NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Menu Syukuran

Beberapa hari kemudian, daun bawang yang ditanam Laras di belakang dapur sudah cukup tinggi untuk dipotong.

Ia membawa gunting kecil dan keranjang, sementara Satya duduk di pangkuan Bu Titin di bawah naungan pohon mangga. Kangkung tumbuh di bedeng lembap. Cabai rawit mulai memerah di antara daun.

“Ini bisa menghemat belanja bumbu,” kata Laras.

Bu Titin memetik satu cabai. “Kalau semua rumah menanam, Bu Ratna bisa membuat lomba kebun.”

“Asal jangan saya yang diperiksa dulu.”

Mereka tertawa.

Suara pengeras dari kantor batalyon mengumumkan persiapan HUT batalyon. Sepekan lagi akan diadakan syukuran besar. Kolonel Sutrisno dijadwalkan hadir untuk kunjungan dan makan malam bersama prajurit serta keluarga.

Laras berhenti memotong daun bawang.

Kunjungan atasan berarti anggaran lebih besar, tetapi juga mata lebih banyak. Bagi dapur Parjo, itu bisa menjadi kesempatan atau kehancuran.

Benar saja, belum sampai satu jam, Parjo datang membawa lembar alokasi. Beras, ayam, daging sapi, telur, kelapa, dan bumbu disetujui dalam jumlah yang belum pernah ia pegang selama beberapa bulan.

“Bu Guru, tolong,” katanya tanpa pembuka.

“Yang memasak tetap Bapak dan anak buah.”

“Saya tahu. Tapi kalau saya salah mengolah daging sebanyak ini, bukan cuma nilai yang hilang. Kepala saya bisa ikut dimasak.”

Di dapur umum, dua prajurit sedang memisahkan kelapa parut. Parjo menunjukkan panci santan yang telah dipanaskan dengan api besar. Permukaannya pecah, bagian bawah mulai berbau gosong.

“Matikan,” kata Laras.

Parjo buru-buru mematikan kompor.

“Santan kental tidak bisa ditinggal. Api kecil, aduk dari dasar. Kalau untuk rendang, bumbu harus matang dulu. Kalau untuk minyak ayam, lemak dipanaskan pelan sampai bening, bukan dibakar.”

“Saya kira makin besar api makin cepat keluar minyaknya.”

“Yang cepat keluar justru bau hangus.”

Laras meminta mereka memulai ulang dengan panci kecil. Lemak ayam dipotong seragam, ditambah serai dan daun salam, lalu dipanaskan perlahan. Beberapa menit kemudian cairan bening terkumpul tanpa aroma amis.

Parjo mendekatkan sendok. “Ini bisa untuk bumbu tumpeng?”

“Sedikit. Jangan semua makanan dibuat berat.”

Ia berpindah ke santan. Bawang, kemiri, ketumbar, kunyit, lengkuas, dan serai dihaluskan. Laras tidak mengambil alih ulekan. Ia meminta prajurit muda mengulang sampai teksturnya benar.

“Pelatihan bukan pertunjukan tangan saya,” katanya. “Kalau hanya saya yang bisa, setelah syukuran dapur kembali sama.”

Parjo mengangguk. Sejak penilaian bulanan, ia mulai mengerti bahwa Laras tidak sekadar memberi resep. Perempuan itu mengubah urutan kerja.

Menjelang siang, minyak ayam terlihat jernih keemasan. Santan kental tidak pecah. Aroma daun salam dan serai menutup amis tanpa menutupi rasa bahan.

“Bu Guru,” panggil Parjo, lebih serius. “Bantu saya susun menu.”

Laras membuka lembar anggaran. “Berapa tamu utama?”

“Dua puluh. Prajurit dan keluarga lebih dari dua ratus.”

“Menu utama harus bisa dibuat banyak tanpa turun rasa. Tumpeng kuning untuk upacara. Ayam goreng kremes. Rendang untuk meja utama dan porsi terbatas di meja umum. Urap, tempe tahu bacem, telur pindang, sambal, lalapan.”

Parjo menghitung bahan. “Cukup?”

“Cukup kalau tempe dan sayur tidak dianggap pelengkap murahan. Buat enak, orang tidak akan hanya mencari daging.”

Seorang staf perbekalan datang memeriksa daftar. Laras meminta semua santan, kelapa, dan gula jawa masuk pembelian resmi, lengkap dengan jumlah. Ia tidak mau ada bahan “titipan” yang nanti bisa dipakai menuduh dapur bermain anggaran.

“Teliti sekali,” kata staf itu.

“Makanan habis dalam satu malam. Kertasnya tinggal lebih lama.”

Bu Titin membawa Satya masuk setelah bayi itu mulai rewel. Laras mencuci tangan, mengganti celemek, lalu menggendongnya. Satya langsung mencari dada.

“Saya ke belakang sebentar,” katanya.

Parjo mengangguk. “Kami ulang santannya.”

Saat Laras kembali, latihan kedua jauh lebih baik. Parjo bahkan sudah mengurangi api tanpa disuruh. Ia menyendok minyak jernih ke mangkuk kecil dan tertawa puas.

“Kalau begini, ayam goreng tidak bau.”

“Jangan senang dulu. Rendang semalaman lebih sulit.”

“Kalau Bu Guru ada, saya berani.”

“Jangan bergantung pada saya.”

“Saya bergantung pada catatan.” Parjo mengangkat buku yang penuh noda minyak.

Mereka menguji menu dengan porsi kecil sore itu. Nasi kuning pertama terlalu lembek karena santan dimasukkan tanpa mengurangi air. Laras menyuruh prajurit menandai tinggi cairan di panci, bukan menebak dengan jari saat jumlah beras berubah.

Ayam diungkep bersama serai, daun salam, lengkuas, dan air kelapa sampai bumbu meresap. Untuk kremes, Laras meminta adonan tepung beras dibuat encer, lalu dituangkan dari ketinggian ke minyak panas.

Prajurit pertama menuang terlalu dekat. Adonan menjadi gumpalan.

“Itu bakwan tersesat,” kata Laras.

Parjo tertawa sampai batuk. Percobaan kedua membentuk serpihan tipis dan renyah. Bunyi patahnya membuat semua orang di dapur menoleh.

“Nah, ini baru kremes,” ujar Parjo.

Urap menjadi pengaman anggaran. Kacang panjang, tauge, dan kol direbus terpisah agar tidak lembek. Kelapa berbumbu dikukus supaya tahan sampai malam. Laras meminta sambal dibuat dua tingkat, satu untuk tamu utama dan satu yang lebih ringan untuk keluarga.

“Kenapa repot dua sambal?” tanya prajurit muda.

“Karena anak dan orang tua juga makan. Pedas bukan ujian keberanian.”

Staf perbekalan mencatat semua perubahan. Total belanja masih berada di bawah batas karena sayur kebun dan tempe menahan biaya daging.

“Kalau sisa anggaran?” tanyanya.

“Simpan untuk es buah dan air minum. Tamu yang makan rendang pedas perlu minum cukup.”

Parjo memandangi susunan piring uji. Warna kuning tumpeng, hijau urap, cokelat bacem, merah sambal, dan kremes keemasan membuat meja dapur yang kusam tampak siap menyambut acara.

“Saya baru kali ini lihat bahan sederhana seperti bukan bahan sisa,” katanya.

“Jangan sebut sisa. Tempe dan sayur memberi makan lebih banyak orang daripada satu nampan daging.”

Laras mencatat waktu memasak setiap komponen. Rendang dimulai paling awal. Tumpeng dicetak terakhir. Kremes harus disimpan dalam wadah kering. Tidak ada bahan yang boleh bergantung pada satu orang.

“Kalau saya terlambat karena Satya, kalian tetap jalan,” katanya.

Parjo menepuk buku catatannya. “Siap, Bu Guru.”

Sebuah bayangan jatuh di pintu dapur.

Letkol Sudibyo berdiri bersandar pada kusen. Seragamnya rapi, senyumnya ringan, tetapi matanya terlalu lama mengikuti Laras saat perempuan itu meletakkan Satya ke gendongan Bu Titin.

Ia masuk tanpa diminta, mengambil sendok, lalu mengamati cairan keemasan dalam mangkuk.

“Harum,” katanya.

Parjo langsung berdiri tegak. “Siap, Komandan.”

Sudibyo mengangkat mangkuk ke arah cahaya. Pandangannya lalu beralih kepada Laras.

Suara pisau dan sendok di dapur berhenti satu demi satu. Bahkan Parjo tidak segera menjawab.

Pertanyaan itu terdengar lebih tajam daripada seharusnya.

“Minyak ini...” Ia berhenti seolah menikmati ketegangan yang muncul. “Siapa yang bikin?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!