NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Di belakang mereka, Keira sudah tahu malam ini belum selesai.

Kevin masih menggendong "Darren" ketika Pak Hadi datang dengan wajah terlalu tenang untuk ukuran seorang kepala pelayan yang baru saja melihat seorang anak lima tahun memenangkan dua puluh persen saham keluarga.

"Tuan Muda," katanya sopan, "Engkong meminta Tuan Muda Darren menemani beliau sebentar sebelum beristirahat."

Kevin tidak langsung menyerahkan anak itu.

Matanya masih menempel pada wajah kecil di pelukannya.

Ethan menjaga napasnya tetap pelan. Ia sudah pernah masuk ke sistem keamanan bandara, memecah firewall sekolah, dan menghapus jejak kamera dalam waktu kurang dari satu menit. Tapi menipu Daddy dari jarak lima sentimeter ternyata jauh lebih menegangkan.

"Daddy?" katanya lirih.

Kevin menyipit.

Keira melangkah mendekat. "Engkong baru pulih. Jangan biarkan beliau menunggu."

Kalimat itu terdengar seperti saran biasa. Hanya Ethan yang menangkap arti di baliknya.

Sekarang.

Kevin akhirnya menurunkan anak itu. Pak Hadi menggandengnya pergi menuju koridor samping. Tiffany langsung menyusul Naomi dengan alasan ingin mengambil boneka di ruang anak.

Lima menit kemudian, pertukaran itu terjadi secepat napas.

Ethan masuk ke pintu servis dan menghilang bersama Rio yang sudah menunggu di luar. Darren asli keluar dari ruang anak dengan saputangan K di tangan, wajahnya tenang, matanya sedikit mengantuk. Tiffany kembali ke aula sambil memeluk boneka kelinci seolah tidak ada operasi rahasia yang baru saja terjadi.

Naomi melihat semuanya.

Ia membuka mulut.

Tiffany mengangkat telunjuk ke bibir. "Rahasia keluarga."

Naomi menutup mulut dengan dua tangan, lalu berbisik, "Aku suka keluarga ini."

Ketika Darren kembali ke sisi Kevin, bocah itu hanya memegang ujung jas ayahnya dan diam.

Kevin menatapnya lama.

"Ren."

Darren mendongak. "Daddy."

Pendek. Pelan. Benar-benar Darren.

Kecurigaan Kevin tidak hilang, tetapi untuk malam itu, ia menyimpannya.

Karena ada seseorang lain yang lebih ingin ia kejar.

Keira berpamitan kepada Engkong setelah memastikan tekanan darah lelaki tua itu stabil. Engkong masih sempat menepuk punggung tangannya.

"Datang lagi besok."

"Jadwal terapi Engkong seminggu sekali."

"Aku tidak bicara terapi."

Keira pura-pura tidak mendengar.

Ia keluar lewat taman samping Hartono Estate. Malam Jakarta terasa lembap, tetapi taman itu sepi. Lampu-lampu kecil tersembunyi di bawah tanaman kamboja Jepang, membuat jalan batu tampak seperti garis tipis menuju gerbang belakang.

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika suara Kevin datang dari belakang.

"Keira."

Keira berhenti.

Ia tidak terkejut. Sejak keluar dari aula, ia tahu pria itu akan mencarinya. Kevin Hartono bukan tipe orang yang membiarkan pertanyaan menginap tanpa jawaban.

"Kalau masih soal Ainara, jawabanku sama."

"Bukan."

Langkah Kevin mendekat, terukur, tidak tergesa. Setelan hitamnya sudah kehilangan sedikit kerapian setelah malam panjang, tetapi justru itu membuatnya terlihat lebih manusiawi.

Keira berbalik. "Lalu?"

Kevin berdiri dua langkah di depannya.

"Aku tidak tahu berapa banyak rahasia yang kau simpan," katanya. "Ainara, Dr. Mira, SH Corporation, atau hal lain yang belum kutahu."

Keira diam.

"Aku juga tidak tahu kapan kau akan percaya padaku."

"Pak Kevin, kalau ini strategi untuk membuatku bicara, caramu buruk."

"Ini bukan strategi."

Suara itu terlalu rendah untuk menjadi permainan.

Angin malam menggerakkan ujung gaun putih Keira. Di kejauhan, suara tamu yang pulang terdengar samar, tertahan oleh dinding taman. Untuk pertama kalinya malam itu, mereka benar-benar hanya berdua.

Kevin menatapnya seperti tidak sedang melihat kartu SSS, jarum perak, atau perempuan yang menghancurkan rencana Hendry.

Ia melihat Keira.

"Aku hanya peduli satu hal."

Keira merasakan sesuatu di dadanya mengetat. "Apa?"

Kevin maju satu langkah.

Tidak cepat. Tapi cukup dekat untuk membuat Keira mencium aroma kayu dingin dari parfumnya, bercampur sisa anggur dan hujan yang belum turun.

"Aku menyukaimu."

Keira tidak bergerak.

Kalimat itu sederhana. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada pujian panjang. Tetapi justru karena keluar dari mulut Kevin yang biasanya hanya memberi perintah, kata itu terasa seperti sesuatu yang jatuh terlalu berat ke tanah.

"Sejak kapan?" tanyanya, lebih pelan daripada yang ia inginkan.

"Sejak bandara."

Keira menatapnya.

"Sejak Darren mengejarmu dengan mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sejak kau menatapnya seperti seorang ibu yang kehilangan separuh napasnya." Kevin berhenti sebentar. "Aku menyukaimu sebelum aku tahu kau berbahaya. Setelah tahu, aku tidak mundur."

Keira menggenggam tas kecilnya.

Ia seharusnya mengatakan berhenti.

Seharusnya ia mengingat lima tahun lalu, ketika semua orang yang mengaku keluarga membuangnya dalam hujan. Seharusnya ia mengingat bahwa mencintai seseorang berarti memberi orang itu jalan masuk ke titik paling rapuh.

Dan Kevin Hartono terlalu tajam untuk tidak menemukan titik itu.

"Kamu tidak mengenalku," katanya.

"Maka izinkan aku mengenalmu."

"Tidak semudah itu."

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu tidak tahu." Suara Keira menegang. "Kamu terbiasa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan."

Kevin melihat tangannya yang memutih di tali tas.

"Mungkin."

"Dan aku bukan sesuatu yang bisa kamu ambil."

Kalimat itu harusnya menjadi batas.

Kevin mendengar batas itu.

Namun malam itu, setelah melihat Keira berdiri di tengah keluarga Hartono, menyelamatkan Engkong, menghancurkan Professor Liu, melindungi anak-anak tanpa meminta pengakuan, sesuatu di dalam dirinya yang selama ini selalu terkunci akhirnya retak.

Ia mengangkat tangan, menyentuh sisi wajah Keira dengan sangat hati-hati.

Keira membeku. "Kevin."

"Aku tahu kau bukan sesuatu."

Ibu jarinya menyentuh pipinya, hangat dan singkat.

"Kau orang yang ingin kupilih."

Lalu ia menunduk dan mencium Keira.

Ciuman itu tidak lama.

Hanya beberapa detik.

Tapi cukup untuk membuat tubuh Keira bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Jantungnya menghantam dada. Aroma Kevin memenuhi napasnya. Untuk satu detik yang sangat berbahaya, dunia mengecil menjadi bibir pria itu dan tangan di wajahnya.

Lalu akal sehatnya kembali seperti pintu yang dibanting.

Keira mendorong dada Kevin.

Kevin langsung melepasnya.

Tidak ada pegangan kedua. Tidak ada tarikan paksa. Hanya napas mereka yang sama-sama tidak stabil.

Tamparan Keira datang pada detik berikutnya.

Plak.

Suara itu tajam di taman yang sepi.

Wajah Kevin sedikit berpaling.

Keira berdiri di depannya dengan mata memerah, bukan hanya karena marah. Ada sesuatu yang lebih kacau di sana. Takut. Terluka. Dan bagian kecil yang membuatnya semakin marah pada diri sendiri karena tidak sepenuhnya ingin mundur.

"Kevin Hartono," katanya, setiap suku kata ditahan agar tidak pecah, "kamu terlalu percaya diri."

Kevin menoleh kembali.

Bekas merah mulai muncul di pipinya.

Ia tidak tersenyum.

"Aku salah."

Keira terdiam sesaat.

Jawaban itu tidak ia duga.

Kevin menatapnya lurus. "Aku tidak akan menyentuhmu lagi tanpa izin."

Keira menelan napas. Batas yang ia bangun tadi seharusnya terasa lebih kuat setelah tamparan itu. Tetapi permintaan maaf Kevin justru membuat dindingnya bergetar dengan cara lain.

"Jangan membuatku menyesal pernah membiarkanmu dekat."

"Aku akan berusaha."

"Berusaha saja tidak cukup."

"Kalau begitu ajari aku batasmu."

Keira hampir kehilangan kata.

Pria ini berbahaya bukan karena ia memaksa. Ia berbahaya karena setelah membuat kesalahan, ia bisa berdiri di sana, menerima tamparan, lalu meminta aturan agar tidak melukai lagi.

Itu jauh lebih sulit dibenci.

Keira berbalik cepat. "Aku pulang."

"Feng akan mengantar."

"Rio sudah menunggu."

"Aku tahu. Tapi aku tetap ingin memastikan kau sampai."

Keira tidak menjawab. Ia berjalan menuju gerbang belakang dengan langkah cepat. Punggungnya lurus, tetapi ujung jarinya gemetar di tali tas.

Kevin tidak mengejar.

Ia hanya berdiri di taman, menyentuh pipi yang panas.

Feng muncul dari bayangan dengan ekspresi bingung antara takut dan ingin menghilang.

"Boss... pipi Anda..."

Kevin memandang arah Keira pergi.

"Dia menamparku."

"Perlu saya panggil dokter?"

"Tidak."

"Kompres es?"

"Tidak."

Feng menelan ludah. "Lalu?"

Kevin akhirnya tersenyum kecil, bukan senyum puas, lebih mirip lelaki yang baru menyadari dirinya sudah masuk terlalu jauh dan tidak ingin keluar.

"Ingatkan aku besok untuk meminta maaf lagi."

Feng hampir menjatuhkan ponselnya.

Di dalam mobil, Keira duduk di kursi belakang dengan tubuh kaku.

Rio melirik dari kaca spion. "Bos?"

"Jalan."

Rio tidak bertanya.

Mobil keluar dari Hartono Estate. Lampu taman tertinggal di belakang, tetapi sentuhan Kevin tidak ikut tertinggal. Keira mengangkat tangan tanpa sadar, menyentuh bibirnya.

Jantungnya masih belum mau tenang.

Ia benci itu.

Lebih benci lagi karena air matanya hampir jatuh bukan karena Kevin menciumnya, tetapi karena pria itu berhenti saat ia mendorong, meminta maaf saat ia menampar, dan tidak mengejar ketika ia pergi.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Naomi muncul di layar.

Ci Keira, Koko tidak pernah tersenyum seperti tadi pada siapa pun. Kalau Ci tidak jadi kakak iparku, aku orang pertama yang protes.

Keira menatap pesan itu lama.

Lalu ia mematikan layar, tetapi jarinya masih menempel di bibirnya.

Rio akhirnya berbicara pelan dari depan. "Bos, kalau Pak Kevin melewati batas, saya bisa memastikan dia tidak punya kesempatan kedua."

Keira menurunkan tangannya.

Biasanya, ia akan langsung menjawab ya atau tidak. Malam ini, kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.

"Dia melewati batas," katanya akhirnya.

Rio menunggu.

"Tapi dia berhenti ketika aku mendorong."

Kalimat itu terdengar terlalu penting di ruang mobil yang sempit. Keira membenci dirinya karena mengucapkannya, tetapi ia juga tidak bisa membohongi orang yang selama lima tahun melihatnya bertahan hidup dengan curiga sebagai pagar.

"Jangan lengah," kata Rio.

"Tidak akan."

Namun untuk pertama kalinya, Keira tahu pagar itu tidak lagi setinggi kemarin.

Di luar jendela, malam Jakarta bergerak cepat.

Di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lima tahun ia paksa mati mulai mengetuk pelan.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!