Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Amerika serikat
"Niel, ini udah sepekan sejak pernikahan Nathan dan Bian. Seharusnya mereka sudah pulang kan?" tanya Rebecca bertender mesra di bahu Daniel sambil memperhatikan layar persegi di hadapan.
"Seharusnya sudah. Tapi, aku tidak tahu apakah bulan madunya di tambah atau tetap satu Minggu," jawab Daniel sambil mengetik sesuatu di laptopnya mengerjakan pekerjaan kantor.
Pasangan yang sudah tak lagi muda itu selalu menghabiskan waktu bersama. Baik di rumah, kantor, atau dimanapun yang mereka inginkan. Daniel sudah terpikat sedalam-dalamnya pada wanita Amerika itu. Dan Rebecca, tidak bisa menolak pesona serta perhatian dan cinta yang di berikan oleh Daniel untuknya.
"Lalu Sean?"
"Sean sedang meninjau Kedai kopi Starbucks untuk di pasarkan ke berbagai supermarket di New York. Kemungkinan Sean akan cukup lama di sana. Kenapa kau menanyakan mereka pulang?" tanya Daniel menoleh sebentar kemudian kembali menatap laptopnya melanjutkan kegiatannya seraya mendengarkan.
"Bukankah kau akan menikahiku? kalau mereka lama, pernikahan kita juga akan lama?" sahut Rebecca menegakkan duduknya. Daniel kembali menoleh tersenyum senang kalau wanitanya juga ingin segera menikah.
"Kau sudah tidak sabar ya ingin menjadi nyonya Daniel Kinarius?" goda Daniel sambil menutup laptopnya.
"Bu-bukan begitu. Saya cuman tidak mau terus-terusan menjadi pemuas nafsu jika pada akhirnya saya akan di buang. Setidaknya, jika ada kepastian aku akan menunggu. Namun, jika semua hanya rayuan semata demi mendapatkan gairah se*ks aku tidak mau." ujar Rebecca mengutarakan kerisauan hatinya.
Pria dewasa itu tak main-main dalam ucapannya jika dia menginginkan Rebecca menjadi istrinya. Daniel mengambil ponselnya menelpon Sean untuk memastikan apakah mereka akan pulang secepatnya atau tidak.
"Sean, kau kapan pulang ke Amerika serikat?"
"Tidak tentu, Dad. Bisa cepat atau lambat tergantung kerjaan."
"Kalau Nathan dan Bian bagaimana?"
"Setahuku mereka masih ada di hotel yang sama bareng aku. Kenapa emangnya?"
"Tanyakan kepada mereka kapan akan pulang!"
**********
New York
"Ok, tunggu sebentar! Sean ke kamar yang mereka tinggali dulu." Sean melangkah keluar meninggalkan setumpuk pekerjaan demi ingin tahu masalah adiknya.
Setibanya di depan pintu kamar. Sean menekan bel dan tidak lama kemudian Nathan yang muncul. Lagi-lagi pria bad boy tampan itu hanya mengenakan handuk bertelanjang dada.
"Kau mau ngapain sih? ganggu kegiatan orang saja," gerutu Nathan mengacak rambutnya prustasi karena kegiatan cupcupnya tidak jadi terhalang oleh suara bel.
"Daddy Daniel menanyakan kapan kalian akan pulang?" tanya Sean menghiraukan kekesalan Nathan dengan ponsel di genggaman dan masih menyala.
"Tiga Minggu lagi. Aku sama Bian mau berkeliling New York sambil honeymoon. Kenapa? kepo sekali tentang kapan pulang."
"Iisshh," Sean mendesis memutar matanya jengah. Dia menempelkan ponselnya ke telinga dan berkata, "Honeymoon nya di tambah menjadi satu bulan. Kalau kalian ingin segera menikah datanglah kesini. Aku tunggu kalian dan akan merestui pernikahan kalian. Tapi, menikahnya di sini!"
Ucapan Sean membuat Nathan mengernyit heran penasaran.
"Baiklah, Daddy dan calon Mommy mu akan ke New York untuk menikah di sana. Thanks, Sean. Kau putra Daddy yang begitu pengertian."
Sambungan kembali putus.
"Om Daniel akan menikah dengan Ibunya Bian di sini?"
"Yes. Saya harap kau sampaikan kabar bahagia ini kepadanya. Kita akan menjadi keluarga, brother." Sean menepuk-nepuk pundak Nathan tersenyum menyeringai lalu pergi.
"Untung dia Kakaknya Bian. Kalau bukan, sudah adu jotos kita." Nathan kembali masuk ke kamarnya.
**********
"Apa katanya?" tanya Rebecca penasaran.
Daniel membenarkan letak duduknya sehingga kini dia saling berhadapan dengan Rebecca. "Nathan dan Bian menambah masa Honeymoon nya menjadi satu bulan. Sean bilang, jika kita ingin segera menikah harus kesana. Kita akan menikah di sana, bagaimana?"
Rebecca tersenyum mengangguk. "Aku mau, sekalian kita honeymoon bareng anak mantu."
Daniel pun ikut tersenyum, dia memeluk tubuh Rebecca. Kemudian mengurai pelukannya, mengecup bibir Wanitanya. Saling berbelit lidah dan berakhir dengan pergumulan mesra antara mereka.
***********
Nathan menghampiri Istrinya yang sudah duduk menonton layar persegi masih mengenakan pakaian inti saja. Nathan juga ikut duduk di sampingnya kemudian mengangkat Bian mendudukannya di pangkuan dia. Kemudian, memeluk pinggang Bian dari belakang.
"Barusan Sean bilang kalau Ibu dan Om Daniel akan datang kesini untuk menumpang nikah."
Bian menoleh ke samping mengerutkan keningnya. "Ibu dan Daddy Daniel menikah? secepat itu? setahuku mereka belum saling mengenal." Bian belum mengetahui jika di antara Daniel dan Rebecca ada hubungan dan juga setahunya mereka kenal ketika di acara pernikahan.
"Mungkin mereka sudah merasakan kecocokan satu dengan yang lainnya sehingga memutuskan untuk menikah." ucap Nathan menyusuri apapun yang ada di tubuh istrinya.
"Aku terserah Ibu saja. Kalau mereka bahagia akupun ikut bahagia. Karena aku juga menginginkan Daddy Daniel menjadi ayahku." Seru Bian terpejam menikmati sentuhan Nathan.
Nathan mengernyit. ( Apa Bian belum tahu jika Om Daniel ayah biologisnya? apa aku harus beri tahu sekarang? ) Nathan menggelengkan kepala. ( Biar mereka saja yang memberitahukan. )
Nathan memegang pipi Bian, menolehkan ya kebelakang lalu melu*mat bibir yang sudah menjadi candu. Keduanya pun berakhir dengan memadu kasih saling memuaskan, saling menyerang, saling memberikan kenikmatan sampai keduanya terkulai lemas akibat bergumulan mesra.
*********
Las Vegas, Nevada.
Pluk...
"Saya pasang 500 dolar." Ucap pria seumuran dengan Austin.
Pluk...
"Saya juga pasang 500 dolar," sahut Austin yang juga menyimpan uang di atas meja bundar. Di atas meja tersebut berserakan kartu remi, uang, botol minuman, serta kacang siul sebagai cemilan minuman dan tidak ketinggalan para wanita penggoda yang bekerja melayani mereka.
"Anton, kau kocok kartunya dan bagikan!" titah Austin pada pria yang memasang 500 dolar.
"Siap!" Pria bernama Anton itu mengambil kartu kemudian mengocoknya dan membagikan kepada mereka yang ikutan main.
Ada 5 orang di meja tersebut, dan Austin sang pemimpinnya. Austin begitu serius memainkan kartu-kartu.
Pluk...
"Saya menang.." Austin girang dan dengan semangat mengambil uangnya.
"Sial, kita kalah lagi." ujar Anton kepada para pemain lainnya.
"Kita main lagi. Saya pasang 1000 dolar." Anton kembali memasang uang dengan jumlah yang cukup besar. Pria itu belum menyerah begitupun dengan yang lainnya.
"Ok, siapa takut. Saya pasang 2500 dolar." Balas Austin memasang uang yang tadi ia menangkan. Dia merasa akan menang lagi.
"Baiklah, saya pasang 500 dolar." Timpal yang lainnya.
Kini Austin yang mengocok kartunya kemudian membagikannya. Mereka begitu serius memainkan remi.
Pluk...
"Saya menang." Ujar Anton menyimpan kartunya tersenyum senang bisa menang.
"Sialaaan." umpat Austin kesal karena uangnya habis tak tersisa.
**********
"Pah, minta uang!" pinta Elena istrinya Austin.
"Tidak ada uang!" ujar Austin merebahkan tubuhnya.
"Masa main judi tidak menang? bukankah kau itu ahlinya judi?"
"Saya kalah, uangnya habis. Bahkan uang dari Elizapun sebagian sudah habis."
"What! Kau ini gimana sih, masa main judi saja tidak becus. Mana uang tinggal sedikit lagi. Pokoknya kau harus cari uang lagi!"
"Hei, saya sudah berusaha. Mungkin hari ini lagi apes saja. Tapi kau tenang saja, saya sudah punya target untuk di jadikan uang," ujar Austin menyeringai.
"Maksudmu?"
"Wanita pilihan Eliza."
Bersambung....