Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Ditengah Malam
Malam itu, langit tidak berbintang. Awan kelabu menutupi seluruh cakrawala, membuat suasana terasa lebih suram dari biasanya.
Angin malam bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di halaman rumah megah itu, seolah alam ikut merasakan kegelapan yang bersemayam di dalamnya.
Alya sudah berada di kamar sejak pukul delapan. Ia tidak menunggu Reza pulang—ia sudah tidak pernah menunggu lagi setelah malam itu. Sekarang ia lebih cepat memejamkan mata secepat mungkin.
Bukan karena ia benar-benar bisa tidur. Tapi karena dengan memejamkan mata, ia tidak perlu melihat dunia yang kejam ini untuk sementara waktu.
Tubuhnya masih terasa sakit. Memar-memar di sekujur tubuhnya perlahan berubah warna—dari ungu kebiruan menjadi kehijauan, tanda bahwa tubuhnya berusaha menyembuhkan diri. Tapi lukanya belum sembuh. Mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Alya mengenakan kaus panjang berwarna abu-abu tua yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Celana panjang kain katun yang longgar.
Ia sengaja memilih pakaian yang menutupi semua bekas kekerasan itu, meskipun tidak ada yang melihat. Hanya untuk membuat dirinya merasa sedikit lebih aman. Sedikit lebih terlindungi.
Ia berbaring miring menghadap dinding, selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Matanya terpejam, tapi pikirannya masih terjaga. Seperti biasa.
Ia sudah terbiasa terjaga di malam hari, mendengar suara-suara kecil di dalam rumah yang sunyi, menunggu rasa kantuk datang dengan sendirinya.
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit, suara mobil terdengar memasuki garasi.
Alya mendengar pintu terbuka. Langkah kaki berat di lantai marmer. Suara Reza yang terdengar lelah—bukan lelah karena mabuk seperti malam itu, tapi lelah karena hari yang panjang.
Alya bisa membedakannya sekarang. Suara langkah yang sempoyongan karena alkohol berbeda dengan langkah yang berat karena kelelahan.
Langkah kaki itu menaiki tangga. Satu per satu. Semakin dekat. Semakin dekat.
Jantung Alya mulai berdetak lebih cepat. Tangannya secara naluriah menggenggam erat ujung selimut. Ia berharap Reza akan berbelok ke ruang kerja seperti biasa.
Seperti yang selalu ia lakukan. Masuk ke rumah, langsung menuju ruang kerja di ujung lorong, dan tidak muncul sampai pagi.
Tapi malam ini berbeda.
Langkah kaki itu terus berjalan menyusuri lorong. Melewati pintu ruang kerja. Melewati kamar mandi. Dan berhenti tepat di depan pintu kamar utama.
Apa yang dia lakukan? pikir Alya, jantungnya berdebar semakin kencang. Kenapa dia ke sini?
Suara gagang pintu diputar. Pikirannya kalut, tidak tau mau melakukan apa, ia terlalu lelah dan pikirannya terlalu kacau setelah seharian merencanakan pendaftaran kuliah. Sebuah kesalahan fatal yang kini membuat tubuhnya membeku ketakutan.
Pintu terbuka perlahan. Cahaya dari lorong masuk menerobos kegelapan kamar, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Sosok Reza berdiri di ambang pintu, siluetnya terlihat jelas di balik cahaya dari belakang.
Alya memejamkan mata sekencang-kencangnya. Ia mengatur napasnya, berusaha membuatnya terdengar teratur dan dalam—seperti orang yang sedang tidur nyenyak.
Selimutnya ia tarik sedikit lebih tinggi, menutupi sebagian wajahnya. Berpura-pura tidur adalah satu-satunya pertahanan yang ia miliki malam ini.
Reza masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya terdengar pelan di lantai, berbeda dengan biasanya yang tegas dan penuh otoritas.
Malam ini ia berjalan seperti orang yang kehabisan energi. Seperti orang yang terlalu lelah untuk menjadi dirinya yang biasa.
Alya mendengar suara jas yang dilepaskan dan digantung di hanger. Suara dasi yang ditaruh di atas meja rias. Suara kemeja yang dibuka, satu per satu kancingnya. Suara tubuh yang jatuh ke sofa di sudut kamar, diikuti dengan helaan napas panjang yang berat.
Biasanya, setelah ini Reza akan pergi. Tapi malam ini, Alya mendengar suara tubuh bangkit dari sofa. Langkah kaki mendekati ranjang. Sisi ranjang di belakang Alya terasa menekan ke bawah—ada beban yang baru saja naik ke atasnya.
Reza tidur di ranjang yang sama dengannya.
Jantung Alya berhenti sejenak. Tubuhnya kaku, tidak berani bergerak sedikit pun. Ia menahan napas, takut perubahan ritme pernapasannya akan membuat Reza sadar bahwa ia masih terjaga. Selimutnya ia cengkeram erat-erat, seolah itu adalah tameng terakhir yang melindunginya dari pria di belakangnya.
Ia mendengar suara tubuh Reza yang membaringkan diri di sisi ranjang yang kosong. Matras bergetar pelan. Kemudian keheningan.
Detik demi detik berlalu. Setiap detik terasa seperti abad bagi Alya. Ia menunggu—menunggu gerakan, menunggu sentuhan, menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi lagi seperti malam itu.
Tubuhnya sudah siap untuk melawan, meskipun ia tahu ia tidak akan sanggup. Tangannya sudah menggenggam bantal di samping kepalanya, berencana akan menggunakannya untuk memukul jika diperlukan.
Tapi tidak ada yang terjadi.
Reza hanya berbaring di sampingnya. Tidak bergerak. Tidak menyentuh. Hanya berbaring di sana dengan napas yang berat dan teratur.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Alya mulai sedikit melonggarkan cengkeramannya pada selimut. Mungkin Reza benar-benar hanya ingin tidur. Mungkin ia terlalu lelah untuk melakukan apa pun.
Lalu suara Reza memecah keheningan.
"Alya... kau sudah tidur?"
Suaranya pelan. Hampir berbisik. Tidak seperti biasanya yang selalu tegas dan dingin. Kali ini terdengar... lembut? Tidak. Bukan lembut. Lelah. Itu kata yang tepat. Suara seorang pria yang kelelahan secara fisik dan mental.
Alya tidak menjawab. Ia mempertahankan napasnya yang teratur, matanya tetap terpejam rapat. Ia memutuskan untuk terus berpura-pura tidur. Itu yang paling aman.
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Beberapa detik berlalu.
"Mungkin sudah tidur," gumam Reza pada dirinya sendiri.
Alya mendengar suara tubuhnya yang berbalik, kini menghadap ke langit-langit. Napasnya terdengar dalam, seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang berat.
"Aku... minta maaf."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti bisikan yang tidak ditujukan pada siapa pun. Seperti monolog seorang pria yang sedang berbicara pada kegelapan.
Alya terkejut. Ia hampir membuka matanya, tapi berhasil menahan diri. Maaf? Reza meminta maaf? Pria yang semalam menghancurkannya tanpa ampun itu kini meminta maaf?
Reza terdiam sejenak. Alya bisa mendengar helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya. Lalu pria itu mulai berbicara lagi—bukan pada Alya, tapi pada dirinya sendiri. Seperti orang yang sedang melampiaskan semua yang tertahan di dalam dadanya.
"Aku capek, Alya," ucapnya dengan suara yang parau. "Bukan capek fisik aja. Tapi capek... semuanya."
Ia berhenti. Alya bisa mendengar suara tangannya menyentuh wajahnya sendiri, mengusap sesuatu. Mungkin keringat. Mungkin air mata. Alya tidak tahu.
"Meeting tadi berat banget. Proyek senilai dua puluh miliar, kliennya minta revisi terus. Dua kali aku presentasi, dua kali ditolak. Anak buahku pada panik, aku yang harus tenang di depan mereka. Tersenyum. Meyakinkan mereka bahwa semuanya baik-baik saja."
Suaranya bergetar di akhir kalimat. Ada sesuatu yang pecah di sana. Sesuatu yang selama ini mungkin ia tahan.
"Tapi aku lelah, Al. Aku lelah jadi orang kuat terus. Aku lelah pulang ke rumah yang... yang tidak ada siapa-siapa."
Keheningan. Alya bisa mendengar napas Reza yang tidak stabil.
"Aku dulu punya mimpi," lanjut Reza, suaranya semakin lirih. "Aku dulu membayangkan kalau aku nikah, aku akan pulang ke rumah yang hangat. Ada istri yang aku cintai menungguku. Mungkin dia sudah menyiapkan teh hangat, atau makanan kesukaanku. Aku bisa cerita tentang hariku yang berat, dan dia akan mendengarkan. Mengerti. Memelukku."
Alya merasakan ranjang bergetar pelan. Mungkin Reza menggelengkan kepalanya.
"Tapi lihat aku sekarang. Pulang ke rumah besar, sunyi, dingin. Istriku tidur dengan punggung menghadapku. Bahkan aku tidak tahu apakah dia takut padaku atau membenciku. Mungkin dua-duanya. Dan aku tidak bisa menyalahkannya."
Alya menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya. Bukan simpati. Tapi ada rasa... aneh. Campuran antara sakit hati dan sesuatu yang tidak bisa ia namakan.
Reza menarik napas panjang.
"Aku tahu ini semua salahku. Aku yang memilih jalan ini. Aku yang setuju menikahi kamu, padahal... padahal aku tahu aku tidak mencintaimu."
jangan lupa mampir yaa🤭