NovelToon NovelToon
Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Salsabila mbil

Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keluarga Zhao sibuk bekerja, dan Lin Xiang pun menepati janjinya pada hari nyonya tua Xue datang. Ia hampir mengambil alih seluruh tugas merawat Jiang Ting.

Justru karena hal inilah, setiap kali harus naik gunung untuk bercocok tanam, Wang chunniang khawatir Lin Xiang akan kelelahan, sehingga ia biasanya meminta Lin Xiang menjaga anak-anak.

Lin Xiang adalah orang yang cekatan. Saat sedang senggang, ia melihat bunga-bunga liar di gunung yang indah, lalu mengajak A Bao dan Jiang Ting menggali beberapa untuk di tanam di halaman keluarga Zhao.

Setelah setengah bulan masa tanam musim semi berlalu, di samping kebun sayur kecil keluarga Zhao sudah bermekaran berbagai macam rumput dan bunga liar.

Pagi itu, Lin Xiang sedang membungkus dua saputangan pengantin (Xipa) yang baru selesai di sulamnya. Dua saputangan itu di pesan oleh gadis-gadis dari desa sebelah. Ia memasukkan keduanya kedalam kantong kain yang sudah ia buat sebelumnya, menunggu pemiliknya datang menjemput.

"bibi, di kantong ini ada bunga kecil." A Bao dengan penasaran menyentuh kantong kain tempat sapu tangan itu di simpan. Di atasnya tersulam bunga Kamelia yang kecil.

Lin Xiang melihat rok kecil A Bao, dan menyadari ada dua lubang kecil lagi di sana.

ia mengusap kepala A Bao dan berkata, "kalau begitu, nanti bibi akan menyulam dua bunga kecil di rok A Bao juga."

A Bao menyeringai senang.

"Apakah adik Lin Xiang ada di rumah?" pintu besar keluarga Zhao kembali di ketuk keras. Jiang Ting menatap waspada ke arah pintu halaman. baru saja ia hendak memanggil orang dewasa, ia melihat boneka gemuk di sampingnya sudah berjalan menuju pintu.

Jiang Ting segera menyusul dan menarik A Bao kembali.

"Kakak kecil, itu... Itu paman kepala desa jiao," kata A Bao sambil menggeleng. Ia malah menarik tangan Jiang Ting berjalan menuju pintu. sambil berjalan, ia berjinjit di atas ambang pintu untuk membuka kunci, mulutnya mengomel, " Paman kepala desa, kenapa... Kenapa paman datang ke rumah kami terus?"

Kepala desa jiao baru saja ingin mendorong pintu. Mendengar suara A Bao yang merdu dan lembut itu, ia tak bisa menahan tawa.

Namun Laidi yang berdiri di sampingnya, justru tidak tertawa. Matanya menatap A Bao dengan garang.

A Bao juga melihat Laidi. Alih-alih bersembunyi, ia malah berkata pada Jiang Ting, "kakak kecil, itu.... Itu dia, dia yang ganggu aku."

Jiang Ting melirik Laidi. Laidi sama sekali tidak menganggap serius Jiang Ting, karena anak laki-laki itu sekurus monyet.

"Anak-anak memang suka bertengkar." kepala desa jiao tertawa kecil, lalu menyerahkan pola sulaman kepada Lin Xiang. "Sepupu perempuan ku akan menikah. Kudengar sulaman mu bagus, bisakah kamu menerima pesanan ini? Menyulam sarung selimut untuknya."

Mendengar orang dewasa mulai membicarakan urusan bisnis, A Bao segera menarik Jiang Ting ke kebun sayur kecil untuk membantu menyirami bunga dan rumput yang di bawa Lin Xiang dari gunung.

Sementara itu, Laidi yang melihat A Bao sudah berganti baju dan sepatu baru lagi, dan juga melihat ayahnya sendiri ada di samping, ia segera mengubah ekspresi wajahnya. Ia berlari menghampiri A Bao dan Jiang Ting.

Karena kedatangan Laidi yang mendadak, saat A Bao menoleh mendengar suara langkah kaki, Laidi sudah menginjak rumput mata harimau hingga bibit tanaman obat itu terinjak rata.

A Bao seketika marah besar. Sebenarnya ia tiga atau empat tahun lebih muda dari Laidi, tetapi karena kemarahan nya memuncak, ia menyerang Laidi dengan menyeruduk kepala kecilnya. sambil menyeruduk, ia menangis dengan suara keras.

"Aku pukul kau sampai mati! Dasar kumbang kotor!" A Bao melontarkan semua makian yang ia ketahui. Mungkin karena sangat marah, A Bao langsung duduk menindih Laidi dan mencakar wajah Laidi. Laidi mencoba melawannya, hendak mencubit lengan A Bao, tetapi detik berikutnya, Jiang Ting sudah menahan tangan Laidi sehingga ia tidak bisa bergerak, dan hanya pasrah menerima pukulan.

awalnya orang dewasa hanya mengira mereka sendang berkelahi kecil, namun melihat perkelahian itu semakin serius, kepala desa jiao dan yang lainnya bergegas mendekat.

"A Bao, lepaskan dia." melihat orang dewasa sudah datang, Jiang Ting menarik A Bao, tidak membiarkan A Bao memukul lagi.

Laidi dengan malu-malu bangkit dari tanah, menutupi wajah yang lebam, lalu bersembunyi di balik punggung kepala desa jiao.

"Ibu, dia menginjak rumput mata harimau-ku," air mata A Bao tumpah karena marah. Ia berlari kembali ke kebun sayur kecil, buru-buru berusaha menyelamatkan rumput mata harimau.

Untungnya tanaman itu tidak hancur. Masih bisa ditegakkan. Jiang Ting segera bergegas membantu, sementara Zhao Xuan membantu mencari ranting kayu untuk penyangga.

Wang chunniang berdiri di sana. Mendengar ucapan A Bao, tangannya gemetar hebat.

Kebetulan ada bunga liar yang mekar lebih awal, Lin Xiang memetiknya untuk mewarnai kain dan membuatkan rok kecil yang ringan untuk A Bao.

Melihat suasana hati keluarga Zhao yang tidak baik, kepala desa jiao melirik Lin Xiang yang juga menunjukkan sikap menjaga jarak. Ia lalu dengan tegas menampar Laidi dan membentaknya, "Siapa yang mengizinkan mu menginjak-injak kebun sayur orang lain? Beginikah caraku mendidik mu?"

Laidi menatap ayahnya dengan tak percaya. Selain itu, ia menangis dan lari keluar.

Zhao Xuan melihat arah larinya Laidi. Mumpung suasana sedang kacau, ia diam-diam menyusul Laidi. Sepertinya hukuman yang ia berikan tempo hari belum cukup, sampai Laidi berani bertingkah lagi.

"Kakak jiao, saat ini aku punya terlalu banyak jahitan yang harus di selesaikan. Pekerjaan sebesar menyulam sarang selimut akan memakan waktu lama. jadi... Kali ini aku tidak bisa menerimanya." Lin Xiang menolak dengan halus.

Kepala desa jiao mengerti maksud Lin Xiang. Ia melirik A Bao yang berjongkok tidak jauh dari sana.

Sepertinya rumput itu sangat penting, kalau tidak keluarga Zhao tidak akan menunjukkan reaksi seperti itu. Melihat situasinya, kepala desa jiao kembali meminta maaf kepada Wang chunniang, lalu membawa pola sulaman itu pergi.

Begitu kepala desa jiao pergi, A Bao Langsung menangis meraung-raung. " Kepalanya putus karena di injak Laidi busuk! Jadi tidak bisa tumbuh bunga lagi! "

" A Bao jangan menangis, rumput mata harimau itu masih hidup kan? Selama di masih hidup, Mata ayahmu masih ada harapan untuk sembuh." bujuk Wang chunniang. Jika A Bao menangis terlalu keras, ia akan mudah terbatuk dan sesak napas. Wang chunniang memeluk A Bao, menepuk punggungnya dengan lembut.

Namun ini adalah kecelakaan besar, A Bao tidak bisa dibujuk dengan cara apapun.

Zhao Xuan kembali entah sejak kapan. Mendengar ucapan ibunya, ia berjongkok di depan rumput mata harimau, lalu berkata pada Wang chunniang, "ibu, saat ini satu-satunya cara adalah memotong tunas yang baru tumbuh ini, dan membiarkannya tumbuh tunas baru lagi. "

Jiang Ting tidak banyak bicara, ia hanya berdiri di belakang dan membantu menepuk punggung A Bao dengan lembut.

"Ada satu harimau, jadi ada satu rumput mata harimau. Harimau besarnya sudah pergi, jadi.... Jadi tidak ada pohon yang kedua huwaaaaaa..."

"Hanya perlu menunggu satu bulan lagi, itu bukan masalah," Zhao Heng berjalan mendekat sambil memegang tongkatnya. dengan insting, ia meraih dan mengangkat A Bao yang sedang menangis meraung-raung.

Zhao Xuan yang sedang berjongkok di samping, mendengar ucapan ayahnya itu, ia mengambil gunting. Krek! Ia memotong tunas muda yang hampir tidak bisa di tegakkan itu, lalu hendak membuangnya.

A Bao yang sedang digendong Zhao Heng, melihat pemandangan itu. Tangisnya tersedat, dan ia cegukan," kakak, ja... Jangan dibuang. KA... Kasih ayah makan. "

1
lin sya
aku suka karakter a bao peka trhdp tanaman dan tanah yg subur atau tdk, dan brsyukur a bao berada dkt kluarga angkat yg tulus, msih penasaran identitas a bao, 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!