Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pentas Dendam di Atas Panggung Sandiwara
Suasana tenang di ruang kelas Sastra Teoretis mendadak pecah ketika Profesor Hermawan, dosen senior berkacamata tebal, menutup buku tebalnya dengan ketukan keras di atas meja. Pria paruh baya itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menatap para mahasiswanya yang tampak lesu bergulat dengan teori-teori teks kuno.
"Hari ini kita tidak akan menghabiskan waktu dengan meringkas bab," ujar Profesor Hermawan, membuat beberapa mahasiswa menegakkan posisi duduknya. "Kalian semua, rapikan buku kalian sekarang juga. Kita akan pindah ke ruang Teater Praktis di seberang. Saya sudah berdiskusi dengan Bu Sofia untuk menggabungkan kelas hari ini. Sastra tanpa visualisasi hanyalah kata-kata mati, dan hari ini kalian akan melihat bagaimana teks dihidupkan."
Kasak-kusuk langsung memenuhi ruangan. Di barisan paling belakang, Glen bergerak dengan tenang. Ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas tanpa terburu-buru. Di sebelahnya, Thone menyenggol lengannya dengan bersemangat. "Wah, gabung kelas Teater, Glen! Berarti kita bakal seruangan sama anak-anak Teater. Seru, nih."
Glen tidak menyahut. Ia hanya menyampirkan tasnya di satu bahu dan melangkah keluar kelas, mengikuti rombongan mahasiswa Sastra yang mulai menyeberangi koridor menuju ruang teater yang luas.
Ketika pintu ganda ruang teater dibuka, aroma lantai kayu yang dipoles dan ruang ber-AC yang dingin menyambut mereka. Mahasiswa kelas Teater, termasuk Melanie dan Diandra, tampak terkejut melihat kedatangan rombongan kelas Sastra yang mendadak. Ruangan itu memiliki sebuah panggung rendah di bagian tengah dengan dinding-dinding yang dilapisi cermin besar di sekelilingnya.
Bu Sofia, dosen Teater yang terkenal tegas dan perfeksionis, langsung mengambil alih kendali begitu semua mahasiswa duduk melingkar di tepi panggung. Ia memegang sebuah buku novel tipis bersampul merah darah yang tampak agak usang.
"Baik, karena kelas Sastra sudah bergabung, hari ini kita akan langsung masuk ke materi praktik adaptasi teks," suara Bu Sofia menggelegar, penuh wibawa. "Hari ini kita membahas bab tentang konflik puncak dari buku berjudul Mawar Pilihan Mama. Ini adalah dongeng tragedi tentang balas dendam dan cinta terlarang. Kisah tentang Danuel, seorang pria yang menyimpan kebencian mendalam pada belenggu keluarganya, dan Aira, gadis suci yang dipilih oleh ibu Danuel untuk menjadi pendampingnya. Danuel membenci Aira karena gadis itu adalah lambang dari segala hal yang merenggut kebebasannya."
Bu Sofia mengedarkan pandangannya yang tajam ke arah kerumunan mahasiswa Sastra, mencari sosok yang memiliki pembawaan yang tepat. Pandangannya langsung terkunci pada pria yang duduk tegak dengan aura dingin di sudut ruangan.
"Glen," panggil Bu Sofia tegas. "Kamu dari Sastra, tapi saya tahu aura dan ekspresimu selalu kuat. Maju ke panggung. Tunjukkan pada kami bagaimana pergerakan dan gestur seorang Danuel yang dipenuhi kebencian, namun harus tetap menahan diri di depan wanita yang dibencinya."
Thone menyenggol lengan Glen, sementara mahasiswi lain mulai berbisik-bisik antusias melihat Glen perlahan bangkit dan berjalan menuju tengah panggung. Langkah kaki Glen terdengar konstan di atas lantai kayu. Ketika ia berdiri di tengah ruangan, auranya mendadak berubah. Sisi eksentriknya yang suka mendalami peran fiksi langsung mengambil alih tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi acuh tak acuh, kini menajam, memancarkan aura kegelapan dan kebencian yang pekat persis seperti sosok Danuel yang terluka dan mendendam.
"Bagus sekali, tatapanmu sudah dapet, Glen," puji Bu Sofia puas. "Sekarang, Danuel membutuhkan seorang Aira untuk melengkapi adegan penolakan ini. Sebagai Danuel, saya bebaskan kamu untuk menunjuk salah satu siswi dari kelas Teater untuk menjadi lawan mainmu."
Glen tidak langsung bergerak. Ia berdiri diam di bawah sorotan lampu panggung, membiarkan keheningan mencekam menyelimuti ruangan sesaat. Perlahan, kepalanya berputar, mengedarkan pandangan dinginnya ke arah deretan mahasiswi Teater. Detik berikutnya, tangan kanan Glen terangkat. Jemarinya yang kokoh terarah lurus, menunjuk tepat ke satu titik.
Ke arah Melanie.
Melanie tersentak, matanya membelalak sempurna. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung, berharap ia salah lihat. "S-saya, Bu?"
"Ya, Melanie. Maju ke depan," titah Bu Sofia tanpa bantahan.
Jantung Melanie berdegup kencang karena panik. Ia menatap Diandra yang sama kagetnya. "Tapi Bu... saya belum pernah memperagakan karakter Aira di buku itu. Saya belum mendalami karakternya," Melanie mencoba menolak dengan halus, suaranya agak bergetar karena gugup.
"Tidak ada alasan, Melanie. Ini kelas praktik spontan, dan ini akan masuk ke dalam nilai harian kalian berdua. Anggap ini ujian mental. Cepat naik ke panggung," balas Bu Sofia mutlak.
Mendengar kata nilai, Melanie mendesah pasrah. Mau tidak mau, ia bangkit dari duduknya. Dengan langkah agak ragu, ia melangkah naik ke atas panggung rendah, berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Glen.
"Baik, skenarionya sederhana," Bu Sofia memberi instruksi dari tepi panggung. "Aira baru saja datang membawa mawar untuk Danuel sebagai tanda cintanya, namun Danuel yang membenci Aira harus menunjukkan penolakan fisik dan emosional yang kuat tanpa mengucapkan satu kata pun. Mulai!"
Atmosfer di atas panggung mendadak berubah menjadi sangat dingin. Melanie menarik napas dalam-dalam, mencoba memosisikan dirinya sebagai Aira yang ceria dan penuh cinta. Ia melangkah maju dua langkah mendekati Glen, menangkupkan kedua tangannya di depan dada seolah-olah sedang menyodorkan setangkai mawar tak kasatmata dengan senyuman tulus yang merekah di bibirnya.
Namun, senyuman Melanie mendadak membeku ketika ia menatap mata Glen.
Glen melangkah maju mendekatinya. Jarak di antara mereka terkikis drastis. Glen menunduk, menatap Melanie dari ketinggian tubuhnya. Di mata pria itu, tidak ada lagi kilatan ramah atau teatrikal jenaka dari perpustakaan kemarin. Yang ada hanyalah sepasang mata yang memancarkan rasa benci yang begitu pekat, begitu murni, dan begitu menusuk hingga membuat bulu kuduk Melanie merinding ketakutan.
Glen mencengkeram pergelangan tangan Melanie yang sedang menangkup. Cengkeramannya tidak sampai menyakiti, namun begitu kuat dan mengunci, menahan gerakan Melanie sepenuhnya. Wajah Glen mendekat, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Tatapan mata Glen seolah-olah ingin menguliti dan menghancurkan Melanie detik itu juga. Rahang Glen mengeras, dan napasnya yang hangat terasa memburu di kening Melanie, menyalurkan emosi kemarahan yang luar biasa nyata.
Melanie terpaku, tubuhnya gemetar secara alami. Rasa takut yang menjalar di dadanya bukanlah akting. Tatapan mata Glen terasa terlalu personal, seolah kebencian itu bukan ditujukan untuk karakter Aira, melainkan murni ditujukan untuk dirinya, Melanie. Ada kilat dendam masa lalu yang membara di balik manik hitam pria itu dengan sebuah rahasia gelap yang belum pernah Melanie ketahui.
"Luar biasa! Pertahankan intensitasnya!" seru Bu Sofia di latar belakang dengan nada takjub, mengira keduanya sedang melakukan improvisasi tingkat tinggi.
Di atas panggung, di bawah tatapan semua orang yang terpukau oleh akting mereka, hanya Melanie yang tahu bahwa saat ini ia sedang berhadapan dengan bahaya yang sesungguhnya. Di balik peran Danuel yang dimainkannya dengan sangat sempurna, Glen memang benar-benar sedang menyalurkan rasa benci yang nyata pada wanita di hadapannya.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...