NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Pintu Kemang

Keesokan sorenya, Meilin berdiri di depan gedung apartemen di Kemang sambil memegang tali tas kecilnya seperti murid baru.

Gedung itu bukan menara mewah dengan lobi marmer besar. Bukan juga apartemen mahal seperti yang sering dia bayangkan ketika membaca cerita konglomerat. Tapi lantainya bersih, satpam menyapa dengan sopan, dan dari kaca lobi terlihat lift yang menyala tanpa berkedip.

Itu saja sudah membuat Meilin hampir terharu.

Kevin berdiri di sebelahnya, membawa map dokumen dan botol air untuk Meilin.

"Kalau capek, bilang."

"Aku baru berdiri lima menit."

"Kamu baru keluar rumah sakit dua hari."

"Aku sudah jauh lebih baik."

"Aku tetap akan bilang itu."

Meilin menoleh, ingin membalas, tapi agen properti sudah datang menghampiri mereka.

"Pak Kevin? Unitnya di lantai tujuh. Silakan."

Mendengar Kevin dipanggil Pak membuat Meilin hampir tersenyum. Kevin tampak tidak bereaksi, hanya mengangguk singkat dan mengikuti agen ke lift.

Unit itu kecil.

Studio dengan satu area tidur, dapur mungil, kamar mandi, dan balkon sempit. Tapi jendelanya besar. Cahaya sore masuk tanpa harus memaksa melewati tirai kotor. Dindingnya putih bersih. Lantainya tidak retak. Ada lemari kecil, meja kerja yang menempel di dinding, dan yang paling penting, kamar mandinya punya pemanas air.

Meilin membuka keran wastafel.

Air mengalir deras.

Dia menatap air itu terlalu lama.

"Meilin?"

"Airnya lancar."

Agen properti tertawa kecil. "Iya, Kak. Maintenance gedung juga responsif."

Kevin tidak tertawa.

Dia hanya melihat Meilin, lalu bertanya pada agen tentang biaya sewa, deposit, listrik, parkir, dan akses internet. Pertanyaannya rapi. Meilin mendengarkan angka-angka itu sambil mencoba tidak panik.

Deposit dua bulan.

Sewa bulan pertama.

Biaya administrasi.

Kevin tampak sudah menghitung semuanya. Dia bahkan menanyakan apakah pembayaran bisa dibagi antara transfer hari ini dan pelunasan saat serah terima kunci.

"Bisa, Pak," jawab agen. "Kalau booking hari ini, unit kami tahan tiga hari."

Kevin menoleh ke Meilin. "Kamu suka?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi membuat dada Meilin penuh.

Dulu, Meilin asli mungkin tidak pernah ditanya. Mungkin hanya menuntut. Mungkin hanya mengeluh. Sekarang Kevin berdiri di tengah unit kecil ini, dengan gaji barunya yang belum benar-benar diterima, dan tetap menanyakan apakah dia suka.

"Suka."

"Yakin?"

"Ada air panas."

Kevin menatapnya dua detik, lalu berkata pada agen, "Kami booking."

Mereka keluar dari gedung saat langit mulai gelap. Kevin sudah membayar tanda jadi. Meilin membawa salinan kuitansi seperti membawa sertifikat kemenangan.

"Kita benar-benar pindah?" tanyanya.

"Kalau tidak ada masalah administrasi, tiga hari lagi."

"Barang kita sedikit."

"Tetap perlu packing."

"Barangmu lebih sedikit dari barangku."

"Karena kamu punya tiga jenis skincare yang tidak pernah dipakai."

Meilin berhenti berjalan. "Kamu memperhatikan?"

"Kamar kita tiga kali empat meter. Sulit tidak memperhatikan."

Kata kita keluar lagi, lebih ringan dari sebelumnya.

Tiga hari berikutnya bergerak cepat.

Meilin menyelesaikan dua pesanan gambar dan menolak satu deadline terlalu mepet, seperti yang Kevin ajarkan. Kevin menandatangani addendum kontrak, menerima advance salary, dan mengurus sewa. Mereka membeli kardus bekas dari warung, memesan GoBox kecil untuk hari pindahan, lalu mulai memilah barang.

Pemilik kos tampak terkejut ketika Kevin membayar tunggakan listrik dan sisa sewa.

"Mau pindah, Mbak?"

Meilin mengangguk. "Iya, Bu. Ke Jakarta Selatan."

"Wah, sudah naik kelas."

Ucapan itu mungkin hanya basa-basi, tapi Meilin merasakan sesuatu menusuk lembut di dada. Naik kelas. Bukan karena tiba-tiba kaya, bukan karena menemukan jalan pintas, melainkan karena mereka bertahan cukup lama untuk keluar dari tempat yang hampir menelan mereka.

Hari pindahan, hujan turun sebentar lalu berhenti.

Barang mereka benar-benar tidak banyak: dua koper, satu kardus alat gambar, satu kardus pakaian, laptop Kevin, beberapa peralatan dapur, dan buku catatan kecil yang Meilin simpan di tasnya. Kos itu kosong dalam waktu kurang dari satu jam.

Sebelum pergi, Meilin berdiri di tengah kamar.

Di sinilah dia terbangun dalam dunia novel.

Di sinilah dia pertama kali melihat Kevin menatapnya seperti musuh.

Di sinilah mereka makan mi hambar, mengoleskan salep, sakit bergantian, bertengkar soal garam, dan belajar mengucapkan kita.

Kevin berdiri di ambang pintu.

"Siap?"

Meilin menarik napas. "Siap."

Pintu kos ditutup.

Kali ini, suara kuncinya terdengar seperti akhir bab lama.

Apartemen Kemang menyambut mereka dengan bau cat baru dan udara bersih. Meilin membuka jendela besar, membiarkan angin sore masuk. Dari lantai tujuh, suara Jakarta terdengar jauh lebih halus. Tidak hilang, tapi tidak menekan dada.

Kevin menaruh kardus terakhir di dekat dapur.

"Kamu duduk. Jangan angkat apa-apa."

"Aku sudah sembuh."

"Aku tidak tanya."

Meilin tertawa, lalu benar-benar duduk di lantai dekat jendela. Cahaya sore jatuh di wajahnya. Dia melihat Kevin bergerak di dapur kecil, mengecek keran, saklar, dan kompor listrik, seolah memastikan dunia baru ini aman sebelum membiarkan Meilin masuk sepenuhnya.

Di meja kecil dekat pintu, ada dua kartu akses dan dua kunci unit. Kevin mengambil satu kartu, lalu meletakkannya di telapak tangan Meilin.

"Punya kamu."

Meilin menatap kartu itu. Benda plastik kecil, ringan, dengan logo gedung di sudut. Tapi di tangannya, kartu itu terasa seperti bukti bahwa dia tidak lagi hanya menumpang hidup di tempat yang sewaktu-waktu bisa menolaknya.

"Aku punya akses sendiri?"

"Kamu tinggal di sini."

Kalimat itu hampir lebih mewah daripada jendela besar dan air panas.

"Ko."

"Hmm?"

"Terima kasih."

Kevin berhenti.

"Untuk apartemen?"

"Untuk bertanya apakah aku suka."

Kevin menoleh.

Di antara kardus dan lantai kosong, mereka saling menatap. Tidak ada lagi bau lembap kos. Tidak ada suara token listrik hampir habis. Tidak ada kasur tipis di lantai yang menjadi batas lama.

Kevin berjalan mendekat.

"Tadi aku belum selesai bicara."

Jantung Meilin langsung tahu kalimat mana yang dia maksud.

"Yang kemarin?"

"Yang kemarin. Dan yang sebelum-sebelumnya."

Meilin menggenggam ujung bajunya.

Kevin berhenti di depannya, tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk membuat suara kota di luar balkon terasa menjauh.

"Kamu mau..." Dia berhenti sejenak, kali ini bukan karena telepon. "Mulai dari awal denganku?"

Mata Meilin panas.

"Mulai dari awal sebagai apa?"

Kevin menatapnya. "Sebagai pacarku."

Kata itu sederhana.

Tapi bagi Meilin, rasanya seperti seluruh dunia novel bergeser dari jalur lamanya.

Dia mengangguk.

Kevin masih menunggu. "Pakai suara."

Meilin tertawa kecil, air mata hampir jatuh. "Iya. Aku mau."

Kevin mengulurkan tangan.

Meilin menyambutnya.

Tidak ada ciuman kali ini. Hanya genggaman tangan di apartemen kosong, di antara kardus, kuitansi sewa, dan cahaya sore Kemang.

Namun bagi Meilin, itu terasa seperti janji pertama yang benar-benar mereka pilih sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!