Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Pintu Tertutup Klub Utama
"Permohonan keanggotaan Anda ditolak."
Penjaga Klub Utama Surabaya menyerahkan amplop putih kepada Raka melalui celah gerbang, seolah amplop itu terlalu berharga untuk disentuh orang yang berdiri di luar. Di belakang pagar, bangunan kolonial itu tenang, hijau, dan tua. Terasnya penuh kursi rotan, pohon besar, serta aroma kopi yang seperti berkata: tempat ini tidak perlu mengejar siapa pun.
Fajar mengambil amplop lebih cepat daripada Raka. Setelah membaca dua baris, wajahnya langsung panas.
"Silsilah keluarga? Rekomendasi tiga anggota lama? Memangnya ini klub atau kerajaan kecil?"
Raka membaca surat itu. Bahasanya sopan, tetapi isinya jelas: uangnya mungkin diterima dunia, namanya belum diterima meja mereka.
"Saya tidak pernah mendaftar," kata Raka kepada penjaga.
Penjaga terlihat tidak nyaman. "Saya hanya menjalankan instruksi sekretariat, Pak."
"Siapa sekretarisnya?"
"Pak Harjono."
Dari balik pintu kaca, seorang pria tua berkemeja putih keluar. Rambutnya licin, dagunya terangkat, dan matanya punya dingin yang dilatih puluhan tahun. Ia berhenti di sisi dalam gerbang, tidak merasa perlu mendekat.
"Pak Raka Surya Pratama," katanya. "Surat sudah cukup jelas. Klub kami memiliki tradisi."
"Tradisi mendaftarkan orang tanpa izin lalu menolaknya?"
Pak Harjono tidak berkedip. "Ada anggota yang mengajukan nama Anda untuk dipertimbangkan. Setelah diperiksa, komite memutuskan Anda belum memenuhi standar sejarah keluarga."
Fajar hampir meledak. Raka mengangkat tangan.
"Standar sejarah keluarga," ulang Raka. "Bukan standar perilaku, kontribusi, atau kemampuan membayar?"
"Uang bukan segalanya, Pak Raka."
"Benar. Tapi sering dipakai orang yang sudah punya uang lama untuk menolak uang baru."
Wajah Harjono menegang.
Raka melipat surat dan memasukkannya ke saku.
"Terima kasih. Surat ini berguna."
"Untuk apa?"
"Untuk mengingatkan saya membeli pintu setelah terlalu lama mengetuk."
Di mobil, Fajar masih marah. "Bos, izinkan aku membuat thread: klub tua arogan menolak orang karena silsilah. Viral dalam satu jam."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Kalau kita membuat mereka viral sebelum tahu struktur mereka, mereka akan mengunci diri dan berlagak korban tradisi."
Fajar diam, lalu mengangguk. "Jadi kita beli dulu."
"Kita selidiki dulu. Bayu yang beli kalau layak."
Di Menara Langit, Bayu membaca surat itu dan tersenyum seperti diberi makanan favorit.
"Silsilah keluarga. Saya suka. Kata yang terdengar elegan untuk diskriminasi sosial."
"Cari struktur kepemilikan. Siapa pemegang saham, siapa punya utang, siapa mau keluar."
Bayu membuka laptop. Mimpi menampilkan data awal lebih cepat dari pencarian manusia.
[Klub Utama Surabaya: kondisi finansial melemah. Utang operasional Rp35.000.000.000. Dua pemegang saham utama ingin menjual secara tertutup. Sekretaris Pak Harjono menolak 47 pemohon non-keluarga selama 20 tahun.]
Fajar membaca layar yang Raka ringkas untuknya. "Empat puluh tujuh orang? Ini bukan tradisi, ini hobi menutup pintu."
Bayu menambahkan, "Kalau dua pemegang saham itu menjual, berapa persen?"
[Mimpi: estimasi 67 persen. Harga sistem potensial Rp50.000.]
Raka menatap angka itu. Dulu ia tidak bisa masuk restoran karena batik Bibi. Sekarang ia tidak bisa masuk klub karena nama keluarganya tidak cukup tua. Dunia ternyata punya banyak pintu dan alasan, tetapi sistem memberinya cara yang sama: beli mekanismenya, ubah aturannya.
Hendra datang sore hari setelah mendengar kabar.
"Aku pernah ditolak klub itu tiga puluh tahun lalu," katanya sambil membaca surat. "Waktu itu aku belum cukup kaya untuk membenci mereka dengan elegan."
"Sekarang?"
"Sekarang aku ingin melihat wajah Harjono ketika kamu masuk sebagai pemilik."
Bayu mengangkat tangan. "Tolong jangan terlalu cepat menikmati. Saya perlu rapat dengan dua pemegang saham dulu. Orang tua kaya kalau menjual gengsi biasanya butuh alasan yang tidak membuat mereka terlihat butuh uang."
"Beri mereka alasan," kata Raka.
"Likuiditas, restrukturisasi, perlindungan warisan, bahasa-bahasa mahal untuk kata menjual. Saya bisa."
Malamnya, Bayu menelepon.
"Pak Raka, dua pemegang saham mayoritas siap melepas. Total Rp50.000. Dengan itu, PT Langit Sembilan menguasai 67 persen Klub Utama. Saya sarankan pakai anak perusahaan agar komite tidak sadar sebelum tanda tangan selesai."
Raka berdiri di depan jendela, memandang kota yang semakin banyak membuka wajah aslinya.
"Besok atur pertemuan."
Fajar, yang mendengar dari sofa, menyeringai.
"Bos, kita beli pintunya."
Raka menyentuh surat penolakan di saku jas.
Bayu kemudian meminta Fajar mencari daftar 47 nama yang pernah ditolak. Tidak semua data mudah ditemukan. Sebagian hanya ada dalam arsip PDF lama, sebagian tercatat sebagai permohonan tidak lengkap, sebagian lagi diberi kode internal yang halus: tidak sesuai profil klub. Bayu tertawa ketika membaca kode itu.
"Kalau orang hukum ingin jahat, bahasanya selalu wangi."
Raka meminta semua nama diverifikasi sebelum digunakan. Ia tidak ingin mengundang orang yang justru tidak mau mengingat penghinaan lama. Fajar menelepon beberapa nomor dengan nada sopan, tanpa menyebut rencana membeli klub. Reaksi mereka berbeda-beda. Ada yang tertawa getir, ada yang menutup telepon, ada yang bertanya apakah ini lelucon. Satu pengusaha perempuan berkata pelan bahwa ayahnya meninggal sebelum sempat melihat dirinya diterima di klub itu.
Cerita-cerita itu membuat surat penolakan di meja Raka terasa makin ringan, hampir kecil. Bagi dirinya, penolakan itu hanya satu pagi. Bagi sebagian orang, klub itu sudah menjadi luka bertahun-tahun. Maka pembelian ini bukan lagi sekadar membalas Harjono. Ini kesempatan mengubah mesin yang memproduksi rasa malu.
Hendra mengingatkan bahwa mengubah klub lama bisa memancing boikot anggota senior. Raka tidak takut, tetapi ia mendengar. Mereka menyiapkan dua langkah: audit keuangan untuk menekan komite yang bermasalah, dan program keanggotaan baru untuk membawa darah bisnis segar. Kalau anggota lama pergi karena tidak bisa lagi merendahkan orang, klub justru menjadi lebih sehat.
Raka juga meminta agar semua langkah akuisisi tidak bocor ke media. Fajar sempat kecewa karena judul berita sudah terbayang di kepalanya, tetapi Bayu menjelaskan bahwa kejutan hukum jauh lebih mematikan daripada teaser. Jika Harjono tahu terlalu cepat, ia bisa menghubungi anggota lama dan menciptakan drama pembatalan.
Maka malam itu kantor Menara Langit bekerja tanpa sorotan. Tidak ada unggahan, tidak ada live, tidak ada foto dokumen. Hanya pesan terenkripsi, panggilan pendek, dan Bayu yang semakin bersemangat setiap kali menemukan celah pasal. Raka melihat timnya bergerak rapi dan merasa puas. Kekayaan membeli kesempatan, tetapi disiplin membuat kesempatan itu tidak bocor sebelum waktunya.
Raka menyimpan salinan surat penolakan di Pocket Space. Benda itu akan berguna ketika Harjono pura-pura lupa nada yang ia pakai di gerbang.
Besok, surat itu tidak lagi menjadi penolakan. Ia akan menjadi undangan untuk pembalasan yang rapi, dingin, dan sah.
"Tidak. Kita beli seluruh rumahnya, berikut masalah yang mereka sembunyikan."