NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Penginapan yang tadi malam penuh suara kini hening seperti kuil kosong.

Lin Chen berdiri di tengah dapur, mendengarkan suara langkah kaki terakhir rombongan Taixuan menghilang di ujung jalan. Sesepuh Bai. Sesepuh Duan. Su Qingxue. Lima murid. Delapan orang yang pergi meninggalkan satu pelayan dan satu penginapan yang tiba-tiba terasa terlalu besar.

Dia menghembuskan napas pelan.

'Akhirnya sunyi.'

Pekerjaan pagi diselesaikan dengan efisien — tempat tidur dirapikan, lantai dibersihkan, bahan makan siang diperiksa. Semuanya beres dalam waktu kurang dari satu jam.

Lalu Lin Chen duduk di bangku dapur.

Jam pasir di benaknya sudah kosong sejak kemarin. Check-in bulan ini belum dilakukan — bukan karena tidak ada kesempatan, tapi karena Lin Chen selalu memilih tempat dengan sangat hati-hati. Terburu-buru hanya akan membuang potensi hadiah yang bisa jauh lebih besar kalau dilakukan di tempat yang tepat.

'Kota yang dibangun di atas medan perang ribuan tahun,' pikirnya. 'Pasti ada lebih dari satu titik yang layak.'

Dia membutuhkan bahan tambahan untuk makan siang. Alasan yang sangat sah untuk keluar.

Pasar dekat penginapan ramai dengan aktivitas pagi — pedagang yang berteriak, pembeli yang menawar, kultivator dari berbagai sekte yang berlalu lalang dengan jubah warna-warni. Suasana yang sangat berbeda dari pegunungan sunyi Taixuan.

Lin Chen bergerak di antara keramaian dengan langkah yang santai, kantong belanja di satu tangan, Mata Dewa Kekacauan-nya aktif setengah seperti biasa.

Dia sudah melewati tiga blok pasar ketika sesuatu membuatnya berhenti.

Di antara dua bangunan ruko yang rapat, terjepit di celah yang hampir tidak terlihat kalau tidak tahu harus mencarinya, berdiri sebuah kuil kecil. Atapnya sudah kehitaman dimakan usia, gentengnya retak di beberapa tempat, dan tanaman merambat sudah menutupi sebagian besar dindingnya. Tidak ada yang berdoa di sana. Tidak ada yang memperhatikannya. Bagi penduduk kota yang sudah terbiasa melihatnya setiap hari, kuil itu sudah lama menjadi bagian dari latar belakang yang tidak lagi dilihat.

Tapi Mata Dewa Kekacauan Lin Chen tidak bisa mengabaikannya.

Di dalam kuil kecil yang hampir terlupakan itu, energi purba berdenyut dengan kepadatan yang mengejutkan — jauh lebih kuat dari yang seharusnya untuk ukuran tempat sekecil itu. Seperti sumur yang dalamnya tidak sebanding dengan mulutnya yang sempit.

'Medan perang ribuan tahun,' Lin Chen menyimpulkan. 'Bahkan kuil kecil yang berdiri di atasnya menyerap energi itu selama berabad-abad.'

Dia melirik ke kiri dan ke kanan.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Lin Chen masuk ke celah sempit itu.

Di dalam kuil, hanya ada satu patung batu yang sudah tidak jelas bentuk wajahnya — terkikis waktu dan cuaca sampai hampir tidak bisa dibedakan itu patung siapa. Di depannya, sebuah meja persembahan kecil dengan beberapa dupa yang sudah padam entah kapan.

Lin Chen berdiri di depan patung itu.

"Check-in," ucapnya dalam hati.

[DING!] ⟨ Memproses check-in di: KUIL PERANG KUNO JIUYANG ⟩ ⟨ Tingkat kepurbaan: ★★★★☆ EPIK ⟩ ⟨ Jejak terdeteksi: Sisa energi pertempuran ribuan kultivator — Pertempuran Besar Jiuyang ⟩ ⟨ Menghitung hadiah... ⟩

...

[DING! DING!] HADIAH TINGKAT LEGENDA DIPEROLEH!

'PEMAHAMAN ALKEMI PRIMORDIAL TINGKAT DASAR' (Fondasi ilmu meramu pil primordial — terukir sempurna dalam ingatan Host)

⟨ Kultivasi Host meningkat ⟩ ⟨ Ranah Inti Emas Tingkat 7 — STABIL ⟩

Energi mengalir masuk tanpa drama — tidak ada ledakan, tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya kehangatan yang meresap dari dalam ke luar, seperti matahari yang muncul dari balik awan secara perlahan. Meridian-meridiannya melebar sekali lagi, dantian yang sudah luas seperti samudra kini semakin dalam tanpa batas yang terlihat.

Dan di dalam ingatannya, ribuan formula alkemi primordial terukir satu per satu — nama-nama bahan, rasio campuran, suhu api yang tepat untuk setiap jenis pil, cara membaca reaksi energi saat proses peracikan. Semua masuk dengan sangat teratur, sangat rapi, seperti perpustakaan yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya lengkap dengan sistem katalognya.

Lin Chen membuka matanya.

'Alkemi,' gumamnya dalam hati dengan nada yang tidak bisa dipastikan apakah kagum atau sekadar mencatat fakta. 'Hadiah yang tidak terduga.

Dia keluar dari kuil, kembali ke pasar, dan membeli bahan makan siang dengan wajah yang sangat biasa.

Makan siang sudah siap satu jam sebelum rombongan kembali.

Lin Chen duduk di halaman penginapan, menunggu dengan punggung bersandar ke tiang kayu dan mata setengah terpejam. Dari kejauhan, suara kota yang ramai dengan hiruk pikuk turnamen terdengar seperti dengungan yang konstan — sorakan penonton, suara energi yang meledak dari arah arena, sesekali getaran yang cukup kuat untuk dirasakan bahkan dari jarak ini.

'Pertandingan hari ini berjalan cukup keras,' simpulnya dari getaran-getaran itu.

Rombongan kembali menjelang sore.

Lin Chen tahu hasilnya bahkan sebelum melihat wajah mereka — dari cara mereka berjalan. Fang Rui dan Zhou Bin yang biasanya beriringan kini berjalan dengan jarak satu langkah lebih jauh dari biasanya, tanda ketegangan yang belum sepenuhnya turun. Chen Hao kepalanya sedikit lebih menunduk dari biasanya. Wei Peng... Wei Peng berjalan normal tapi terlalu normal, terlalu terkontrol, cara berjalan orang yang sedang menyembunyikan sesuatu yang sakit.

Dua menang. Satu kalah.

Dan yang kalah kemungkinan besar Wei Peng.

Tapi yang membuat Lin Chen benar-benar memperhatikan bukan itu.

Su Qingxue berjalan di posisi biasanya — paling depan, langkah tegak, wajah terkendali. Tapi tangan kirinya tidak berayun dengan ritme biasa. Terlalu diam. Terlalu dijaga.

Mata Dewa Kekacauan-nya bergerak sekilas.

'Luka di lengan kiri. Tidak dalam — tapi ada. Dan bukan dari pertandingan resmi.'

Lin Chen bangkit dari posisinya, masuk ke dapur, dan mulai menghidangkan makan malam seolah tidak melihat apapun.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Bukan keheningan lelah setelah perjalanan panjang. Bukan keheningan nervous sebelum turnamen. Ini keheningan orang-orang yang masing-masing sedang mencerna sesuatu yang tidak ingin mereka bicarakan di depan yang lain.

Wei Peng makan paling sedikit. Chen Hao makan tanpa menyadari apa yang dia makan. Fang Rui dan Zhou Bin tidak berbisik sama sekali untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai.

Su Qingxue makan dengan tangan kanan saja.

Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan bertukar pandang dua kali selama makan malam — komunikasi tanpa kata yang artinya Lin Chen tidak perlu mendengar untuk memahami isinya.

'Ada yang tidak beres hari ini. Dan bukan sekadar hasil pertandingan.'

Setelah semua orang naik ke kamar, Lin Chen membereskan meja dengan gerakan yang efisien. Saat melewati lemari obat kecil yang dibawa dari sekte sebagai perbekalan standar, dia berhenti sejenak.

Mengambil satu bungkus salep luka.

Meletakkannya di depan pintu kamar Su Qingxue tanpa mengetuk.

Lalu berbalik pergi.

Dia baru mengambil tiga langkah ketika suara dari balik pintu itu membuatnya berhenti.

Bukan suara keras. Hanya dua suara yang berbicara dengan sangat pelan — Su Qingxue dan Sesepuh Bai, yang rupanya belum keluar dari kamar murid utamanya itu.

Lin Chen tidak berniat mendengarkan.

Tapi indra pendengarannya yang kini setara kultivator Inti Emas Tingkat 7 tidak bisa dimatikan seperti mematikan lampu.

"...bukan serangan acak," suara Sesepuh Bai, tegang dan pelan. "Tekniknya terlalu spesifik. Mereka tahu posisimu."

Keheningan singkat.

"Sesepuh..." suara Su Qingxue, lebih pelan dari biasanya. "Apakah mungkin ada orang dalam di rombongan kita?"

Lin Chen berdiri diam di koridor yang gelap.

Di luar jendela, angin malam bertiup pelan membawa suara kota yang mulai mengantuk. Di dalam kamarnya yang kecil di ujung koridor, tiga buku alkemi primordial menunggu untuk dibaca. Di lipatan bajunya, sebuah kunci dingin menunggu untuk digunakan.

Dan di depan pintu kamar Su Qingxue, sebuah pertanyaan menggantung di udara yang tidak punya jawaban yang aman.

'Orang dalam,' Lin Chen mengulang kata-kata itu dalam hatinya dengan sangat datar.

'Bukan aku yang mereka maksud.'

'Tapi kalau mereka mulai mencurigai semua orang di rombongan ini...'

Dia melanjutkan langkahnya ke kamarnya dengan tenang.

'...maka hal-hal akan menjadi jauh lebih rumit dari yang aku rencanakan.'

Di sebuah gedung mewah di distrik utara Jiuyang, seorang pria muda berpakaian jubah keemasan duduk sendirian di depan meja yang penuh dengan laporan.

Wajahnya tampan dengan tulang rahang yang tegas — wajah yang di tempat lain mungkin terlihat ramah, tapi di balik cahaya lampu minyak malam ini hanya terlihat dingin.

Pangeran Ketiga Kekaisaran Shenghuang. Lin Hao.

Jarinya mengetuk meja dua kali saat membaca laporan terakhir. Dua belas assassin. Gagal semua. Dua Nascent Soul yang menangani mereka — wajar.

Tapi ada catatan kecil di pojok laporan yang membuatnya membaca dua kali.

'Anomali tidak teridentifikasi. Bukan Nascent Soul. Sumber tidak diketahui.'

Lin Hao melipat laporan itu dengan rapi.

"Menarik," gumamnya pelan pada ruangan yang kosong. "Sekte sampah seperti Taixuan tidak seharusnya punya anomali."

Dia berdiri. Berjalan ke jendela yang menghadap ke arah arena turnamen yang sudah gelap.

"Kirim gelombang kedua," ucapnya tanpa menoleh ke pengawal yang berdiri diam di sudut ruangan. "Tapi kali ini..." dia berhenti sebentar. "Aku ingin tahu siapa anomali itu. Hidup."

Pengawal itu membungkuk dan menghilang.

Lin Hao tetap menatap jendela.

Di luar, kota Jiuyang tidur dengan tenang, tidak tahu bahwa di salah satu penginapan distrik tengahnya, seorang pelayan abu-abu sedang membaca buku alkemi primordial dengan ekspresi yang sangat biasa.

1
zerotwo
wihh selamat thorr, udh kontrak 👍👍👍
zerotwo
thorr apakah jiwa lahir sama aja kyk nascent soul, atau gimana??🙏🙏
zerotwo
maraton dulu 😁😁😁
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!