Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BERDARAH Dari DESA LUMPUR
WUSH~
Sirkulasi Qi di dalam paviliun kayu itu mendadak berhenti dengan sentakan halus. Zei membuka sepasang matanya yang kini memancarkan kilau kecokelatan yang pekat dan jernih. Di bawah permukaan kulit jubah raminya, samar-samar terlihat gumpalan cahaya berbentuk urat kuarsa yang mengeras sebelum akhirnya menyusut masuk ke dalam pori-pori dagingnya.
Hanya dalam waktu semalam, berkat pasokan batu spiritual tingkat menengah dari Xuan Yuan, Zei berhasil menembus tahap awal Transformasi Kulit Kuarsa. Kini, kekuatan fisiknya telah naik kelas; ia bisa merasakan kerapatan molekul kulit luar tubuhnya mampu menahan sabetan belati biasa tanpa perlu memicu jubah energi aktif yang membuang-buang energi spiritual.
Di kamar sebelah, aroma kesegaran daun muda tercium samar—tanda bahwa A-Lang juga tengah mengalami kemajuan pesat dalam memurnikan esensi elemen kayu ular di dalam tubuhnya.
Namun, kedamaian fajar itu runtuh dalam sekejap ketika pintu paviliun dihantam terbuka secara kasar. Lin Xiao melangkah masuk dengan napas yang terengah-engah. Wajah wanita muda yang biasanya tenang dan berwibawa itu kini pucat pasi, sementara kedua tangannya gemetar hebat saat mencengkeram selembar perkamen kulit berlogo resmi mahkamah Ibu Kota Wilayah.
"Pahlawan Zei... A-Lang... kalian harus melihat ini," suara Lin Xiao tercekat di tenggorokan.
Zei bangkit berdiri, firasat buruk seketika mencengkeram dadanya. "Ada apa, Nona Lin? Apakah ada kabar tentang Tetua Gu?"
Lin Xiao menggeleng lemah, air mata keprihatinan mengambang di sudut matanya. "Bukan... ini tentang desa kalian. Desa Danau Keruh."
Mendengar nama desa mereka disebut, A-Lang langsung keluar dari kamarnya dengan wajah tegang. Lin Xiao perlahan membentangkan perkamen buronan resmi tersebut di atas meja kayu. Di bagian atas perkamen, lukisan wajah Zei terpampang sangat besar dan jelas, namun yang membuat darah Zei seketika mendidih adalah deretan tulisan maklumat di bawahnya:
"DIBURU: Zei, murid sesat berdarah dingin dari wilayah perbatasan. Telah melakukan pembantaian massal terhadap seluruh penduduk Desa Danau Keruh demi merebut pusaka gaib bumi purba, lalu melarikan diri ke dalam Hutan Kematian. Hadiah bagi yang menyerahkan kepalanya: 50.000 koin emas atau posisi murid inti di Sekte Taring Emas."
"Apa... apa maksud semua ini?!" A-Lang menjerit histeris, merebut kertas itu dengan mata membelalak. "Membantai desa?! Kita melarikan diri untuk menyelamatkan diri! Bagaimana mungkin?!"
Lin Xiao menundukkan kepalanya, suaranya bergetar menahan amarah. "Informan bawah tanahku baru saja mengonfirmasi kebenaran pahit dari wilayah luar. Dua hari setelah kalian lolos dari kepungan di kota kecamatan, Sekte Taring Besi—dengan dukungan dana dan pasukan bayaran rahasia dari Sekte Taring Emas—telah meratakan Desa Danau Keruh dengan tanah. Mereka membantai seluruh penduduk... tidak ada yang tersisa. Para tetua desa, wanita, anak-anak... semuanya dibunuh untuk melenyapkan saksi mata atas perebutan tanah kuno itu. Dan mereka... mereka melemparkan semua kesalahan itu kepadamu, Zei."
DEG!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Zei. Bayangan wajah ramah para tetangga desa yang dulunya sering berbagi singkong bakar, tawa anak-anak kecil yang bermain di pinggir sawah lumpur, serta gubuk tua tempat ia tumbuh besar, seketika melintas di benaknya. Semuanya... musnah. Dan yang paling kejam, nyawa mereka semua direnggut dengan menggunakan namanya sebagai alasan penumpahan darah tersebut.
"Ugh... AAAAAARRRRRGGGGHH!"
Kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya meledak dari dalam dantian Zei. Qi bumi emas-kecokelatan di dalam tubuhnya bergolak liar seperti gunung berapi yang meletus.
BLAARRR!
Tekanan gravitasi di dalam paviliun mendadak melonjak drastis hingga melampaui batas wajar. Lantai kayu di bawah kaki Zei seketika hancur lebur menjadi serpihan debu. Pilar-pilar batu penyangga halaman paviliun mulai retak hebat, memicu getaran gempa kecil yang meruntuhkan genting-genting tanah liat di atas mereka.
A-Lang jatuh terduduk sambil menangis meraung-raung, mencengkeram dadanya yang sesak akibat duka dan tekanan aura Zei. Sementara Lin Xiao terpaksa melompat mundur hingga ke halaman luar, napasnya memburu karena tidak kuat menahan beratnya atmosfer amarah yang dipancarkan oleh pemuda desa tersebut.
"Sekte Taring Besi... Sekte Taring Emas..." desis Zei, suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan gemuruh batu gunung yang saling bergesekan di dalam jurang. Matanya memerah darah, urat-urat di pelipisnya menonjol parah, siap meledakkan seluruh paviliun tersebut.
Tepat saat kesadarannya nyaris tenggelam oleh amarah buta, sebuah rasa dingin yang amat murni mendadak merembes dari pinggangnya, menjalar cepat menuju jantung dan otaknya. Itu adalah hawa es murni dari selendang sutra putih Qian Yue’er yang terlilit di balik jubahnya. Sensasi dingin instan itu bertindak bagai siraman air es di tengah kobaran api, memaksa batin Zei untuk menarik kembali auranya yang mengamuk sebelum memicu perhatian pasukan patroli inti Ibu Kota.
Zei menarik napas dalam-dalam secara berulang-ulang. Perlahan, getaran di paviliun mereda. Namun, ketika Zei mengangkat kepalanya kembali, warna merah di matanya telah hilang, digantikan oleh tatapan mata yang sangat datar, kosong, dan sedingin es sejati. Kegilaannya telah bertransformasi menjadi tekad pembunuhan yang absolut.
"Mereka ingin aku menjadi iblis pembantai?" suara Zei kini terdengar sangat pelan, namun sarat akan kengerian yang mencekat leher. "Maka aku akan menjadi iblis sesungguhnya yang akan meremukkan setiap jengkal tulang mereka."
Lin Xiao yang baru berani mendekat kembali menatap Zei dengan pandangan ngeri sekaligus iba. "Zei... jika kau ingin membalas dendam, malam ini ada sebuah kesempatan. Jaringan dagangku mendapat info bahwa Sekte Taring Emas akan mengadakan lelang logistik rahasia di wilayah Pasar Gelap distrik bawah tanah malam ini. Salah satu barang yang akan mereka lelang adalah barang-barang jarahan dan tanaman obat langka yang mereka sita dari desamu."
Zei mengepalkan tangannya yang terbungkus Sarung Tangan Penghancur Gunung hingga mengeluarkan suara derit besi yang mengerikan. "Jam berapa lelang itu dimulai, Nona Lin?"
"Tengah malam nanti, di Aula Tengkorak Hitam," jawab Lin Xiao serius. "Tapi tempat itu sangat berbahaya. Penjagaannya ketat dan dipenuhi kultivator kejam."
Zei berbalik, mengambil sebuah jubah panjang hitam legam bertudung longgar dari atas ranjang, lalu menyampirkannya ke tubuhnya. Tudung besar itu seketika menyembunyikan wajahnya di balik kegelapan bayangan, sementara lengan bajunya yang lebar menutupi kilau sarung tangan besi hitamnya.
A-Lang bangkit berdiri, menghapus air matanya dengan kasar, lalu menggenggam sebilah belati tanaman obat beracun dengan tatapan yang sama dinginnya. "Aku ikut denganmu, Zei. Darah harus dibayar dengan darah."
Zei menatap sahabatnya, lalu mengangguk pelan. Keduanya melangkah keluar dari paviliun yang telah retak tersebut, menyongsong kegelapan malam Ibu Kota Wilayah yang mulai turun. Sekte Taring Emas mengira mereka telah berhasil memfitnah seorang kutu busuk dari desa lumpur, tanpa menyadari bahwa ketamakan mereka justru telah membangunkan sesosok monster bumi yang akan meruntuhkan seluruh fondasi kekuasaan mereka dari bawah tanah.