NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Sahabatku

Terpaksa Menikahi Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: putri sulis

Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.

Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.

Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang mati 2

Setelah kepergian Arjuna, aku tak bisa tidur. Pikiranku tak tenang, entah kemana. Sekuat tenaga aku menepis pikiranku yang tidak - tidak. Entah sampai jam berapa, pada akhirnya mata sudah tak kuat lagi untuk terjaga dan aku punn terlelap juga.

Sayup - sayup adzan subuh, berkumandang. Aku menggeliat, lalu membuka mata. Disamping tampak Arjuna masih terlelap. Nafasnya teratur seperti bayi, tidur sangat pulas.

Jam berapa dia pulang.

Seketika mata tertuju pada ponselnya, yang tergeletak di bawah bantal. Membuat rasa penasaran kian membuancak.

Dosa gak sih, kalau aku membuka ponsel milik suami.?

Kuraih ponsel lalu membuka polanya, seperti yang diperlihatkan Arjuna waktu itu.

Berhasil! Ternyata masih sama. Aku mulai menjelajahi riwayat panggilan aplikasi dengan icon telepon berwarna hijau.

Deg,

rasanya hati seperti disayati sembilau belati yang sangat tajam. Sakit, berdenyut teramat nyeri. Saat melihat nama Dafina didaftar panggilan dengan waktu tepat sebelum Arjuna pergi tadi malam. Benar dugaanku, benar firasatku, semua keresahanku terjawab sudah.

Mati! Rasanya saat ini hatiku mati. Kali ini Arjuna menorehkan luka, sangat pedih. Hancur sudah harapan yang terangkai indah.

Hal apa yang lebih menyakitkan dari ini? Raganya milikku, tapi hatinya masih untuk perempuan lain. Perempuan yang posisinya aku gantikan saat ini.

Aku memejamkan mata yang mulai terasa panas.

Arjuna terlalu rapat menyembunyikan perasaan. Sangat pandai membohongi hatinya.

Setetes bulir bening meluncur. Mengingat aku yang percaya begitu saja bahwa perasaan itu telah mati. Aku yang mengira dia telah jatuh cinta padaku.

" Bodoh.!" rutukku dalam hati.

Aku menyeka pipi yang basah, karena tetesan air yang mengalir tak henti. Ketika mengingat tadi malam, Arjuna urung menyentuhku. Hanya untuk bertemu perempuan itu, perempuan yang dicintainya. Sekarang jelas, Arjuna lebih memilih cintanya dibandingkan aku, istri sahnya yang telah mengorbankan segalanya untuknya.

Ku matikan layar ponsel, lalu meletakkan diatas meja. Saat menuruni tempat tidur, tiba - tiba rasa mual menyergap. Membuatku seketika teringat sesuatu. Datang bulanku....

Aku berlari kecil menuju wastafel kamar mandi. Aku memuntahkan cairan bening yang terasa pait dimulut.

Harusnya seminggu yang lalu aku datang bulan. Kenapa sampai saat ini belum? Apa aku hamil?

Setelah mual diperut sedikit berkurang, aku langsung bergegas berwudhu untuk menjalankan perintahNya.

Hati yang terasa sakit seakan tak mampu untuk sekedar membangunkan Arjuna. Tapi, waktu subuh sudah hampir habis. Dengan sekuat hati akhirnya aku membangunkanya.

" Abang, bangun dulu! Waktu subuh dah hampir habis, buruan gih sholat!" kataku pelan.

" Hmm."

Arjuna menggeliat, lalu membuka mata. Tanpa mengatakan apapun dia pergi kekamar mandi. Sementara aku bergegas keluar kamar, menuju dapur.

Sengaja memang, aku sedikit menghindari suamiku. Aku tak sanggup melihat binar bahagia dimatanya, setelah semalam bertemu dengan Dafina cintanya. Terlalu menyakitkan luka yang ditorehkan saat ini.

*****

Dua hari terakhir setiap pagi rasanya sangat mengantuk. Tak jarang membuat aku terlelap saat dikampus. Entah mengapa rasa kantuk itu tak dapat tertahan. Padahal tidur dipagi hari tak baik untuk kesehatan. Yaa, sejak saat itu pula aku minum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk. Menghirup aroma wangi kopi, menjadi hal yang sangat aku sukai sekarang ini.

" Sejak kapan suka minum kopi?" tanya Arjuna yang baru saja duduk disampingku.

Aku tersenyum kecil. Ada denyut dalam dada saat mendapat perhatian kecil darinya. Perhatian yang selama ini membuatku berharap, padahal nyatanya hanya sekedar basa - basi.

Menyesakkan sekali rasanya. Tepat didada sungguh sesak hingga rasanya sulit bernafas.

" Bikin sendiri apa kopi instan?"

Belum sempat menjawab, Arjuna sudah menyambar cangkir ditangan. Kutelan ludah, saat melihat dia meminumnya.

" Jangan dihabisin, aku belum meminumnya!"

" Aromanya enak." katanya tanpa menoleh.

" Abang suka?"

" Hmmm, bikin sendiri?" Kali ini menoleh padaku. Aku pun mengangguk.

" Iya, rasanya gimana?"

" Enak, apalagi sambil liatin kamu. " jawabnya sambil tersenyum.

" Pagi - pagi dah Modus!"

Jangan membuat hati ini meleleh kalau nanti akan kamu bekukan lagi, Juna. Rasanya aku benar - benar lelah. Lelah berjuang sendirian.

Aku membuang pandangan kedepan. Melihat kemana saja, karena saat ini mata mulai memanas. Ah.... sekarang rasanya aku sangat sensitif dan mudah banget menangis.

" Jadi pingin!" Arjuna mengekeh.

" Pingin apa?" Aku mendelik kearahnya.

" Kamu melotot gitu bukanya nyeremin. Tapi, malah ngegemesin tau gak!" jawabnya mencubit pipi kiriku.

Lama - lama aku ikut mengekeh sialan!

" Nggak lucu, Bang!"

" Kalau gak lucu ngapain ketawa.?" Arjuna masih saja menggodaku.

" Abang.!" seruku sambil merengut.

Dia tertawa pelan, nampak tanpa beban. Menularkan senyum dibibir. Apalagi yang membuat bahagia selain saat ini? Melihat orang yang kita cintai tersenyum bahagia. Meskipun bukan aku yang menjadikan alasan utamanya tertawa bahagia.

Aku mengerutkan kening, saat mendengar dering ponsel. Arjuna meletakkan cangkir diatas meja. Dengan cepat meraih benda pipih yang tergeletak disamping tatakan cangkir tadi. Menempelkan ditelinga setelah menerimanya.

" .......... "

" Innailahi wa inna ilaihi ro'jiun." ucap Arjuna terasa berat.

" ........ "

" Hmm, " gumahnya dengan ekspresi datar.

" ........ "

Lalu Arjuna menurunkan ponselnya. Dia menghela nafas panjang. Pasti ada kabar hal buruk lagi.

Saat aku hendak bertanya, sayang terlambat. Dia telah beranjak menuju kamarnya. Tanpa memperdulikan aku disana. Bahkan tak peduli gimana rasaku.

Aku segera menyusuk kekamar. Aku duduk dibibir tempat tidur. Mengamati Arjuna yang telah rapi. Berbaju koko warna putih lengan pendek dipadukan dengan celana jeans warna navy.

" Nanti kerumah ibu jam berapa?" tanya Arjuna yang berdiri didepan cermin. Menyemprotkan parfum dibaju dan pergelangan tangannya. Aroma maskulin yang sangat aku sukai.

Hari masih pagi dan ia akan pergi lagi.

" Jam sembilan." jawabku pelan.

" Mau kemana lagi, abang?" sambungku. Arjuna menoleh padaku.

" Mau kepemakaman sebentar."

Aku mengerutkan kening. " Siapa yang meninggal.?"

Terdengar helaan nafas dari Arjuna. Sepertinya enggan dan berat menceritakan yang sejujurnya padaku.

" Pulang nanti aku ceritain, yaa!"

" Gimana kalau aku minta, abang jangan pergi?"

Ia bungkam, dahinya mengernyit menatapku.

" Apa abang masih akan tetap pergi?" tanyaku dengan suara bergetar. Pandangan mengabur karena mata yang mulai memanas.

" Jam sepuluh, abang akan pulang. Tunggu yaa!" kata Arjuan mendekat lalu mencium keningku.

Setetes bulir bening meluncur tak dapat ku tahan lagi. Sakit sekali rasa dihati ini.

" Apa semua ini ada hubungannya dengan Dafina?"

Dia diam. Itu sudah cukup sebagai jawaban kalau semuanya benar. Aku meraih tangan kanannya.

" Aku tahu ini sangat egois. Tapi, apapun yang terjadi aku mau abang jangan pergi! Aku mohon! Abang udah janji mau pergi sama aku, kan?" kataku dengan air mata bercucuran dipipi.

" Tok... tok...tok.." Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

" Mas!" panggil Bayu kemudian.

Arjuna menepuk kepalaku pelan. Sambil mencoba melepaskan tangan kiri yang aku genggam. Lalu ku lepaskan tangannya. Dia pergi meninggalkan ku yang memohon dan memelas memintanya untuk tetap tinggal. Sungguh sangat menyedihkan diriku. Siapakah aku baginya, tak ada artinya aku dimatanya.

Seketika tubuhku terasa lemas. Aku menghempaskan diri ditempat tidur. Menikmati rasa sakit karena hati yang hancur berkeping - keping. Seperti halnya semalam, lagi - lagi dia memilih perempuan itu. Perempuan yang memang dia cintai.

Tanpa memperdulikan bagaimana perasaanku. Tak mau mendengar apa inginku? Lalu apa gunanya lagi aku disini? Sekarang perempuan yang dicintainya telah kembali. Dan aku kembali pada hidupku lagi.

Bertahan dengan rasa sakit seperti tersayat ataukah pergi menyembuhkan hati yang sekarat.

Nyatanya aku bukanlah perempuan ahli sabar. Lelah dan rasanya sudah tak sanggup lagi. Tiga bulan, hanya selama itu aku mampu bertahan untuknya.

Baiklah ku putuskan untuk mengalah. Aku pergi!

Beranjak bangun, aku duduk mengamati cincin yang melingkar dijari manis. Kenangan manis bersama Arjuna seketika terlintas didepan mata.

Setetes air mata meluncur, disusul dengan tetes lainnya. Aku mulai terisak, sakit! Sakit Ya Allah, rasanya sungguh sangat sakit.

Aku mencintainya, tapi baginya aku tak berarti apa - apa. Kuhapus jejak air mata dipipi dengan punggung tangan. Sudah cukup semua ini!

Melepas cincin, lalu meletakkan dimeja rias. Kulepas pula kartu seluler dari ponsel dan menggeletakkannya disamping cincin.

Aku mengalah, ah..... lebih tepatnya aku kalah.

Terima kasih sudah mampir.

Sehat selalu semua.

1
vivit nurhidayah
Luar biasa
Aulia Ananda
seru bgt ceritanya
Ade Diah
kok gitu...
Ade Diah
Baguslah ceritanya ampe nangis tadi...
Ade Diah
Baguslah ceritanya ampe nangis tadi... pas baca yang Juna bilang sepupu
Ade Diah
Luar biasa
Ade Diah
Banget ampe netes air mata saking sakitnya.
Elizabeth Zulfa
ini si kembar blm dikasih nama loh.. tpi udah gak up lgi smpek skrg..
IndraAsya
jejak 🐾
Intan Reni Agustina
bagus
Rha Shantika
good
Olivia Jasmine Arsend
alur ceritanya bikin aku nyesek thor.. jd ingat masa lalu 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Olivia Jasmine Arsend
cowok emang susah minta maaf klo punya salah yg ada kita yg kena omelnya
Olivia Jasmine Arsend
cowok emang susah minta maaf klo punya salah yg ada kita yg kena omelnya
Indrijati Saptarita
lanjuuuuuuuuutttt udah setahun lebih tuuu.....
Indrijati Saptarita
ngeselin amat yaa....
Bunda Salma
egois sekali nih orang tua, kenapa gak anak kamu yang kamu cecar... dia yang gagal move on dari mantan calon istrinya koq yg disalahin hana?
Dafina Delisha
sebel sama si Juna.. Kurang apa pengorbanan hana 😡😡
miramiramp
bikin baper, ceritanya bagus banget thor
Rully Salahudin
CCTV, Thor... bukan sisi TV
D€LLANØ ARZZ: typo nya kejauhan njirr😭🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!