NovelToon NovelToon
Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:149.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yekumkum

S1 : Kisah perjalanan Leticia membalas dendam akibat diduakan oleh Braun karena tidak bisa memberikan pewaris takhta, yaitu anak laki-laki. Dalam perjalanan balas dendamnya ia dibantu oleh Gerald. Benih-benih cinta timbul di antara mereka, tetapi akankah mereka berakhir bahagia?

S2 : Seorang prajurit bayaran bertemu dengan Duchess yang sombong. Ia berniat membalaskan dendam karena telah dipermalukan. Tetapi seiring berjalannya waktu Duchess Hillbright tidak sejahat yang Leonard kira. Namun, Leonard sudah terikat pada bangsawan lain untuk menjatuhkan Duchess. Apa Leonard tetap akan menjatuhkan Duchess atau malah akan membantunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yekumkum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Penebusan Dosa

Tangan Leticia masih gemetar memegang pedang. Napasnya tidak teratur. Serangan-serangan Isabella tadi membuatnya sedikit kelelahan.

Sudah lama sekali ia tidak memegang pedang. Meskipun sebenarnya Leticia tidak terlalu ahli, ia masih bisa melakukan gerakan-gerakan dasar. Dan perkataan Grand Duke Faust membuktikan bahwa kemampuannya sangat buruk.

Ia merasa beruntung Isabella mau mengajari putrinya. Jika Leticia yang mengajari Judith, mungkin kemampuan berpedang putrinya akan payah seperti dirinya. 

Leticia menatap mata Gerald. Terlihat kegeraman. Ia takut kemampuannya dapat mempengaruhi hubungan kerja samanya dengan Gerald. 

Gerald ingin melihat kemampuan orang yang mengajaknya bekerja sama. Sebenarnya Gerald bisa memeriksanya sendiri dengan bertarung melawan Isabella. Namun, ia malah memberikan pedang itu kepada Leticia untuk menilai ketahan pedang buatan Count Landel. Leticia menyadari maksud Gerald.

Grand Duke Faust sama sekali tidak bersuara setelah itu. Gerald berjalan ke arah Leticia dan Isabella. Ia melewati keduanya menuju pintu. Ia menolehkan kepalanya membuka suara, "Aku akan pergi ke tempat prajurit bayaran. Kamu tenangkan dulu Permaisuri, Isabella." 

"Baik, Tuan." Isabella menunduk.

"Anda bisa pergi setelah tenang, Permaisuri," kata Gerald tanpa melihat ke arah Leticia.

Gerald meninggalkan mereka berdua. Leticia menjatuhkan pedangnya kemudian mundur perlahan menuju kursi lalu menjatuhkan badannya. Kakinya terasa lemas. Entah ia takut karena Gerald atau syok akibat serangan mendadak Isabella. Leticia melihat tangannya yang gemetaran lalu menggenggamnya.

Isabella menyarungkan pedang lalu mendekati Leticia. Ia duduk di depannya. "Kamu tidak apa-apa, Leti?" tanya Isabella khawatir. 

Leticia tersenyum karena sahabatnya mulai memanggil nama panggilannya sewaktu kecil. Ia bernapas lega.

"Aku tidak apa-apa, Bella."

"Bukan maksud Tuan untuk merendahkanmu, Leti. Menurutku Tuan hanya khawatir kalau seandainya ada orang yang mengincar nyawamu, kamu tidak bisa melindungi diri." 

Leticia menggeleng. "Perkataan Grand Duke Faust benar, gerakanku terlalu kaku. Berbeda denganku, kemampuanmu semakin hebat, Bella."

"Terima kasih, Leti. Itu karena setiap hari aku berlatih dan Tuan mengajariku."

Leticia tersenyum kecut. "Semenjak kamu marah padaku, aku tidak pernah berlatih lagi. Ayahku tidak pernah mengijinkanku untuk memegang pedang."

Isabella terdiam sebentar. Setelah memantapkan pikirannya, ia melihat tangan Leticia lalu menggenggamnya. Isabella merasakan getaran tangan Leticia semakin melemah. Isabella menatap Leticia lembut.

"Aku bisa melatihmu di kediamanku saat malam hari, bagaimana?"

"Aku takut merepotkanmu."

"Tidak apa-apa hanya seminggu sekali saja."

"Baiklah, Bella."

Mereka berdua tersenyum. Namun, senyum Leticia cepat memudar memikirkan penawarannya tentang Count Landell. Grand Duke Faust sama sekali tidak memberikan jawab kepadanya. 

"Apakah Grand Duke Faust akan memasok senjata dari Count Landell?" tanya Leticia.

"Kemungkinan besar iya. Pedang itu mempunyai daya tahan yang kuat, biasanya pedang akan langsung patah saat diserang oleh orang yang menggunakan aura. Di samping itu, sepertinya Tuan tertarik batu yang kamu bawa itu. Tuan tidak akan membawa batu itu pulang jika tidak berniat membelinya," kata Isabella berusaha meyakinkan Leticia.

"Begitu ya... sebenarnya aku sempat khawatir kalau kamu bersungguh-sungguh ingin membunuhku, Bella."

"Sebenarnya tadi aku melampiaskan kemarahanku dulu kepadamu."

Isabella melepas tangannya dari Leticia. Mereka berdua bertatapan lalu tertawa. Tawa pertama mereka setelah sekian lamanya. Kecanggungan antara keduanya sudah menghilang. Tembok tak terlihat yang membatasi keduanya perlahan runtuh.

"Pemimpin Penyihir Menara datang ke kediaman Faust saat Judith berlatih beberapa hari yang lalu."

Leticia terdiam sebentar, memasang wajah yang tidak tahu apa-apa. Ia berusaha terkejut.

"Tindakannya memang sulit diprediksi." Leticia berusaha menjaga raut wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan.

"Apakah ada jaminannya dia dan Pemimpin Penyihir Kekaisaran tidak mengkhianati kita, Leti?" tanya Isabella masih mencurigai kedua penyihir itu.

"Mereka tidak akan mengkhiati kita. Aku jamin itu, Bella," kata Leticia dengan tegas.

"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Isabella memicingkam matanya.

"Mereka yatim piatu dan berasal dari rakyat jelata. Namun, mereka mempunyai bakat menjadi penyihir, jadi aku membiayai mereka untuk belajar sihir tanpa sepengetahuan ayahku. Lama-kelamaan kami berteman sampai sekarang. Jadi kamu tidak perlu khawatir tentang mereka."

"Kenapa kamu membantu mereka?" Isabella menatap tajam Leticia. 

"Mereka mempunyai bakat dan impian, tetapi tidak memiliki uang. Aku ingin impian mereka terwujud menggantikan diriku yang tidak bisa menggapai impianku. Aku bahagia dengan melihat mereka sukses. Rasanya seperti impianku ikut terwujud."

Mata Leticia terpejam membayangkan hal itu. Isabella diam menunggu Leticia melanjutkan penjelasannya. Cerita temannya masih berlanjut. Leticia membuka matanya.

"Mungkin sebenarnya aku cuma ingin mengatasi rasa bersalahku kepada dirimu, Bella. Sebagai penebusan dosa aku membantu mereka."

Mata Isabella melebar. Ia terdiam. Keheningan terjadi di antara mereka beberapa detik. Merasa perlu mengatakan sesuatu ia bersuara, "Aku memaafkanmu, Leti. Kamu tidak perlu merasa bersalah lagi."

Leticia tersenyum lebar. Ia menunduk, menahan tangisnya. Akhirnya sahabatnya memaafkannya. Itu adalah kata-kata yang ia tunggu sejak lama. Leticia mengatur napasnya. Mendongak melihat Isabella. Tak ada lagi air mata yang menggenangi matanya. 

Isabella tersenyum, "Aku akan berusaha mempercayai mereka, Leti."

"Terima kasih, Bella."

Teringat akan sesuatu, Leticia mengeluarkan sebuah kantong berisi dua batu sihir. "Aku hampir melupakannya. Ini batu sihir untuk berkomunikasi, Bella. Satu untukmu dan satu lagi untuk Grand Duke Faust." Leticia mengeluarkan batu sihir itu satu persatu. Yang berwarna merah untuk Isabella dan yang hitam untuk Grand Duke Faust.

"Aku akan memberikannya pada, Tuan." Isabella menerima kedua batu itu.

"Sudah waktunya aku kembali, sepertinya aku keluar terlalu lama." Leticia berdiri.

"Hati-hati di jalan, Leti." Isabella ikut berdiri

"Sampai jumpa, Bella." 

Wanita di hadapan Leticia perlahan memudar karena batu sihir telah diaktifkan. Leticia sudah sampai pada kamarnya. Emilia seperti biasa sedikit khawatir majikannya terus pergi tanpa rasa cemas sekalipun.

Leticia berganti baju dan membenarkan riasannya yang luntur akibat pertarungannya tadi. Emilia ikut membantunya.

Leticia mengambil pena dan menuliskan pesan untuk Count Landell akan kemungkinan kedatangan orang yang berminat terhadap barang di bengkel pandai besinya. Leticia meminta Count Landell merahasiakan identitas orang itu. Ia berharap usaha Count Landell bisa sukses. 

Leticia tidak menyegel pesan itu dengan lelehan lilin. Ia langsung menyerahkannya kepada Emilia.

"Ini surat untuk Ayahmu. Tolong kirimkan pesan ini, atas namamu, Emilia. Kamu boleh membacanya jika ingin tahu isinya dan tetap rahasiakan hal ini."

Emilia sedikit bingung, lalu membaca surat untuk ayahnya. Matanya membesar kemudian dia mengangguk. "Baik, Permaisuri. Saya akan menyampaikannya."

Emilia segera memasukkan surat itu lalu keluar dari kamar Leticia untuk melaksanakan perintah majikannya. 

Leticia cuma berharap perkataan Isabella benar. Grand Duke Faust tertarik memasok senjata buatan Count Landell. Leticia teringat pada mata merah yang siap menerkamnya kapan saja. Ada saat mata itu terlihat biasanya. Namun, tadi mata itu membuatnya takut. Ia harus mengasah lagi kemampuan berpedangnya, agar tidak membuat Grand Duke Faust membatalkan kerjasama mereka berdua sewaktu-waktu.

1
Symsnr_
Lumayan
Symsnr_
Kecewa
Novie Achadini
bagus leticia gitu dong bangkit jgn terouruk
Novie Achadini
hrs jadi kuat leticia
Miyagi Mitsui
semangat
terus berkarya
Dewi Habibah
bagus ceritanya
Rizky Anindiya
dale gercep juga ya 🤭
Surati
bagus
amalia gati subagio
ratu jalang?
Rini Haryati
bagus
sukses
semangat
mksh
Sary Vya
cerita nya bagus
Ditha Fitria
jangan senang dulu Leonard. gak tau apa Judit hanya menjebakmu❤️💪💪💪💪
Yekumkum IG : @yenkumbook: mana yang bakal menang ya... 😆
total 1 replies
Ditha Fitria
grand Duke sama leticia
Dale sama Isabella
Dean sama rose.

wes lah cocok Iki❤️
Yekumkum IG : @yenkumbook: banyak pasangan 🥳
total 1 replies
Ditha Fitria
sabar rose. jangan sensian lah🤭🤭
nia kurniawati
terimakasih Author .. semangat.. terus berkarya.. 🤗
Yekumkum IG : @yenkumbook: terima kasih kembali kak 🙏
total 1 replies
Anonim
bgus kakak author,suka bnget ceritanya😍😍😍
Yekumkum IG : @yenkumbook: terima kasih kak
total 1 replies
Yekumkum IG : @yenkumbook
Halo readers, terima kasih sudah mengikuti cerita anak-anak Leticia sampai tamat. Maaf kalo terkesan kayak cepet banget, soalnya author udah mulai ilang feeling, takutnya kalo diterusin malah berhenti di tengah jalan. Author mau ikut event konflik rumah tangga sama pengembangan diri kalau bisa lolos. Sebenarnya author udah ngirim kerangka tapi belum ada feedback. Kalo lolos nanti author bakal lanjut nulis di NT.
Riris Dr
ikut bahagia
Anonim
Alhamdulillah,akhirnya direstui😍😍😍
nia kurniawati
woww karyamu luar biasa.. alur ceritanya jelas.. perpaduan tema yg luar biasa.. antara hukum jaman kerajaan dimana menebas leher adalah hal biasa😶dan cerita romantis.. ngeri ngeri sedap gitu deh😁.. semoga nanti banyak yg menikmati karya karya mu thor..dan makasih selalu up terus.. tetap semangat ya💪
Yekumkum IG : @yenkumbook: terima kasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!