Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Yang Luruh Di Kotak Besi
Kata "Non" yang keluar dari ranum bibir Raka bagaikan sebuah hantaman telak yang membuat seluruh dunia virtual Naomy runtuh dan menyatu dengan realita. Gadis itu membeku di tempatnya berdiri, bersandarkan dinding lift yang dingin. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap pria berjas mewah di depannya seolah-olah baru saja melihat hantu.
"P-Pak Raka... Lo... Rawwwrrr?!"
Suara Naomy meninggi satu oktav, campur aduk antara syok, tidak percaya, dan rasa malu yang luar biasa yang mendadak menyerang seluruh pori-pori kulitnya. Otaknya yang semula macet karena kantuk kini berputar dengan kecepatan penuh, memutar kembali rekaman semua keluhannya selama beberapa minggu terakhir.
Gue ngatain dia monster.
Gue bilang mukanya kayak tembok tripleks.
Gue bilang aura dia kayak assassin yang ngeringis dari dalam rumput!
Naomy rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga. Wajahnya yang semula pucat pasi dalam sekejap berubah menjadi merah padam hingga ke ujung telinga. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengerang pelan di sudut lift yang sempit. "Ya Tuhan... tamat riwayat karier gue," gumamnya frustrasi.
Raka yang masih berjongkok di depannya tidak bisa lagi menahan tawa. Tawa baritonnya yang renyah dan lepas—yang biasanya hanya bisa didengar Naomy lewat voice note—kini menggema nyata di dalam lift yang macet itu. Raka berdiri tegap, merapikan tumpukan draf logo di tangannya, lalu menyodorkannya kepada Naomy.
"Kenapa ditutup mukanya, Non? Katanya aura gue kayak assassin?" goda Raka, sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan senyum jail yang menghiasi wajah tegasnya.
Naomy menurunkan tangannya perlahan, menatap Raka dengan tatapan defensif namun masih tampak sangat canggung. Ia menerima kertas-kertasnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
"Pak Raka... Anda sengaja, ya? Anda sudah tahu sejak kapan?" tanya Naomy dengan nada menuntut yang tertahan, mencoba bersikap profesional meskipun situasi ini sama sekali sudah tidak profesional lagi.
"Sejak dua malam lalu," jawab Raka santai. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding lift di seberang Naomy, melipat kedua tangannya di dada. "Tepatnya setelah lo dengan sukarela menyebutkan nama perusahaan tempat lo kerja, dan mengeluh panjang lebar tentang bos baru lo yang 'dingin kayak es'."
Naomy menggigit bibir bawahnya. "Terus kenapa waktu di mesin fotokopi kemarin Bapak nggak bilang? Kenapa semalam di game malah sengaja bohongin saya?"
"Kalau gue bilang dari awal, lo pasti langsung hapus akun, kan?" Raka menaikkan sebelah alisnya, menatap Naomy dengan pandangan yang mendadak melembut. "Gue suka mabar sama lo, Naomy. Di kantor ini, semua orang menatap gue dengan rasa takut atau penuh tuntutan. Cuma saat mabar sama akun @Nao_mii, gue bisa jadi 'Rawwwrrr'—cuma buruh korporat biasa yang bisa ketawa lepas."
Mendengar pengakuan jujur yang keluar langsung dari mulut sang CEO, kemarahan dan rasa syok Naomy perlahan menyusut. Ia menatap sosok Raka yang kini tampak berbeda di matanya. Di bawah temaram lampu darurat kekuningan ini, jas mahal dan status konglomerat pria itu seolah luruh, menyisakan sosok tanker andal yang selalu memasang badan melindunginya di dalam game.
Suasana lift kembali hening, namun tidak ada lagi rasa mencekam yang menakutkan seperti tadi. Hanya ada kehangatan aneh yang perlahan menjalar di antara mereka berdua.
"Jadi... Bapak beneran anak konglomerat umur 26 tahun yang suka main game?" tanya Naomy pelan, memecah kesunyian dengan nada yang agak canggung namun mulai rileks.
Raka terkekeh tipis. "Gue juga manusia, Non. Lagian, lo sendiri hebat juga. Dari kelas 10 SMA sampai lulus kuliah, masih setia megang Lunaria. Mekanik jari lo di atas rata-rata desainer junior yang pernah gue temui."
Naomy tersenyum tipis, rasa bangga kecil menyelinap di dadanya. "Ya... game itu pelarian saya dari stres tugas kuliah dulu, Pak. Dan akhir-akhir ini, pelarian dari... revisi Bapak."
"Untuk yang satu itu, gue minta maaf," ucap Raka tulus, tatapan matanya mengunci manik mata Naomy. "Tapi untuk urusan pekerjaan, gue tetap harus profesional. Desain lo sebenarnya bagus, Naomy. Punya karakter. Gue cuma mau lo mendorong potensi lo lebih jauh lagi."
Debaran jantung Naomy kembali berkejaran, namun kali ini bukan karena takut lift macet atau takut dipecat. Ada getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria di depannya ini bukan lagi sekadar bos monster atau teman virtual tanpa wajah.
Brak.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras terdengar dari atas langit-langit lift, disusul dengan lampu utama yang kembali menyala terang benderang. Suara dengung mesin lift kembali terdengar, dan perlahan, kotak besi itu bergerak naik satu lantai sebelum akhirnya pintu bergeser terbuka dengan sempurna di lantai empat.
Beberapa petugas teknisi kantor dan staf HRD sudah berdiri di depan lift dengan wajah cemas.
"Pak Raka! Anda tidak apa-apa?" tanya kepala sekuriti dengan panik.
Raka kembali menegakkan tubuhnya, memasang kembali ekspresi wajahnya yang datar, dingin, dan berwibawa dalam sekejap mata. Ia melangkah keluar dari lift dengan karisma seorang CEO yang sempurna. Namun, tepat sebelum ia berjalan jauh, Raka menoleh sedikit ke arah Naomy yang masih berdiri di dalam lift.
"Kumpulkan revisi logomu setelah jam makan siang, Naomy," ucap Raka dengan suara baritonnya yang tegas di depan semua orang. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Naomy, lalu berbisik dengan nada yang sangat rendah, "Dan jangan lupa... nanti malam gue tunggu di lobi game jam sembilan. Jangan telat, Non."
Raka berjalan pergi meninggalkan koridor, sementara Naomy melangkah keluar dari lift dengan senyum manis yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Rahasia di antara mereka telah terbuka, namun petualangan mereka di dunia nyata tampaknya baru saja dimulai.