"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Arga menggantung di udara, menyisakan keheningan yang terasa lebih menyesakkan daripada perdebatan panjang.
"Aku berniat menikah."
Tidak ada yang langsung bereaksi.
Cahaya lampu gantung kristal memantul lembut di atas permukaan meja makan berbahan kayu walnut yang dipenuhi hidangan. Aroma rosemary dari daging panggang yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan kehilangan daya tariknya. Tak seorang pun lagi memperhatikan makanan di hadapan mereka.
Ratih Wijaya menjadi orang pertama yang memecah keheningan itu.
Perempuan paruh baya tersebut meletakkan sendoknya dengan perlahan hingga terdengar bunyi pelan beradu dengan piring porselen.
"Arga," panggilnya hati-hati. "Bibi ingin memastikan kalau tadi tidak salah dengar."
Arga menoleh tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.
"Aku memang berniat menikahi Nadira."
Jawaban itu justru membuat Ratih mengembuskan napas panjang.
Tatapannya bergeser kepada Nadira yang sejak beberapa menit lalu lebih banyak diam. Perempuan itu duduk dengan kedua tangan bertumpu di pangkuan, berusaha menyembunyikan jemarinya yang mulai terasa dingin.
"Aku tidak mempermasalahkan siapa perempuan yang kamu pilih," ujar Ratih akhirnya. "Tapi bukankah keputusan ini terlalu mendadak?"
Belum sempat Arga menjawab, Kevin ikut mengangkat wajah.
"Sejak kapan kalian bertemu lagi?"
"Beberapa hari yang lalu."
"Beberapa hari?"
Kevin mengulang jawaban itu pelan, seolah sedang memastikan dirinya tidak salah menangkap.
"Kamu mengenal Nadira sejak kuliah, lalu kehilangan kontak selama bertahun-tahun. Setelah bertemu lagi beberapa hari, kamu langsung memutuskan menikah?"
"Iya." Jawaban Arga tetap singkat.
Bukan karena enggan menjelaskan, melainkan karena ia tahu tidak ada penjelasan yang dapat menghapus semua pertanyaan yang muncul malam itu.
Di balik ketenangannya, Arga justru sedang memilih kalimat mana yang boleh diucapkan dan mana yang harus tetap menjadi rahasia.
Surat wasiat kakeknya adalah salah satunya.
Bram yang sejak tadi memilih menjadi pendengar akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi. "Kalau boleh jujur," ujarnya pelan, "aku juga cukup terkejut."
Senyumnya masih ramah, tetapi sorot matanya berubah lebih serius. "Ini pertama kalinya kamu membawa seorang perempuan ke rumah sejak..."
Kalimat itu menggantung. Tidak ada yang melanjutkannya. Nama Bianca seolah menjadi kesepakatan diam yang tidak perlu lagi disebut. Arga memahami maksud Bram. Ia mengangguk kecil.
"Apa yang membuatmu yakin?" Pertanyaan itu tidak terdengar menghakimi.
Justru terdengar seperti seseorang yang benar-benar ingin memahami alasan di balik keputusan besar tersebut.
Arga terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan beralih kepada Nadira. Perempuan itu masih menundukkan kepala, tetapi ia bisa melihat bagaimana Nadira berusaha mengatur napas agar tetap terlihat tenang.
"Karena aku percaya padanya."
Hanya satu kalimat. Namun cukup membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
Ratih mengernyit pelan. "Percaya?"
Arga mengangguk. "Selama mengenalnya dulu, Nadira tidak pernah membuatku meragukan ucapannya." Ia berhenti sejenak. "Dan ketika kami bertemu lagi, aku tidak menemukan alasan untuk berhenti mempercayainya."
Tanpa sadar, Nadira mengangkat wajah. Ia tidak menyangka Arga akan mengatakan hal seperti itu. Mereka memang memiliki sebuah kesepakatan. Namun, laki-laki itu sama sekali tidak menjadikan kontrak tersebut sebagai alasan di hadapan keluarganya.
Sebaliknya, Arga justru sedang menjaga harga dirinya.
"Nadira." Suara Aditya yang tenang membuat perempuan itu segera menoleh. "Papa ingin bertanya langsung kepadamu."
Nadira mengangguk pelan.
"Apakah keputusan ini benar-benar datang dari keinginanmu sendiri?"
Untuk sesaat, ia hanya mampu menggenggam ujung gaunnya di balik meja. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Jawaban yang akan keluar dari bibirnya akan menentukan bagaimana keluarga Wijaya memandang dirinya.
"Tidak ada yang memaksa saya, Om."
"Sungguh?"
"Iya." Nadira mengangkat wajah. Meski masih tampak gugup, sorot matanya tidak berusaha menghindar.
"Saya menerima keputusan ini dengan penuh kesadaran."
Aditya memperhatikannya beberapa saat.
Selama puluhan tahun memimpin perusahaan, ia terbiasa membaca ekspresi orang lain. Ia tahu kapan seseorang sedang menyembunyikan sesuatu, kapan seseorang berbicara karena terpaksa. Kegugupan Nadira terasa berbeda.
Perempuan itu memang sedang menyimpan banyak kecemasan, tetapi bukan kecemasan karena dipaksa. Melainkan karena sedang berusaha diterima oleh keluarga yang benar-benar asing baginya. Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Aditya.
"Kalau begitu, Papa tidak punya alasan untuk menentang."
Ratih spontan menoleh. "Kak?"
"Arga sudah cukup dewasa untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri." Tatapan Aditya beralih kepada putranya. "Papa hanya berharap kalian berdua memahami bahwa menikah bukan sekadar menyatukan dua orang."
Lelaki itu kemudian menatap Nadira dengan senyum yang hangat. "Tetapi juga menyatukan dua keluarga."
Nadira menganggukkan kepala pelan. "Saya mengerti, Om."
"Bagus." Aditya menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau begitu, kita tidak punya banyak waktu."
Kalimat itu membuat Bram tersenyum kecil. "Nah, akhirnya masuk ke pembahasan yang saya tunggu." Ia meraih tablet yang sejak tadi berada di sampingnya, lalu membuka kalender digital.
"Kalau targetnya secepat mungkin, saya akan mulai menghubungi wedding organizer malam ini juga. Besok kita bisa survei venue dan memastikan jadwal pemberkatan di gereja."
Ratih yang semula masih terlihat ragu kini ikut mengangguk.
"Gaun pengantin juga harus segera dibuat. Kalau harus menjahit dari awal, waktunya tidak akan cukup."
"Lebih baik couture yang sudah hampir selesai," timpal Kevin. "Tinggal fitting dan penyesuaian."
Arga menoleh kepada Nadira. "Besok kamu ada jadwal di toko?"
Nadira mengangguk pelan. "Pagi saja."
"Kalau begitu siang kita mulai semua persiapannya." Arga mengatakannya dengan nada tenang, tetapi untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Nadira benar-benar menyadari satu hal.
Pernikahan mereka bukan lagi sekadar kesepakatan yang tertulis di atas selembar kontrak. Mulai detik ini, semuanya perlahan berubah menjadi kenyataan. Makan malam berakhir hampir satu jam kemudian.
Sebelum pulang, Aditya meminta Arga dan Nadira menemuinya sebentar di ruang kerja. Ruangan itu tidak sebesar ruang rapat di kantor pusat Wijaya Group, tetapi tetap memancarkan kesan elegan. Rak-rak kayu jati memenuhi hampir seluruh dinding, dipenuhi buku bisnis, sejarah, hingga beberapa album foto keluarga yang tertata rapi.
Aditya mempersilakan keduanya duduk sebelum ia sendiri mengambil sebuah map dari atas meja.
"Papa tidak ingin mencampuri keputusan kalian," ujarnya tenang. "Tapi karena waktunya tidak banyak, semua persiapan harus berjalan teratur."
Ia membuka map tersebut. Di dalamnya sudah terdapat daftar pekerjaan yang ditulis rapi oleh sekretaris pribadi.
"Bram akan mengkoordinasikan seluruh administrasi. Kevin membantu daftar tamu dan urusan perusahaan. Ratih akan mendampingi Nadira memilih gaun serta kebutuhan pemberkatan." Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum kepada Nadira. "Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, jangan sungkan bilang. Kamu tidak perlu memaksakan diri mengikuti semuanya."
Nadira mengangguk pelan. "Terima kasih, Om."
"Mulai besok, kalian akan sangat sibuk."
Arga mengangguk memahami. "Kami mengerti."
Keesokan paginya, rumah keluarga Wijaya berubah jauh lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa orang dari wedding organizer datang membawa gulungan denah ballroom, katalog dekorasi, contoh undangan, hingga lembar-lembar konsep pemberkatan. Meja panjang di ruang keluarga dipenuhi berbagai sampel kain, bunga segar, dan album dokumentasi pernikahan yang pernah mereka tangani.
"Nah, untuk konsep keseluruhan," jelas seorang project manager sambil membentangkan sketsa, "kami menyiapkan tiga pilihan. Modern luxury, classic elegance, dan timeless white."
Ratih memperhatikan satu per satu gambar yang disodorkan. "Kalau menurut saya, konsep kedua lebih sesuai."
Arga hanya melirik sekilas. "Yang sederhana."
Wanita dari wedding organizer tersenyum profesional. "Bapak lebih menyukai dekorasi minimalis?"
"Bukan minimalis," jawab Arga singkat. "Tidak berlebihan."
Ratih terkekeh kecil. "Seleramu memang tidak berubah sejak dulu."
Perhatian kemudian beralih kepada Nadira. "Bagaimana menurutmu?"
Nadira menatap beberapa lembar desain yang tersusun di hadapannya. Hamparan bunga mawar putih, rangkaian lily, serta dedaunan hijau menghiasi setiap ilustrasi.
"Yang ini..." ujarnya pelan sambil menunjuk salah satu gambar. "Kelihatannya hangat."
Project manager langsung mengangguk. "Pilihan yang bagus, Nona. Kombinasi white rose dan white lily memang memberi kesan bersih sekaligus elegan."
"Kalau begitu kita gunakan itu saja," putus Arga.
Tidak ada perdebatan.
Bahkan Ratih hanya mengangguk setuju.
Selanjutnya mereka membahas susunan acara. Pemberkatan akan dilaksanakan di gereja tempat keluarga Wijaya biasa beribadah, sementara resepsi digelar pada malam harinya di ballroom hotel yang masih berada dalam kawasan yang sama sehingga para tamu tidak perlu berpindah terlalu jauh.
Jam pemberkatan ditetapkan pukul sepuluh pagi.
Resepsi dimulai pukul enam sore.
Daftar tamu dibagi menjadi tiga kelompok; keluarga besar, relasi bisnis, dan sahabat dekat. Jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai hampir enam ratus orang.
Nadira hanya bisa terdiam.
Angka itu jauh melampaui jumlah orang yang pernah ia temui sepanjang hidupnya dalam satu ruangan.
Menjelang sore, Ratih mengajak Nadira menuju sebuah bridal boutique yang sudah lama menjadi langganan keluarga Wijaya.
Puluhan gaun pengantin berjajar di balik kaca dengan detail bordir yang begitu rumit. Kilauan kristal Swarovski memantulkan cahaya lampu hingga memenuhi seluruh ruangan.
"Silakan dicoba yang ini dulu," ujar salah seorang konsultan bridal.
Gaun berpotongan A-line itu didominasi renda Prancis dengan lengan panjang transparan. Bagian rok menjuntai membentuk ekor sepanjang hampir dua meter.
Nadira menatap gaun tersebut cukup lama.
"Indah sekali..."
Ratih tersenyum. "Coba saja dulu."
Sekitar dua puluh menit kemudian, tirai ruang ganti terbuka perlahan. Nadira melangkah pelan keluar.
Riasan belum dikenakan, rambutnya masih dibiarkan tergerai sederhana. Namun gaun putih itu seolah memang dibuat khusus untuknya.
Ratih terdiam beberapa detik.
"Kenapa?" tanya Nadira gugup.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Tidak ada."
"Tapi Tante diam."
"Aku hanya sedang membayangkan reaksi Arga nanti."
Pipi Nadira langsung menghangat.
Sementara itu, di kantor pusat Wijaya Group, Bram mulai menyusun seluruh dokumen administrasi yang dibutuhkan untuk pemberkatan.
Map berwarna cokelat muda memenuhi meja kerjanya. Satu per satu berkas diperiksa. Seperti fotokopi kartu identitas, akta kelahiran, kartu keluarga. Semua harus lengkap agar proses administrasi berjalan lancar.
Bram membuka map bertuliskan NADIRA PRAMESTI.
Tangannya berhenti ketika lembar fotokopi kartu keluarga terlepas dari dalam map. Ia bermaksud memasukkannya kembali. Namun, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah nama.
Kepala Keluarga : Hendra Pramesti.
Nama itu terasa begitu akrab.
Bram mengernyit. "Hendra Pramesti..."
Ia mengulang nama tersebut pelan, berusaha mengingat sesuatu yang telah lama tersimpan di sudut ingatannya.
Beberapa detik berlalu, kemudian sebuah bayangan lama muncul begitu saja.
Ruang arsip.
Dokumen perusahaan.
Sebuah laporan kecelakaan belasan tahun silam.
Dan...
nama yang sama.
Bram spontan membuka laci mejanya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah map tua yang sudah mulai menguning di bagian tepinya.
Tangannya bergerak cepat membalik halaman demi halaman. Semakin lama wajahnya semakin serius. Hingga akhirnya ia menemukan satu lembar laporan yang sejak bertahun-tahun tidak pernah lagi disentuh.
Sorot matanya membeku. Di sudut kanan bawah halaman itu, tertulis jelas sebuah nama yang baru saja ia baca beberapa menit lalu.
Hendra Pramesti.
Bram menelan ludah.
"Mustahil..."
Kalau dugaannya benar berarti Nadira bukan sekadar perempuan yang akan menikahi Arga.
Perempuan itu memiliki hubungan dengan masa lalu keluarga Wijaya. Hubungan itu bisa mengubah segalanya. Membuat berantakan.