Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Perempuan Bernama Monica
"Aku kakak iparmu."
Rayhan menatap Yola seolah kalimat itu masih berdiri di antara mereka, lengkap dengan semua durinya.
Ia membuka mulut.
Namun sebelum satu kata keluar, Pak Wahyu muncul dari arah ruang depan.
"Maaf, Tuan Muda. Pak Jason sudah datang."
Rayhan tidak segera menoleh. Matanya tetap pada Yola.
"Dengan siapa?"
"Dengan Nona Monica."
Nama itu membuat Yola berkedip.
Rayhan akhirnya mengalihkan pandangan. "Suruh mereka ke ruang kerja."
"Baik."
Pak Wahyu pergi. Yola memanfaatkan jeda itu untuk melangkah mundur, tetapi Rayhan berkata pelan, "Pembicaraan kita belum selesai."
"Bagi saya sudah."
Yola berjalan melewatinya lebih dulu.
Ia tidak berniat ikut ke ruang kerja. Namun di ruang tengah, Mama Liem keluar dari kamar dengan selendang di bahu dan langsung memanggilnya.
"Yola, ikut dengar sebentar. Ini soal pernyataan dan keamananmu."
Yola berhenti.
Tidak ada jalan sopan untuk menolak Mama.
Ruang kerja Rayhan menghadap halaman samping. Meja panjangnya rapi, dingin, dengan layar besar yang sudah menyala. Jason berdiri dekat meja, membawa map kulit cokelat dan wajah seseorang yang kurang tidur tetapi tetap bisa menyindir dunia.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan.
Monica.
Ia tidak memakai gaun sosialita. Kemeja putih, celana bahan gelap, rambut diikat rendah, jam tangan simpel di pergelangan. Cantiknya bukan jenis yang meminta dilihat, tetapi sulit diabaikan. Tenang. Tegak. Seolah ia terbiasa masuk ke ruangan penuh pria berkuasa tanpa perlu mengeraskan suara.
"Akhirnya," kata Jason begitu melihat Rayhan. "Kau selalu punya cara membuat kasus keluarga jadi pekerjaan subuh."
Rayhan duduk tanpa menjawab.
Jason melihat pipinya, alisnya naik. "Dan wajahmu? Jangan bilang Marco punya tangan secepat itu."
Yola menunduk sebelum sempat menahan diri.
Monica melihat gerakan kecil itu.
Tidak berkomentar.
Ia justru melangkah ke arah Yola dan menunduk sedikit, cukup formal. "Nona Yola. Saya Monica. Saya membantu bagian keamanan digital dan koordinasi dengan pihak hotel."
Yola membalas anggukan. "Terima kasih."
"Saya sudah membaca laporan awal. Yang terjadi semalam bukan kesalahan Nona."
Kalimat itu datar, profesional, tanpa belas kasihan yang memalukan.
Yola tiba-tiba mengerti mengapa Monica terasa berbeda. Ia tidak memperlakukan Yola seperti kaca retak.
Jason membuka map. "Baik. Versi singkat. Pernyataan Liem Group sudah rapi. Tan Corporation mungkin akan membalas lewat jalur bisnis dan gosip. Marco bisa memakai cedera tangannya untuk laporan balik, tapi hotel punya cukup saksi untuk menunjukkan dia mengejar korban. Masalah utama kita sekarang video."
Mama Liem duduk di sofa, wajahnya mengeras. "Ada video Yola?"
Monica menjawab, "Belum ada yang beredar. Ada beberapa tamu merekam koridor setelah Pak Rayhan datang, tetapi tidak ada rekaman ruang ganti. Kami sedang memantau akun gosip dan grup tertutup."
"Kalau ada yang mengunggah," kata Rayhan, "turunkan."
Jason mendengus. "Turunkan, tuntut, kirim somasi. Aku tahu urutan favoritmu."
Monica melirik Rayhan. "Masalahnya, kalau terlalu agresif dari awal, orang akan makin yakin ada yang disembunyikan."
Rayhan menatapnya.
Monica tidak menunduk. "Kamu tahu aku benar."
Kamu.
Yola mendengar kata itu tanpa sengaja.
Nada Monica tidak genit. Tidak manis. Tapi terlalu biasa. Terlalu mengenal. Seolah memanggil Rayhan dengan kamu adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
Rayhan tidak memperbaiki panggilan itu.
Jason menunjuk layar. "Monica benar. Kita perlu narasi bersih: pelanggaran keamanan di acara Tan, keluarga Liem melindungi anggota keluarga, korban tidak diekspos. Jangan beri nama Yola sebagai bahan."
"Saya tidak ingin nama saya dipakai sama sekali," kata Yola.
Semua orang menoleh.
Yola menyadari suaranya lebih tegas dari yang ia kira. Ia menggenggam ujung cardigan, lalu melepaskannya.
"Kalau kalian memakai nama saya untuk meluruskan gosip, orang hanya akan membuat gosip baru."
Rayhan berkata, "Tidak akan ada yang memakai namamu."
Yola menatapnya. "Keputusan itu sebaiknya bukan hanya karena Pak Rayhan memilih."
Jason berhenti membalik map.
Monica melihat Yola lebih lama, lalu mengangguk pelan. "Setuju. Nona Yola perlu menyetujui semua kalimat yang menyangkut dirinya, langsung atau tidak langsung."
Rayhan menoleh ke Monica.
"Itu prosedur yang benar," kata Monica sebelum ia bicara.
Jason tersenyum miring. "Aku suka kalau ada orang lain yang berani memotongmu, Ray."
Ray.
Nama pendek itu keluar dari mulut Jason, tetapi Monica tersenyum kecil, seperti sudah terbiasa mendengarnya.
Yola merasa dadanya bergerak aneh.
Ia segera menekan rasa itu. Tidak pantas. Tidak masuk akal. Baru semalam ia menampar Rayhan karena melanggar batas. Tidak ada hak baginya untuk merasa apa pun saat perempuan lain tampak mengenal Rayhan lebih dekat.
Rayhan menatap Yola. "Kamu akan membaca draft."
"Baik."
"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, hapus."
Yola tidak menjawab. Ia hanya mengangguk.
Monica mendekati layar dan membuka folder rekaman. "Ini jalur Marco dari ballroom ke koridor servis. Ada bagian yang hilang, tapi waktu blackout cocok dengan laporan maintenance. Saya juga menemukan satu nomor panitia yang menghubungi teknisi hotel sebelum acara dimulai."
Di layar, Marco terlihat tertawa dengan gelas di tangan, lalu menghilang di sudut koridor.
Yola merasakan perutnya mengeras.
Rayhan langsung berdiri, tetapi Monica sudah menekan tombol pause.
"Cukup untuk hari ini," katanya kepada Yola. "Nona tidak perlu melihat lebih banyak."
Rayhan menatap Monica.
Monica membalas tatapannya, lalu berkata lebih pelan, "Kalau kamu terus memutuskan kapan dia kuat dan kapan tidak, kamu mengulangi masalah yang sama."
Ruangan hening.
Jason menutup map pelan, seperti seseorang yang menikmati ketegangan tetapi cukup pintar untuk tidak tersenyum.
Yola menatap Monica.
Perempuan itu bukan Celine. Tidak ada racun di wajahnya. Tidak ada hinaan.
Justru karena itu, rasa tidak nyaman Yola menjadi lebih sulit diberi nama.
Setelah rapat berakhir, Mama Liem meminta Pak Wahyu menyiapkan makan siang untuk Jason dan Monica. Jason langsung menerima. Monica menolak dulu, lalu akhirnya setuju setelah Mama tersenyum lembut.
Di ambang pintu ruang kerja, Yola mendengar Monica berkata kepada Rayhan, "Kita perlu bicara sebentar. Berdua."
Rayhan tidak langsung menjawab.
Tetapi ia juga tidak menolak.
Yola menurunkan pandangan dan berjalan pergi sebelum ia mendengar kalimat berikutnya.
Di koridor, Sari yang menunggu dengan nampan kosong segera mendekat.
"Nona mau kembali ke kamar?"
"Sebentar lagi."
Yola berhenti di dekat meja konsol tempat vas putih diletakkan. Dari sana ia masih bisa melihat bayangan ruang kerja di kaca hias, tidak jelas, hanya gerak tubuh orang-orang. Jason keluar lebih dulu sambil menelepon seseorang. Mama Liem menyusul pelan, dituntun Pak Wahyu ke arah ruang keluarga.
Rayhan dan Monica tetap di dalam.
Yola tahu ia tidak punya alasan untuk berdiri di sana.
Lebih dari itu, ia tidak punya hak untuk merasa tidak nyaman. Monica profesional, tenang, dan jelas membantu. Kalau Rayhan memiliki perempuan seperti itu di sisinya, bukankah itu justru lebih benar daripada dirinya yang terus mengangkat kata kakak ipar sebagai dinding?
Namun saat pintu ruang kerja tertutup perlahan, Yola tetap merasakan sesuatu jatuh kecil di dadanya.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅