Raihan, mahasiswa yang sempurna harus berurusan dengan seorang gadis yang memiliki kasta jauh lebih rendah darinya namun berprinsip kuat.
Rena sudah terbiasa disakiti oleh Raihan yang tak lain adalah suaminya. Namun bukan berarti Ia menjadi lemah dan tenggelam dalam kesedihan terus menerus. Ia bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Saat Rena sibuk dengan dirinya sendiri, Raihan mulai menyadari seberapa penting kehadiran Rena dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Addicted 29
Siang hari seperti saat ini membuat Xander berkeinginan minum sesuatu yang dingin dan segar.
Ia yang baru datang ke kafe dan masuk ke ruangannya, keluar untuk mengambil frozen yoghurt.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Carra saat melihat Xander datang ke dapur minuman.
"Saya ingin frozen yoghurt,"
"Baik, Tuan. Akan saya siapkan,"
"Terimakasih,"
"Iya, Tuan."
Xander masuk ke dalam ruangannya, menunggu frozen yoghurt yang Ia inginkan di dalam ruangan.
******
Kondisi kaki Rena sehabis tidak sengaja ditabrak oleh Raihan, tidak kunjung membaik, ia masih kerap merasa nyeri. Akhirnya Ia memutuskan untuk datang ke sebuah klinik untuk mengetahui kondisi kakinya. Oleh sebab itu Ia datang ke kafe sedikit terlambat karena harus mengobati kakinya dulu.
Rena memasuki kafe dan disambut oleh Nathalie yang sudah baik-baik saja. Mungkin karena Nathalie tidak bersentuhan langsung dengan body motor Raihan, jadi tidak terlalu menyakitkan.
"Bagaimana dengan kakimu? tidak ada yang rusak di dalam nya 'kan?"
Rena terkekeh melihat kekhawatiran Nathalie. Setiap Ia sakit pasti Nathalie seperti itu.
"Tidak apa-apa,"
"Rena, kamu dipanggil oleh Tuan Xander," suara Carra yang lumayan keras membuat empat orang pengunjung yang tak lain adalah Raihan dan para sahabatnya menoleh.
"Kenapa? aku sudah izin untuk datang terlambat tadi. Karena aku ke klinik dulu,"
"Mana aku tahu?! cepat masuk ke ruangannya! Tuan Xander sudah menunggumu,"
Rena mengangguk dan cepat-cepat berjalan menuju ruangan Xander. Nathalie menatap Carra dengan mata yang memicing.
"Rena tidak berbuat kesalahan apapun. Kenapa dipanggil? pasti kamu sudah menghasut Tuan Xamder agar---"
Carra mendorong pelipis Nathalie dengan jari telunjuknya seraya berucap "Jangan sembarangan menuduh!" Nathalie berdecak kemudian mengusir telunjuk gadis yang kurang ajar itu.
Raihan sedari tadi memperhatikan. Mulai dari saat istrinya datang sampai akhirnya Carra mengatakan bahwa Ia dipanggil.
"Bagaimana kalau sekarang kita kembali ke kampus?" Sergi bersiap untuk berdiri.
"Nanti dulu," jawab Raihan dengan langsung. Entah mengapa Ia masih ingin berada di kafe ini. Ada sesuatu yang menahannya dan Ia sendiri tidak tahu apa itu.
*****
Rena memasuki ruangan Xander. Di kursinya, Xander sedang memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, Ia mengalihkan pandangan. Ia melihat yang di depannya saat ini adalah istrinya. Kepala nya semakin sakit, dan tiba-tiba saja gairah liar dalam dirinya membuat Ia mengeluarkan keringat dingin.
"Della, sayang kemari. Tiba-tiba saja aku menginginkan kamu,"
Xander melangkah mendekati Rena dengan tatapan nya yang berbeda. Rena langsung merasa tidak ada yang beres dengan boss nya itu. Akhirnya Ia memutuskan untuk segera keluar. Namun sayang, tangannya ditarik oleh Xander.
"Tuan, maaf, saya Rena. Bukan Nyonya--"
Grep
Xander semakin mendekatkan tubuhnya pada Rena lalu kemudian tanpa aba-aba, Ia memeluk Rena. Rena tersentak kaget dan langsung mendorong Xander.
****
Della berjalan cepat memasuki kafe setelah mendapat telepon dari Carra. Ia baru saja mendengar kabar tidak mengenakkan tadi. Itulah sebabnya Ia datang ke kafe.
Carra tersenyum padanya sementara raut wajah Della sudah muram sekali. Kedatangan Della membuat Nathalie sedikit bingung. Tadi, Ia sempat mendengar Carra menelpon Della diam-diam dan ketika Ia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan, Ia tertangkap basah oleh Carra. Akhirnya Ia tidak jadi melakukan itu. Mereka sudah saling berkomunikasi di telepon dan sekarang Della datang. Ini sedikit aneh.
"Mereka masih di ruangan?"
"Masih, Nyonya."
Della segera melangkah ke dalam ruangan suaminya yang Ia ketahui sedang berselingkuh dengan Rena, kata Carra. Ia harus memastikan secara langsung. Apalah benar yang dikatakan oleh Carra tadi. Kalau benar, Ia tidak akan segan-segan mengeluarkan taringnya. Selama ini Ia dianggap baik dan bijaksana oleh Rena mungkin karena itu Rena begitu tega merebut miliknya.
Brak
Ia membuka pintu dengan kasar. Adegan di depannya membuat hatinya berdenyut nyeri dan tidak menyangka. Lelaki yang sudah hampir dua puluh tahun menikah dengannya, sekarang tega mengkhianatinya.
Xabder sedang memeluk Rena. Sebenarnya, kalau Della melihat dengan kepala dingin, Ia bisa melihat bahwa Rena berusaha memberontak. Sayang, prasangka nya sudah buruk hingga membutakan penglihatan nya.
Ia segera mendorong Rena lalu menampar wajahnya.
Plak
Rena mengusap pipinya yang terasa sangat panas. Ia menunduk takut. Ia kehilangan kata untuk menjelaskan semuanya. Ia sendiri terkejut mendapati perlakuan Xabder terhadapnya. Xander selama ini sangat menghormati semua pegawainya, Dia tidak pernah kurang ajar seperti itu.
"PERGI KAMU DARI SIN! MULAI BESOK, KAMU TIDAK USAH BEKERJA LAGI!" Suara kencang istrinya membuat Xander sedikit tersadar. Ia mengerjap lalu meringis seraya menyentuh kepalanya yang sangat sakit.
Della menarik tangan Rena keluar dari ruangan suaminya lalu mendorong nya hingga Rena terjatuh di lantai yang dingin. Beberapa pegawai sudah mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi. Namun pengunjung belum ada yang tahu karena ruangan Xander berada di dalam.
"Nyonya, Demi Tuhan, saya tidak melakukan apapun,"
"Jalang murahan!"
Della masih berusaha menjaga nama baiknya diluar ruangan sang suami. Ia tidak mengeluarkan bentakannya untuk Rena namun karena Rena mendekatinya dan masih berusaha untuk menjelaskan, emosi nya tak terkendali lagi.
"Sekalian saja aku permalukan kamu,"
Ditariknya Rena keluar dari bagian dalam kafe dan hal itu langsung mencuri perhatian seluruh mata.
"PEREBUT SUAMI ORANG! JALANG MURAHAN! PERGI KAMU DARI SINI!"
Semuanya tersentak kaget setelah Della bicara seperti itu. Pegawai dan pengunjung menatap Rena dengan tidak menyangka.
Rena menjadi pusat perhatian. Bahkan suaminya pun ikut mengalihkan pandangannya pada keributan yang sedang terjadi. Della terus menyeret Rena agar keluar namun Rena tetap mempertahankan keberadaan dirinya.
"Nyonya, aku tidak seperti yang Nyonya pikirkan. Demi Tuhan, aku--"
PLAK
Refleks Raihan bangkit dari duduknya setelah telinga dan matanya menangkap perbuatan kejam Della. Della menampar Rena.
"Nyonya, meskipun saya baru di sini, tapi saya yakin Rena tidak seperti itu," ujar Denrio yang entah kenapa membela Rena. Memang Rena baik menurutnya. Kemarin saat Ia mengambil seragam untuk bekerja di kafe, Rena menyapanya dengan senyum. Wajah gadis itu teduh sekali membuat Denrio yakin bahwa Rena adalah gadis yang baik sekalipun mereka belum mengenal.
"DIAM KAMU!" hardik Della pada Denrio.
"Pergi, Rena! saya muak melihat wajah kamu. PERGI!" Ia menunjuk pintu keluar. Rena benar-benar keras kepala. Karena apa? Ia merasa tidak bersalah. Tapi keras kepalanya itu membuat sebagian orang disana semakin kesal padanya.
Della mendorong bahu Rena hingga tersentak ke belakang. "Pergi, Bodoh! telingamu masih berfungsi dengan baik 'kan?"
Tangan Denrio menahan Della yang akan mendorong Rena lagi. Hal itu membuat seseorang di kursinya merasa tidak nyaman.
Raihan melangkah tanpa aba-aba. Sejujurnya sejak awal Ia melihat penghinaan Della terhadap Rena, Ia sudah merasa tidak terima. Dan ketika Denrio bertindak, ada sedikit emosi yang menyusup di hatinya tanpa bisa Ia kendalikan. Seharusya Ia tidak peduli saja pada Rena, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Ia sangat ingin menunjukkan perannya sebagai suami.
Raihan menghampiri Rena dan Della. Ia berdiri membelakangi Rena, berhadapan dengan Della. Ia menatap Della dengan amarah yang tak bisa ditutupi.
"Dia akan pergi. Anda tidak perlu mengusirnya lagi,"
Rena sedari tadi menunduk dan setelah mendengar suara berat itu, Ia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat punggung tegap di depannya yang melindunginya dari amarah Della.
Ia kenal suara itu, Ia juga hafal punggung siapa itu meskipun mereka hidup bersama hanya kurang lebih tiga puluh hari saja.
Raihan berbalik menghadap Rena lalu segera menarik tangan istrinya itu. Ia membawa Rena keluar dari kafe, dan menjauhi semua orang yang telah menganggapnya buruk.
Semua orang menatap kepergian Raihan dan Rena dengan bingung. Dan tiga sahabat Raihan tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Raihan. Sebenarnya itu wajar dilakukan Raihan sebagai suami yang memang wajib melindungi istrinya. Namun selama ini sikap Raihan tidak menunjukkan bahwa Ia seorang suami. Ia tidak pernah acuh dengan Rena dan sekarang bertindak melindungi Rena yang sebelumnya sempat dipermalukan. Raihan tiba-tiba saja peduli dengan Rena walaupun sedikit terlambat, tepatnya setelah laki-laki lain menaruh perhatian pada Rena.
-----
Woaahh tarekk napas dolooo. Gmn part ini? gk emosi ya? feel nya kurang bgt yak :( maap👉👈
Up
Semangat
Semangat
Denrio ga seperti rayhan yg sudah bisa cari uang sendiri
Semangat
Semangat