NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35 d-day

Wulan bangun lebih pagi dari biasanya.

Entah kenapa, pagi itu terasa berbeda. Ada gugup kecil yang terus mengikuti sejak matanya terbuka, membuatnya bolak-balik di depan lemari.

Tangannya berhenti di satu baju, lalu pindah lagi. Ganti. Ganti lagi.

Sampai akhirnya ia memilih sebuah dress krem selutut. Sederhana, tidak mencolok, tapi entah kenapa terasa… pas.

Ia berdiri sejenak di depan cermin.

Rambutnya yang biasanya selalu diikat, hari ini dibiarkan tergerai di bahu. Make up tipis, lebih rapi dari biasanya, cukup untuk menyamarkan lelahnya.

Setelah selesai, Wulan menarik napas pelan.

Hari ini… harusnya biasa saja.

Tapi hatinya berkata lain.

Tin.

Suara klakson mobil memecah pagi.

Mobil Saka berhenti tepat di depan pagar. Tidak lama, pintu mobil terbuka dan Saka turun.

Wulan berjalan pelan menghampirinya.

Namun langkah Saka justru berhenti di tengah jalan.

Matanya langsung tertuju pada Wulan.

Biasanya ia melihat Wulan dengan kemeja kerja, rambut diikat rapi. Tapi hari ini berbeda.

Dress krem itu membuat Wulan terlihat lebih lembut. Rambut tergerai, wajahnya tampak lebih hidup dari biasanya.

Saka terdiam beberapa detik.

“Cantik.”

Wulan mengedip, sedikit terkejut.

Saka langsung mengalihkan pandangan, seperti sadar dengan ucapannya sendiri.

“Cantik… cocok buat kamu.”

Wulan tersenyum kecil, lalu menunduk sedikit.

“Terima kasih, Kak.”

Baru saat itu mereka sadar—pakaian mereka hampir senada. Krem. Seolah tanpa sengaja serasi.

Wulan terkekeh pelan.

“Kita kayak couple ya…”

Saka menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil.

“Oh… iya saya baru nyadar.”

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Silakan.” Wulan masuk ke mobil lebih dulu.

Perjalanan ke venue berlangsung sekitar setengah jam.

Di dalam mobil, suasananya tenang. Tidak canggung, tapi juga tidak banyak kata. Hanya obrolan kecil yang sesekali muncul lalu menghilang lagi di antara suara jalanan.

Sampai akhirnya mereka tiba di venue.

Wulan dan Saka mengisi buku tamu, lalu Saka mengarahkan Wulan ke meja tamu di sisi yang lebih tenang.

“Di sini aja,” kata Saka pelan. “Biar lebih nyaman.”

Wulan mengangguk.

Beberapa menit kemudian…

Suasana yang awalnya tenang berubah saat seseorang mendekat.

Seorang wanita dengan dress merah mencolok berhenti di depan meja mereka.

Tanpa ragu, ia langsung duduk di kursi kosong di samping Saka. “Permisi. Aku duduk di sini ya.”

Wulan melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Wanita itu tersenyum manis ke arah Saka.

“ Alia. Pacarnya Mas Saka.”

Tangannya bahkan langsung melingkar di lengan Saka.

Wulan diam.

Tapi jari-jarinya yang menggenggam tas mengencang pelan.

Sebelum suasana makin jauh—

“ngga usah ngelantur Kita ngga ada hubungan apa pun.”

Suara Saka terdengar datar. Tegas.

Ia langsung melepaskan tangan Alia dari lengannya.

Alia hanya tersenyum santai, seolah tidak terjadi apa-apa.“Oke, santai aja.”

Lalu matanya beralih ke Wulan.

“Kamu?”

Wulan menatap sekilas, lalu menjawab tenang.

“Wulan. Rekan kerja Kak Saka.”

Setelah itu ia mengalihkan pandangan ke depan.

Saka memperhatikan Wulan. Ia bisa melihat perubahan kecil di ekspresi gadis itu, meski Wulan berusaha menyembunyikannya.

“Belum ketemu Mama?” tanya Saka, mencoba mengusir halus sialia.

“Belum. Aku tadi langsung ke sini, niatnya mau nyari dia.” jawab alia

“Ya udah. Cari sana,” balas Saka singkat.

Alia mendecih pelan. “Diusir nih?”

“Siapa yang diusir?” Suara itu membuat semua menoleh.

Rani, ibu Saka, berdiri dengan senyum yang sulit ditebak. Wulan langsung berdiri dan memberi salam.

“Eh Wulan, apa kabar?”

“Baik, Tante. Tante sehat?”

“Sehat. Udah lama nggak ketemu ya.”

“Iya, Tante.”

Pandangan Rani kemudian jatuh ke Alia.

“Jadi ini siapa yang mau diusir?”

Alia langsung menjawab cepat.

“Mas Saka, mama. Aku cuma duduk di sini aja dia marah.”

Rani melirik Saka Saka menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil. Tatapannya sekilas jatuh ke arah Wulan.

Dan Rani langsung mengerti Ia tersenyum, lalu menggenggam tangan Alia dengan hangat.

“Yampun Alia, ikut Tante ya. Kita ngobrol di sana.”

Alia sempat ragu, tapi akhirnya ikut pergi bersama Rani Meja itu kembali sepi.

Tapi suasananya sudah tidak sama lagi.

Beberapa saat kemudian, MC mulai berbicara.

“Baik, hadirin sekalian… kita akan memasuki prosesi ijab kabul.”

Suasana berubah hening.

Semua mata tertuju ke depan.

Wulan duduk kembali. Tangannya ia lipat di pangkuan, berusaha menenangkan diri.

Di sampingnya, Saka juga terdiam.

“Semoga lancar,” gumamnya pelan.

Wulan mengangguk kecil. Di depan sana, Rafi duduk dengan wajah tegang namun mantap.

Suara ijab kabul mulai diucapkan, memenuhi ruangan yang sunyi.“Saya terima nikah dan kawinnya…”

Detik itu terasa panjang.

Hingga akhirnya—

“SAH!”

Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Beberapa orang tersenyum haru, bahkan ada yang terisak kecil.

Wulan ikut tersenyum pelan. Namun entah kenapa, dadanya terasa berat dan ringan di saat yang sama.

Di sampingnya, Saka tidak langsung ikut bertepuk tangan. Ia hanya menatap ke depan beberapa detik.

Lalu perlahan tersenyum tipis. “Alhamdulillah…”

Wulan menoleh.Dan untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.Tidak ada yang berbicara.

Hanya diam.Tapi diam yang kali ini terasa berbeda.

Suasana setelah akad perlahan mulai mencair.

Tamu-tamu sudah mulai bergerak ke arah pelaminan. Musik pelan kembali mengalun, menggantikan ketegangan yang tadi sempat terasa.

wulan masih duduk dimeja tamu ia menatap kearah panggung pengantin, lalu wulan menatap saka ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Saka.“Kak…”

Saka menoleh. “Iya?”

Wulan menurunkan suaranya, seperti takut didengar orang lain.“ kamu tahu ngga kalau kita ambil satu aja melati kak nara itu bisa bikin cepet dapet jodoh.”

Saka diam sebentar, lalu melirik ke arah pelaminan. “oh ya? ”

Wulan langsung mengangguk kecil, agak ragu tapi penasaran. “ iya kakak ga percaya? Aku sih percaya gimana kalo kakak bantu aku aja? "

Saka menghela napas pelan.

Bukan menolak Tapi malah berdiri.“ oke ayo”

Wulan kaget kecil. “Beneran?”

“Kalau kamu mau coba, ya ayo.” ucap saka mengajak wulan, wulan ikut jalan bersama saka

Mereka sudah berada di antrean untuk salaman.

Satu per satu tamu naik ke pelaminan, memberi selamat kepada pengantin. Suasana hangat, ramai, tapi tetap teratur.

Wulan berdiri sedikit di belakang Saka, ia sangat antusias tidak sabar

Mereka maju perlahan mengikuti giliran. Saat tiba di depan pengantin, Wulan memberi selamat pada nara dan rafi

" selamat ya kak " ucap wulan pada rafi lalu ke nara

" selamat ya kakk aduh aura pengantin nyaaa " ucap wulan

" kamu bisa aja deh " ucap nara lalu memeluk wulan, wulan yang melihat ada kesepakatan mengambil melatinya satu tanpa disadari nara.

lalu nara melihat saka yang memberi selamat pada nara wulan menunggu saka selesai

" kak " ucap wulan memperlihatkan satu bunga melati ditangannya pada saat mereka akan turun dari panggung

Saka mengangguk lalu ia juga memperlihatkan melati ditangannya "saya juga dapat"

" wahhh simpen kak jangan sampe ada yang tau " Ucap wulan senang lalu menyimpan melati ditasnya begitupun saka yang menyimpan pasa saku celananya

Mereka pun berjalan turun dari pelaminan lalu kembali ketempat duduk sebelumya seolah tidak ada yang terjadi.

1
Septyana Kartika
makasih ya Thor..
Septyana Kartika
akhirnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!