NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Aroma minyak pelumas mesin, karat besi tua, dan aroma tanah liat yang lembap memenuhi ruang taktis bawah tanah Markas Komando EOD Pusat Los Angeles.

Ruangan itu didesain mirip bunker simulasi, dengan dinding beton tebal yang kedap suara dan deretan meja laboratorium baja tempat ditempatkannya berbagai maket bom non-aktif, kabel sirkuit, serta instrumen pemicu tekanan.

Setelah sesi lari lima mil di perbukitan yang menguras fisik, 35 peserta pelatihan kini dikumpulkan untuk sesi materi pertama: Pengenalan Skenario Tanggap Darurat dan Analisis Anatomi Bahan Peledak.

Sersan Mayor Hendrick berdiri di depan papan tulis elektronik bersama Mayor Vance—perwira senior ahli penjinakan peledak yang disegani di seluruh divisi Los Angeles.

Di samping mereka, Zacheriyya berdiri bersedekap, matanya mengawasi seluruh peserta yang duduk di kursi besi dingin dengan buku catatan di tangan masing-masing.

"Materi dasar pagi ini," ujar Mayor Vance dengan suara berat bertempo lambat, "bukan tentang bagaimana kalian memotong kabel Merah atau Biru seperti di film-film Hollywood. Ini tentang daya tangkap insting kalian di lapangan."

Mayor Vance menunjuk maket pemicu peledak rakitan yang terpasang pada sebuah kotak besi berukuran sedang di atas meja demonstrasi.

"Pertanyaan pertama untuk kalian warga sipil," lanjut Mayor Vance tajam. "Jika kalian menemukan benda asing ini tergeletak di bawah bangku taman kota dengan bunyi dengung berfrekuensi rendah dan ada pengait kawat halus di sisinya, apa langkah paling pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan evakuasi?"

Ruangan mendadak hening. Kebanyakan peserta—termasuk para jurnalis dan akademisi—tampak ragu-ragu.

Mereka takut memberikan jawaban yang salah di depan para perwira tinggi berwajah dingin itu. Svea menunduk pura-pura sibuk mencoret-coret bukunya, sementara Alessia hanya memegang keningnya, berharap tidak dipanggil.

Namun, di barisan kedua, sebuah tangan terangkat tinggi tanpa keraguan.

"Peserta Evander. Silakan," tunjuk Mayor Vance.

Evander berdiri tegap dari kursinya. "Siap, Mayor. Langkah pertama bukanlah menyentuh atau mencoba mematikan bunyi dengung tersebut, melainkan melakukan sterilisasi radius lima meter tanpa getaran mekanis, lalu memeriksa jenis pemicu tekanan udara—karena kawat halus di sisi kotak mengindikasikan adanya pemicu trip wire ganda yang sensitif terhadap pergerakan udara."

Mayor Vance menaikkan kedua alisnya, tampak sangat terkejut dengan ketepatan analisis tersebut. "Jawaban yang sangat presisi. Bagus."

Sesi tanya jawab berlanjut. Dari sepuluh pertanyaan taktis lanjutan yang dilemparkan oleh Sersan Mayor Hendrick dan Mayor Vance—mulai dari diferensiasi bahan peledak berbasis nitrat hingga protokol isolasi sinyal frekuensi radio—Evander selalu menjadi orang pertama yang mengangkat tangan.

Pria itu menjawab setiap pertanyaan dengan begitu lancar, tenang, dan logis, seolah-olah ia telah mempelajari seluruh manual EOD militer selama bertahun-tahun.

Keaktifan dan dominasi Evander di dalam ruangan membuat para peserta lain menatapnya dengan rasa takjub, sementara Svea dan Alessia yang duduk di barisan samping hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia benar-benar gila..." bisik Svea sangat pelan pada Alessia, memutar matanya. "Dia itu CEO perusahaan investasi ternama, tapi kenapa ilmunya soal bom bisa seperti anggota khusus begini? Apa dia tidak ada pekerjaan lain selain menghafal buku taktis militer?!"

Alessia menghela napas pasrah, menyandarkan punggungnya. "Kamu lupa kalau dia itu Mantan Kekasih Zacheriyya? Selama bertahun-tahun berpacaran, kurasa pembicaraan meja makan mereka bukan soal cuaca, tapi soal struktur kabel detonator. Pria itu cuma sedang pamer di depan Cherry."

Svea menepuk jidatnya. "Dasar pasangan aneh."

Di depan ruangan, Mayor Vance akhirnya meletakkan penanya di atas meja, berjalan mendekati Evander dengan raut wajah penuh kekaguman.

"Dedikasimu pada materi pelatihan ini benar-benar tidak main-main, Peserta Evander," puji Mayor Vance terang-terangan di depan seluruh ruangan. "Pemahaman taktis dan refleks analisis pemikiranmu setara dengan prajurit muda yang sudah lulus pendidikan dasar EOD."

Evander tersenyum tipis penuh kesopanan. "Siap, terima kasih, Mayor. Saya hanya belajar dengan sungguh-sungguh."

Sersan Mayor Hendrick terkekeh pelan, menyilangkan tangan di dada.

"Omong-omong, Peserta Evander... soal pengakuanmu di lapangan tentang istrimu yang bertugas di markas ini. Melihat pengetahuan taktis yang kau kuasai ini, kami jadi makin penasaran. Apa benar istrimu berada di sini? Dia bertugas di bagian apa? Staf analisis data taktis? Atau bagian komunikasi lapangan?"

Seluruh perwira senior, termasuk Mayor Vance, menatap Evander dengan rasa ingin tahu yang besar.

Evander melirik sekilas ke arah Zacheriyya yang berdiri kaku di sudut depan ruangan. Sudut bibir Evander terangkat sedikit, memancarkan binar rasa bangga yang tak tersembunyikan.

"Siap, Mayor. Istri saya bukan staf administrasi atau komunikasi," jawab Evander dengan suara mantap yang bergema di seluruh bunker. "Istri saya adalah anggota unit penjinak bahan peledak terbaik dan paling tangguh di markas ini."

Seketika itu juga, tawa renyah pecah dari Mayor Vance dan Sersan Mayor Hendrick.

"Hahaha! Bagus sekali leluconmu, Peserta Evander!" Mayor Vance menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menepuk bahu Evander. "Kau ini pandai berteori, tapi ingatanmu soal personel markas ini rupanya keliru."

Sersan Mayor Hendrick menimpali sembari tersenyum geli. "Anak muda, di Divisi Khusus Penjinak Bom Markas Pusat Los Angeles ini, seluruh anggotanya yang berstatus aktif adalah prajurit pilihan. Dan setahu kami, belum ada satu pun anggota tim penjinak terbaik kami yang sudah menikah! Semuanya masih lajang—termasuk Instruktur Zacheriyya di depanmu itu!"

Zacheriyya yang mendengarkan hal itu hanya bisa ikut menggelengkan kepalanya perlahan, berpura-pura tenang sembari memutar pena di jarinya.

Dalam hatinya, Zacheriyya meringis pelan. Status mantan-kekasih memang dirahasiakan dari publik.

Svea dan Alessia di barisan samping menahan tawa mereka setengah mati. Svea harus menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak meledak tertawa melihat betapa lucunya situasi ini.

"Lihat muka Evander," bisik Svea pada Alessia. "Tentu saja para Mayor itu berpikir Evander halusinasi!"

"Ssst... diam, Svea, nanti kita kena hukum push-up," bisik Alessia menahan geli.

Evander sendiri tidak membantah ucapan para Mayor itu. Pria itu hanya tersenyum tenang, menerima tawa para perwira senior dengan sikap dewasa yang amat elegan. Ia hanya melirik Zacheriyya dengan tatapan mata yang menyiratkan pesan rahasia: Lihat saja nanti, Cher. Mereka akan tahu siapa pemilik hatimu yang sebenarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Cukup untuk teori!" suara Mayor Vance menghentikan tawa di ruangan. "Sekarang kita masuk ke sesi praktikal langsung. Skenario Tindakan Pertama Saat Mengetahui Adanya Tanda-tanda Bom di Area Tertutup!"

Seluruh peserta diminta berdiri dan berkumpul mengelilingi sebuah meja peragaan yang cukup sempit di tengah ruangan.

Di atas meja tersebut, diletakkan sebuah manekin berpihak pada kursi simulasi yang telah dipasangi instrumen Romex-Device—sebuah sistem pemicu latihan yang dilengkapi sensor sentuh bernada tinggi.

"Instruktur Zacheriyya, demonstrasikan posisi penguncian badan untuk menahan gerakan korban!" perintah Mayor Vance.

"Siap, Mayor!" sahut Zacheriyya tegas.

Zacheriyya melangkah maju mendekati meja. Ia membutuhkan seorang peserta untuk berpura-pura menjadi korban yang terduduk di kursi simulasi dalam posisi panik.

"Peserta Evander, maju ke depan sebagai objek simulasi!" panggil Zacheriyya dengan nada suara profesional.

Evander langsung melangkah maju tanpa ragu, duduk di atas kursi kayu simulasi di dekat meja. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat area di sekitar kursi terasa makin sempit.

Zacheriyya melangkah mendekat dari arah belakang kursi Evander. "Perhatikan semuanya. Saat korban panik, langkah pertama penjinak adalah mengunci pergerakan tubuh korban dari belakang menggunakan tekanan siku dan torso, agar pemicu mekanis di bawah kursi tidak terlepas."

Zacheriyya mendekatkan tubuhnya, menyusupkan kedua tangannya dari bawah ketiak Evander untuk meraih instrumen pemicu di atas paha pria itu. Posisi mereka kini sangat dekat—dada Zacheriyya menempel rapat pada punggung tegap Evander, dan hembusan napas hangat Zacheriyya menyapu lehernya.

Aroma parfum kayu cedar milik Evander membuai indra penciuman Zacheriyya, membuat fokus wanita itu sempat goyah selama beberapa detik.

"Gunakan jari kalian untuk menahan pin utama..." instruksi Zacheriyya pada para peserta sembari meraba area pemicu di sekitar pinggang dan paha Evander dalam posisi membungkuk canggung.

Namun, karena meja simulasi yang terlalu sempit dan fokus Zacheriyya yang terbagi antara memberikan penjelasan serta menahan rasa berdebar di dadanya—

SRET.

Tangan kiri Zacheriyya terpeleset saat mencoba meraih tali pengikat di celana cargo Evander. Tanpa sengaja, telapak tangannya menyapu dan menyenggol bagian sensitif milik mantan kekasih di balik celana tebal tersebut.

Sentuhan yang tak terduga, tegas, dan amat intim itu terjadi begitu cepat!

DEG!

Sensasi menyengat bagai aliran listrik seketika menyengat Zacheriyya. Mata wanita itu membelalak lebar dalam kepanikan penuh. Seluruh darah di tubuhnya serasa mendidih naik ke wajahnya dalam hitungan milidetik.

Dengan refleks ketakutan yang luar biasa agar tindakan memalukan itu tidak disadari oleh Mayor Vance, Sersan Mayor Hendrick, atau 34 peserta lain yang sedang mengamati dengan jarak sangat dekat, Zacheriyya dengan cepat menarik tangannya kembali! Ia menegakkan tubuhnya secepat kilat, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung sembari menahan napasnya yang mendadak memburu.

Jantung Zacheriyya memukul dada gila-gilaan. Wajahnya yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi kini merona merah padam hingga ke ujung telinganya. Ia melirik panik ke arah para peserta, berdoa dalam hati agar tidak ada satu orang pun yang menyadari ketidaksengajaannya tadi.

Namun, korban simulasi di hadapannya—Evander—tentu saja merasakannya dengan sangat jelas.

Evander menengadah sedikit. Bukannya terlihat kaget atau canggung, mata cokelat jernih pria itu justru berkilat dipenuhi rasa geli dan gairah nakal yang sangat berbahaya. Bibir Evander terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menggoda.

Ketika Zacheriyya masih berusaha menguasai diri dan hendak melangkah mundur satu tindak untuk merapikan napasnya—

PAKK!

Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan tertutup oleh sudut panggung meja tempat berdiri, Evander mengayunkan tangan kanannya ke belakang. Telapak tangannya yang lebar dan hangat memukul pelan bokong Zacheriyya dengan sentuhan tegas yang sarat akan godaan manis!

Pukulan pelan itu begitu presisi, hanya dirasakan oleh Zacheriyya tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan di dalam ruangan.

Zacheriyya meloncat kecil karena terkejut, matanya hampir keluar dari rongganya saat menatap Evander yang kini sudah kembali berpose lurus membelakanginya, seolah-olah tangan pria itu tidak pernah bergerak sama sekali!

Pria gila ini... dia benar-benar cari mati! batin Zacheriyya berteriak frustrasi, rasa malu dan gejolak hangat beradu hebat di dalam dadanya.

Evander berdehem pelan, lalu menoleh sedikit ke belakang dengan raut wajah paling polos dan tanpa dosa di dunia, menyuntikkan suara bass-nya yang sangat halus khusus untuk pendengaran istrinya:

"Instruksi yang sangat bagus, Instruktur Zacheriyya... Penanganan lapangannya sangat 'terasa'."

Svea dan Alessia yang berdiri di barisan depan sempat menangkap gerakan kilat tangan Evander dan perubahan ekspresi wajah Zacheriyya yang memerah padam.

Kedua sahabat itu saling berpandangan dengan mata membelalak, menutup mulut mereka rapat-rapat demi menahan tawa dan jeritan histeris yang hampir meledak dari tenggorokan mereka.

"C-Cukup untuk demonstrasi hari ini!" potong Zacheriyya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha keras memulihkan otoritas militer yang hampir hancur berkeping-keping. "Kalian... lanjutkan latihan mandiri dengan kelompok masing-masing!"

Zacheriyya berbalik cepat, melangkah meninggalkan meja simulasi dengan langkah terburu-buru menuju sudut ruangan untuk mengambil napas.

Sementara di atas kursi simulasi, Evander Vale-Knight duduk dengan senyuman paling puas dan menawan yang pernah ada, menikmati kemenangan kecilnya di tengah ketatnya bunker EOD Pusat Los Angeles.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!