Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Saat sedang menunggu angkutan yang belum juga datang, tiba-tiba deru mesin halus memecah keheningan. Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap melambat, lalu berhenti tepat di hadapan Yasmin. Jantungnya seketika berdegup kencang, ketika pria yang di restoran tadi membuka kaca mobil. Seketika Yasmin ingat kata-kata pria itu hendak menghukumnya dengan cara dia sendiri, wanita berjilbab itu tiba-tiba merasa ngeri.
"Ayo naik," titah pria itu menatap Yasmin dari kaca tanpa basa-basi.
Yasmin hanya menggeleng, tidak semudah itu ia menerima tawaran pria asing, yang sudah kenal pun selama ini Yasmin tolak. Ingatan buruk enam tahun yang lalu seolah menyerbu masuk. Bayangan malam di club malam itu kembali melintas dan tidak ingin terulang lagi.
"Rumah kamu di mana? saya antar."
Tawaran itu terdengar baik, wajar, dan sama sekali tidak ada niat buruk di matanya. Namun, bukan berarti hati Yasmin luluh, ketiga temannya dulu juga tampak baik kepadanya. Tetapi apa yang terjadi? Luka yang belum sembuh itu berteriak keras di dalam kepalanya, mengingatkan bahwa dulu pun ia pernah merasa aman, hingga semuanya berubah menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan.
Yasmin mundur dua langkah, ketika tiba-tiba pria itu turun dari kendaraan dan mendekat. Baju yang dikenakan berbeda seperti di restoran pagi tadi, kali ini hanya mengenakan kaos, lapis jaket tampak santai.
"Kenalkan, nama saya Marco," pria itu mengulurkan tangan. Namun, Yasmin tidak menyambutnya, ia seketika ingat kartu nama yang ditemukan di kolong kursi restoran tadi yang bernama Marco Bellini, tidak salah lagi pria itu pemiliknya.
"Saya sudah tahu," Yasmin justru menggeser kaki dari tempatnya berdiri, tentu saja harus waspada, tidak semudah itu menerima uluran tangan, meskipun pria itu hanya ingin berkenalan.
"Kamu tahu nama saya dari mana?" Tanya Marco mengerutkan kening.
"Ini, milik Tuan Bukan?" Yasmin mengeluarkan kartu nama dari saku dan mengembalikan kepada pemiliknya.
Marco menerima kertas tebal itu lalu memasukkan ke dalam saku jaket.
"Ayolah, naik. Saya tidak akan menghukum kamu gara-gara kopi tadi, anggap saja masalah itu sudah selesai, karena tangan saya tidak apa-apa kok," Marco menunjukkan lengannya yang hanya merah sedikit.
Yasmin menangkap tatapan Marco sedikit teduh tidak seperti ketika di restoran tadi pagi, tapi bukan berarti menerima tawaran pria itu.
"Terima kasih, Tuan... saya sudah biasa naik angkutan dan sebentar lagi pasti lewat," jawab Yasmin tegas, tidak mau terlihat takut di hadapan pria asing itu.
"Kamu yakin?" Marco sedikit ketus, ternyata pelayan restoran itu keras kepala.
"Benar, Tuan. Sekali lagi terima kasih," ulang Yasmin. Benar saja, angkutan yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Yasmin segera naik berjalan membungkuk mengisi tempat duduk paling belakang di pinggir kaca. Angkutan berjalan meninggalkan kendaraan mewah itu, Yasmin menoleh ke belakang, tampak si pria sedang telepon seseorang di sorot lampu jalanan.
Yasmin menghela napas panjang, bersandar di kaca. Malam itu, udara mulai dingin. Yasmin memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap jalanan yang mulai sepi. Hampir dua puluh menit ia menunggu angkutan umum tadi, ditambah lagi drama pria asing yang berkedok mengantar dirinya.
"Huh! Pria memang begitu, sok romantis seperti drama, tapi ujung-ujungnya hanya ingin menyakiti wanita saja!" umpat Yasmin dalam hati. Seketika pikirannya melayang pada Fatir dan Fathia yang pasti menunggunya di rumah kontrakan, membuat hatinya ingin segera sampai di sisi mereka.
Andai saja, ia bisa membelikan mereka handphone tidak usah yang mahal-mahal, ia bisa selalu komunikasi, setidaknya mengurangi kekhawatiran yang tiap saat Yasmin rasakan. Jika bukan tuntutan hidup, Yasmin tidak mungkin tega meninggalkan anak-anak di rumah sendiri saat usianya masih sangat kecil.
Hingga akhirnya kaki Yasmin menginjak lantai teras kontrakkan petakkan itu, lalu mengetuk pintu. Yasmin tersenyum ketika mendengar tawa kedua anaknya.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum..."
"Bunda pulang!" seru Fatir dan Fathia bersamaan, berdiri dari tikar di mana mereka sedang mewarnai, lalu berlarian membuka pintu. Tanpa menunggu Yasmin meletakkan tas atau menutup pintu sepenuhnya, dua tubuh mungil itu sudah memeluk erat pinggangnya dari kiri dan kanan.
"Kalian pasti sudah lapar kan? Bunda membawa makanan," Yasmin mengeluarkan makanan dari tas ketika sudah duduk di tikar.
"Alhamdulillah... Ayam goreng..." Seru Fatir dan Fathia. Anak itu segera berlari ke dapur untuk mencuci tangan tanpa disuruh, tidak lama kemudian kembali.
"Anak pintar, sekarang kita makan," Yasmin membuka nasi bungkus yang ia pisahkan.
"Bunda kok pakai kangkung saja, Ayam ini bagi dua ya..." kata Fathia ketika melihat Yasmin makan hanya dengan tumis kangkung.
"Punya Fatir saja yang dibagi dua," Fatir pun merelakan ayamnya untuk bunda.
"Sudah... Ayam ini untuk kalian saja, Bunda kan tidak suka Ayam," jawab Yasmin berbohong, baginya yang terpenting adalah anak-anak yang masih membutuhkan gizi.
Yasmin tersenyum ketika kedua anaknya mengangguk lalu makan dengan lahap.
Ketika malam hari masakan tidak habis, pemilik restoran membagikan kepada karyawan secara cuma-cuma, yang penting catatan jelas.
Ingat pemilik restoran yang baik hati itu, Yasmin berhenti mengunyah. "Kenapa aku tidak pinjam uang beliu saja?" Batin Yasmin. Hatinya timbul nekat, seberkah harapan datang jika pemilik restoran memberi pinjaman. Besok pulang kerja ia memutuskan datang ke rumah bos yang tidak jauh dari restoran. Tentu saja tanpa sepengetahuan Rina, seandainya tidak boleh pun, ia yakin pemilik restoran tidak akan marah-marah.
"Bunda kok tidak makan..." Fatir mengangkat kepala menatap bundanya yang sedang termenung.
"Oh iya," Yasmin tersenyum menyembunyikan kegelisahan, ia melanjutkan makan walau tidak berselera karena otaknya penuh.
"Bunda tadi kok pulang terlambat?" tanya Fatir khawatir ketika makanan habis, tangan kecilnya meraih jari jemari Yasmin, menggenggamnya erat seolah takut bundanya kenapa-napa.
"Benar Bunda... Kami menunggu lama..." lanjut Fathia seketika manja, menempelkan wajahnya ke lengan Yasmin sambil bergumam.
"Iya, tadi itu nunggu angkutan lama banget," jawab Yasmin, tangannya menyingkirkan rambut putrinya ke belakang telinga. "Sekarang kalian sikat gigi terus kita bobo ya..." lanjutnya.
"Iya Bun..." Si kembar berjalan ke kamar mandi, tapi tidak bersamaan, karena Fathia menunggu di luar pintu seperti yang Yasmin ajarkan.
Yasmin menatap anak-anaknya merasa memiliki segalanya, walaupun hanya tinggal di ruangan sempit. Rasa lelah bekerja seharian, lenyap seketika hanya dengan senyum dan celotehan anak kembarnya.
"Anak pintar... kebanggaan Bunda," ucapnya sambil mengusap kepala mereka bergantian, lalu menggandeng tangan dua anaknya masuk ke kamar yang hanya ada kasur tanpa tempat tidur untuk mereka beristirahat.
*********
Udara di dalam ruangan itu terasa sejuk, tapi pekat oleh asap tembakau aroma wangi menutupi bau samar besi berkarat dan darah. Dindingnya berlapis kayu gelap yang kusam, dihiasi senjata-senjata tajam dan senapan yang tergantung rapi, bukti bisu kekuasaan pemiliknya. Di balik meja besar berbekas goresan pisau, duduk seorang pria muda tampan namun berwajah datar, matanya sedingin es dan setajam mata elang. Dialah pemimpin kelompok mafia tanah yang ditakuti.
Di hadapannya, dua anak buahnya berdiri dengan kepala tertunduk, menunggu perintah dan harus segera melaksanakan dengan benar. Kesalahan sedikit saja nyawa sendiri menjadi taruhan. Menatap bos yang meniup asap rokok perlahan, lalu meletakkan benda itu di asbak yang terbuat dari tengkorak hewan.
"Bagaimana hasil penyelidikan tentang Yasmin?" tanyanya menatap tajam ke arah mereka.
"Wanita itu mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan, Tuan. Saat ini sedang kesulitan keuangan, hasil dari penyelidikan kami, pemilik kontrakkan menagih uang tersebut hanya tenggang waktu seminggu."
"Bungkam mulut wanita tua itu dengan uang ini dan carikan Yasmin rumah, pastikan hidup mereka nyaman!" Perintahnya lalu melempar uang entah berapa ke atas kursi hingga berserakan untuk melunasi kontrakkan.
"Awasi pemilik kontrakkan itu, jika berani macam-macam, tembak kepalanya!" Perintah dengan wajah geram.
"Baik Tuan, besok pagi kami berangkat," jawab dua anak buahnya sembari mengumpulkan uang karena saat ini sudah larut.
"Malam ini juga bodoh!" Bentaknya keras bergema ke ruangan tersebut. Dua anak buah pun segera pergi dengan wajah ketakutan.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau