Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 langkah yang mendekat
Minggu pagi di rumah Wulan terasa jauh lebih tenang daripada hari-hari biasanya.
Sinar matahari yang masuk dari balik tirai kamar perlahan menyinari wajah Wulan yang masih tertidur pulas.
Hari itu ia sengaja mematikan alarm.
Setelah seminggu penuh disibukkan dengan pesanan bunga, survei venue, hingga berbagai kejadian yang membuat pikirannya berantakan, ia benar-benar ingin menikmati hari libur.
Tok...
Tok...
Tok...
"WULAAAN!"
Suara seseorang dari balik pintu membuat Wulan mengernyit.
"Bangun! Udah jam sembilan!"
Wulan menarik selimut menutupi kepala."Lima menit lagi..."
"Bohong. Lima menit lo tuh tiga puluh menit."
Tok... tok... tok...
"WULAN!"
Dengan mata masih setengah terbuka, Wulan akhirnya bangkit dari tempat tidur."Iya... iya..."
Begitu membuka pintu kamar, Siwi sudah berdiri di depan sambil menyilangkan tangan."Astaga. Rambut lo kayak disambar petir."
Wulan mengusap rambutnya asal.
"Namanya juga baru bangun."
"Katanya hari ini kita mau jalan."
"Iya... bentar."
Siwi menggeleng geli. "Gue udah mandi, udah dandan, udah sarapan. Lo baru buka mata."
Wulan hanya nyengir."Oke... kasih gue waktu."
"Nggak boleh lama."
"Iya."
Siwi akhirnya duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, sedangkan Wulan kembali ke kamar untuk mengambil handuk.
Baru saja ia hendak masuk ke kamar mandi, ponselnya yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat langkahnya langsung berhenti.
Babang Saka.
Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. " Sii ganteng?"
Dengan sedikit gugup, ia membuka pesan itu.
...Babang saka...
Selamat pagi, Wulan.
Hari ini kamu ada acara?
Saya berencana pergi ke akuarium.
Kalau kamu belum ada kegiatan, mau ikut sama saya?
Wulan membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali.
"...Hah?"
Ia bahkan sampai mengucek matanya sendiri.
Ini... benar dari Saka? Bukan mimpi?
Pintu kamar kembali diketuk.
"Wulan! Lama banget!"
"I-iya!"
Dengan wajah yang masih memerah, Wulan keluar sambil membawa ponselnya.
Siwi langsung menyipitkan mata.
"Kenapa muka lo?"
" liat nihh " Dengan wajah yang masih specleas wulan memberikan ponselnga pada siwi
Siwi berdiri lalu berjalan mendekat lalu melihat ponsel dari tangan Wulan dan membaca isi pesannya
"AAAAAAAAAA!"
Wulan buru-buru membekap mulut Siwi. "Ssst! Jangan teriak begoo!"
Siwi menepuk-nepuk tangan Wulan agar dilepas.
Begitu bebas, ia langsung menunjuk wajah sahabatnya.
"Demi apaa? Babang saka ngajak lo jalan ?!"
Siwi memegang kedua bahu Wulan. " Lan sebagai sahabat lo dari orok gue dukung lo sama babang saka "
" apaan sii sialan dramatis banget "
" dah jangan banyak bacot cepet mandi gue bantu siapin outfit yang cocok buat lo date " ucap siwi sambil mendiorong wulan masuk kedalam kamarnya.
Siwi mendorong pelan tubuh Wulan ke arah kamar.
Wulan baru beberapa langkah ke kamar mandi, Siwi kembali berseru. "Eh! Lo belum bales chat nya kan "
Wulan menoleh. "Oh iya!"
Wulan kembali mengambil hpnya ia berhenti sejenak menggantung di atas layar.
Ia berpikir cukup lama sebelum akhirnya mengetik.
...Babang saka...
^^^Boleh, Kak.^^^
^^^Kebetulan hari ini aku juga lagi libur.^^^
Baik.
Saya jemput sekitar pukul sepuluh tiga puluh.
Wulan kembali menatap layar.
Senyum kecil tanpa sadar muncul di wajahnya.
Melihat itu, Siwi yang juga melihat chat wulang langsung menyenggol lengannya. "Tuh kan seneng kan loo."
"hehe besti ku akh mandi dulu yahh."
"yaudah cepetan gue mau cari baju yang cocok buat lo." Ucap siwi sambil membuka lemari wulan memulai mencari baju untuk wulan
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, Wulan keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit basah.
Siwi langsung berdiri sambil memegang baju yang ia siapkan untuk wulan.
siwi memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki."cepetan keburu babang tampfan dateng "
Wulan berdiri di depan cermin,
Blouse biru muda pilihan Siwi ternyata pas di badannya.
Rambutnya yang biasanya hanya diikat sederhana kali ini dibiarkan tergerai.
Ia memperhatikan pantulan dirinya beberapa detik.
" cakep banget gue, gilaa! "
Siwi langsung nyeletuk.
" siapa dulu yang makeover siwi gitu loh eh tapi emang lo gila sih gue Setuju"
" sialan anak setan "
" ga nyangka ternyata lo juga bisa jalan sama cowo " ucap siwi sedikit ngeledek
" heh lo aja yang ga tau gue jalan sama cowo mana aja hih " ucap wulan menatap siwi dengan sombong
" halah paling hayalan lo kalo maj tidur aja "
" wah bener bener lu yaaa bisa tah loh keren ehh tapi gapapa nih kita ngga jadi jelong-jelong " ucap wulan pada siwi ia sedikit tak enak karna mereka sudah ad janji lebih dulu.
" tenang aja jir sama gue mah ini tuh first date lo jadi lo harus perfeck demi lo punya pacar lann gue suport lo " ucap siwi sambil mengacungkan jempolnya.
" makasih bess emng paling the beast deh kamu mahh sawi busyuk kuu " ucap wulan sedikit mengejek siwi namun ia benar-benar tulus berterimakasih kepada siwi.
" wah sialan loo " ucap siwi sambil bercanda juga.
Suasana rumah pagi itu dipenuhi tawa mereka.
Tak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar pelan dari depan rumah.
Siwi spontan keluar dari kamar wulan lalu mengintip dari balik jendela.
Matanya langsung membulat.
" udah nyampe lan "
Wulan yang sedang memakai jam tangan langsung panik.
"Hah? Cepet amat gue gugup sumpil ?"
"Tenang lan jangan gugup "
" gabisa gue gugup wii"
"Normal."
"Nggak normal."
"Sangat normal lan ah lu mah gitu, sini" Siwi merapikan sedikit rambut Wulan.
"Nah dah gini, cantik perfeck dijamin babang saka klepek-klepek."
Wulan menarik napas panjang.
" huftt tenang "
lalu wulan membuka pintu rumahnya saat melangkah keluar rumah, ia melihat Saka sudah berdiri di samping mobil.
baju coklat lengan panjang yang digulung hingga siku dipadukan dengan celana jeans hitam membuat penampilannya terlihat santai, tetapi tetap rapi.
Begitu melihat Wulan, Saka memberikan senyum tipis.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Kak."
"Saya datang terlalu cepat?"
Wulan buru-buru menggeleng.
"Nggak kok."
Di balik pintu, Siwi hanya bisa menahan senyum setelah wulan akan memasuki mobil saka siwi keluar dari balik pintu.
lalu ia berteriak " Cie cieee"
Wulan langsung malu setengah mati sebelum akhirnya masuk ke mobil.
Pas pintu mobil tertutup, Siwi dari teras cuma ngacungi dua jempol sambil teriak pelan, "Have fun, bestie! enjoy your datee"
Wulan cuma bisa melotot malu.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih santai dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Sesekali Wulan menunjuk keluar jendela ketika melihat sesuatu yang menarik, sementara Saka hanya tersenyum tipis mendengar ocehannya.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil akhirnya memasuki area parkir sebuah akuarium terbesar di kota itu.
Begitu turun dari mobil, mata Wulan langsung berbinar.
"Ya ampun..." Ia mendongak menatap bangunan megah di depannya.
Fasad kaca berwarna biru memantulkan cahaya matahari pagi, sementara logo berbentuk ikan pari raksasa berdiri tepat di atas pintu masuk."Besar banget..."
Saka ikut menoleh."Pertama kali ke sini?"
Wulan langsung mengangguk cepat."Iya waktu kecil pengen banget ke sini, tapi belum pernah kesampaian."
Saka menatapnya beberapa detik.
"Berarti hari ini baru pertama."
Wulan tersenyum lebar. "Makasih ya, Kak."
"Sama-sama."
Mereka berjalan berdampingan menuju loket pembelian tiket.
Baru saja Wulan hendak mengeluarkan dompet dari tasnya, tangan Saka lebih dulu mengeluarkan kartu pembayaran.
"Dua tiket."
Wulan hanya menatap saka senang ia akan enjoy dengan liburannya.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki area utama akuarium.
Ruangan pertama dibuat sedikit gelap dengan cahaya kebiruan yang menenangkan.
Suara gemericik air terdengar dari berbagai arah Di balik kaca raksasa, ratusan ikan berwarna-warni berenang perlahan mengikuti arus.
Mata Wulan langsung membesar.
"WAAAAH!"
Ia spontan berjalan lebih cepat mendekati kaca."Kak! Lihat yang warna kuning!"
Belum selesai bicara, ia menunjuk ikan lain."Eh! Yang belang itu lucu banget!"
Lalu berpindah lagi."YA AMPUN! Yang itu gemes!"
Saka berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Alih-alih memperhatikan ikan, pandangannya justru lebih sering tertuju pada Wulan yang terlihat begitu antusias.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Rupanya Ekspresi bahagia Wulan jauh lebih menarik daripada pemandangan di dalam akuarium.
Tanpa sadar, Wulan menoleh.
"Loh? Kak malah lihatin aku?"
Saka sedikit berdeham.
"Maaf."
"gausah maaf kak aku emng cantik kok ?" ucap wulan sambil tersenyum ke saka
Saka menatap Wulan beberapa detik Sudut bibirnya terangkat tipis. "Iya."
Wulan mengerjap. "Iya?"
"Kamu memang cantik."
Seketika Wulan membeku. "Eh?"
Jantungnya langsung berdetak nggak karuan.
Saka baru melanjutkan dengan tenang. "Apalagi kalau lagi banyak senyum."
wulan terdiam mendengar ucapan saka ia membatin " what ini ini gue harus apa jirr "
Saka tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah aquarium "saya belum pernah liat kamu seantusias ini "
Wulan terkekeh pelan. "Hehe... iya, Kak. Soalnya ini pertama kalinya aku ke sini."
Tatapannya kembali menyapu akuarium raksasa di depan mereka."Kak Boleh minta tolong?"
Saka mengangguk."Boleh."
Wulan buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Tolong fotoin aku, ya."
Saka menerima ponsel itu tanpa banyak bicara."Di sini?"
"Iya! Yang background-nya ikan itu." Wulan langsung berdiri di depan kaca akuarium.
Awalnya ia terlihat canggung Namun beberapa detik kemudian, sisi cerianya mulai keluar.
Ia membentuk pose kecil dengan kedua tangan di belakang punggung, lalu sesekali menunjuk ikan yang berenang di belakangnya.
"Gimana, Kak? Udah bagus belum?"
"Bagus Coba satu lagi."
Klik.
"Senyum dikit ya, Wulan."
Refleks Wulan tertawa kecil.
"Emangnya tadi nggak senyum?"
"Kurang."
"Yaudah." Kali ini senyumnya jauh lebih lebar.
Klik.
Klik.
Klik.
Saka menurunkan ponsel itu.
"Sudah."
Wulan langsung menghampiri.
"Mana? Mana?
Wulan masih memperhatikan hasil fotonya sambil tersenyum puas.
"Ih... bagus banget."
Ia menoleh ke arah Saka. "Kak saka, ternyata jago motoin."
Saka tersenyum tipis. "Kebetulan saja."
"Bukan kebetulan ini mah."
Beberapa detik kemudian, Wulan kembali melihat sekeliling.
Tak jauh dari mereka, ada dua remaja perempuan yang sedang bergantian berfoto di depan akuarium.
Mata Wulan langsung berbinar.
"Kak, bentar ya."
Ia menghampiri kedua remaja itu.
"Permisi..."
Keduanya menoleh bersamaan.
"Iya, Kak?"
"Boleh minta tolong fotoin kita sebentar?"
"Tentu boleh!"Salah satu dari mereka langsung menerima ponsel Wulan dengan semangat. "Yuk, Kak."
Wulan kembali berdiri di samping Saka.
Remaja itu langsung mengangkat kamera. "Ehm, Boleh deketan dikit nggak?"
Wulan langsung melirik Saka.
Saka hanya bergeser satu langkah kecil hingga jarak mereka menjadi lebih dekat.
"Nah! Cakep!"
"Senyum ya!"
Klik.
"Oke, satu lagi!"
Klik.
"Yang terakhir!"
Tanpa sadar, Wulan tersenyum sambil sedikit menoleh ke arah Saka.
Sedangkan Saka tetap menatap kamera dengan senyum tipisnya.
Klik.
"Wah... bagus banget!"
Remaja itu mengembalikan ponsel sambil tersenyum lebar.
"Kakak berdua serasi banget deh."
Wajah Wulan langsung memanas.
"Hah? E-enggak kok..."
Remaja satunya langsung menyenggol temannya."Ih, jangan bikin kakaknya malu."
"Hehe... maaf, Kak."
"Nggak apa-apa." Saka hanya tersenyum sopan.
Setelah kedua remaja itu pergi, terdengar suara mereka yang masih samar. "Lucu banget ya mereka."
"Iya... semoga cepet jadian deh."
Wulan yang masih sempat mendengarnya langsung memejamkan mata. " Tuhkan nyampe orang asing aja ikut nge-ship."
Sementara Saka, yang berjalan di sampingnya, hanya menahan senyum kecil seolah ikut mendengar percakapan itu.
Mereka melanjutkan langkah menuju area berikutnya.
Di sana terdapat kolam terbuka berisi ikan koi berukuran besar.
Wulan langsung jongkok di pinggir kolam."Lucuuu..."
Seekor koi putih-oranye berenang mendekati permukaan air.
Wulan tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapat mainan."Kak... coba lihat."
Saka ikut berdiri di sampingnya.
"Iya."
"Dia ngikutin aku!"
"Mungkin kamu disangka bawa makanan."
"Hah?"
Wulan langsung manyun.
"Ih kirain karena aku cantik."
Saka terkekeh pelan.
"Bisa jadi."
Wulan langsung menoleh
"kok bisa jadi sih ngga yakin banget."
Saka hanya tersenyum kecil Entah kenapa, melihat Wulan yang mudah sekali percaya membuat suasana terasa semakin hangat.
Mereka kembali berjalan menuju area paling populer di akuarium Terowongan bawah laut membentang panjang di depan mereka.
Di atas kepala, ikan pari dan hiu berenang perlahan melewati kaca bening yang melengkung.
Cahaya biru yang memantul dari air membuat suasana terasa begitu tenang.
Wulan mendongak tanpa berkedip. "Cantik banget..."
Tanpa sadar, jemarinya perlahan menggenggam ujung lengan kemeja Saka. "Kak... lihat yang itu."
Saka menoleh, Tatapannya sempat jatuh pada tangan Wulan yang kini menggenggam lengannya.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengikuti arah telunjuk Wulan. "Iya."
"Ikan parinya besar banget."
"Hm."
Beberapa langkah kemudian, Wulan baru menyadari apa yang sedang dilakukannya.
Matanya sedikit membulat.
" oemji what what an jirr"
Ia melirik sekilas ke arah jemarinya sendiri.
" lepasin ga yaa tapi guenya dah nyamann jirr biarin aja kali yaa? "
Refleks pertama yang muncul adalah ingin segera melepaskan genggamannya.
Namun entah kenapa, Ia mengurungkan niat itu Pura-pura tidak sadar Pura-pura semuanya biasa saja. Meski jantungnya sudah berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Sementara itu, Saka yang menyadari kegugupan kecil Wulan hanya tersenyum tipis.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membiarkan jemari itu tetap berada di lengannya.
Sesekali ia ikut menunjuk ikan-ikan yang berenang di atas mereka, seolah memang tidak ada hal istimewa yang sedang terjadi.
Dan Justru sikap tenang Saka membuat Wulan semakin salah tingkah.
Untuk pertama kalinya, ia merasa hari Minggunya jauh lebih menyenangkan dari biasanya.