Gadis bernama Shanum tidak pernah menyangka bahwa dia akan terlibat hubungan cinta terlarang (cinta se-jenis).
Setelah lepas dari cinta terlarangnya, dia dipertemukan dengan laki-laki yang malah merenggut mahkotanya secara paksa karena dendam.
Tapi Tuhan Maha Adil, pada akhirnya dia dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya, mencintai dengan tulus dan mendapatkan kebahagiannya hingga akhir hayatnya.
Hi reader, kalau sekiranya Novel ini kurang nyaman dibaca, silakan memilih bacaan yang sesuai umur dan tipe Novel yang disukai 🥰❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Merona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Dua Hari Berlalu,
...Terkadang ...
...Aku merasa Tuhan tak Adil padaku...
...Tapi terkadang juga ...
...Aku merasa Tuhan sangat Baik...
...Aku hanya merutuki nasib ...
...yang selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ...
...dari orang di sekeliling Ku...
...***...
Dengan langkah gontai, Shanum menghadap Bu Artika di ruangannya. Jam istirahat yang dipilih, karena biasanya beliau menghabiskan waktunya di sana.
Shanum sudah mempersiapkan diri akan resiko terburuk yang dia dapatkan hari ini.
"Tok-tok-tok ...." Shanum mengetuk pintu ruangan gurunya.
"Masuk!" jawab Bu Artika dari dalam.
"Permisi Bu, teman-teman saya bilang Ibu meminta saya untuk menghadap," ucap Shanum memulai.
"Iya, duduk Shanum!" perintahnya.
"Kenapa dua hari lalu kamu bolos?" tanya Bu Artika.
"Mohon maaf Bu, kaki saya terkilir jadi sakit dipakai jalan," jawab Shanum menjelaskan.
"Kalau sakit kenapa enggak mengirim surat izin?"
"Mohon maaf, Bu. Ayah saya lupa membuatnya."
Bu Artika yang mendengar murid kesayangannya memohon maaf terus-terusan ingin tertawa sebetulnya. Tapi beliau tahan untuk menjaga wibawanya di depan muridnya.
"Kaki kamu apa masih sakit?"
"Masih Bu, sedikit," jawab Shanum pelan.
"Well, saya nggak akan memberi kamu hukuman yang berat, cukup kerjakan 100 soal ini, saya tunggu dua hari lagi di ruangan saya."
Shanum tertegun melihat lembaran kertas di tangan gurunya, lalu menelan ludahnya membayangkan dua hari ini harus bergulat dengan angka-angka.
"Baik, Bu. Terimakasih ...," ucap Shanum lalu meraih kertas yang disodorkan tersebut.
...~~~...
"Gimana-gimana?" tanya Nora yang melihat kedatangan sahabatnya ke kantin.
"Hua...aku harus mengerjakan ini semua," jawab Shanum sambil pura-pura menangis.
Nora yang melihat angka-angka dari kertas yang ditunjukan Shanum, cuman bisa menggaruk kepalanya dan meringis.
"Wow, amazing!" selorohnya.
"Amazing kepala mu! Seratus soal dong ini ...."
"Hahaha ... selamat menikmati Nona," godanya.
Shanum menekuk wajahnya dan memajukan bibirnya, Nora tertawa geli melihat tingkah sahabatnya yang seperti anak kecil.
"Mau aku bantuin gak?" Nora menawarkan diri.
Mata Shanum langsung berbinar dan senyuman merekah tersungging dari bibirnya.
"Aahhh.. makacih cahabatku," ucapnya dengan menirukan gaya bicara anak-anak.
"Ish, menggelikan!" jawab Nora dengan menggidikan bahu.
"Ayo kita masuk kelas, bel masuk sudah bunyi tuh!" ajak Shanum.
Dengan langkah penuh semangat keduanya berjalan menuju ke kelas karena masih ada dua pelajaran yang harus mereka ikuti.
Dan lagi-lagi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan iri juga cemburu, tidak tahu apa yang digumamkan anak itu, yang pasti dia tidak menyukai keakraban dua sahabat yang semakin intens.
"Neng Shopi, itu temen-temennya sudah pada masuk ke kelas," ujar Ibu Kantin mengingatkannya.
"Males, Bu ah. Sekarang pelajaran Bahasa Inggris, gak suka aku," jawabnya cuek.
Ibu Kantin menggelengkan kepalanya mendengar seloroh siswa di depannya.
"Eman-eman neng sebentar lagi kan mau kelulusan," gumamnya.
Shopia mendengarnya dengan malas, saat ini yang dia pikirkan hanya soal kekasihnya. Abna, Abna dan Abna. Dia sedari tadi memikirkan cara agar kekasihnya tidak berani memutuskannya.
Perselisihannya terakhir kali dengan Abna membuat hubungannya menjadi renggang.
...~~~...
"Te...t...."
Anak-anak yang mendengar suara bel sekolah, langsung kegirangan. Mereka membereskan buku-buku dan guru mengingatkan mereka untuk melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya di rumah.
Satu persatu keluar dari kelasnya, ada yang pergi ke kantin, ada yang mencari buku referensi di perpustakaan, ada juga yang langsung menuju gerbang karena di depannya banyak penjual jajanan yang enak-enak. Seperti yang dilakukan dua sahabat ini, dengan bergandengan tangan mereka menuju penjual batagor langganan mereka.
Tiba-tiba langkah Shanum terhenti ketika melihat sosok yang terlihat sedang mencari seseorang di depan gerbang sekolah, dia menarik tangan Nora untuk mengikutinya bersembunyi di belakang pos security.
"Eh, Num kenapa narik aku ke sini?"
"Sorry, sorry. Btw tante itu yang mencari aku dua hari yang lalu?" tanya Shanum dengan telunjuknya dia arahkan ke luar gerbang.
Nora memperhatikan orang yang dimaksud dan dia mengingat-mengingat wajah orang tersebut.
"Nah, iya Num, Tante itu yang aku maksud"," jawab Nora.
"Emang dia siapa?"
"Nanti aku ceritain, sekarang ikut aku keluar lewat pintu gerbang belakang ya."
Tanpa bertanya lagi, Nora mengikuti sahabatnya melalui gerbang belakang. Dia memang penasaran tapi lebih memilih menunggu sahabatnya bercerita, kalau memang sahabatnya mempercayainya.
...***...
MESKI ALUR CERITA LAMBAT...TAPI NGGAK BIKIN BOSAN.