Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sinar mentari pagi menyelinap di balik celah tirai, menerangi kamar yang masih dipenuhi keheningan.
Calista membuka matanya perlahan.
Kepalanya terasa berat. Semalam menjadi malam yang tak akan pernah ia lupakan—malam ketika ia akhirnya menyerahkan dirinya kepada lelaki yang telah berbulan-bulan menjadi suaminya, namun tak pernah benar-benar menjadi pendamping hidupnya.
Perlahan ia bangkit dari ranjang.
Tatapannya jatuh pada sosok Danis yang sudah berdiri di dekat jendela. Pria itu mengenakan kemeja putih yang telah rapi, seolah tak pernah terjadi apa pun di antara mereka.
Tak ada senyum. Tak ada tatapan hangat. Tak ada penyesalan.
Hanya punggung dingin yang selalu Calista kenal.
"Aku sudah menyiapkan suratnya." Suara Danis memecah keheningan.
Calista menatap meja kecil di samping pintu. Di sana tergeletak selembar map cokelat. Jantungnya berdegup semakin cepat.
"Surat... apa?"
Danis menoleh sekilas. "Jangan pura-pura tidak tau" ucap Danis.
Calista meneguk ludahnya susah payah. Dadanya begitu sesak saat ia sadar arah kemana pembicaraan pria itu. "Mas..."
"Surat cerai."
Seketika napas Calista tercekat. Padahal ia sudah tahu hari itu akan datang. Bukankah semalam memang menjadi kesepakatan terakhir mereka? Ia hanya ingin meninggalkan pernikahan itu dan pergi setelah ia melakukan hal itu dengan Danis. Ia hanya berharap Danis berubah pikiran, namun nyatanya Danis sama sekali tidak peduli.
Namun, saat kenyataan benar-benar berada di depan mata, ternyata rasa sakitnya jauh lebih dalam.
"Terima kasih... karena sudah mempermudah semuanya," ucap Danis datar.
Bukan ucapan terima kasih yang Calista harapkan. Bukan itu. Ia hanya ingin sekali saja... lelaki itu mengatakan bahwa dirinya berharga. Sayangnya, harapan itu terlalu mahal.
Calista menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati meja. Tangannya gemetar saat membuka map tersebut. Semuanya telah lengkap.
Nama mereka. Tanggal. Bahkan tanda tangan Danis sudah tertera di sana. Rupanya pria itu benar-benar tak sabar mengakhiri pernikahan ini.
"Apa... kamu mencintainya sebesar itu?" tanya Calista lirih.
Danis terdiam beberapa detik. "Iya."
Satu kata cukup sesederhana itu. Namun cukup untuk menghancurkan seluruh sisa harapan di hati Calista. Ia tersenyum tipis, meski air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Baik jika begitu."
Tanpa banyak bicara, ia mengambil pena. Tangannya bergetar hebat saat menorehkan tanda tangan di atas kertas perceraian itu.
Mulai hari ini... Ia bukan lagi istri seorang Danis Arganta. Pria yang pernah begitu ia benci, lalu tanpa sadar justru ia cintai dalam diam.
Calista meletakkan pena itu kembali.
"Semoga... kamu bahagia bersama wanita pilihanmu."
Danis mengangguk pelan. "Itu pasti"
Pintu kamar terbuka perlahan.
Calista melangkah keluar dengan sebuah koper berukuran sedang di tangan kanannya. Tidak banyak barang yang ia bawa. Memang tak banyak yang benar-benar menjadi miliknya di rumah itu.
Hanya beberapa helai pakaian.
Ia menutup pintu kamar dengan hati-hati. Tak ada suara. Tak ada yang mengantarnya.
Bahkan Danis tidak keluar dari kamar.
Calista menundukkan kepala sejenak. Dulu, saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu sebagai pengantin baru, ia pernah membayangkan akan keluar dari rumah ini dengan senyum bahagia, ditemani suaminya, mungkin sambil menggendong seorang anak.
Walaupun awalnya pernikahan ini hanya pernikahan terpaksa, dan ia pertama kali membenci keluarga ini, namun entah mengapa saat ia pertama kali melihat Danis, ia jatuh hati pada sosok pria datar itu. Dan kebencian itu sirna entah kemana. Mestinya ia marah dan menuntut keluarga itu atas kematian sang ayah. Namun, Calista juga tidak punya power sehebat mereka.
Calista menghembuskan nafasnya. Nyatanya... Ia pergi seorang diri. Dengan status janda yang bahkan baru beberapa menit disandangnya. Langkahnya perlahan menyusuri lorong rumah yang panjang. Dinding-dinding megah itu masih sama seperti pertama kali ia datang.
Namun entah mengapa... Hari ini terasa jauh lebih dingin. Setiap langkah terdengar begitu jelas.
Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer memenuhi keheningan pagi. Baru beberapa meter berjalan, suara seseorang memecah kesunyian.
"Oh... akhirnya keluar juga."
Calista menghentikan langkahnya. Ia tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
Bu Ratna ibunya Danis.
Wanita yang sejak hari pertama tak pernah menganggapnya sebagai menantu. Dan malah selalu menyiksa dirinya.
Perlahan Calista membalikkan tubuh.
Di ruang keluarga, Bu Ratna duduk anggun di sofa sambil menikmati secangkir teh. Di sampingnya berdiri Rania, kakak perempuan Danis, dengan kedua tangan bersedekap dan tatapan penuh sinis.
Tatapan mereka jatuh pada koper yang dibawa Calista.
Bu Ratna tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan.
"Bagus. Sekarang rumah ini terasa lebih bersih." Kalimat itu meluncur begitu saja dengan nada sarkas.
Calista menggenggam erat gagang kopernya. Ia menarik napas perlahan. Berusaha tetap tenang.
Rania tertawa kecil. "Aku kira kamu bakal bertahan lebih lama. Ternyata akhirnya sadar juga kalau kamu memang nggak pantas jadi bagian keluarga kami. Dasar upik abu-abu"
Calista tetap diam. Ia tahu... Apa pun yang ia katakan hanya akan memperpanjang penghinaan.
Bu Ratna meletakkan cangkir tehnya. "Aku dari dulu sudah bilang sama Danis. Menikahimu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Kalimat itu menusuk tepat ke dada Calista. Namun wanita itu tetap memilih bungkam.
"Kamu tahu kenapa aku sangat membencimu?" lanjut Bu Ratna. "Karena kamu sudah menghancurkan kebahagiaan putraku! Mestinya Danis sudah menikah dengan Sari! Tapi karena kamu, suamiku harus terpaksa menikahkan putra semata wayangnya dengan wanita miskin sepertimu!!" Pekik Ratna matanya menyala menatap penuh kebencian pada Calista.
Calista mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang, bibirnya ingin sekali membalas, namun ia tak bisa. Ia tak punya kekuatan untuk membela diri.
Rania berjalan mendekat. Ia menarik koper milik Calista.
"Mbak.."
"Sudah aku bilang! Jangan panggil aku mbak! Aku nggak akan pernah mau di panggil mbak sama wanita miskin kayak kamu!"
Calista bungkam, ia hanya diam saat Rania membuka isi koper dan mengacak-acak bajunya.
"Cih, aku pikir kamu akan membawa barang di rumah ini." Ucap Rania sambil melemparkan koper itu asal.
Calista menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan membawa barang apapun mbak."
"Baguslah kalau sadar diri. Selama ini kamu hanya numpang di sini! Jadi ingat batasan kamu." Ucap Rania angkuh.
Ia sama sekali tidak merasa bersalah melihat Calista memunguti bajunya yang di acak-acak oleh Rania.
Ratna menghampiri, ia merangkul pundak Rania. "Yuk kita ke butik, mama ada janjian ketemu sama temen mama."
"Oke ma."
Sebelum pergi, Rania bahkan dengan sengaja menginjak pakaian milik Calista,
Calista hanya diam dan beristighfar,
Sedangkan Danis yang ada di anak tangga menyaksikan itu semua tanpa mau membantu...
#Yang suka komentar ya.. Biar lanjutt