Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda-tanda Baru
Beberapa minggu setelah kejadian yang mengguncang sumber air suci di lereng Gunung Lawu, kehidupan di desa mulai kembali pulih sepenuhnya seperti permukaan air yang kembali tenang setelah badai berlalu. Energi alamiah yang sebelumnya tidak stabil kini mengalir dengan lancar dan hangat, menyebar ke setiap sudut desa – dari akar pepohonan jati yang rindang hingga tanah subur yang menyuburkan tanaman rakyat. Daun-daun yang sempat menguning kini kembali hijau segar dan berkilau di bawah sinar matahari, sementara sumber air suci yang pernah keruh dan bergolak kini kembali jernih seperti kristal, mencerminkan langit biru yang luas di atasnya.
Rian, yang dulunya menjadi sumber masalah bagi desa, kini telah menemukan tempatnya dalam komunitas. Setiap pagi, ia bisa dilihat bersama Ki Ageng di halaman rumah tua tersebut, mengajar anak-anak desa tentang cara merasakan dan menghormati kekuatan alamiah yang ada di sekeliling mereka. Tangannya yang dulu digunakan untuk mengendalikan alat berbahaya kini dengan lembut membimbing tangan kecil anak-anak saat mereka mencoba menghubungkan diri dengan getaran alam. Wajahnya yang dulunya penuh dengan amarah dan keserakahan kini sering terpampang senyum hangat, terutama ketika melihat kemajuan peserta didiknya.
“Saat kamu merasakan energi dari tanah,” jelas Rian kepada sekelompok anak yang duduk berlingkar di bawah pohon beringin tua, “jangan coba untuk menarik atau memaksanya. Biarkan energi itu datang padamu dengan sendirinya, seperti aliran sungai yang tidak bisa dipaksa berbalik arah.”
Sore hari itu, matahari mulai miring ke arah barat, menebarkan warna jingga dan kemerahan yang indah di langit desa. Dinda dan Bara sedang duduk di teras rumah Ki Ageng, menyaksikan anak-anak yang sedang berlatih dengan penuh semangat. Siti dan Rama, dua anak muda yang menunjukkan potensi luar biasa, tampak sangat fokus – tubuh mereka sedikit membungkuk ke depan, tangan mereka terangkat perlahan ke arah atas seperti sedang menyentuh sesuatu yang tidak kasat mata.
“Lihat mereka, Bara,” ujar Dinda dengan senyum bangga yang tidak bisa disembunyikan, sambil mengangkat gelas teh hangat yang diberikan oleh ibu desa. “Dalam waktu singkat, kemampuan mereka berkembang dengan pesat. Siti bahkan sudah bisa merasakan perubahan energi sebelum fenomena itu benar-benar terjadi, dan Rama mampu mengarahkan energi kecil untuk membantu tanaman yang mulai layu kembali hidup.”
“Betul sekali,” jawab Bara sambil menyilangkan tangan di dadanya, matanya tetap terpaku pada anak-anak. “Tapi kita juga harus siapin mereka bahwa tugas ini bukan hanya tentang kekuatan atau kemampuan khusus. Lebih dari itu, ini tentang kesabaran, empati, dan tanggung jawab yang besar terhadap alam dan sesama makhluk hidup. Seperti yang kita pelajari dari Rian – kekuatan tanpa hati yang benar hanya akan membawa kehancuran.”
Tiba-tiba, Rama tiba-tiba berhenti dari posisi berlatihnya dan menutup matanya dengan erat. Alisnya terkunci rapat, menunjukkan ekspresi kesulitan seolah-olah sedang berusaha mendengar suara yang sangat jauh atau merasakan sesuatu yang sangat kuat. Tak butuh waktu lama, Siti juga segera merespon – tubuhnya sedikit menggigil dan matanya yang terbuka melihat langsung ke arah utara dengan wajah yang semakin khawatir.
“Pak Bara, Bu Dinda!” teriak Rama dengan cepat, membuka matanya dengan tatapan yang penuh kekaguman dan kekhawatiran. “Ada sesuatu yang tidak biasa – energi yang sangat kuat tapi benar-benar berbeda dari yang kita rasakan sebelumnya. Tidak seperti energi primordial yang kita kenal, ini lebih seperti getaran dari sesuatu yang baru lahir atau datang dari dimensi yang belum kita eksplorasi. Seolah-olah ada sesuatu yang datang dari jauh dan sangat ingin berkomunikasi dengan kita.”
Ki Ageng yang sebelumnya sedang duduk tenang sambil menikmati tehnya segera berdiri dengan gerakan yang cepat namun anggun. Ia berjalan ke arah anak-anak dan menutup matanya dengan lembut, kedua tangannya diletakkan di dadanya dalam posisi doa. Setelah beberapa saat yang tampak seperti berjam-jam lamanya, dia membuka matanya dengan ekspresi yang serius namun penuh rasa hormat.
“Kalian benar sekali, anak-anak yang baik hati,” ujar Ki Ageng dengan suara yang lembut namun memiliki kekuatan yang mampu membuat semua orang terdiam mendengarnya. “Saya juga merasakannya. Ada pesan yang datang dari komunitas pelindung energi primordial di wilayah Jakarta Barat – mereka adalah sekelompok orang yang telah bekerja sama dengan Divisi Perlindungan Energi Primordial selama bertahun-tahun. Mereka sedang menghadapi masalah yang tidak bisa mereka atasi sendiri – munculnya fenomena energi baru yang tidak dikenal, yang memiliki frekuensi yang sangat tinggi dan bisa mengganggu keseimbangan alami di seluruh pulau Jawa jika tidak segera ditangani.”
“Jadi kita harus kembali ke Jakarta lebih cepat dari yang kita rencanakan?” tanya Bara dengan wajah yang sudah siap menerima segala kemungkinan. Mereka awalnya berencana untuk tinggal di desa selama beberapa minggu lagi untuk melanjutkan pelatihan anak-anak, tapi jelas bahwa tugas baru telah menuntut mereka untuk bertindak segera.
“Tidak hanya itu, cucu,” jawab Ki Ageng sambil berjalan menuju kamar dalam rumahnya, kemudian kembali membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak tua namun terawat dengan baik. Kotak itu memiliki ukiran pola tradisional yang indah, dengan gambar Barong dan Rangda yang saling melengkapi. “Pesan yang mereka kirimkan juga menyebutkan bahwa ada seorang pemuda di sana yang memiliki kemampuan luar biasa – bahkan lebih kuat dari ketika Dinda pertama kali menemukan bakatnya di usia muda. Namun ia sedang kesulitan luar biasa dalam mengendalikan kekuatannya. Tanpa bimbingan yang tepat dan penuh kasih sayang, ia bisa saja menjadi ancaman besar bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.”
Dinda berdiri dengan cepat, matanya menyala dengan tekad yang kuat. Ia telah merasakan panggilan tugas ini sejak lama, bahkan sebelum Ki Ageng menyampaikannya. “Kita harus pergi sekarang juga. Jika ada seseorang yang sedang kesusahan dan tidak tahu bagaimana cara mengelola kemampuan yang dimilikinya, kita tidak bisa tinggal diam dan melihatnya tersesat seperti yang hampir terjadi pada Rian.”
“Sebelum kamu pergi,” ujar Ki Ageng dengan suara yang penuh kasih sayang, sambil membuka tutup kotak kayu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan rantai perak yang halus dan liontin batu permata berwarna hijau muda yang bersinar dengan cahaya lembut namun jelas. “Ini adalah Batu Pemersatu – sebuah pusaka yang diberikan kepada komunitas kita oleh leluhur kita yang pertama kali membangun hubungan dengan kekuatan primordial. Ia dibuat dari kristal alamiah yang ditemukan di dalam Gunung Lawu berabad-abad yang lalu, dan memiliki kemampuan khusus untuk membantu kamu menghubungkan diri dengan energi yang belum dikenal serta menjaga keseimbangan ketika kamu menghadapi hal yang tidak bisa kamu prediksi.”
Dinda menerima kalung dengan kedua tangan yang penuh rasa hormat. Saat ia mengenakannya di lehernya, ia merasakan getaran hangat yang mengalir perlahan dari lehernya ke seluruh tubuhnya – seperti mendapatkan pelukan hangat dari semua leluhur pelindung yang pernah ada dan berjuang untuk melindungi kekuatan alamiah. Batu itu mulai bersinar dengan lebih terang saat bersentuhan dengan kulitnya, seolah-olah mengenali bahwa ia telah menemukan pemilik yang tepat.
Esok paginya, sebelum matahari mulai muncul dari balik puncak Gunung Lawu, seluruh masyarakat desa sudah berkumpul di depan rumah Ki Ageng untuk mengirimkan doa dan energi dukungan kepada Dinda, Bara, dan juga Rian yang telah meminta untuk ikut bergabung dalam perjalanan ini. Rian mendekati mereka dengan langkah yang mantap dan wajah yang penuh rasa syukur.
“Bu Dinda, Pak Bara,” ujarnya dengan suara yang stabil dan penuh keyakinan, berbeda jauh dari sosoknya yang dulunya mudah marah dan tidak terkendali. “Saya tahu bahwa saya masih banyak yang harus pelajari, dan saya tidak akan pernah bisa membayar utang saya kepada desa dan semua orang yang telah memberikan saya kesempatan kedua. Tapi saya ingin membantu dengan cara yang benar. Saya juga ingin menunjukkan bahwa saya bisa menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi masalah yang harus diatasi.”
Dinda dan Bara saling melihat sebentar, kemudian keduanya tersenyum dengan bangga. Bara menginjakkan langkah ke depan dan memberikan sapaan bahu pada Rian. “Kita akan sangat senang memiliki kamu bersama kita, Rian. Kamu sudah belajar banyak hal dari kesalahan yang kamu lakukan, dan pengalamanmu bisa sangat berguna untuk membantu pemuda yang sedang kesulitan itu. Siapa tahu, kamu bisa menjadi orang yang paling mengerti apa yang dia rasakan.”
Setelah berbagi pelukan dengan Ki Ageng, ibu desa, dan seluruh anak-anak yang sudah seperti keluarga bagi mereka, mereka memasuki kendaraan khusus yang telah dimodifikasi untuk dapat menjangkau berbagai medan dengan aman dan cepat. Kendaraan itu dilengkapi dengan alat pemantau energi terbaru yang dikembangkan oleh Divisi Perlindungan Energi Primordial, yang dapat mendeteksi setiap perubahan frekuensi di sekitar mereka.
Saat mobil mulai bergerak perlahan menjauh dari desa, mereka melihat anak-anak desa sedang mengangkat tangan mereka ke arah langit – tangan kecil mereka terbuka lebar mengirimkan energi hangat dan penuh harapan yang akan selalu menemani mereka dalam perjalanan baru ini. Rian yang duduk di belakang jok mobil melihat ke belakang dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, namun segera mengangkat dagunya dengan rasa tekad yang baru.
Di jalan menuju Jakarta, pemandangan mulai berubah dari hamparan sawah hijau dan pepohonan rindang menjadi pemukiman yang semakin padat dan gedung-gedung yang semakin tinggi. Dinda menyentuh kalung di lehernya dengan lembut dan merasakan bahwa batu permata itu mulai bersinar sedikit lebih terang dari biasanya. Di kejauhan, langit Jakarta tampak lebih gelap dari biasanya, seolah-olah ada lapisan awan energi yang tidak kasat mata mengelilinginya – sebuah tanda jelas bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di kota tersebut.
“Aku merasa bahwa tantangan kali ini akan lebih besar dari sebelumnya, Bara,” ujar Dinda dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, matanya tetap terpaku pada jalan yang panjang di depannya. “Energinya benar-benar berbeda – lebih kompleks dan sulit dipahami daripada apa yang kita pernah hadapi.”
“Ya, mungkin begitu,” jawab Bara sambil menjaga fokus pada kemudi, namun sesekali melihat ke arah Dinda dengan pandangan yang penuh dukungan. “Tetapi kali ini kita tidak sendirian. Kita punya kamu dengan kekuatan Barong dan Rangda, aku dengan sistem teknologi yang telah kita kembangkan, Rian dengan pengalaman yang berharga, dukungan penuh dari desa, dan sekarang ada Batu Pemersatu yang akan membantu kita menghadapi hal yang tidak dikenal. Selain itu, siapa tahu – mungkin pemuda yang sedang kesusahan itu akan menjadi sahabat kita yang paling berharga dan sekutu terkuat dalam melindungi kekuatan alamiah di masa depan.”
Rian yang duduk di belakang mereka mengangguk dengan erat dan tersenyum perlahan. Ia sudah tidak lagi merasa kesepian atau tidak diterima seperti dulu. Ia tahu bahwa ia telah menemukan tempatnya dalam perjuangan besar ini – untuk melindungi kekuatan alamiah yang telah memberi kehidupan bagi mereka semua dan memastikan bahwa generasi mendatang bisa hidup berdampingan dengan alam dengan cara yang benar.
Ketika kendaraan mereka memasuki wilayah Jakarta Barat dan mulai mendekati markas Divisi Perlindungan Energi Primordial, energi yang berbeda dan kuat mulai terasa jelas bahkan oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan khusus. Dinda segera mulai mengatur napasnya dengan dalam dan fokus pada getaran lembut dari Batu Pemersatu di lehernya. Mereka semua tahu bahwa perjalanan baru mereka hanya saja dimulai – dan tantangan yang akan datang akan menguji batas kemampuan mereka semua serta mengubah cara mereka memahami kekuatan alamiah yang ada di dunia ini.