Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.panggung dunis
## BAB 23: Tarian Pembantaian di Panggung Dunia
Udara di dalam Colosseum Besi Odelia mendadak mendingin, berbanding terbalik dengan uap panas yang keluar dari pipa-pipa mekanis. Keheningan mencekam menyelimuti tribun penonton saat melihat Ren—murid warga biasa dari perbatasan—menahan tebasan sekuat tenaga milik pewaris tertinggi Ordo Perak hanya dengan satu tangan.
Leonidas menggeram, urat-urat di dahinya menegang saat ia mencoba menekan pedang besarnya ke bawah. Namun, bilah pedang besi Ren tetap tidak bergeming, terkunci kokoh oleh kekuatan fisik predator yang mutlak.
"Kekuatan macam apa ini...?" Leonidas berbisik panik, matanya terbelalak menatap sepasang mata crimson Ren yang menyala di balik poni rambut perak abu-abunya.
"Kau terlalu sibuk mengagumi cahayamu sendiri, Leonidas, sampai lupa bahwa cahaya yang terlalu terang selalu menciptakan bayangan yang pekat," ucap Ren datar.
* dangerous smirk* dingin terukir di wajah tampannya. Bersamaan dengan itu, tato di lengan bawah Ren bersinar merah menyala di balik kain seragamnya.
*Dug!*
Jantung Ren berdenyut kencang, mengaktifkan bentuk ketiga dari *Blood-Forged Style: Crimson Ripple*.
*ANGGG!*
Sebuah getaran frekuensi darah bertekanan tinggi dialirkan Ren melalui bilah pedang standarnya. Getaran itu merambat secepat kilat menembus pedang emas Leonidas, menghancurkan struktur pertahanan *Holy Mana Breath* miliknya dari dalam.
"Ugh!" Leonidas terpekik saat merasakan tangannya mendadak mati rasa, membuat genggaman kuatnya pada gagang *greatsword* terlepas begitu saja. Senjata emas kebanggaannya itu berputar di udara sebelum akhirnya jatuh tertancap di pelat titanium arena.
### Eksekusi sang Matahari Perak
Tanpa senjata, seluruh keagungan Leonidas runtuh. Insting bertarungnya berteriak untuk mundur, namun Ren tidak memberinya celah sedikit pun.
Menggunakan akselerasi penuh *Blood-Stride*, Ren bergerak maju seperti bayangan hitam yang melintas di siang hari. Ia muncul tepat di ruang pribadi Leonidas.
*TAK! TAK! CRASH!*
Dengan kecepatan kalkulatif yang mengerikan, Ren melayangkan serangkaian serangan menggunakan kombinasi bilah dan gagang pedangnya. Hantaman pertama menghantam sendi bahu kanan Leonidas, mematahkan tumpuan lengannya. Hantaman kedua menghantam lututnya, memaksa ksatria agung itu jatuh berlutut di depan kaki Ren.
Dan serangan terakhir—sebuah tebasan horizontal yang bersih—merobek pelindung leher zirah perak murni Leonidas hingga memercikkan cairan merah pekat ke udara.
"Ughaaaa!" Leonidas mengerang kesakitan, memegangi lehernya yang mengalirkan darah segar. Ia mendongak dengan tatapan penuh keputusasaan dan ketakutan yang mendalam, menatap Ren yang berdiri tegak di atasnya.
Di bawah pencahayaan lampu arena yang dramatis, satu mata merah Ren berkilat intens seutuhnya. Guratan energi streaks merah yang sangat tajam memotong wajah tampannya, memancarkan aura predator malam yang siap melahap mangsanya.
Ren mengangkat pedangnya, ujung bilah besi itu mengarah tepat ke tengah dahi Leonidas yang bersimbah peluh dan darah.
"Kembalilah ke tanah bersama kehormatan palsumu," bisik Ren, suaranya begitu halus namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
**"Hahaha! Habisi dia, Ren! Biarkan seluruh dunia melihat runtuhnya matahari mereka!"** Crimson berseru liar di dalam kepala Ren, siap menyerap esensi kehidupan murni yang meluap dari tubuh sang ksatria Elisia.
*SHIIING!*
Sebelum Ren menurunkan tebasan terakhirnya untuk menembus kepala Leonidas, Master Vargas dan perwakilan wasit tertinggi dari tribun VIP melompat turun ke arena secara bersamaan, melepaskan dinding pembatas Mana raksasa untuk menghentikan pertandingan.
"Cukup! Pertandingan selesai!" teriak wasit tertinggi dengan wajah pucat pasi. "Pemenang babak final tingkat satu, sekaligus Juara Mutlak Turnamen Lima Juru Pedang Global... Ren dari Kekaisaran!"
Gemuruh sorakan yang luar biasa dahsyat langsung meledak dari tribun faksi bawah Kekaisaran. Mereka melompat, saling berpelukan, dan meneriakkan nama Ren bagai dewa baru mereka. Faksi warga biasa telah resmi berdiri di puncak tertinggi dunia.
Ren menarik kembali pedangnya dengan gerakan lambat dan elegan, lalu menyarungkannya tanpa memedulikan Leonidas yang pingsan karena syok di belakangnya. Ia menoleh ke arah tribun VIP, menatap para diplomat global dengan *smug* dingin yang mematikan.
Hari ini, turnamen telah berakhir. Namun, bagi sang **Blood Sword Master**, perang yang sesungguhnya melawan seluruh tatanan benua... baru saja dimulai.