Berawal dari menolong seorang laki-laki yang habis-habisan di hajar oleh ketiga preman. Maila juga harus bertemu kembali dengan laki-laki itu di sekolah barunya. Yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya sendiri, yang merupakan laki-laki populer di sekolah. Yang ternyata namanya adalah Larbi.
Bukan hanya itu. Larbi juga terus mengusik dirinya. Sehingga, membuat Maila sebal pada Larbi sendiri. Namun, tanpa mereka sadari. Pertemuan mereka ada hubungannya dengan masa lalu mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa.
Aku dan Lita beranjak hendak keluar dari gerbang sekolah untuk menuju warung bi Sumi yang terletak di depan gerbang sekolah.
"May!" panggil Lita padaku sambil menghentikan langkahnya.
"Apa?" tanyaku sambil memberhentikan langkahku juga dengan menoleh ke arahnya.
"Ada air minum aqua disana, kita kesana yuk! Sepertinya itu gratis, orang-orang pada mengambilnya loh, nggak pakai uang lagi." Lita menunjuk ke arah kak Adit yang merupakan anggota osis. Kak Adit sedang berdiri sambil memberikan sebuah minuman botol aqua dari dalam kardus kepada siswa yang memintanya.
"Ya udah, gue udah haus banget!" ucapku sedikit mengeluh. Kami pun beranjak menghampiri kak Adit yang sedang memberikan air minum aqua kepada siswa yang memintanya.
"Halo, kak Adit!" sapa Lita, kak Adit pun langsung menoleh ke arah kami dengan muka dinginnya, ia memang terlihat cuek dan dingin pada orang-orang. Ia mengambil dua air botol aqua dari dalam kardus dan memberikannya pada kami, dan sepertinya ia tahu niat kami kesini. Dan ia tidak mau basa basi terhadap orang di sekitarnya.
"Terima kasih, kak!" ucap kami berdua kepadanya, dan ia pun hanya mengangguk.
Aku membuka tutup botol air aqua yang ku pegang, dan langsung menekluknya karena sangat haus. Begitu pun dengan Lita.
Bugh!
"Arghhh!" keluhku, baju ku terasa basah karena air yang ku minum tiba-tiba tumpah karena terseggol seseorang.
"Aduh, basah lagi!" keluhku lagi sambil memandangi bajuku yang basah.
"Maaf ya, nggak sengaja!" ucap orang yang menyenggolku dan ku lihat ternyata orang yang menyenggolku adalah kak Zifa.
Ia mengerutkan keningnya ketika melihatku." Lo... Lo Maila, kan?" tanyanya, sementara aku bingung padanya. Kenapa ia bisa tahu jika aku Maila, padahal kami belum pernah berkenalan sebelumnya. Aku mengetahui kak Zifa ketika Rini menceritakannya ketika aku mengantarkannya ke MCK putri waktu itu, dan kak Zifa juga selalu menjadi petugas upacara ketika ucapara pada hari senin. Jadi aku tahu kak Zifa seperti apa. Dia cantik dan juga pintar.
"Iya," jawabku.
"Aduh maaf ya! Tadi nggak liat soalnya bawa barang ini terlalu berat jadi nggak pokus sama jalan," ucapnya sambil mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya, dan kelihatannya ia membawa kardus entah apa isinya.
"Iya nggak papa kok, kak!" ucapku.
"Lo kalo mau minum jangan berdiri dan sembarangan," ucap Lita padaku.
"Iya gue lupa, abisnya gue haus banget!" ucapku membalas ucapan Lita.
"Nih pakai tisu di lap bajunya, biar nggak terlalu basah," ucap kak Zifa padaku sambil memberikan sebuah tisue miliknya.
"Makasih, kak!" ucapku.
"Iya sama-sama. Kalo begitu gue kesana dulu mau naro ini barang," ucapnya sambil mengangkat kardus yang telah ia letakan di atas tanah. Dan kami pun mengangguk untuk mengiyakan. Aku mengelap bajuku dengan menggunakan tissue yang di berikan kak Zifa barusan.
"ANGGI!!!!"
Teriak seseorang tiba-tiba dengan nada yang keras memanggil nama kak Anggi, dan entah kenapa semua orang bergemuruh riuh berteriak.
"MINGGIRRR!!!" teriak seseorang dengan nada yang geram. Semua orang merasakan kepanikan Karena terdengar suara riuh sepeda motor.
"Ini kenapa sih kok riuh begini, orang-orang pada panik?" ucap Lita yang nampak bingung dan juga khawatir. Aku pun merasa bingung entah apa yang sedang terjadi.
"SEMUANYA!!! KELUAR DARI AULA SEKARANG JUGA!!! CARI TEMPAT YANG AMAN!!!" terdengar suara peringatan dengan menggunakan toa, dan dari suaranya sepertinya itu suara kak Anggi.
"Semuanya cari tempat yang aman!" ucap kak Adit sambil mengajak kami yang terlihat kepanikan.
"Ayo May, kita ikut kak Adit. Gue takut!" ucap Lita dengan memegang salah satu tanganku dengan wajah sangat panik dan ketakutan. Kami pun berlari mengikuti kak Adit.
"Rini gimana?" tanyaku.
"Nanti kita susul!" ucapnya.
Kami berlari menuju keluar gerbang sekolah, karena pengendara sepeda motor yang terdengar riuh tadi hanya memasuki aula, dari wajahnya mereka terlihat sangat geram. Dan mungkin mereka punya urusan sesuatu dengan seseorang yang berada di dalam aula. Aku memberhentikan langkahku yang tadinya berlari ketika aku melihat kak Jova berlari dengan menuntun seseorang, dan kelihatannya itu perempuan. Karena begitu penasaran aku melepaskan tangan Lita yang memegang tanganku, dan berlari mengikuti kak Jova.
"May! Lo mau kemana?" tanya Lita padaku, tapi aku tidak merespon pertanyaannya. Aku terus berlari untuk mengejar kak Jova dan perempuan yang ia tuntun entah mau kemana.
Ketika langkah kak Jova di perlambat, aku pun memperlambat langkahku. Dan ketika aku melihat jelas mereka, ternyata perempuan yang ia tuntun adalah kak Lexa. Aku melangkahkan kaki ku dengan mendepap-endap agar aku tidak ketahuan jika aku membututi mereka berdua.
Aku bersembunyi di sebuah pohon bunga pucuk merah untuk melihat mereka. Disini terlihat sangat sepi. Dan tiba-tiba saja ada tangan yang memegang pundakku, entah siapa yang memegangnya. Aku merasakan hawa dingin mendesir ke tubuhku, bahkan aku merasa sedikit merinding. Aku menoleh ke arah belakang untuk mengetahui siapa yang memegang pundakku, bahkan aku sampai menelan salivaku karena merasa takut. Dan saat di toleh... Aku menghela nafas dengan lega, kupikir siapa, ternyata dia. Siapa lagi kalau bukan si tawon menyebalkan Larbi.
"Lo apaan sih disini?" tanyaku dengan pelan sambil memukul pundaknya.
"Lo yang apaan disini?" ucapnya yang malah nanya balik padaku dengan suara pelannya. Tapi aku tidak merespon ucapannya, aku kembali melihat kak Jova dan juga kak Lexa. Mataku pokus terhadap mereka berdua. Dan, tiba-tiba saja kak Jova langsung memeluk kak Lexa. Aku terdiam, dan tidak percaya apa yang sudah ia lakukan.
"Untung lo nggak kenapa-kenapa," ucap kak Jova kepada kak Lexa yang terdengar olehku, dan mungkin terdengar oleh Larbi juga.
"Gue sayang banget sama lo Lexa," ucap lagi kak Jova, yang membuat mataku berkaca-kaca setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut kak Jova untuk kak Lexa.
"Iya gue juga sayang, dan gue juga cinta sama lo. Makasih udah nyelamatin gue," jawab kak Lexa. Aku tidak percaya ini, apakah aku tidak salah dengar, dan apakah aku tidak salah lihat?
Apakah kak Jova kali ini membohongiku lagi?
Aku tidak bisa membendung air mataku yang berkaca-kaca. Air mataku mengalir begitu saja membasahi pipi mulusku. Aku benar-benar kecewa pada kak Jova!!! Sangat kecewa. Tiba-tiba ada sebuah tangan membelai rambutku, dan ku toleh ternyata Larbi yang membelainya. Aku langsung menepis tangannya.
Aku langsung membalikan badanku kebelakang untuk beranjak keluar dari gerbang sekolah, dan menemui Lita dan Rini. Aku benar-benar tidak tahan melihat kebohongan kak Jova di depanku.
"Arghhh!!!" tiba-tiba saja kaki ku tersandung batu, tapi untung Larbi langsung menahan tubuhku yang hendak jatuh. Lantas kak Jova dan kak Lexa langsung menoleh ke arah kami, karena keluhku yang mungkin terdengar oleh mereka berdua. Kak Jova terlihat terdiam mematung melihatku. Aku menatap mereka dengan tatapan yang sedikit tajam.
"May!" gumamnya.
Aku langsung melepaskan tangan Larbi yang menahan tubuhku yang hampir saja terjatuh. Aku beranjak meninggalkan mereka dengan perasaan kecewa, bahkan aku sampai menangis tersedu-sedu. Dan nampak nya Larbi mengejarku dari belakang dengan memanggil namaku.
"May! Maila!" panggilnya.
Aku tidak peduli pada dia. Aku tetap berjalan menuju luar gerbang sekolah. Nampak nya sekolah mulai sepi, dan orang-orang sudah mulai pulang, hanya ada para osis disini yang sedang merapihkan dan membersihkan sekolah akibat perusuh pengendara sepeda motor tadi. Terlihat mobil Lita masih ada di parkiran, dan ku yakin mereka berdua pasti belum pulang dan sedang menungguku.
Karena aku tidak mau lagi bikin mereka khawatir lagi, seperti kemarin. Aku akan memberikan SMS pada Lita, bahwa aku sudah pulang terlebih dahulu. Aku mengambil ponselku yang berada di dalam tas selendang kecil milikku, aku mengetikan SMS padanya, dan langsung ku kirim padanya.
Setelah keluar dari gerbang sekolah, aku berjalan menelusuri jalan sepi. Entah aku tidak tahu mau kemana, dari tadi aku terus menangis, memeluk diriku sendiri karena hawa malam ini mulai terasa dingin.
"Kenapa sih? Kak Jova bohong lagi?" ucapku dengan lirih.
Terlihat cahaya senter motor menyilaukan dari arah belakang, dengan suara motor yang keras. Dan nampaknya motor tersebut menghampiriku.
"May! Maila, ayo naik!" ucap pengendara motor tersebut, dari suaranya terdengar seperti suara Larbi. Tapi aku tidak memperdulikannya dan tetap berjalan terus.
"Maila, ayo naik! Lo nggak boleh pulang sendirian di jalan sepi kayak gini!" ucapnya menahanku yang hendak ingin terus berjalan, setelah ia turun dari atas motornya.
"Maila!"
Aku menghentikan langkahku, dan menatap lirih padanya." Lepasin gue! Lo nggak usah peduli sama gue! Gue bisa pulang sendiri!" ucapku dengan nada yang membentak dan juga lirih.
"Lo nggak bisa pulang sendirian begini! Apalagi tempat ini sepi!" ucapnya.
"Gue mohon sama lo!" ucapku sambil mendorongnya agar jauh dariku.
"Pergi! Jauhi gue! Jangan peduliin gue! Gue pengen sendiri!" ucapku dengan suara yang membentak padanya. Aku pun melanjutkan langkahku untuk berjalan kembali tanpa memperdulikannya.
Aku sudah berjalan cukup jauh, di jalan yang sedang ku lewati sangat sepi. Dan tidak ada kendaraan yang lewat.
"Halo neng, cantik!" ucap seseorang tiba-tiba menghampiriku entah dari mana. Namun aku tetap melanjutkan langkahku untuk berjalan.
"Cuek banget sih, neng!" ucap teman dari orang menyapaku tadi.
"Ikut abang, yuk!" ucapnya sambil menoel jaketku. Aku merasa risih dengan sikap mereka.
"Mau apa kalian?" tanyaku. Sementara mereka berdua hanya tercengesan satu sama lain.
"Ikut abang, yuk!" ucap salah satu di antara mereka sambil menarik tanganku, namun aku langsung memberontak.
"Ayo ikut kami!" tegas temannya yang sama-sama menarik satu tanganku lagi.
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate.
Oh, jadi gitu. Syukurlah, ingatan kamu balik Larbi. Semoga, kalian bisa semakin dekat lagi, ya!🥰🥰
Benar! Cinta pasti akan ada coba dan uji. Tidak mungkin akan selalu mulus² saja. 👍🏻❤️
Tetap semangat ya Dek! Semoga, Allah selalu menjaga dan melindungi kamu serta membimbing kamu di mana dan kapanpun itu. Sehat terus! Aamiin!!
Sukses terus buat kamu, Dek!🥰👍🏻❤️
like😍
tetap semangat thor
ditunggu karya barunya💪
Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tetapkan! 🤧🤧