NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Di balik kisi-kisi ventilasi yang sempit, napas mereka tertahan. Pria tua itu—Profesor Agus Wiratama, tokoh yang dihormati sebagai arsitek pembangunan nasional selama puluhan tahun—berbicara dengan suara tenang namun berwibawa, seolah setiap katanya adalah kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan.

“Kalian mengira saya membangun kekuasaan untuk diri sendiri?” katanya sambil menatap ketiga orang di depannya. “Saya melakukan ini karena saya melihat kebenaran yang kalian tolak lihat: negara ini terlalu lemah, terlalu terpecah, terlalu mudah diatur oleh kepentingan asing. Proyek Langit Baru akan menjadikan kita satu kekuatan yang tak tersentuh—tapi untuk itu, kita butuh kendali penuh atas segala sumber daya, jalur laut, dan pemikiran rakyat.”

“Dengan cara menjadikan rakyat sebagai pelayan kalian?” potong Ridwan yang tampak mulai berani bicara. “Saya sudah melihat banyak pengorbanan yang tidak perlu.”

“Pengorbanan adalah harga yang harus dibayar,” jawab Agus dingin. “Kau terlalu lemah, Ridwan. Itulah sebabnya kau tertangkap lebih dulu. Rusli mengerti perdagangan, Bimo mengerti kekuatan, tapi hanya saya yang mengerti arah tujuan kita.”

Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela besar. “Tiga hari lagi, persetujuan pertukaran sumber daya dengan pihak asing akan ditandatangani secara tertutup. Kita akan mendapatkan teknologi dan dukungan militer yang tak ternilai harganya. Sebagai gantinya, mereka akan mengelola wilayah laut dalam yang selama ini terabaikan. Tidak ada yang akan menyadari sampai semuanya terlambat.”

Rendra mengepalkan tangannya erat. Jadi ini intinya: mereka menjual kedaulatan laut terdalam negeri ini demi ambisi menjadi penguasa tunggal di daratan.

Saat Agus kembali berbalik, matanya tiba-tiba menatap tepat ke arah lubang ventilasi tempat mereka bersembunyi. Ia tidak berteriak, tidak memanggil pengawal. Ia hanya tersenyum tipis.

“Kalian sudah melihat cukup banyak, bukan?” katanya pelan namun jelas. “Turunlah. Tidak ada gunanya bersembunyi lagi.”

Jantung Rendra berpacu kencang. Mereka sudah terdeteksi sejak awal. Tidak ada jalan lain—mereka mendorong kisi-kisi jatuh ke lantai, dan melompat turun satu per satu. Detik itu juga pintu ruangan terbuka lebar, pasukan elit berdatangan mengelilingi mereka dengan senjata terarah.

Bimo berdiri tegak tanpa kaget. “Saya tahu mereka masuk lewat saluran tua. Saya sengaja tidak menutupnya. Biarkan mereka melihat wajah pemimpin kita secara langsung sebelum mereka menghilang selamanya.”

Agus berjalan mendekat perlahan. “Kalian orang-orang yang gigih. Tapi kalian tidak mengerti skala permainan ini. Kalian mengira kebenaran yang kalian bawa itu penting? Sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa, bukan mereka yang berteriak soal keadilan.”

“Sejarah tidak akan melupakan siapa yang menjual tanah airnya sendiri,” jawab Rendra tegas. “Kami sudah merekam setiap kata yang kalian ucapkan. Semua rencana pengkhianatan ini sudah tersimpan aman. Bahkan jika kalian membunuh kami sekarang, salinannya akan menyebar ke seluruh dunia dalam satu jam lagi.”

Wajah Agus berubah keras. “Kalian tidak berani. Jika kalian menyebarkannya sekarang, negara ini akan goyah, investasi asing lari, dan rakyat akan menderita kekacauan. Itu bukan kebaikan yang kalian cari.”

“Kekacauan sementara lebih baik daripada perbudakan abadi,” potong Ibu Ratna yang tiba-tiba masuk lewat pintu samping bersama Dika dan tim keamanan independen. “Saya sudah memblokir semua akses keluar gedung. Dan saya sudah mengirimkan bukti persetujuan rahasia itu ke pihak berwenang internasional sebelum kita masuk ke sini.”

Agus menatapnya tak percaya. “Kau… kau berani menghancurkan semua yang saya bangun?”

“Kau membangun di atas reruntuhan kepercayaan,” jawab Ibu Ratna tenang. “Dan sekarang giliran kami untuk meruntuhkannya.”

Suara sirine terdengar dari kejauhan. Pasukan Bimo tampak bingung—mereka tidak lagi yakin siapa yang benar dan siapa yang salah. Saat mereka melihat Agus diam terpaku dan bukti-bukti terbentang jelas di layar proyektor, satu per satu menurunkan senjata.

Rusli menghela napas panjang, lalu meletakkan senjatanya di meja. “Saya kira kita membangun masa depan. Ternyata kita hanya menjadi alat orang yang terlalu takut kehilangan kendali.”

Bimo adalah yang terakhir meletakkan senjata. Matanya menatap lurus ke arah Agus. “Saya mengikutimu karena saya pikir kau mencintai negara ini. Ternyata kau hanya mencintai kekuasaanmu sendiri.”

Agus Wiratama berdiri sendirian di tengah ruangan megah itu. Wajahnya yang dulu penuh wibawa kini tampak rapuh dan tua. Ia sadar bahwa tembok kebohongan yang ia bangun selama puluhan tahun akhirnya runtuh hanya dengan satu kebenaran sederhana: bahwa tidak ada satu orang pun yang berhak menentukan nasib seluruh bangsa sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!