Persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun antara Moetia dan Manda diambang kehancuran karena kehadiran seorang pria bernama Bagas.
Manda yang sudah mencintai Bagas sejak kuliah tidak mengetahui jika Bagas adalah atasan Moetia di kantor nya.
Dan saat Moetia mulai jatuh hati pada Bagas, dia baru tahu bahwa sahabatnya juga mencintainya
Lalu siapakah yang dicintai Bagas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sekarang
Moetia sudah berada di depan pintu apartemen Bagas.
Keraguan kembali menyelimuti hati dan pikiran nya.
' Haruskah aku bertindak sejauh ini? tapi Manda membutuhkan Bagas! Bagaimana ini? ' batin Moetia berkecamuk
Bagas melihat dari jauh Moetia hanya berdiri memandangi handle pintu, tangannya sesekali ingin meraih handle pintu itu tapi dia menarik tangannya lagi.
' Menyerah lah sayang, kamu tidak seharusnya berkorban sebesar ini walaupun dia sahabat mu ' batin Bagas yang sangat menginginkan Moetia menyerah membujuknya membagi cintanya pada wanita lain.
Moetia menghela nafas nya dalam-dalam lalu membuka kode kunci dan membuka pintu apartemen.
Moetia masuk ke dalam.
Bagas yang melihat itu kembali menarik nafas nya panjang,
" Jangan menyesalinya Moetia " gumam Bagas lalu berjalan menuju ke arah apartemen nya.
Ketika Bagas masuk, Moetia sudah duduk di sofa ruang tamu.
Moetia menoleh ketika Bagas menutup pintu yang secara otomatis terkunci.
Bagas mendekati Moetia dan duduk disebelahnya.
" Apa yang kamu pikirkan tentang ku saat ini? " tanya Bagas
Moetia menggeleng kan kepalanya sekilas
" Entahlah, aku hanya berfikir mungkin saat ini kamu sedang sangat marah dan kesal padaku " jawab Moetia gugup
" Kamu tidak berpikir aku jahat, dan mencari kesempatan atas kesulitan mu? " tanya Bagas lagi
Moetia kembali menundukkan kepalanya, Bagas benar, memang itulah yang sedang Moetia pikirkan tentang Bagas.
Tapi di hatinya Moetia juga sadar telah menyakiti Bagas dengan memaksanya dan mendekatkan nya pada Manda.
Moetia menoleh lagi menatap Bagas
" Apa kamu akan membenci ku? " tanya Moetia
" Aku sangat mencintai mu " sahut Bagas dengan cepat
Moetia mulai kembali berkaca-kaca
" Aku memaksamu untuk menerima Manda, apakah kamu menganggap ku mempermainkan mu? " tanya Moetia
Bagas terdiam dan terus memandang Moetia yang mulai menangis.
" Apa dayaku Bagas? aku sangat mencintai mu tapi aku juga sangat menyayangi Manda, dia lebih dulu mengenalmu, lebih dulu menyukai mu, akulah orang yang seharusnya tidak ada diantara kalian " sesal Moetia
Kesabaran Bagas mulai sampai dibatas nya.
Bagas mencengkram kedua lengan Moetia, membuat Moetia terkejut
" Kamu pikir aku ini apa? kamu pikir aku bukan manusia yang tidak bisa menentukan hidup ku sendiri begitu? apa kamu kira karena aku mencintaimu maka aku harus menuruti semua keinginan mu yang jelas-jelas aku tahu itu hanya akan menyakiti kita berdua " kesal Bagas
Moetia menghentakkan tangan Bagas dan memeluknya
" Maaf kan aku " lirih Moetia sambil memeluk Bagas dengan erat
Bagas melepaskan pelukan Moetia dan menjauh darinya
" Pergilah Moetia, sebelum kesabaran ku habis " seru Bagas memperingatkan Moetia
Moetia menghapus air matanya dan berdiri
" Tidak! " tegas nya
Bagas juga ikut berdiri dan menarik tangan Moetia menuju ke dalam kamarnya.
" Kalau begitu, jangan menyesalinya! " seru Bagas
Moetia melihat Bagas sangat emosi, sebenarnya tubuhnya gemetar karena takut.
Tapi Moetia harus secepatnya membawa Bagas bertemu dengan Manda, jika tidak maka kemungkinan Manda tidak akan tertolong.
Bagas membuka pintu kamarnya dan menarik Moetia ke dalam.
Bagas lalu kembali menutup pintu itu dan menguncinya.
Bagas kembali menarik Moetia dan menghempaskan tubuh Moetia di atas tempat tidur.
' Bruk '
Moetia terjatuh cukup keras, Moetia melihat mata Bagas memerah.
' Apakah aku benar-benar tidak bisa mundur lagi ' batin Moetia ketakutan
Bagas melepaskan jas nya lalu melemparkannya ke sembarangan arah.
" Takut? " seru Bagas
Moetia menggelengkan kepalanya perlahan.
Bagas tidak berhenti disitu, dia mulai naik ke atas ranjang.
Moetia memejamkan matanya saat tangan Bagas menyentuh punggung tangan nya perlahan naik ke tangan dan perlahan menyentuh lembut terus hingga ke leher Moetia.
Seluruh tubuh Moetia gemetar, Moetia tidak berani membuka matanya.
Melihat Moetia terpejam Bagas menyuruhnya membuka matanya.
" Tatap aku Moetia " Seru Bagas
Moetia membuka matanya dan melihat mata Bagas yang sudah merah dengan nafas yang memburu mengenai wajah Moetia.
Jantung nya berdetak kencang, Moetia bahkan bisa merasakan panas nya nafas Bagas yang menerpa wajah dan lehernya.
Bagas perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Moetia.
Bagas mencium bibir Moetia sekilas, Moetia terlalu takut hingga kembali memejamkan matanya.
" Menyerah saja jika takut ! " seru Bagas
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya sekilas lalu membuka matanya kembali menatap mata Bagas.
Bagas mulai mencium bibir Moetia dengan lembut dan penuh perasaan, Moetia masih diam dan tidak membalasnya.
Bagas menghentikan aksinya lalu mengangkat tubuhnya menjauh.
" Sudahlah, aku tahu kamu tidak benar-benar menginginkan nya " seru Bagas.
Bagas berniat untuk turun dari ranjang tapi kemudian Moetia menarik tangannya.
" Maaf, aku hanya sedikit gugup " seru Moetia
Bagas kembali mencium bibir Moetia dengan mesra hingga Moetia merasakan denyutan di dada dan perutnya.
Satu tangan Bagas menahan tengkuk Moetia dan satu tangannya lagi menarik pinggang Moetia agar lebih dekat dengannya.
Beberapa saat kemudian Bagas melepaskan Moetia dan memandangnya.
Dia masih tak percaya wanita yang dicintainya mengorbankan apapun demi sahabat nya.
Moetia mengatur nafasnya yang tak beraturan dan menggenggam tangan nya di dada nya.
Seluruh tubuhnya benar-benar berdenyut dan gemetar.
Moetia merasa sangat tidak nyaman.
" Aku... " belum Moetia selesai bicara Bagas kembali menjatuhkan Moetia dan kembali berada di atas Moetia.
Bagas menggunakan siku tangannya untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih Moetia.
Bagas menatap Moetia dalam lalu mencium kening nya
" Menangis lah! dan aku akan mengakhiri nya sekarang juga " ucap Bagas dengan suara yang sudah sangat serak
Meski Bagas juga sudah terbakar api cinta tapi dia masih berusaha membuat Moetia menyerah.
Moetia sudah berkaca-kaca tapi sekuat tenaga dia menahan air matanya.
" Tidak, aku tidak akan menangis " sahut Moetia gugup
" Apa kamu tahu? akan sakit saat pertama kali. Sangat sakit Moetia " gertak Bagas
Moetia mulai memalingkan wajahnya ke samping, dia berfikir sejenak lalu kembali memandang Bagas.
" Maka lakukanlah dengan cepat " balas nya
" Apa kamu serius Moetia? " tanya Bagas lagi dan suara nya sudah bertambah berat dan serak
Moetia mengangguk dengan cepat.
" Katakan kamu mencintaiku " perintah Bagas sambil mengusap lembut pipi Moetia
" Aku mencintaimu Bagas " lirih Moetia
" Katakan kamu tidak ingin berpisah dariku " perintah Bagas lagi sambil mencium leher Moetia
" Aku... Ba... Bagas " lirih Moetia
Bagas mulai mencium dan menyusuri leher hingga bahu Moetia.
Moetia merasa jantungnya kembali berdetak kencang dan seperti mencelos begitu saja.
Ketika melihat Moetia yang tak berdaya, Bagas justru berhenti.
Bagas lalu duduk di sebelah Moetia sambil sesekali mengusap kepalanya gusar.
Moetia masih terdiam karena merasa ada sesuatu yang hilang.
Bagas menoleh ke Moetia sekilas.
" Tidak sekarang " seru Bagas datar
Moetia turun dari ranjang, Moetia masih tidak mengerti, jika Bagas tidak ingin melakukannya sekarang apakah artinya dia juga tidak akan menemui Manda.
" Rapikan pakaian dan riasan mu kita ke Jakarta sekarang " ucapnya kesal sambil mengambil kemeja lalu keluar sambil membanting pintu kamar dengan keras.
Moetia jatuh bersimpuh di lantai dan menangis sejadi-jadinya tapi dia menutup rapat mulutnya agar Bagas tidak mendengarnya.
Hatinya hancur, setelah ini hubungannya dengan Bagas pasti tak kan sama lagi seperti dulu.
Smga jg bagus sprti ke 3 novel yg sdh ak baca 😊
♥️
⭐⭐⭐⭐⭐