yang bantu angkut pakai motornya kan sudah janji semalam."

​"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya. Kerjakan ujiannya dengan tenang. Ibu selalu doakan kamu," bisik Adinda dengan senyuman tulus, mengabaikan keberadaan Bagas yang masih berdiri dengan wajah masam di sudut dapur.

​Setelah Dimas melangkah keluar dan menutup pintu pagar, suasana di dalam rumah kembali hening dan mencekam. Bagas menyambar jaket kerjanya dengan kasar dari atas sofa, menatap Adinda dengan pandangan penuh kemarahan sebelum melangkah pergi tanpa pamit.

​Adinda berdiri mematung di tengah dapurnya yang mulai mendingin. Ia menatap kepergian suaminya dengan hati yang tidak lagi merasakan sakit, melainkan kekosongan yang teramat sangat. Kesabaran Adinda telah habis terbakar fajar hari ini. Di dalam benaknya, sebuah rencana besar telah tersusun rapi. Pesta ulang tahun sang mertua yang ke-70 minggu depan tidak akan hanya menjadi panggung pamer kemewahan bagi Mas Broto dan Bagas, melainkan akan menjadi panggung di mana Adinda akan merobek seluruh kepalsuan itu dan mengambil kembali kemerdekaan hidupnya bersama Dimas.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!