Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
"Cinta bukan sekadar rasa yang datang lalu pergi. Di budayaku, cinta adalah janji, adalah doa yang kusebut setiap sujud sejak kita bertemu. Setiap lekuk bahagia bersamamu, punya makna yang tak akan hilang selamanya."
- Arjun
*******
Sore mulai menjelang saat kami beranjak pulang dari taman wisata itu. Langit berubah menjadi perpaduan warna oranye dan ungu yang lembut, seolah ikut merayakan kebahagiaan kami hari ini. Aku duduk manis di belakang motor Arjun, memeluk pinggangnya erat-erat, menikmati sisa-sisa kebahagiaan dari perjalanan indah kami tadi.
Penampilan kami yang serasi-Arjun dengan kemeja biru dongker dan celana krem, aku dengan baju kurta biru dongker bersulam emas dan celana krem-masih terlihat sempurna, membuat kami tampak seperti pasangan yang benar-benar satu jiwa.
Rambutku yang kusanggul rapi tetap tertata indah di balik helm, dan setiap kali kakiku sedikit bergerak, terdengar suara gemerincing halus dari gelang Payal pemberiannya, irama kecil yang menjadi saksi setiap langkah perjalanan kami.
Namun, saat motor Arjun berbelok ke arah jalan yang bukan arah menuju rumahku, aku mulai merasa penasaran.
"Jun... ini bukan jalan pulang ke rumahku kan? Kita mau ke mana lagi?" tanyaku pelan, mendekatkan bibirku ke telinganya agar terdengar jelas.
Arjun tertawa renyah, suaranya terdengar penuh rahasia namun bahagia. Dia sedikit memiringkan kepalanya ke belakang, menatapku sekilas dengan mata yang berbinar antusias.
"Sabar ya, Sayang. Ada satu tempat lagi yang harus kita singgahi hari ini. Tempat yang paling penting buat aku, dan orang-orang yang paling pengen banget ketemu sama kamu," jawabnya misterius tapi lembut.
Jantungku seketika berdegup lebih kencang. Ada firasat apa-apa, campuran antara rasa penasaran dan sedikit rasa gugup.
"Orang-orang? Maksudnya...?"
"Sebentar lagi sampai, nanti kamu tau sendiri ya," potong Arjun lembut, tak mau memberi tahu lebih dulu.
Tak lama kemudian, motornya memasuki halaman sebuah rumah yang cukup luas, bergaya sederhana namun terlihat sangat asri dan hangat. Di halaman depan, banyak tanaman bunga berwarna-warni yang tertata rapi, aroma harum bunga melati tercium samar-samar terbawa angin. Ini rumah Arjun. Rumah tempat ia dibesarkan, rumah tempat segala cerita dan kebiasaan indahnya berasal.
Motor berhenti tepat di teras depan. Arjun mematikan mesin, lalu segera turun dan membantuku turun dengan sangat hati-hati, persis seperti yang selalu dia lakukan. Dia melepas helmku perlahan, lalu mengusap sedikit rambutku yang tertata rapi sanggulnya agar tetap sempurna.
"Jun... ini rumah kamu?" tanyaku berbisik, suaraku sedikit bergetar karena gugup.
"Kamu mau kenalin aku sama... Ayah dan Ibu kamu?"
Arjun tersenyum lebar, lalu menggenggam kedua tanganku erat di tangannya yang besar dan hangat. Dia menatap mataku dalam-dalam, penuh keyakinan dan ketenangan.
"Iya, Sayang. Selama ini... sejak pertama kali aku jatuh cinta sama kamu, sejak pertama kali kita deket... aku nggak pernah diam aja. Setiap hari, setiap ada kesempatan, aku selalu cerita sama Ayah sama Ibu aku soal kamu. Aku cerita betapa baiknya kamu, betapa sabarnya kamu, betapa cantik dan lembut hatinya kamu. Aku bahkan udah sering banget tunjukin foto-foto kamu ke mereka," ucapnya lembut sambil terkekeh pelan mengingat sesuatu.
Matanya berbinar mengingat kenangan itu.
"Mereka udah hafal banget sama kamu lewat cerita aku, Ra. Mereka udah tau nama kamu, mereka udah tau sifat kamu, mereka udah tau kalau kamu itu satu-satunya wanita yang ada di hati aku. Mereka udah sering ngomong, 'Kapan Arjun bawa pulang bidadari itu? Kapan kami bisa ketemu langsung sama Aira?'... dan hari ini... akhirnya saatnya tiba. Aku bawa kamu ke sini, kenalin kamu secara langsung. Aku pengen orang yang paling aku sayang di dunia ini saling kenal dan saling sayang juga."
Jantungku rasanya mau meledak campuran antara bahagia dan gugup. Ternyata selama ini Arjun sudah sering membicarakanku, sudah sering memamerkanku lewat cerita dan foto. Rasanya rasa gugup itu berkurang sedikit berganti rasa haru yang luar biasa.
"Arjun..." bisikku, mataku mulai berkaca-kaca.
"Kamu nggak pernah cerita hal ini ke aku..."
Arjun menggeleng pelan, lalu mengusap pipiku lembut.
"Aku mau kasih kejutan buat kamu, buat mereka juga. Dan lihat deh... aku sengaja milih hari ini. Hari di mana aku udah dapet restu dari Ayah sama Ibu kamu. Hari di mana kita tampil serasi dan indah banget kayak gini. Aku pengen pertemuan pertama kita sama orang tua masing-masing itu jadi kenangan paling indah."
Dia membenarkan letak selendang di bahuku, memastikan baju kurta biru dongkerku dengan sulaman emas itu terlihat rapi dan anggun, lalu tersenyum bangga.
"Apalagi kamu pakai baju ini... baju khas kami, warnanya sama persis sama aku, rambut disanggul rapi, sopan banget... Ayah sama Ibu aku pasti langsung suka banget lihat kamu. Ini baju yang sering banget aku ceritain ke Ibu aku, aku bilang 'Nanti kalau Aira ke sini, pasti dia bakal pakai baju indah kayak gini, persis kayak putri kerajaan.'"
Belum sempat aku menjawab, pintu rumah terbuka dari dalam. Keluarlah sepasang suami istri yang terlihat ramah, hangat, dan berwibawa. Wajah Ayah Arjun tegas namun lembut, berkulit sawo matang persis seperti Arjun, dan Ibu Arjun... senyumnya begitu manis, matanya berbinar cerah, sama persis seperti mata Arjun saat dia tersenyum. Mereka berdiri di ambang pintu, menatap kami berdua dengan tatapan penuh rasa penasaran dan kebahagiaan.
Arjun langsung menarik tanganku maju selangkah, mendekat ke arah mereka. Dia menundukkan kepalanya dengan sangat hormat, lalu mengajakku melakukan hal yang sama, menyatukan kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan khas budaya mereka.
"Ayah... Ibu..." suara Arjun terdengar jelas, tegas, namun penuh kebanggaan.
Dia menoleh ke arahku, menggenggam tanganku lebih erat seolah memberi kekuatan, lalu kembali menatap orang tuanya dengan mata berbinar bahagia.
"Ini dia... Aira. Wanita yang selama ini sering aku ceritain. Wanita yang sering aku tunjukin fotonya ke Ibu. Wanita yang aku sayang, wanita yang aku jagain, dan wanita yang hari ini udah resmi jadi pacar aku, dan udah direstui sama orang tuanya."
Suasana hening sejenak. Ibu Arjun menatapku lekat-lekat, dari ujung kepala yang kusanggul rapi, baju kurta biru dongker indah yang kupakai serasi dengan anaknya, celana krem yang senada, hingga ke gelang Payal di kakiku. Matanya perlahan membasah, senyumnya makin melebar sampai ke pelupuk mata.
"Ya Allah... cantiknya..." gumam Ibu Arjun pelan, suaranya bergetar terharu.
Dia segera melangkah maju mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lenganku dengan penuh kasih sayang, seolah tak percaya akhirnya bisa melihatku langsung di hadapannya.
"Arjun nggak bohong... malah fotonya kalah cantik sama aslinya. Manis banget, sopan banget, dan... Ya ampun..."
Ibu Arjun menunjuk ke arah bajuku dan Arjun bergantian, lalu tertawa bahagia sambil menatap suaminya.
"Lihat dong, Yah... bajunya serasi banget sama Arjun! Biru dongker sama krem, persis kayak kembar tapi beda model. Aira pakai baju kurta indah begini... Arjun pasti yang ngajarin dan kasih ya? Anak ini emang paling pandai ngurusin hatinya orang," kata Ibu Arjun sambil terkekeh senang, matanya tak lepas menatapku penuh kekaguman dan kasih sayang.
Ayah Arjun pun mendekat, tersenyum ramah dan menatapku dengan pandangan yang bijaksana dan menyetujui.
"Selamat datang di rumah kami, Nak Aira. Sini masuk, jangan cuma berdiri di depan pintu. Rasanya kami udah kenal kamu lama banget, padahal baru pertama kali ketemu. Arjun itu... dari pagi sampai malam kalau ngomong pasti cerita tentang kamu terus. Sampai kami berdua kadang iri, kok bisa anak kami jatuh cinta sedalem itu sama seseorang," kata Ayah Arjun dengan nada bercanda namun tulus.
Kami pun masuk ke dalam rumah. Suasana di dalamnya sangat hangat, penuh dengan hiasan-hiasan khas, aroma dupa yang wangi menenangkan, dan foto-foto keluarga yang terpajang rapi di dinding.
Aku duduk di kursi tamu dengan sopan, sedikit menundukkan pandangan karena malu dan gugup, namun rasa gugup itu perlahan hilang melihat kehangatan keluarga ini.
Arjun duduk di sampingku, tangannya tetap menggenggam tanganku di bawah meja, memberi kekuatan dan ketenangan setiap kali aku merasa gugup.
"Bu, Yah... aku mau ngomong serius dikit ya," ucap Arjun tiba-tiba, suaranya berubah lebih tenang namun tegas. Dia menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Selama ini aku sering cerita soal Aira, aku sering tunjuk foto, aku sering bilang betapa berartinya dia buat aku. Tapi hari ini... aku mau bilang langsung di depan Aira, biar dia tau semuanya."
Dia menoleh ke arahku, menatap mataku dalam-dalam.
"Ra... Ayah sama Ibu aku tau segalanya. Mereka tau soal masa lalu kamu, mereka tau soal rasa sakit kamu, mereka tau betapa susahnya kamu percaya sama orang lagi. Aku cerita semuanya ke mereka, bukan buat aib, tapi buat minta doa, buat minta saran, dan buat minta dukungan. Aku bilang ke mereka 'Aku mau jagain wanita ini seumur hidup aku. Aku mau bahagiain dia, aku mau hapus semua luka di hatinya. Tolong doain aku, tolong terima dia kayak anak sendiri.'"
Air mata seketika jatuh membasahi pipiku. Aku tak menyangka Arjun sudah berjuang sejauh itu, sudah menceritakan segalanya, sudah memohon dukungan keluarganya demi aku.
Ibu Arjun segera maju, duduk di sebelahku dan memegang kedua tanganku dengan tangannya yang hangat dan lembut. Dia mengusap punggung tanganku pelan.
"Jangan nangis ya, Nak. Jangan sedih... sekarang kamu udah ada di sini, udah sama kami. Arjun udah cerita semuanya, dan kami bangga banget sama dia. Kami bangga anak kami jatuh cinta sama wanita baik kayak kamu, dan kami bangga Arjun punya hati sebesar itu buat menjaga kamu," ucap Ibu Arjun lembut, lalu mengelus pipiku menghapus air mataku.
"Dulu pas Arjun pertama kali tunjukin foto kamu ke ibu, dia bilang begini: 'Bu, lihat senyumnya Aira... senyum itu yang bikin aku semangat tiap hari. Senyum itu yang pengen aku jaga selamanya.' Sejak saat itu, aku udah sayang sama kamu, Nak. Udah anggep kamu kayak anak sendiri, kayak menantu sendiri. Dan lihat kamu hari ini... datang ke sini, pakai baju indah yang kami kenal banget, serasi sama Arjun, sopan, manis... makin yakin kami kalau kamu emang jodoh yang dikirim Tuhan buat anak kami."
Ayah Arjun pun mengangguk mantap, raut wajahnya tegas namun penuh kelembutan.
"Di budaya kami, Nak Aira... kalau seorang laki-laki udah memilih satu wanita dan dia berani bawa wanita itu ke depan orang tuanya, memperkenalkannya secara resmi... itu artinya dia udah menentukan masa depannya. Arjun bukan anak yang main-main, dia anak yang berpegang teguh pada janji dan budaya. Dan kami... kami sepenuhnya mendukung. Kami restui hubungan kalian. Kami senang banget Arjun dapet kamu, dan kami senang banget kamu mau terima Arjun apa adanya, termasuk segala budaya dan kebiasaan kami."
Dia menunjuk ke arah baju yang kami pakai berdua.
"Dan hal kecil kayak gini... kamu mau pakai baju khas kami, kamu mau menerima Arjun, kamu mau ngertiin kami... itu hal yang paling berharga buat kami. Itu bukti kalau kamu nggak cuma sayang sama Arjun, tapi kamu juga menghargai asal-usulnya dia. Terima kasih banyak ya, Nak."
Hatiku rasanya penuh sekali, meluap-luap bahagianya. Dua hari ini adalah hari-hari paling ajaib dalam hidupku. Kemarin aku baru saja berjuang membuka hati, hari ini aku sudah diperkenalkan ke orang tuaku dan dapat restu, lalu sore ini aku diperkenalkan ke orang tua Arjun dan disambut dengan kasih sayang yang begitu besar, seolah aku sudah jadi bagian dari keluarga ini sejak lama.
Aku menatap Arjun yang tersenyum bangga di sampingku, matanya juga berkaca-kaca menahan haru. Dia meremas tanganku pelan, seolah berkata.
"Kan aku udah bilang... semua hal indah bakal aku kasih ke kamu."
Aku mengusap sisa air mataku, lalu tersenyum tulus ke arah Ayah dan Ibu Arjun.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu... terima kasih udah terima aku dengan baik banget. Aku nggak nyangka Arjun udah cerita banyak banget soal aku, aku nggak nyangka bakal disayang sebesar ini sama Bapak sama Ibu. Aku janji... aku bakal jagain Arjun, aku bakal hargai semua budaya dan kebiasaan di keluarga ini, aku bakal belajar dan mencintai semuanya sama kayak aku mencintai Arjun. Terima kasih udah percaya sama aku."
Ibu Arjun tersenyum lebar, lalu menarikku masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan penuh kasih sayang. Pelukan yang membuatku merasa aman, merasa diterima, merasa pulang.
"Udah, jangan sungkan lagi ya, Nak. Anggap rumah ini rumah kamu juga. Anggap kami orang tua kamu juga. Mulai hari ini, ada dua rumah tempat kamu pulang, ada dua orang tua yang bakal sayang sama kamu, dan ada satu Arjun yang bakal jagain kamu seumur hidupnya."
Sore itu berlanjut dengan obrolan hangat, tawa, dan kebahagiaan. Ibu Arjun membawakan kami makanan penutup khas yang manis dan lezat, persis seperti yang dulu pernah diceritakan Arjun. Kami bercerita panjang lebar, berbagi tawa, dan mempererat ikatan persaudaraan dan kasih sayang ini.
Arjun duduk di sebelahku sepanjang waktu, sesekali menatapku dengan pandangan yang begitu bangga dan bahagia. Dia sering melirik baju kami yang serasi, rambutku yang disanggul rapi, dan gelang di kakiku... seolah semua hal kecil itu adalah kemenangan terbesarnya.
Hari ini benar-benar sempurna. Dari pagi sampai sore, dari rumahku ke rumahnya, dari diperkenalkan ke orang tuaku sampai diperkenalkan ke keluarganya... semuanya berjalan indah, penuh cinta, penuh restu, dan penuh warna.