NovelToon NovelToon
Tuan Wijaya, Selamat Menikah

Tuan Wijaya, Selamat Menikah

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Naomi Liem, 26 tahun, dokter spesialis kandungan yang baru pindah ke Jakarta. Hidup mandiri, dibesarkan oleh kakek tercintanya setelah ibunya meninggal dan ayah kandungnya menghilang. Yang dia inginkan sederhana: karier yang stabil, kehidupan yang tenang, dan mungkin — suatu hari nanti — seseorang yang cocok untuk diajak membangun rumah tangga.

Saat kakeknya menyebut "perjodohan dengan keluarga Wijaya," Naomi mengira pasangannya adalah Daniel — adik tiri yang ramah dan sesama dokter.

Yang datang ke rumah kakeknya hari itu bukan Daniel.

Reynard Wijaya. 30 tahun. Wajah dingin, tatapan tajam, dan reputasi sebagai pemimpin termuda Wijaya Group. Pria yang tidak pernah tersenyum di depan publik — tapi entah kenapa, di hadapan Naomi, sudut bibirnya selalu naik.

"Menikah denganku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Seperti sesuatu yang sudah dia putuskan sejak lama.

Naomi menerima. Bukan karena cinta — tapi karena dia merasa aman bersamanya. Karena dia tidak bisa menjelaskan mengapa, setiap kali Reynard mengirim pesan, jantungnya berdegup lebih kencang.

Pernikahan mereka dimulai tanpa drama. Reynard adalah suami yang sempurna: perhatian, sabar, protektif tapi tidak mengekang. Dia mengirim makan siang ke rumah sakit. Menjemput Naomi setelah jaga malam. Memasak sarapan di akhir pekan.

Naomi mulai jatuh cinta. Perlahan. Pasti. Tak terelakkan.

Tapi semakin dalam dia jatuh, semakin banyak hal yang tidak masuk akal:
Mengapa Reynard selalu tahu hal-hal kecil tentangnya?
Mengapa persiapan pernikahan mereka terlalu sempurna untuk sesuatu yang "baru direncanakan"?
Dan mengapa... foto suaminya ada di vihara yang sama, setiap tahun, sejak enam tahun yang lalu?

Sebuah kantong doa tua terjatuh dari laci. Di atasnya tertulis nama Naomi. Tanggalnya: enam tahun yang lalu.

Reynard Wijaya tidak menikahi Naomi karena "kebetulan cocok."

Dia sudah mencintainya. Diam-diam. Selama enam tahun. Tanpa pernah mengatakannya.

Dan pernikahan ini... adalah akhir dari penantiannya yang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Vihara di Pagi Hari

Udara Bogor pagi itu dingin sampai ujung jari Naomi Liem terasa kaku.

Dia berdiri di halaman Vihara Padma Suci dengan kedua tangan memegang beberapa batang dupa. Asap tipis naik di depannya, berputar pelan sebelum larut ke udara yang masih basah oleh embun. Dari aula utama terdengar suara lonceng kecil, satu ketukan bening yang membuat dadanya ikut tenang.

Naomi memejamkan mata sebentar.

Sudah hampir tiga bulan dia tidak datang ke sini. Urusan pindah dari Surabaya ke Jakarta, berkas administrasi RS Permata Harapan, dan persiapan hari pertama resminya besok membuat kepalanya penuh. Di Surabaya dulu, dia juga sering menunda istirahat, tetapi jarak antara rumah sakit dan rumah kontrakannya tidak pernah terasa seberat Jakarta.

Pagi ini dia sengaja berangkat sebelum matahari tinggi. Kong Kong masih di Bandung, jadi tidak ada yang menahannya sarapan lebih dulu atau menyuruhnya membawa sup hangat.

"Naomi?"

Suara lembut itu membuat Naomi membuka mata.

Bhante Dharmaputra berdiri beberapa langkah dari tangga aula. Jubah cokelat tuanya bergerak sedikit tertiup angin. Wajah beliau tetap sama seperti dalam ingatan Naomi, teduh, seolah tidak pernah terburu-buru oleh apa pun.

Naomi menunduk hormat. "Selamat pagi, Bhante."

"Pagi sekali datangnya."

"Takut macet kalau agak siang." Naomi tersenyum kecil. "Besok sudah mulai resmi di rumah sakit, jadi hari ini saya mau tenang sebentar."

"Dokter muda biasanya memakai libur untuk tidur."

"Biasanya begitu." Naomi melihat dupa di tangannya, lalu menancapkannya pelan di tempat dupa. "Tapi hari ini rasanya ingin ke sini."

Bhante Dharmaputra tidak bertanya lebih jauh. Beliau hanya mengangguk, seakan jawaban sesederhana itu sudah cukup.

Naomi masuk ke aula utama. Lantai batu di bawah telapak kakinya terasa dingin. Dia berlutut di bantalan tipis, menyatukan kedua telapak tangan, lalu membiarkan kepalanya menunduk. Tidak ada permintaan yang terlalu jelas pagi itu. Dia hanya ingin ibunya tenang di alam sana, Kong Kong sehat, dan pekerjaannya di Jakarta berjalan baik.

Untuk dirinya sendiri, Naomi tidak tahu harus meminta apa.

Dia hidup cukup baik. Pekerjaan ada. Apartemen ada. Sahabat-sahabatnya ramai dan menyebalkan dengan cara yang menghangatkan. Kong Kong masih sehat walau sering membuatnya cemas karena keras kepala.

Kalau ada yang kurang, Naomi tidak ingin menamainya.

Selesai berdoa, dia duduk di salah satu meja panjang di samping aula untuk menyalin paritta. Kertas putih di depannya kosong, kuas kecil sudah disiapkan oleh penjaga vihara. Aroma dupa melekat pada rambut dan lengan bajunya. Di luar, beberapa pengunjung lanjut usia berjalan pelan, sebagian membawa kantong kecil berisi kertas doa.

Naomi baru menulis beberapa baris ketika suara mobil berhenti di halaman terdengar samar.

Tidak ada yang aneh. Vihara ini cukup terkenal di kalangan keluarga Tionghoa-Indonesia Jakarta. Banyak orang datang dari kota hanya untuk berdoa, bertemu Bhante, atau sekadar mencari suasana tenang.

Namun beberapa detik kemudian, Naomi mengangkat kepala.

Di sisi halaman, di dekat pohon kamboja tua, seorang pria turun dari mobil hitam.

Jarak mereka cukup jauh, tetapi Naomi mengenali postur tubuh itu sebelum wajahnya terlihat jelas. Kemeja putih, celana gelap, langkah tenang yang tidak pernah terlihat ragu. Sopirnya berdiri di dekat mobil, sementara pria itu mengambil sesuatu dari kursi belakang.

Sebuah kantong kain kecil berwarna merah tua.

Naomi menahan gerakan kuasnya.

Reynard Wijaya.

Nama itu muncul di kepalanya dengan terlalu jelas.

Dia bukan orang asing. Bukan juga orang dekat.

Keluarga Wijaya dan keluarga Liem sudah saling mengenal sejak lama. Kong Tai Wijaya beberapa kali datang ke rumah Kong Kong. Saat Naomi kecil, dia pernah melihat Reynard berdiri di ruang tamu, tinggi, rapi, terlalu pendiam untuk anak laki-laki seusianya. Waktu itu Naomi hanya tahu dia cucu Kong Tai yang sekolahnya bagus dan wajahnya selalu serius.

Beberapa tahun setelah itu, mereka bertemu lagi saat liburan kuliah di rumah Kong Kong.

Naomi masih ingat sore itu. Hujan baru berhenti. Taman belakang rumah Kong Kong basah, bau tanah naik dari pot-pot anggrek. Naomi duduk di bangku kayu sambil membaca buku tentang kisah kelahiran kembali dalam tradisi Buddhis. Dia baru masuk tahun kedua kuliah kedokteran dan sedang dalam fase merasa semua hal bisa dijelaskan, kecuali kehilangan ibunya.

Reynard datang membawa payung lipat yang sudah tertutup.

"Kong Kong menyuruhku memanggilmu. Makan malam sudah siap," katanya.

Naomi menutup bukunya. "Kamu percaya reinkarnasi?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena wajah Reynard terlalu tenang sampai Naomi merasa boleh bertanya hal aneh.

Reynard menatapnya sebentar. "Kenapa tanya aku?"

"Kamu kelihatan seperti orang yang nggak percaya hal begitu."

"Menurutmu aku percaya apa?"

Naomi berpikir beberapa detik. "Angka. Kontrak. Sesuatu yang bisa dihitung."

Untuk pertama kalinya sore itu, sudut bibir Reynard bergerak tipis. Bukan senyum penuh, hanya retakan kecil di wajah yang biasanya datar.

"Kalau kamu?"

Naomi memandang taman basah di depan mereka. "Aku ingin percaya. Kalau benar ada kehidupan berikutnya, mungkin Mama bisa bahagia di kehidupan lain."

Reynard tidak menjawab cepat. Lama sekali dia diam sampai Naomi mengira percakapan itu selesai.

Lalu dia berkata, "Kalau itu membuatmu lebih tenang, percaya saja."

Kalimat itu sederhana. Tidak menghibur secara berlebihan. Tidak juga meremehkan. Tapi entah kenapa, Naomi mengingatnya sampai sekarang.

Kuas di tangan Naomi berhenti di atas kertas.

Di halaman vihara, Reynard berjalan ke arah bangunan samping, bukan ke aula utama. Dia tidak melihat ke arah Naomi. Atau mungkin melihat, tetapi terlalu jauh untuk dipastikan. Bhante Dharmaputra muncul dari koridor, menyambutnya seperti menyambut orang yang sudah biasa datang.

Itu yang membuat Naomi semakin heran.

Reynard Wijaya, setahu Naomi, bukan orang yang religius. Dalam pembicaraan keluarga, dia lebih sering disebut bersama kata rapat, ekspansi, saham, dan Wijaya Group. Bahkan Kong Kong pernah berkata sambil tertawa bahwa cucu sulung Kong Tai itu otaknya seperti laporan keuangan, rapi dan sulit dibaca.

Lalu untuk apa dia datang ke Vihara Padma Suci sepagi ini?

Naomi menurunkan pandangannya lagi ke kertas. Tulisan terakhirnya menjadi terlalu tebal karena kuas berhenti terlalu lama di satu titik. Tinta hitam melebar seperti noda kecil.

Dia mengambil napas, berusaha kembali fokus.

Tidak ada urusannya.

Reynard boleh datang ke vihara mana pun. Orang yang terlihat tidak percaya apa-apa tetap boleh punya hal yang disimpan sendiri. Lagipula, mereka tidak dekat. Mereka hanya dua nama yang kadang berada dalam lingkaran keluarga yang sama.

Naomi mengulang kalimat itu dalam hati sambil menyalin baris berikutnya.

Mereka tidak dekat.

Tetapi telinganya tetap menangkap langkah di koridor samping. Matanya, tanpa izin darinya sendiri, beberapa kali bergerak ke arah halaman. Dari sela pilar, dia melihat Reynard berdiri di depan Bhante Dharmaputra. Pria itu menunduk sopan, lalu menyerahkan kantong kain merah tua tadi dengan kedua tangan.

Bhante menerimanya tanpa banyak bicara.

Naomi tidak bisa mendengar isi percakapan mereka. Angin membawa suara lonceng, gesekan daun, dan gumaman pengunjung lain. Reynard hanya berdiri sebentar. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sesuatu pada bahunya yang membuat Naomi merasa pria itu sedang membawa urusan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Perasaan ingin tahu itu menggelitiknya.

Naomi segera menunduk lagi, malu pada dirinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang mencampuri rahasia orang lain. Sebagai dokter, dia sudah terbiasa memegang batas. Ada hal yang boleh ditanya, ada yang harus dibiarkan tertutup sampai pemiliknya sendiri membuka.

Namun pagi itu, batas itu terasa tipis.

"Tulisanmu jadi miring," suara Bhante Dharmaputra terdengar dari samping.

Naomi tersentak kecil. Entah sejak kapan beliau sudah berdiri di dekat meja. Di halaman, Reynard tidak lagi terlihat. Mobil hitamnya juga sudah tidak ada.

Naomi melihat kertasnya. Benar saja, satu baris terakhir turun seperti pasien yang kehilangan tekanan darah.

Wajahnya memanas. "Maaf, Bhante. Saya kurang fokus."

Bhante tersenyum. "Pikiran manusia memang suka berjalan lebih cepat daripada tangan."

Naomi ikut tersenyum, walau dadanya masih menyimpan rasa aneh. "Tadi... Pak Reynard sering datang ke sini?"

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat dia tahan.

Bhante Dharmaputra memandangnya sejenak. Tidak menegur, tidak juga langsung menjawab. Senyum beliau tetap lembut, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa Naomi baca.

"Beberapa orang datang ke vihara untuk meminta sesuatu," kata beliau pelan. "Beberapa lagi datang karena ingin menjaga sesuatu."

Naomi terdiam.

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Justru membuat kepalanya semakin penuh.

"Menjaga apa, Bhante?"

"Kalau suatu hari kamu memang perlu tahu, kamu akan tahu."

Naomi menggenggam kuas lebih erat. Ujung jarinya terkena sedikit tinta.

Bhante Dharmaputra lalu berjalan pergi, meninggalkannya bersama kertas yang belum selesai dan rasa penasaran yang tiba-tiba duduk terlalu dekat di dalam dada.

Naomi memaksa dirinya menulis sampai halaman itu penuh. Setelah itu dia merapikan kuas, mencuci tangan, dan berpamitan. Di gerbang vihara, udara sudah lebih hangat. Matahari menyentuh atap merah bangunan utama, membuat asap dupa tampak seperti benang tipis yang tidak putus-putus.

Di dalam mobil menuju Jakarta, Naomi membuka ponsel. Ada pesan dari Felicia.

Felicia: Na, nanti sore jangan lupa datang ya. Ultah Patrick. Kalau lo batal, gue jemput paksa.

Naomi mengetik balasan singkat.

Naomi: Datang. Tenang aja.

Dia hampir menekan tombol kirim ketika matanya kembali menangkap bayangan kantong kain merah tua dalam ingatan.

Reynard Wijaya di vihara. Bhante yang tidak menjawab. Kalimat tentang menjaga sesuatu.

Naomi menggeleng pelan, lalu mengirim pesan pada Felicia.

Tidak ada urusannya, katanya lagi pada diri sendiri.

Tapi sepanjang perjalanan pulang, setiap kali mobil berhenti di lampu merah atau tersendat di tol Jagorawi, pikirannya selalu kembali pada satu pemandangan yang sama: Reynard berdiri di bawah pohon kamboja, menyerahkan kantong doa seolah benda kecil itu jauh lebih penting daripada seluruh dunia yang biasa ia kendalikan.

1
Risma Hye Chan
sudah ak vote yaa kak mksih
Risma Hye Chan
adakah suami sprti itu didunia nyta
Sulaiman1927: ada tapi gak tau dimana?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!