Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sincerity
Daniel dan Lena merencanakan resepsi penikahan yang sederhana dan tertutup. Mereka tidak ingin menarik banyak perhatian terutama media massa. Biar bagaimana pun, Daniel adalah anak bungsu dari keluarga konglomerat Alvaro yang dikenal cukup berpengaruh di dunia bisnis internasional. Setiap informasi yang keluar dari keluarga itu sudah pasti akan bahan perbincangan masyarakat.
Hanya saja, Daniel berbeda dengan Elden. Daniel merupakan satu-satunya bagian dari keluarga Alvaro yang tidak terpapar media karena sejak Daniel kecil, Elden sudah merencanakan banyak hal untuk melindungi adik satu-satunya itu.
Alih-alih sibuk mengurusi pernikahan, Daniel dan Lena justru terlihat begitu santai dalam seminggu persiapan pernikahan itu. Semuanya sudah diatur oleh Erie dan juga Elden. Elden bahkan mengerahkan hampir seluruh anggota organisasi yang ia miliki guna menyisir tempat-tempat krusial sehingga kelak, saat hari sakral tersebut terjadi, tidak ada hal-hal buruk yang akan menimpa mereka.
Berbeda dengan sang suami yang lebih mengutamakan persoalan keamanan dan kenyamanan di acara resepsi, Erie lebih memfokuskan pada pernak pernik pernikahan dan konsep pernikahan (termasuk dekorasinya) serta busana pengantin. Sementara Margareth —pelayan rumah mereka di New York— cenderung mengurusi masalah konsumsi.
Tina juga datang ke New York untuk membantu persiapan. Erie memanggilnya tepat sehari setelah perempuan itu tiba di kota tersebut. Tidak hanya Tina, beberapa pegawainya pun turut serta dalam persiapan pernikahan ini. Akibatnya, butik Erie harus ditutup selama hampir seminggu.
“Nyonya, sepertinya penutup kepalanya terlalu panjang,” ucap Tina saat memasangkan kain penutup kepala ke atas kepala maneken.
“Benarkah?” sahut Erie sambil melepaskan bagian bawah gaun pengantin yang akan dikenakan oleh Lena. Perempuan itu beranjak ke arah Tina kemudian memperhatikan kain penutup kepala yang disebutkan oleh asistennya itu. “Wah, untung saja kau memeriksanya. Kalau tidak, ini akan gawat,” sambungnya.
Sambil mengangkat kain itu dari kepala maneken, Erie berbicara lagi. “Tolong ambilkan pita ukurnya kemari,” perintahnya pada Tina sementara ia sendiri tengah berjalan ke arah meja sembari memegang kain itu dengan sangat hati-hati.
Kain yang Erie gunakan untuk membuat penutup kepala itu terbuat dari bahan tulle, bahan yang sama dengan penutup kepala yang Erie gunakan dulu, saat ia melangsungkan pernikahan dengan Elden. Meskipun bagus untuk digunakan, sayangnya bahan itu merupakan bahan yang sangat rentan sobek sehingga perlu kehati-hatian yang tinggi dalam membawanya.
Erie bisa mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Perempuan itu menoleh dan melihat Tina membawa pita ukur sekaligus pensil dan juga gunting. “Terima kasih, Tina,” ucap Erie seraya mengambil benda-benda itu dari tangan Tina.
“Nyonya, lima hari yang lalu, bi—ah, maksud saya Nona Eduard datang ke butik,” kata Tina yang nyaris salah menyebutkan posisi bibi angkat Erie itu. Padahal kalimat ‘bibi Nyonya’ sudah ada di ujung lidahnya. Sungguh beruntung ia cukup cekatan hingga dengan cepat bisa meralat ucapannya.
Mendengar nama bibinya disebut, kening Erie mendadak berkerut. “Aunty Betty? Kenapa dia ke butik?” kata Erie sambil mengerjakan pekerjaannya di atas meja itu.
“Nona Eduard mengambil beberapa pakaian anak-anak yang tahun lalu tidak terjual di butik, Nyonya. Bukankah beliau sudah meminta izin pada Anda?” jawab Tina.
“Oh, masalah itu,” ujar Erie. Ia mengangguk. “Iya, Aunty sudah mengatakan akan meminta baju-baju itu kepadaku, tapi aku tidak menyangka akan secepat itu. Apa ada yang dia sampaikan padamu?”
Tina menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, Nyonya.”
“Lalu, apa dia tidak bilang akan diapakan pakaian anak-anak itu?” lanjut Erie bertanya.
“Katanya untuk disumbangkan ke panti asuhan.” Tina memberi tahu. “Kalau tidak salah namanya Panti Asuhan Hati.”
Tangan Erie berhenti bergerak dan ia mengernyit. Panti Asuhan Hati. Samar-samar ia ingat nama itu, tapi entah di mana ia mendengarnya. Yang pasti, Erie tidak asing dengan nama panti asuhan itu. Erie menoleh ke arah Tina yang berdiri di sebelahnya. “Apa Aunty datang sendiri? Dia tidak memintamu mengirimnya?”
Tina menggeleng. “Tidak, Nyonya. Nona Eduard benar-benar datang sendiri ke butik. Beliau hanya meminta beberapa karyawan untuk membantu membawakan dus-dus pakaian ke dalam mobil beliau.”
Erie meletakkan guntingnya di atas meja. “Kau sudah memeriksa semua pakaiannya? Semuanya layak pakai bukan?” cecar Erie memastikan pakaian yang ia berikan pada sang bibi dalam keadaan baik karena ini bukanlah pemberian cuma-cuma, melainkan sebuah sumbangan untuk panti asuhan.
Erie memang tidak mengerti apa yang merasuki bibinya hingga wanita itu menjadi sangat bermurah hati seperti itu. Akan tetapi, sebagai anak yang dibesarkan di panti asuhan, Erie sangat mengerti bagaimana pentingnya sebuah sumbangan untuk anak-anak di sana.
Dengan mantap Tina menganggukkan kepalanya. “Saya sudah memeriksanya beberapa kali, Nyonya. Tidak ada satu pun pakaian cacat yang dikeluarkan dari gudang butik.”
“Huh, syukurlah,” desah Erie lega. “Jika Aunty datang dan meminta pakaian-pakaian yang tidak laku di butik, langsung kau berikan saja. Tetapi kau harus bertanya maksudnya terlebih dahulu. Kalau memang kau rasa itu masuk akal, kau tidak perlu izin dariku untuk memberikannya,” kata perempuan itu memberikan kepercayaan pada Tina.
“Baik, Nyonya,” jawab Tina dengan patuh. “Tapi, ada yang ingin saya tanyakan Nyonya. Kalau semua pakaian yang di gudang diberikan kepada orang lain, apakah butik Anda tidak merugi?”
Bukan tanpa alasan Tina menanyakan masalah ini karena selama bekerja sama dengan Erie dalam beberapa tahun ini, Erie adalah orang paling royal kepada orang lain yang bahkan tidak terlalu dekat dengannya.
Tidak hanya sekali dua kali Erie membuka gudang dan memberikan rancangannya kepada orang lain dengan cuma-cuma. Yah, meskipun itu pakaian sisa yang tidak habis terjual, tetapi Tina yakin jika dijual di pusat perbelanjaan, pasti semuanya akan laku. Hanya saja, Erie tidak mau. Ia lebih memilih memberikan hasil rancangan yang ia buat dengan susah payah tersebut kepada yang membutuhkan ketimbang menjualnya dengan sembarangan.
“Tidak ada kerugian dalam melalukan kebaikan, Tina. Karena yang kau butuhkan hanyalah ketulusan hati,” ungkap Erie sambil tersenyum, kemudian ia melanjutkan lagi pekerjaannya.
Tina tercenung. Ia baru sadar mengapa Erie begitu dielu-elukan oleh orang-orang di sekitarnya. Tina pernah beberapa kali datang ke rumah Elden. Berbeda dengan rumor yang selalu ia dengar dulu sewaktu ia masih bekerja di Alvaro Group, rumah Elden terbilang sangat nyaman dan hangat. Terlihat dari bagaimana pancaran wajah para pelayan yang ada di rumah itu yang tampak begitu cerita. Tidak ada satu pun wajah terpaksa yang muncul dari mereka. Itu artinya mereka dengan sukarela bekerja di rumah tersebut.
Dari yang Tina dengar, semuanya bisa terjadi berkat kehadiran Erie di rumah megah bak istana itu. Erie benar-benar bisa mengubah kebiasaan lama yang ada di sana, termasuk gaya kepemimpinan Elden.
Dulunya, Elden benar-benar seorang yang otoriter. Semuanya harus sesuai dengan kehentaknya, dan bila itu tidak terjadi, maka Elden tidak akan segan-segan menghukum mereka. Hukumannya bukanlah hukuman biasa, melainkan hukuman fisik yang terbilang sangat sadis.
Namun, setelah Erie menjadi Nyonya di dalam rumah itu, semuanya berubah. Tidak ada lagi hukuman fisik yang menyiksa para pelayan. Memang, Erie masih menerapkan sistem pemberian hukuman untuk mendisiplinkan pelayan-pelayannya, tetapi itu hanya sebatas pemotongan gaji. Paling berat, Erie akan merotasi mereka dari posisi sebagai pelayan di rumah besar itu, berganti menjadi pekerja di perkebunan teh milik Elden.
Dengan hukuman itu, tentu saja tidak ada satu pun pelayan yang bersikap kurang ajar kepada Erie. Dibanding bekerja di perkebunan yang melelahkan dan panas, bekerja di rumah Elden adalah pilihan terbaik. Di sana, pekerjaan mereka cukup ringan karena mereka bisa berbagi pekerjaan dengan pelayan yang lain.
Semua kebaikan Erie itulah yang membuat perempuan itu begitu populer. Erie benar-benar memperlakukan orang-orang terdekatnya sebagai manusia. Bahkan kepada para pengawalnya sekali pun.
A7 dan B4 –dua pengawal utama Erie— memandang Erie dengan tatapan kagum. Mereka menghormati Erie bukan hanya karena Erie merupakan istri Elden, tetapi lebih karena memanggap Erie sebagai sosok yang memang layak dihormati. Itulah sebabnya mereka merasa bangga dapat menjadi pengawal Erie. Kedua laki-laki itu malah membuat anggota organisasi yang lain iri dengan posisi mereka.
“Tina!” ucap Erie memanggil nama asistennya. Saat melihat tidak ada respons dari wanita itu, Erie memanggil lagi. “TINA!” serunya dengan kencang.
Tina tersentak mendengar suara keras itu. Ia mengembalikan lagi kesadarannya setelah beberapa waktu lalu hilang akibat melamun. “Ya, Nyonya,” jawab Tina.
Erie menatapnya tajam. “Kau dengar apa yang aku katakan tadi?”
Tina menggeleng. “Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak mendengar perkataan Anda.”
“Sudah kuduga kau pasti melamun,” keluh Erie. “Aku bilang tolong kau jemput Lena ke sini supaya kita bisa menyesuaikan gaunnya untuk terakhir kali,” tutur perempuan itu.
“Baik, Nyonya. Saya akan memanggil Nona Lena kemari,” ucap Tina dengan patuh. “Apakah saya juga harus memanggil Tuan Daniel?” sambung wanita itu.
“Tidak, Daniel sedang memeriksa dekorasi. Dia akan ke sini nanti malam.”
“Baiklah, Nyonya. Saya pergi sekarang,” pamit Tina sambil meninggalkan Erie di dalam kamar hotel itu.
Mengapa Erie memilih hotel ketika Elden memiliki rumah juga di New York? Karena Erie percaya dengan mitos yang mengatakan bahwa rumah pengantin tidak boleh digunakan sebagai tempat persiapan bagi kedua mempelai. Itulah sebabnya, rumah mereka itu sekarang kosong dan hanya ditempati oleh Margareth.
Elden, Erie dan Gevio tinggal di hotel. Begitu pula dengan Daniel dan Lena. Bahkan karena anggapan yang dipercayai oleh Erie itu, Elden harus menyewa dua gedung hotel khusus untuk keluarganya, para pelayan dan pegawai yang dibawa Erie serta semua anggota organisasi yang bertugas.
XXXXX
Mari kita ambil waktu sejenak untuk mengirimkan doa kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak, yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Dan juga doa kepada seluruh pihak yang sedang melakukan pencarian. 🙏
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼