Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL27
MAKIN SULIT MENJAGA JARAK
Jelita mengangkat rantang stainless itu sambil tersenyum puas.
"Nah, ketemu!"
Romi mengembuskan napas lega.
"Kalau sudah ketemu, sekarang pulang."
"Buru-buru banget ngusirnya."
"Aku capek."
Jelita memperhatikan wajah pria itu beberapa saat. Jas yang masih dikenakan Romi tampak sedikit kusut, sementara wajahnya jelas memperlihatkan kelelahan setelah seharian bekerja.
"Belum makan, ya?"
"Ada makanan di kulkas."
"Berarti Hannah udah nyiapin semua sebelum berangkat?"
"Iya."
Jelita mengangguk pelan.
"Dia memang perhatian ya."
Romi tidak menanggapi.
Wanita itu menggenggam rantangnya erat sebelum kembali membuka suara.
"Kalau gitu aku pulang."
Romi hanya mengangguk. Namun sebelum benar-benar keluar dari dapur, Jelita berhenti melangkah.
"Oh iya."
Romi menoleh.
"Aku juga lagi masak."
"Lalu?"
"Masaknya kebanyakan."
"..."
"Kalau nanti kamu malas makan sendirian, tinggal nyebrang aja."
Romi langsung menggeleng. "Nggak usah."
"Belum selesai aku ngomong."
"Apa lagi?"
"Aku nggak maksa."
Jelita tersenyum kecil.
"Cuma ngasih tahu."
Romi mengembuskan napas panjang.
"Kamu ini selalu punya cara."
"Kalau nggak kreatif, mana mungkin bisa deketin orang sekeras kepala kamu."
Romi hanya menatapnya datar.
"Aku anggap itu pujian."
"Sesukamu aja."
"Sayang banget."
Jelita tertawa kecil, lalu berjalan menuju pintu. Kali ini ia benar-benar pergi.
Romi mengikuti sampai ke teras hanya untuk memastikan wanita itu benar-benar menyeberang ke rumahnya sendiri. Begitu pintu rumah Jelita tertutup, barulah ia kembali masuk.
Rumah itu kembali sunyi. Kesunyian yang beberapa menit lalu sempat terusik kini kembali memenuhi setiap sudut ruangan, seolah kehadiran Jelita tadi tidak pernah ada.
Romi berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil kotak makanan yang sudah disiapkan Hannah sebelum berangkat ke Singapura. Pada tutup kotak itu masih menempel secarik kertas bertuliskan, Jangan telat makan, ya, Mas. ❤️
Tanpa sadar, Romi tersenyum tipis.
"Dasar..."
Ia memasukkan kotak makanan itu ke dalam microwave, lalu menekan tombol pemanas. Suara dengung mesin memenuhi dapur yang lengang.
Beberapa menit kemudian makanan itu siap. Romi membawanya ke meja makan, duduk seorang diri seperti beberapa hari terakhir. Ia mulai menyuap nasi perlahan. Masakannya tetap sama, rasanya pun tidak berubah. Namun entah kenapa, makan malam itu terasa jauh lebih sepi daripada biasanya. Mungkin karena baru kali ini ia benar-benar merasakan betapa sunyinya rumah tanpa Hannah.
Di luar, lampu rumah di seberang jalan menyala terang. Entah mengapa, tanpa sadar pandangan Romi sempat mengarah ke sana.
Ia buru-buru mengalihkan tatapannya.
"Apa sih yang aku pikirin..."
Baru saja ia kembali menyendok nasi, ponselnya bergetar pelan.
Satu pesan masuk.
Udah makan?
Romi menatap nama pengirimnya cukup lama. Jelita. Ia mengusap wajah pelan. Wanita itu benar-benar tidak pernah menyerah. Matanya kembali jatuh pada isi pesan tersebut.
Udah makan?
Hanya dua kata sederhana. Namun entah kenapa, dua kata itu terasa jauh lebih mengganggu daripada puluhan pesan pekerjaan yang memenuhi ponselnya setiap hari.
Ia meletakkan ponsel di atas meja tanpa membalas. Sendok kembali terangkat, tetapi baru beberapa suap, layar ponselnya kembali menyala.
Jangan bilang belum.
Romi mengembuskan napas pelan. Entah bagaimana, Jelita seperti hafal kebiasaannya. Ia akhirnya meraih ponsel. Jarinya sempat mengetik sesuatu.
Sudah.
Namun beberapa detik kemudian ia menghapusnya lagi.
Untuk apa dibalas?
Kalau ia terus membalas pesan-pesan seperti ini, cepat atau lambat Jelita akan menganggap dirinya punya tempat di hidupnya. Dan itu tidak boleh terjadi.
Beberapa menit berlalu. Kali ini tidak ada lagi pesan baru. Anehnya, keheningan itu membuat Romi beberapa kali melirik layar ponselnya sendiri.
Ia menggeleng pelan.
"Aku ini kenapa..."
Makan malam akhirnya selesai. Romi membereskan piringnya, mencuci peralatan makan, lalu membuat secangkir kopi hangat. Malam masih belum terlalu larut, tetapi ia sedang tidak ingin membuka laptop ataupun memeriksa pekerjaan kantor.
Ia memilih duduk di ruang keluarga. Dari tempat itu, jendela besar menghadap langsung ke rumah di seberang jalan. Lampunya masih menyala. Bayangan seseorang sesekali melintas di balik gorden tipis. Tanpa sadar, tatapan Romi bertahan beberapa saat hingga akhirnya ia mengembuskan napas pelan dan menutup tirai jendelanya sendiri.
"Ini gila."
Ia berusaha mengakhiri pikirannya tentang Jelita malam itu. Namun baru saja melangkah menuju kamar, ponselnya kembali bergetar. Bukan pesan, melainkan panggilan video dari Hannah.
Romi segera menerimanya.
Wajah Hannah langsung memenuhi layar dengan senyum yang selalu berhasil membuat rumah terasa lebih hangat.
"Mas, lagi ngapain?"
"Baru selesai makan."
"Sendirian pasti nggak enak ya?"
Romi tersenyum tipis.
"Ya... begitulah."
"Maaf ya."
"Nggak usah minta maaf."
Hannah menghela napas pelan.
"Aku juga nggak betah di sini. Rasanya pengin cepat pulang."
Romi menatap wajah istrinya beberapa saat. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap. Beberapa menit lalu pikirannya justru dipenuhi wanita lain. Sementara perempuan yang kini tersenyum di layar hanya sedang berusaha menjadi istri terbaik untuknya.
"Mas?"
"Hm?"
"Kok melamun?"
"Nggak."
"Capek ya?"
"Iya, dikit."
"Kalau gitu istirahat. Jangan begadang."
"Iya."
Setelah panggilan berakhir, rumah kembali sunyi. Romi berdiri beberapa saat di depan jendela ruang tamu. Entah sejak kapan pandangannya justru mengarah ke rumah di seberang jalan.
Lampu rumah itu masih menyala. Dari balik gorden tipis sesekali tampak bayangan seseorang melintas hingga tak lama kemudian pintunya terbuka. Jelita keluar membawa secangkir minuman hangat dan berdiri beberapa saat menikmati udara malam, seolah tidak memiliki beban apa pun.
Tatapan mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Jelita tidak melambaikan tangan. Tidak memanggil. Tidak pula menghampiri. Ia hanya mengangkat cangkirnya sedikit sambil tersenyum tipis, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Romi masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa, pemandangan sesederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin tidak tenang. Ia segera menutup tirai rapat-rapat, lalu berjalan menuju kamar.
"Cukup."
Ia mengambil ponselnya dari atas meja. Layar masih menampilkan percakapan terakhir dengan Jelita.
Udah makan?
Pesan itu belum juga ia balas.
Romi memandangi layar beberapa saat sebelum akhirnya mengunci kembali ponselnya. Ia meletakkannya di atas nakas, mematikan lampu kamar, lalu membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Lampu kamar sudah padam, tetapi matanya tak kunjung bisa terpejam. Yang terus terlintas bukan percakapannya dengan Jelita sore tadi, melainkan ucapan Hannah beberapa menit lalu.
Aku juga nggak betah di sini. Rasanya pengin cepat pulang.
Romi mengusap wajahnya pelan. Rasa bersalah itu kembali mengusiknya. Ia tahu Hannah tidak melakukan kesalahan apa pun. Wanita itu hanya sedang menjalankan pekerjaannya, lalu mengapa justru dirinya yang mulai goyah?
Ponsel di atas nakas kembali bergetar pelan. Romi sempat ragu untuk melihatnya.
Beberapa detik kemudian, ia tetap meraih ponselnya.
Satu pesan baru muncul.
Selamat istirahat, Mas. Semoga mimpi indah.
Pesan itu sesederhana biasanya. Tidak berisi rayuan ataupun ajakan, hanya ucapan selamat istirahat yang mungkin terdengar biasa bagi siapa pun. Namun bagi Romi, justru kesederhanaan itulah yang paling sulit diabaikan.
Romi tidak lagi membiarkannya tanpa jawaban. Jarinya bergerak pelan di atas layar.
Kamu juga.
Pesan itu terkirim.
Begitu pesan itu terkirim, Romi langsung mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di atas nakas, seolah dengan begitu ia bisa menghapus keputusan yang baru saja diambilnya.
Di seberang jalan, layar ponsel Jelita ikut menyala. Ia membaca balasan singkat itu berulang kali hingga tanpa sadar senyumnya kembali mengembang. Bukan karena merasa menang, melainkan karena malam ini Romi akhirnya memilih untuk tidak lagi diam. Hanya dua kata, tetapi bagi Jelita, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya percaya bahwa tembok yang selama ini dibangun pria itu perlahan mulai membuka celah.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐