NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Pria Berbahaya di Club

Sepanjang rapat pagi, Kiara masih bisa merasakan sentuhan jari Rayhan di sudut bibirnya.

Sialnya, perasaan itu muncul di saat yang paling tidak tepat, yaitu ketika Bu Ratna sedang mengetuk meja dengan pulpen dan menatap seluruh anak magang seperti hendak mengirim mereka ke medan perang.

"Malam ini kalian ikut gathering redaksi," kata Bu Ratna. "Bukan untuk hura-hura. Kalian belajar cara membangun jaringan. Wartawan yang tidak punya sumber berita akan mati pelan-pelan."

Cici menyenggol siku Kiara. "Dengar tuh, Ki. Malam ini kita resmi boleh karaoke atas nama karier."

Kiara menahan senyum. "Kamu dari tadi cuma nunggu bagian karaoke, kan?"

"Jelas. Kalau ada gratisan, jiwa jurnalistik gue bangkit."

Bu Ratna menatap mereka. Cici langsung duduk tegak dengan wajah paling polos yang pernah Kiara lihat.

Gathering itu diadakan di sebuah tempat karaoke kelas atas di pusat Kota Barat. Bukan tipe ruang karaoke yang biasa dipakai mahasiswa untuk melepas stres, melainkan lounge dengan karpet tebal, lorong remang, dan pelayan yang tersenyum terlalu rapi. Dimas dan Galih sudah sibuk memilih lagu. Dewi memotret makanan untuk story. Cici langsung mengambil mikrofon seolah panggung itu warisan keluarganya.

Kiara duduk di ujung sofa, memegang segelas teh lemon. Ia mengirim pesan singkat kepada Rayhan sebelum acara dimulai.

Kiara:

Malam ini ada gathering kantor. Pulang mungkin agak telat.

Balasan Rayhan datang kurang dari satu menit.

Rayhan:

Lokasi.

Kiara menatap layar.

Kiara:

Karaoke pusat kota. Sama orang kantor.

Rayhan:

Share live location.

Tidak ada "hati-hati". Tidak ada "baik". Hanya perintah singkat yang membuat Kiara mendengus pelan, tapi tetap membagikan lokasi.

Cici melirik layar ponselnya. "Tetangga misterius?"

"Bukan."

"Lo makin nggak bisa bohong."

Kiara memasukkan ponsel ke tas. "Nyanyi aja sana."

Satu jam pertama berjalan normal. Terlalu normal, malah. Galih menyanyikan lagu patah hati dengan nada berantakan. Cici tertawa sampai hampir tersedak. Bu Ratna hanya bertahan tiga puluh menit sebelum pamit karena ada rapat daring dengan redaktur nasional.

Setelah Bu Ratna pergi, beberapa orang dari ruangan sebelah mulai masuk. Mereka teman Dimas, katanya. Anak-anak muda berjam tangan mahal, parfum tajam, tawa keras. Salah satunya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit.

Brandon Lie.

Kiara mengenal wajah itu dari beberapa berita gaya hidup. Putra salah satu pemilik grup properti, sering muncul di acara amal, sering juga muncul di gosip klub malam. Tubuhnya tinggi, kemejanya terbuka dua kancing, dan matanya terlalu lama berhenti pada kaki perempuan.

"Wah, anak Kota Barat Post ternyata cantik-cantik," ujar Brandon sambil mengambil gelas dari meja tanpa permisi. "Siapa namamu?"

Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Kiara.

Cici yang duduk di sebelah Kiara langsung menjawab, "Dia sudah punya pacar."

Kiara hampir tersedak teh.

Brandon tertawa. "Aku cuma tanya nama. Pacarnya polisi?"

Cici membuka mulut, tapi Kiara lebih cepat menahan lengannya.

"Kiara," jawab Kiara singkat.

"Kiara." Brandon mengulang namanya seperti sedang mencicipi sesuatu. "Nama yang manis."

Kiara tersenyum sopan, lalu mengalihkan pandangan ke panggung kecil. "Permisi, aku mau ke toilet."

Cici langsung berdiri. "Gue ikut."

"Nggak usah. Kamu lanjut nyanyi. Aku sebentar."

Keputusan itu terbukti bodoh dalam waktu kurang dari dua menit.

Lorong menuju toilet lebih remang daripada ruang karaoke. Musik dari beberapa ruangan bercampur menjadi suara berat yang berdenyut di dinding. Kiara baru saja mencuci tangan ketika melihat Brandon berdiri di dekat pintu keluar, bersandar dengan senyum malas.

"Sendirian?"

Kiara menjaga jarak. "Teman-teman saya menunggu."

"Santai. Aku tidak gigit."

Orang yang merasa perlu mengatakan itu biasanya justru berbahaya.

Kiara berusaha melewatinya, tapi Brandon menggeser tubuh dan menutup jalan. Bau alkohol dari napasnya menyentuh wajah Kiara.

"Kamu reporter?" tanyanya.

"Magang."

"Bagus. Reporter suka cerita, kan? Aku punya banyak cerita."

Kiara meremas tali tasnya. "Kalau untuk wawancara, bisa lewat kantor."

Brandon tertawa rendah. "Formal sekali. Aku suka yang begini. Kelihatannya baik-baik, tapi kalau dibawa ke ruangan gelap, biasanya lebih menarik."

Darah Kiara mendingin.

Ia menekan tombol ponsel di dalam tas, membuka perekam suara lewat shortcut yang sengaja ia pasang sejak magang di kriminal. Galih pernah berkata, wartawan tidak boleh mencari bahaya, tapi kalau bahaya datang sendiri, pastikan ada bukti.

"Pak Brandon mabuk," kata Kiara, sengaja membuat suaranya stabil. "Sebaiknya kembali ke ruangan."

"Pak?" Brandon mendecak. "Kamu membuatku terasa tua."

Tangannya bergerak, menyentuh ujung rambut Kiara.

Kiara mundur. Punggungnya hampir menabrak dinding.

"Jangan sentuh saya."

Mata Brandon berubah. Senyumnya tetap ada, tapi sesuatu di baliknya retak.

"Perempuan selalu begitu. Awalnya sok suci. Begitu takut, baru menangis. Suaranya juga sama." Ia mendekat satu langkah. "Dulu ada satu yang teriak terus di klub. Berisik sekali."

Jantung Kiara menghantam tulang rusuk.

Ia tetap menatap Brandon, memastikan ponselnya masih merekam.

"Apa maksudnya?"

Brandon tertawa, kali ini lebih pelan. "Aku cuma menutup mulutnya. Salahnya sendiri melawan. Setelah itu semua orang ribut, bilang dia hilang, bilang dia dibunuh." Ia menunduk ke dekat telinga Kiara. "Padahal kalau dia diam, mungkin aku tidak perlu membuatnya diam selamanya."

Mual naik ke tenggorokan Kiara.

Ini bukan sekadar pelecehan.

Ini pengakuan.

Kiara memaksa tangannya tidak gemetar. "Anda membunuh dia?"

Brandon menatapnya dengan mata berkabut alkohol. "Kamu mau menulis itu?"

"Saya mau lewat."

"Belum."

Tangannya mencengkeram pergelangan Kiara.

Rasa sakit menyengat. Kiara menarik tangan, tapi cengkeraman Brandon lebih kuat. Di ujung lorong, seorang pelayan berhenti, ragu-ragu. Musik dari ruangan sebelah melonjak, menelan suara Kiara ketika ia berkata lebih keras, "Lepaskan saya."

Brandon malah tersenyum. "Gadis kecil, kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?"

Pintu ruang karaoke terbuka. Cici muncul dengan wajah panik.

"Ki!"

Brandon menoleh sebentar. Kesempatan itu dipakai Kiara untuk menghentakkan lututnya ke kaki Brandon. Cengkeramannya longgar. Kiara mundur, tapi Brandon mengumpat dan menariknya lagi, kali ini ke arah dadanya.

"Jangan sok berani!"

Beberapa orang keluar dari ruangan. Dimas mematung. Galih berlari mendekat. Pelayan tadi akhirnya memanggil security lewat handy talky.

Kiara masih menggenggam ponsel di dalam tas. Rekaman itu harus selamat.

Brandon mengangkat tangan, entah untuk menampar atau menarik rambutnya.

Sebelum tangan itu menyentuh Kiara, seseorang mencengkeram pergelangan Brandon dari belakang.

Gerakannya cepat. Keras. Brandon terhuyung mundur dan membentur dinding.

Lorong yang semula ribut mendadak sunyi.

Kiara mengangkat kepala.

Rayhan berdiri di sana dengan seragam dinas yang belum sempat ia ganti. Bahunya lebar menutup cahaya lorong, rahangnya mengeras, dan matanya tidak lagi dingin.

Matanya seperti pisau.

"Siapa," kata Rayhan pelan, satu per satu, "yang berani menyentuhmu?"

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!