Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
"Kita bertarung saja, jika aku menang, kau harus melepaskan diriku! Dan jangan culik anakku lagi! Tapi ... aku penasaran, siapa yang menyuruh bawahanmu untuk mencelakaiku dan menculik kedua anakku?" tegas Elena.
"Namanya Sesilia, dia yang menyuruhku melakukan itu. Apa dia musuh bebuyutanmu?"
"Dia itu seseorang yang dijodohkan dengan Alan, sedangkan pria itu lebih menyukaiku. Sesilia takut aku merebutnya mungkin, padahal aku sudah bilang untuk tidak dulu. Aku saat ini sedang tidak memikirkan percintaan orang dewasa, aku ingin fokus cari uang dan membesarkan kedua anakku."
"Haish ... kenapa aku jadi curhat dengan penjahat seperti dirimu," imbuh Elena kesal dengan dirinya sendiri.
"Begitu ... ngomong-ngomong, bagaimana jika kita buat kesepakatan saja. Aku tidak bisa bertarung dengan wanita secantik dirimu, aku takut kulit mulusmu akan lecet."
"Tidak usah basa-basi! Kesepakatan apa? Katakan saja!" tanya Elena kesal, karena Joe malah basa-basi menurutnya. Ya, semenjak ia bercerai, ia memang lebih acuh tak acuh terhadap lawan jenis seusianya, kecuali kepada Gilang.
"Baiklah, aku akan langsung mengatakan kesepakatannya. Tiap malam minggu, kamu harus mau dinner sama aku," jelas Joe.
"Dinner? Huh, baiklah. Tapi, jika keadaannya tidak memungkinkan ... aku juga tidak akan hadir. Aku mau pulang, tolong jangan halangi jalanku!" Elena mengambil sebuah jaket besar yang berada di tangan Joe, lalu memakainya.
"Aku pinjam dulu jaketmu, nanti aku kembalikan." Elena pergi meninggalkan ruangan itu.
Melihat Elena yang keluar dengan aman, dua pengawal yang bertugas untuk menjaga di ruangan itu pun terkejut. Salah satu dari mereka memberanikan diri. "Bos, kenapa dia dibiarkan pergi begitu saja?" tanyanya tak mengerti.
"Tak apa, aku ada cara lain," jawab Joe.
"Cara apa, Bos?"
"Sudah, tak perlu banyak tanya. Antarkan dia pulang dengan selamat, aku ada kerjaan lain." Joe berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dan berjalan ke arah ruang kerjanya.
Joe mungkin memang penjahat, tapi dia juga punya usaha yang sama sekali tidak ada aliran dana dari tindak kejahatannya. Dia mulai mengotak-atik notebook-nya setelah sampai di ruang kerjanya.
Di sisi lain, Elena telah mengganti pakaian dengan yang lebih sopan. Tadi sebelum keluar dari tempat Joe menculiknya, ada seorang pelayan wanita yang menghadang dirinya, lalu membawakan satu set pakaian untuknya.
Setelah mengganti pakaiannya, Elena diantarkan anak buah Joe pulang ke rumahnya. "Cantik," gumam Joe melihat Elena menggenakan pakaian yang ia berikan, ia melihat Elena dari rekaman CCTV.
...~~~...
Elena kini telah sampai di depan rumahnya, ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ia terkejut, ternyata ada banyak orang di ruang tamu. Ya, di situ ada keluarganya, Gilang, dan juga Putri.
"Mama," teriak Cantika sambil menangis, ia berlari ke arah mamanya dan memeluknya. Mereka lalu duduk di kursi yang kosong.
"Elena, kamu tidak apa-apa, Sayang? Apa ada yang terluka?" tanya Clarissa khawatir.
"Tidak kok, Ma, anak mama tidak kurang suatu apapun."
"Len, apa kamu tahu siapa dalang dibalik penculikan ini?" tanya Gilang.
"Sesilia, dia orang yang dijodohkan dengan Alan," jawab Elena.
"Alan? Kurang ajar dia, gara-gara dia nolak dijodohkan, kamu dan anak-anak kamu hampir celaka. Aku harus membuat perhitungan dengan dia," ucap Gilang geram.
"Tapi, kok kamu bisa dibebaskan begitu saja sama penjahat sewaan si Sesilia itu, Len?" tanya Putri.
"Ya ... mungkin dia punya sisi baik," jawab Elena asal.
"Tapi, kamu nggak di apa-apain 'kan sama dia, Len? Kami sangat khawatir dengan keselamatan kamu," ucap Putri lalu memeluk Elena.
"Maaf, sudah membuat kalian khawatir," ucap Elena lesu.
"Yang terpenting sekarang, mama baik-baik saja," ucap Brian.
"Iya, Sayang." Elena tersenyum ke arah jagoannya itu.
"Len, siapa Jack? Kenapa dia bisa begitu yakin jika kamu akan baik-baik saja?" tanya Henry penasaran.
"Jack? Dia ... dia orang yang menyelematkanku dari penjahat yang kemarin menculik anak-anak," jawab Elena bohong. Jack udah bantu aku kemarin, dia juga bilang mau berubah menjadi orang yang lebih baik, kalau aku bilang dia juga salah satu dari penculik itu ... dia bisa masuk penjara nantinya, batin Elena.
"Dia bantu aku untuk lolos juga dari para penculik yang menahanku," imbuh Elena.
"Begitu ... secepatnya, undang dia makan malam di sini. Papa mau mengucapkan terima kasih kepadanya secara langsung," ucap Henry.
"Ba-baik, Pa."
Satu jam kemudian, Gilang dan Putri telah pulang ke rumah masing-masing. Kini, Elena sedang bercengkrama bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga. Sedangkan kedua anaknya, telah tidur pulas di kamar tidur mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat, kedua orang tua Elena masuk ke kamar mereka karena sudah mengantuk. Elena pun kini sendiri di ruang tamu. Tiba-tiba , terdengar dua kali bunyi klakson motor di depan rumahnya. Ia pun langsung berdiri dan melihat dari jendela.
"Siapa itu? Klakson-klakson langsung pergi aja! Apa ada hubungannya dengan Sesil? Atau Clara? Atau mungkin cuma remaja yang iseng? Huh entahlah. Benar-benar mengagetkan orang saja!" gerutu Elena.
Ia pun kembali duduk, lalu membuka ponsel untuk mengecek usahanya. Baru ia pegang ponselnya, sudah ada email masuk. Email itu berisi pemberitahuan ada uang masuk. "Hah! Uang masuk? Dari mana ya?" Elena pun langsung membuka email baru-nya.
"Ada uang masuk sebesar lima puluh juta? Dari ... dari PT. Sejahtera. Dari PT? Jangan-jangan salah transfer lagi. Aku cari aja lah alamatnya, nanti aku akan ke sana jika memang jaraknya tidak jauh dari rumah. Hoaamm ... ngantuk, aku tidur dulu ah, besok harus kerja juga."
Elena pun langsung membersihkan diri dan bergegas tidur. "Selamat malam diri sendiri, kita istirahat dulu ya, have a nice dream," ucap Elena pada dirinya sendiri, ia pun terlelap dalam tidurnya.
Pukul lima pagi, Elena terbangun dari tidur lelapnya. Setelah meregangkan otot-otot di tubuhnya, ia bergegas untuk menjalankan ibadah sholat subuh. Setelah selesai sholat, ia mengecek ponselnya sebelum berkutat di dapur untuk memasak. Ya, ia memang tidak menyewa pembantu di rumahnya.
Elena terkejut melihat ponselnya yang sudah ada banyak pesan masuk. "Siapa ini?" gumam Elena. Ia membaca satu pesan yang dikirim lebih awal, ia pun membaca pesan itu.
"Joe? Dia dapat nomorku dari mana ya? Ngirim puisi cinta mana panjang banget, apa dia masih seorang penjahat yang terlihat seram itu? Ah sudahlah, aku masak dulu. Nanti saja aku buka pesan yang lainnya." Elena meletakkan ponselnya, ia pun kini berkutat di dapur bersama Clarissa, mamanya.
"Len, anak-anak bawa bekal apa ya hari ini?" tanya Clarissa.
"Hmm, apa ya? Roti bakar saja, Ma."
"Ya sudah, kamu yang buat ya."
"Oke, Ma, aku saja yang buat." Elena membuat bekal untuk kedua anaknya dengan penuh cinta.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤