Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Diko
Andre pun tidak bisa berbuat banyak, sejak Tiara menghilang ia sudah berusaha menggali informasi dari Moza, namun sayangnya semua sia-sia sebab wanita itu tidak bersedia bekerja sama dengannya.
"Jika Daniel dan Tiara berjodoh. Sejauh apapun saat ini jarak memisahkan mereka, tetap saja suatu hari nanti takdir pasti akan menyatukan mereka lagi. Jadi biarkan takdir yang mengatur pertemuan mereka, jangan temui aku lagi!"
"Ayolah Moza, biarkan Daniel ketemu sama Tiara, harus dengan cara apa aku meyakinkanmu kalau Daniel sudah jatuh hati dengan Tiara."
"Aku nggak percaya, selagi dia belum minta maaf dan mengakui cintanya untuk adikku, jangan harap dia bisa melihat Tiara."
Suara muntahan Daniel membuat ingatan Andre tentang Moza berakhir.
"Aku mau cari Tiara ke mana lagi?" Andre membantu Daniel berdiri. "Untuk apa mencari Tiara kalau kau tidak cinta dia?"
"Aku tidak cinta, tapi aku rindu setengah mati." Daniel yang mabuk tertawa seperti orang gila, ia memegang kepalanya yang terasa pusing. "Apa aku sudah mabuk? Bilang sama perempuan bodoh itu untuk memakiku sesuka hati, menamparku, bahkan mencekik leherku asalkan dia ada di sini."
Daniel terbatuk memperagakan saat Tiara mencekik lehernya. "Bodoh sekali Tiara itu kenapa dia tidak mencekik leherku sampai aku mati? Kalau seperti ini sama saja dia membunuhku secara perlahan. Tunggu saja pembalasanku!"
"Sudahlah omonganmu semakin ngelantur, biar supir mengantarmu pulang, aku dan Wira yang akan menghandle kantor." Andre memapah Daniel ke luar dari ruang kerjanya.
"Sial! Aku tampak menyedihkan dan tidak berguna." Daniel kesal sendiri.
Dua minggu sudah berlalu, kepergian Tiara mengubah hidup Daniel, ia seperti tidak punya semangat hidup lagi, setiap malam tidak bisa tidur di kamar yang menjadi saksi bisu percintaannya dengan Tiara hingga memilih keluar dari rumah itu.
"Ayolah Daniel, jangan karena satu wanita kau melupakan tanggung jawabmu, perusahaan kita terancam bangkrut sebab satu persatu investor membatalkan kerja sama dengan kita, sepertinya kita harus menjual sebagian saham untuk memenuhi gugatan mereka," ucap Andre.
"Tidak perlu! Aku sendiri yang akan turun tangan, apa yang sudah menjadi milikku harus tetap menjadi milikku, kau dan Wira urus pekerjaan di sini biar aku mengurus perusahaan asing itu!" Daniel merobek kertas berisi data informasi para pengkhianat yang sudah diselesaikan Wira.
"Kau yakin pergi ke Paris?" tanya Andre, setelah sekian lama ini untuk pertama kali Daniel kembali ke Paris.
"Ya ... sebelumnya aku harus menghajar seseorang!" Daniel beranjak dari duduknya, kakinya yang panjang bergerak cepat keluar dari kantor, sopir sudah menunggu dan siap membawa Daniel ke tempat tujuan.
Tidak butuh waktu lama, mobil milik Daniel sudah sampai di depan gedung perkantoran milik Diko, seperti pengakuan para pengkhianat yang sudah berhasil diintrogasi Wira, mereka menjual informasi perusahaan kepada Diko, hingga design itu jatuh ke tangan asing.
Benar-benar tidak masuk akal.
"Diko!!!" teriakan Daniel di loby membuat semua mata tertuju padanya. "Di mana anak itu?" Matanya memerah, buku-buku di tangannya pun sudah memutih, emosinya meledak-ledak seperti percikan api.
"Tuan, tolong jangan buat keributan di sini," ucap seorang satpam.
"Kenapa? Kau berani menghentikan aku?" tanya Daniel. "Cepat panggilkan Diko atau aku hancurkan tempat ini," titah Daniel, suaranya pelan namun terdengar menakutkan.
Belum sempat satpam pergi, Diko sudah muncul dari lift yang baru terbuka.
"Kakak mencari aku?" tanya Diko, ia sudah tau tujuan Daniel datang ke kantornya, namun bersikap biasa seolah tidak tau apa-apa.
Daniel mencengkram kerah jas hitam yang dikenakan Diko. "Jangan panggil aku dengan sebutan yang menjijikan itu, aku datang ke sini untuk memberimu pelajaran, suapaya kau tidak lagi main-main denganku!"
Daniel memukul wajah Diko, ia menolak ketika beberapa orang mencoba memisahkannya dari Diko.
"Benar dugaanku kalau kau, Mike dan Remon bekerja sama untuk menghancurkan aku, kan? Beraninya kau menjual Designku kepada Remon itu!"
"Aku terpaksa melakukan itu supaya kakak mau pulang ke Paris! Kasihan mama yang setiap hari merindukanmu," ucap Diko lirih.
Mendengar kata Mama membuat Daniel lemah, ia melepaskan Diko dan memunggunginya.
"Mama memintaku untuk membawamu pulang ke rumah, temui mama sekali ini saja supaya kakak tau masa lalu papa, mama dan ibuku."
Diko mendekat dan menepuk pundak Daniel. "Aku sudah kehilangan ibu kandungku dan aku menyesal karena belum sempat membahagiakannya, kau masih punya mama. Jangan sampai penyesalanmu lebih dalam dari yang aku rasakan, pulanglah kak."
Daniel tidak bicara lagi, ia pergi meninggalkan Kantor Diko.
Sebenarnya setelah malam pertengkaran itu, Diko sudah memutuskan untuk kembali ke Paris, hari itu ia menghubungi Delia yaitu mama kandung Daniel yang sudah menganggap ia sebagai anak kandungnya sendiri.
"Aku sudah bertemu dengannya, Ma...." ucap Diko melalui saluran telepone waktu itu. Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Diko hanya mendengar isakan tangis yang sepertinya sengaja ditahan mama Delia.
"Dia ... mirip papa. Keras kepala." Diko tertawa merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari jika Daniel adalah abang tirinya, anak mama Delia yang selalu dirindukan wanita paruh baya itu, Niel yang selalu disebut dalam doa, Niel yang tidak pernah tergantikan di hati Delia.
"Maaf, karena kebodohanku, kak Daniel membenci dan menolak untuk pulang."
"Daniel bertunangan dengan teman masa kecilku dulu." imbuhnya lagi.
Isakan tangis itu sudah berganti dengan suara tangisan yang pilu, meskipun tidak bisa melihat, tetapi Diko yakin saat ini air mata sudah membanjiri wajah mama Delia.
"Bawa dia pulang."
Diko terdiam dan berpikir bagaimana caranya ia membawa Daniel kembali ke Paris?
"Bawa anak itu pulang, kembalikan Daniel ke rumah ini, sudah cukup selama ini aku menahan rindu pada anakku sendiri, sudah cukup kami hanya berkomunikasi lewat Email yang tidak setiap hari dibalasnya, sudah cukup, Diko. Bawa kakakmu pulang untukku. Apa pun yang terjadi ... bawa dia pulang."
Hingga percakapan itu berakhirpun, Diko masih menatap nanar benda pipih di tangannya, selama Diko tinggal satu atap dengan mama Delia, istri pertama papa tirinya itu selalu bersikap baik bahkan sudah menganggap ia seperti anak kandung sendiri.
"Kamu mirip Nielku, tapi dia sudah pergi."
Itu yang dikatan mama Delia waktu itu, hampir setiap hari ia melihat mama Delia menangis dan menyebut nama Niel. Diko tidak tau bagaimana cara menghibur wanita itu, hingga ibu kandungnya meninggal dunia barulah ia tau seperti apa rasanya merindukan orang yang begitu disayang.
"Tidak ada yang menjadi penawar rindu, selain bertemu dengan orang yang dirindukan, tetapi dunia kita sudah berbeda, Ma ... baik mama dan mama Delia menginginkan aku untuk membawanya kembali ke rumah itu, Diko janji apapun akan Diko lakukan untuk membawanya pulang ke rumah."
Hari itu saat masih di Pulau Dewata Bali, Diko bergegas mencari Daniel, ia bermaksud menukar saham asalkan Daniel mau kembali ke rumah, namun ia tidak menemukan Daniel di manapun, hingga pemandangan yang di luar nalar baginya terpampang nyata di depan mata.
Daniel dan Tiara berciuman di tepi pantai, bagaimana bisa? Bukankah Daniel calon kakak ipar Tiara? Semakin membingungkan saat Daniel merangkul Tiara dan masuk ke dalam mobil yang sama.
"Apa selama ini mereka punya hubungan khusus? Apa Tiara mengkhianati Moza?" Begitu banyak praduga di kepala Diko, hingga ia mengubah rencananya, sengaja mencari kelemahan Daniel dan membuatnya sampai meninggalkan Bali.
"Aku terpaksa melakukan ini, supaya kau kembali ke Paris dan aku bisa mencari tau apa hubunganmu dengan Tiara."
***
Readera sayang, Vio mau bilang. Nikmati alur, ya. Karena sebenarnya alurnya nggak bisa ditebak. Kalau ada konflik sabarkan hati ya. Kritik dan saran diterima.
Banyak Typo karena kemaren Vio ngetiknya dalam perjalanan^.^. Harap maklum ya
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍