Fredella Dominique tidak menyangka harus menikahi pria yang usianya lebih tua. Dia dijodohkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga calon suaminya.
Tapi siapa sangka, calon suaminya sangat perhatian dan mencoba memulai hubungan yang baik diantara mereka. Tidak seperti rumor beredar bahwa pria itu dingin, datar juga kejam, melainkan sikapnya sangat manis pada Fredella.
Hingga keduanya menikah atas dasar cinta. Fredella jatuh cinta pada suaminya, kegigihan dan ketulusan pria itu meluluhkan hati.
Tapi siapa sangka suatu hari badai datang mengusik bahkan menghancurkan kehidupan manisnya bertubi-tubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Sedikit Demi Sedikit
BAB 30
Dariel tersenyum memandangi wajah manis merona istrinya. Memainkan anak rambut di kening Fredella, salah satu tempat dimana ia melabuhkan bibir.
Beralih pada bulu mata lentik sang istri, hatinya tersayat melihat mata hazel indah itu mengeluarkan air mata.
“Aku mencintaimu Fredella.” Bisik Dariel di telinga sang istri.
Dariel menggendong ala bridal istrinya, menciumi pipi Fredella dan puncak kepala harum buah-buahan.
Dia mendengus kesal dan jengah pada Clarissa yang menghadangnya.
“Ada apa?.”
“Aku ingin kamu.”
“Clarissa dengar, kamu jangan gila. Apa perhatian dari mama tidak cukup? Tolong mengerti posisi Fredella, Ca. Saat ini dia yang paling terluka, jangan jadikan dirimu korban, kamu yang menjebak-ku, kan? Aku sudah melupakannya tapi jangan usik rumah tanggaku dengan adikmu.”
“Dariel kamu dengar, kamu menyakiti hatiku dan itu artinya secara tidak langsung kamu juga menyakiti anak kita, berikan aku cinta sedikit dan ruang di hatimu, apa tidak bisa? Mudah sekali bilang melupakan.” Lirih Clarissa tiada jera mengemis cinta seorang pria.
“Maaf Ca, masih banyak pria lain yang siap menerima kamu. Aku..... aku tidak akan pernah membaginya dengan wanita lain, kita telah saling mengenal lebih dari sepuluh tahun, seharusnya kamu paham sebelum melakukan hal picik seperti ini.” Dariel melangkah pergi meninggalkan ibu hamil itu seorang diri.
Dalam gelapnya malam Clarissa hanya bisa memandang sendu punggung pria yang ia cintai. Menyusut kasar air mata yang membasahi pipi, memang salahnya terlalu terobsesi pada pria itu, bersemangat mendapatkan hati yang tak pernah sekalipun melirik padanya.
“Aku hanya ingin hatimu Dariel, aku mau kamu mencintaiku sama seperti Fredella. Seharusnya kamu tahu aku tulus, semua ini juga karena penolakan-mu, sampai aku melakukan segala cara.” Clarissa menangis sejadi-jadi, ia membekap mulutnya.
Sakit dan patah segenggam hatinya, kata-kata Dariel sukses menusuk dan menyayat perasaan ibu hamil ini. Sampai Clarissa mencoba berdiri, namun kepalanya pusing dan tidak kuat menahan bobot tubuh, ia berpegangan pada railing tangga.
“Aw sakit.” Keluhnya memegangi perut.
Ia berharap Dariel kembali turun atau sekadar menoleh untuk memeriksa keadaannya tapi harapan itu hilang sudah, tubuhnya merosot ke lantai.
“Dariel”
“Dariel, sa-sakit.”
“Eh Nona, Nona Clarissa. Kenapa ya ampun.” Seorang asisten rumah tangga membantu Clarissa berdiri dan berjalan, memasuki kamar.
“Nona, sebentar. Saya panggilkan Nyonya Besar.” Panik asisten rumah.
Clarissa sabar menunggu sembari menahan sakit pada perut bagia bawahnya.
“Ca?.” Mama Nayla masuk dalam kamar bersama dokter Samantha.
“Apa yang kamu rasakan?.” Tanya Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi serta Fetomaternal ini, meskipun telah mengundurkan diri dari GB Hospital, kiprahnya sebagai dokter tidak dihilangkan begitu saja.
Samantha memeriksa Clarissa dan membawa alat kecil pendeteksi detak jantung janin, lalu memberi Clarissa satu pil sebagai obat penguat kandungan.
Dua wanita paruh baya ini tetap setia menemani Clarissa hingga terlelap dan tangannya menggenggam Mama Nayla.
“Nay, kamu berhutang penjelasan padaku.”
“Oke Samantha mungkin lain waktu, saat ini keadaan sedang panas. Bagaimana hasilnya?.” Tanya istri cantik Rayden Bradley.
Keduanya menjauhi kamar tamu, duduk di teras depan menjadi pilihan karena suasana sunyi dan sepi, serta jauh dari kamar para anggota keluarga.
Sama seperti hasil sebelumnya, kandungan Clarissa lemah dianjurkan bedrest sampai usia kandungannya menginjak 4 bulan. Faktor stress menjadi pemicu utama ibu hamil itu, emosinya naik turun hingga berpengaruh pada tumbuh kembang janin.
Nayla hanya diam seribu bahasa ketika Samantha bertanya siapa dan dimana ayah sang bayi, lalu memberinya saran dan harus dilakukan demi keselamatan ibu dan anak dalam kandungan Clarissa, pentingnya perhatian dan kasih sayang dari ayah janin.
Wanita paruh baya ini berdiri di ruang keluarga, memijat pelipis yang begitu pusing. Satu sisi ia tidak mau kehilangan menantunya tapi di sisi lain cucunya dalam bahaya, bimbang itulah yang sekarang di rasakan keluarga Rayden. Tidak mungkin juga meminta Dariel untuk selalu bersama Clarissa.
“Dariel kamu membuat kepala mama pusing, kenapa selalu ada masalah pada kehidupan anak-anakku?.” Lirihnya, melirik kamar tamu, mengintip sejenak sebelum kembali ke kamar.
**
“Ma? Apa-apaan ini?.” Berang Dariel untuk pertama kali pada wanita yang paling ia cintai.
“Dariel kamu berani bernada tinggi pada mamamu?.” Hardik Papa Rayden.
“Tapi Pa, lihat. Kenapa tidak seperti biasanya ma? Kenapa harus berubah? Apa mama tidak berpikir istriku sakit dengan keadaan ini?.” Dariel masih berusaha manahan amarah, Fredella memeluk lengannya yang bergetar.
“Dariel, ini semua karena kamu. Anak kamu dalam bahaya, tahu? Clarissa membutuhkan kamu Dariel, bagaimanapun dia ibu dari anakmu. Kandungannya lemah dan rawan keguguran” Tangis wanita paruh baya itu memukuli dada bidang putranya.
“Memangnya kenapa kalau keguguran ma?.” Geram Dariel tidak lagi bisa menahan emosi.
PLAK
Tamparan keras ia terima dari wanita yang melahirkannya.
“Kamu seharusnya malu Dariel, kamu ayahnya, mama kecewa. Teganya kamu ingin darah dagingmu lenyap.”
Pagi yang seharusnya indah dan hangat bersama keluarga, berubah tegang karena posisi duduk di ruang makan berubah.
Setelah perdebatan panjang bersama sang suami, akhirnya diputuskan selama satu bulan ini Clarissa akan duduk di samping Dariel, agar mendapat perhatian dan mood yang baik.
Mama Nayla pun berusaha menjelaskan sebaik-baiknya dan berhati-hati pada setiap kalimat yang keluar, tidak mau melukai perasaan menantu tersayangnya.
“Dariel, aku bisa duduk di samping Mama, bukan masalah.” Fredella tersenyum kaku, mencoba tegar.
“Tidak sayang tidak, mana bisa seperti ini?.”
Sedangkan Clarissa telah duduk manis di kursi milik Fredella, ia tersenyum dalam hati. Sedikit demi sedikit keberuntungan mulai memihak padanya.
“Dengar itu Dariel, semua demi kebaikan anakmu, kamu pikir papa mengambil keputusan ini tidak berpikir dulu? Berikan perhatianmu pada Clarissa di sini, dan kamu Clarissa tidak boleh menginjakkan kaki di lantai 2. Itu area khusus anak-anakku, mengerti? Hargai kemurahan hati yang aku berikan padamu.”
“I-iya pah, ma-maksudnya Om.” Clarissa sungguh takut melihat sorot tajam mata calon papa mertuanya.
Fredella menatap kosong Dariel yang duduk berdampingan bersama wanita lain, kristal bening memenuhi pelupuk matanya.
“Dariel, apa aku sanggup melihat ini? Kalian berdua, tidak lama lagi sosok kecil akan segera hadir. Aku rasa........aku rasa tidak sanggup melihatnya. Maaf.” Wanita bermata hazel ini menunduk menghapus pelan kedua matanya.
Dariel menyadari istrinya semakin terluka , ia mengepal kedua tangannya kuat, marah pada keadaan, marah pada semua orang.
“Sayang, kamu mau makan apa?.” Tanya Dariel, kedua netra tertuju pada Fredella tapi Clarissa lebih dulu menyambar, menjawab pertanyaan Dariel.
“Aku mau bubur ayam.” Suara riang dan renyah karena bahagia mendapat satu keinginan.
Namun Dariel bergeming, pandangannya terkunci pada Fredella yang juga menatap perih padanya.
“Aku bisa mengambil makanan sendiri.” Cicitnya.
“Sayang?.” Hati Dariel meringis mendapat penolakan sang istri.
...TBC...
TAMAT 😍😍😍😍