Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
[ Tempat yang Paling Rahasia ]
Dua hari berlalu sejak Vincent mengajak Rhea ke bukit tempat kenangan masa kecilnya. Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Bukan karena ada ungkapan cinta, melainkan karena keheningan di antara mereka kini terasa jauh lebih nyaman daripada ribuan kata.
Pagi itu, Vincent kembali datang ke toko bunga.
"Apa hari ini kau sibuk?" tanyanya.
Rhea yang sedang merangkai bunga menggeleng.
"Tidak terlalu."
"Kalau begitu... ikut denganku."
Rhea mengangkat alis. "Ke mana lagi?"
Vincent tersenyum tipis.
"Kau akan tahu nanti."
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang.
Begitu turun dari mobil, terdengar suara anak-anak tertawa.
"Om Vincent!"
Belasan anak kecil langsung berlari menghampiri Vincent tanpa ragu. Salah seorang anak perempuan bahkan memeluk kakinya erat.
"Om janji datang hari ini!"
Vincent tertawa kecil sambil mengusap kepala anak itu.
"Iya. Om tidak lupa."
Rhea hanya berdiri memandangi pemandangan di depannya.
Tak ada aura menyeramkan.
Tak ada wajah dingin seorang bos mafia.
Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang disambut seperti keluarga.
"Om, siapa kakak cantik ini?" tanya seorang anak laki-laki.
Vincent menoleh ke arah Rhea.
Ia terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan,
"Dia... orang yang sangat penting."
Jantung Rhea berdegup lebih cepat.
Anak-anak langsung menarik tangan Rhea.
"Kakak, ayo main sama kami!"
Belum sempat menolak, Rhea sudah diajak berlari ke halaman belakang.
Tawa anak-anak memenuhi udara.
Untuk pertama kalinya sejak menjalankan misi ini...
Rhea benar-benar lupa bahwa dirinya sedang menyamar.
Siang harinya, mereka makan bersama di aula panti.
Seorang perempuan tua menghampiri Vincent sambil membawa teh hangat.
"Terima kasih sudah datang lagi, Nak."
Vincent tersenyum hormat.
"Bagaimana kesehatan Ibu?"
"Jauh lebih baik."
Perempuan itu kemudian menoleh kepada Rhea.
"Kamu pasti Rhea."
Rhea sedikit terkejut.
"Ibu mengenal saya?"
Vincent tersenyum kecil.
"Aku pernah bercerita tentangmu."
Rhea menoleh cepat ke arah Vincent.
"Bercerita?"
"Iya."
Perempuan tua itu terkekeh pelan.
"Sudah bertahun-tahun saya mengenal Vincent."
"Belum pernah sekalipun dia membawa seorang perempuan ke sini."
"Apalagi menceritakan seseorang dengan wajah seperti itu."
"Wajah seperti apa, Bu?" tanya Rhea malu.
"Wajah orang yang sedang jatuh cinta."
Rhea spontan tersedak minumannya.
Sementara Vincent hanya tersenyum tipis tanpa membantah sedikit pun.
Menjelang sore, anak-anak mulai bermain di halaman.
Vincent duduk di bawah pohon besar sambil memandangi mereka.
Rhea menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Mereka sangat menyayangimu."
Vincent mengangguk pelan.
"Dulu... aku pernah seperti mereka."
"Maksudmu?"
"Aku pernah kehilangan rumah."
"Kehilangan keluarga."
"Kalau bukan karena seseorang yang menolongku..."
"...mungkin aku juga akan tumbuh di tempat seperti ini."
Rhea menatap wajah Vincent.
"Makanya kau selalu membantu mereka?"
Vincent tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin ada anak yang tumbuh dengan kebencian seperti yang pernah kurasakan."
Kalimat itu menghantam hati Rhea.
Selama ini, ia selalu menganggap Vincent adalah sumber dari begitu banyak penderitaan.
Namun kini...
Ia melihat seorang pria yang diam-diam berusaha mencegah anak-anak lain mengalami masa kecil yang sama dengannya.
Saat matahari mulai tenggelam, mereka berpamitan.
Sebelum mobil berangkat, anak perempuan kecil yang tadi memeluk Vincent berlari menghampiri.
"Om!"
Vincent membuka kaca mobil.
"Ada apa?"
Anak itu menunjuk ke arah Rhea sambil tersenyum lebar.
"Kak Rhea cantik."
Vincent ikut tersenyum.
"Iya."
"Om jangan lama-lama ya."
"Kenapa?"
"Soalnya..."
Anak itu berbisik pelan, tetapi masih bisa didengar Rhea.
"Nanti Kak Rhea diambil orang lain."
Semua orang tertawa.
Vincent hanya mengacak rambut anak itu.
"Itu tidak akan terjadi."
Rhea yang mendengar ucapan itu hanya mampu menundukkan kepala.
Dadanya terasa sesak.
Karena ia tahu...
Bukan orang lain yang akan pergi.
Melainkan dirinya sendiri.
Malam itu, setelah mengantar Rhea pulang, Vincent duduk sendirian di dalam mobil.
Ia membuka kembali kotak beludru hitam yang selalu dibawanya.
Sepasang cincin itu berkilau diterpa cahaya lampu jalan.
Vincent tersenyum kecil.
"Tunggu sedikit lagi..." bisiknya.
"Kalau semua urusanku selesai... aku akan meninggalkan dunia ini."
"Lalu memulai hidup baru bersamamu, Rhea."
Di apartemennya, Rhea berdiri memandangi kota dari balik jendela.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Komandan.
"Operasi penangkapan memasuki tahap akhir. Bersiaplah."
Rhea memejamkan mata.
Setetes air mata jatuh tanpa mampu ia cegah.
Untuk pertama kalinya...
Ia berharap pesan itu tidak pernah datang. 💔