NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Ja'far

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ghazi.

Kalimat itu...

Persis seperti yang pernah dikatakan Ja'far beberapa hari lalu.

Seolah Allah mengirimkan pesan yang sama melalui orang-orang yang paling ia cintai.

Di waktu yang hampir bersamaan...

Lampu di ruang kerja Klinik Arafah Medika masih menyala.

Adzra belum pulang.

Di hadapannya terbuka beberapa berkas hasil rapat dengan Yayasan Wakaf Produktif Kesehatan.

Nabila mengetuk pintu pelan.

"Belum selesai juga?"

Adzra tersenyum kecil.

"Tinggal sedikit."

Nabila melangkah masuk sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Tadi seminar sukses."

"Alhamdulillah."

"Capek?"

"Sedikit."

Nabila duduk di hadapannya.

"Aku lihat banyak dokter muda yang mengerubungimu setelah acara."

"Mereka hanya bertanya."

"Bukan hanya bertanya."

"Mereka terinspirasi."

Adzra terkekeh pelan.

"Kamu ini."

Nabila ikut tersenyum.

Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah lebih serius.

"Dra..."

"Iya?"

"Aku bersyukur."

"Kenapa?"

"Karena Allah memperluas manfaatmu."

"Bukan hanya lewat pasien."

"Tapi juga lewat ilmu."

Adzra terdiam.

Ia tidak pernah memikirkan hal itu.

Baginya, seminar tadi hanyalah satu bentuk tanggung jawab sebagai dokter.

Namun ucapan sahabatnya membuatnya merenung.

Mungkin benar.

Kadang Allah memperluas ladang amal seseorang...

dengan cara yang tidak pernah ia rencanakan.

***

Malam semakin larut.

Setelah Nabila pulang, Adzra berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Lampu-lampu jalan mulai redup.

Klinik telah sepi.

Ia memandang papan nama bertuliskan Arafah Medika yang berdiri kokoh di halaman depan.

Dulu...

Tempat ini hanya berupa bangunan sederhana dengan beberapa ruang pemeriksaan.

Kini...

Allah mempercayakan lebih banyak pasien.

Lebih banyak amanah.

Dan mungkin...

Sebentar lagi, sebuah rumah sakit.

Adzra menundukkan kepala.

Lalu berbisik pelan,

"Ya Allah..."

"Jangan pernah biarkan besarnya amanah membuatku lupa menjadi hamba-Mu."

Di rumah yang berbeda...

Ghazi juga sedang mengangkat kedua tangannya setelah salat malam.

Sudah lama ia tidak menangis dalam doa.

Namun malam itu...

Ada satu kalimat yang terus berulang di bibirnya.

"Ya Allah..."

"Kalau Engkau belum mengizinkanku memperbaiki masa lalu..."

"Setidaknya izinkan aku meminta maaf dengan cara yang paling Engkau ridai."

Dua doa.

Dua rumah.

Dua hati.

Yang belum mengetahui...

bahwa Allah sedang menyiapkan waktu terbaik untuk mempertemukan keduanya kembali.

***

Pagi itu, langit Bandung tampak cerah setelah semalaman diguyur hujan.

Embun masih menggantung di dedaunan ketika Klinik Arafah Medika mulai membuka pelayanan.

Seperti biasa, Rini telah lebih dulu berada di meja administrasi.

Beberapa pasien mulai berdatangan.

Sementara di ruang praktik, Adzra memeriksa kembali daftar antrean hari itu.

"Dra."

Nabila masuk sambil membawa secangkir kopi.

"Ada yang ingin ketemu."

Adzra mengangkat kepala.

"Pasien?"

"Bukan."

"Perwakilan Safa Amanah Tour."

Adzra mengangguk pelan.

"Mungkin soal jadwal pemeriksaan jamaah."

"Aku juga pikir begitu."

"Suruh masuk saja setelah pasien ini selesai."

***

Lima belas menit kemudian.

Pintu ruang konsultasi diketuk perlahan.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Ja'far melangkah masuk sambil membawa sebuah map tipis.

"Maaf mengganggu waktu praktik, Dok."

"Tidak apa-apa, silakan duduk."

Ja'far tersenyum sopan.

"Mas Ghazi sebenarnya ingin datang."

"Tapi ada rapat mendadak dengan pihak maskapai."

Adzra mengangguk.

"Tidak masalah."

"Apakah ada perubahan jadwal?"

Ja'far membuka map yang dibawanya.

"Alhamdulillah justru sebaliknya."

"Kami mengevaluasi sistem pemeriksaan kesehatan."

Ia menyerahkan beberapa lembar jadwal baru.

"Mulai keberangkatan berikutnya, pemeriksaan dibagi menjadi beberapa gelombang."

Adzra membaca cepat.

Matanya sedikit membesar.

"Ini..."

"Jadwalnya jauh lebih longgar."

Ja'far mengangguk.

"Mas Ghazi yang mengusulkan."

"Biar tim Arafah Medika tidak terlalu terbebani."

Adzra terdiam.

Ia kembali membaca setiap halaman.

Data jamaah kini telah dikelompokkan.

Riwayat kesehatan dikirim lebih awal.

Lansia mendapat jalur khusus.

Semuanya jauh lebih rapi dibanding sebelumnya.

"Ini akan sangat membantu."

Suara Adzra terdengar tulus.

Ja'far tersenyum.

"Itu memang harapan kami."

***

Beberapa saat suasana menjadi hening.

Ja'far tampak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Dok..."

"Iya?"

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

Adzra mengangguk.

"Tentu."

"Menurut Dokter..."

"...apa seseorang masih pantas meminta maaf setelah bertahun-tahun?"

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba.

Adzra menatap Ja'far beberapa saat.

Ia tidak bertanya siapa yang dimaksud.

Sebagai dokter, ia terbiasa menjawab tanpa terburu-buru.

"Kalau menurut saya..."

"...meminta maaf tidak pernah terlambat."

Ja'far mendengarkan dengan saksama.

"Tetapi..."

Adzra melanjutkan pelan.

"...permintaan maaf bukanlah alat untuk menghapus luka."

"Luka tetap pernah ada."

"Yang bisa dilakukan hanyalah mengakui kesalahan dengan tulus, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah dan kepada orang yang disakiti."

Ja'far mengangguk perlahan.

"Artinya..."

"...belum tentu dimaafkan?"

Adzra tersenyum tipis.

"Setiap orang punya prosesnya."

"Memaafkan adalah pilihan."

"Meminta maaf adalah kewajiban."

"Jangan mencampuradukkan keduanya."

Kalimat itu begitu sederhana.

Namun terasa mengendap di hati Ja'far.

Ia sadar...

Jawaban itu bukan hanya untuk dirinya.

***

Setelah berpamitan, Ja'far langsung menuju parkiran.

Ia tidak segera menyalakan mobil.

Sebaliknya, ia membuka ponselnya.

Beberapa detik kemudian sebuah pesan terkirim.

Mas.

Saya sudah menyerahkan jadwal baru.

Dokter Adzra mengucapkan terima kasih.

Tak sampai satu menit.

Balasan datang.

Alhamdulillah.

Ja'far membaca lagi.

Tidak ada pertanyaan tentang Adzra.

Tidak ada pertanyaan tentang keadaan klinik.

Tidak ada pertanyaan lain.

Namun ia tahu.

Sepupunya sedang menahan diri.

***

Menjelang siang.

Ghazi membaca laporan yang baru saja dikirim Ja'far.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tambahan.

Saya sempat bertanya kepada Dokter Adzra tentang makna meminta maaf setelah bertahun-tahun.

Ghazi menghentikan bacaannya.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia segera membaca lanjutan pesannya.

Beliau berkata, "Meminta maaf tidak pernah terlambat. Tetapi jangan berharap permintaan maaf menghapus luka. Meminta maaf adalah kewajiban. Dimaafkan adalah hak orang yang pernah disakiti."

Ghazi memejamkan mata.

Kalimat itu seperti mengetuk dinding yang selama ini ia bangun sendiri.

Selama ini...

Ia takut meminta maaf karena membayangkan penolakan.

Padahal...

Bukankah meminta maaf memang tidak pernah bergantung pada diterima atau tidaknya?

Ia menyandarkan kepala ke kursi.

Lama.

Sangat lama.

Hingga akhirnya ia mengambil napas dalam.

Lalu meraih ponselnya.

Nama pertama yang ia buka bukanlah Adzra.

Melainkan...

Ibu.

"Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumussalam, Ghazi."

Suara Siti Maryam terdengar hangat.

"Ibu sedang sibuk?"

"Tidak."

"Ada apa?"

Ghazi terdiam beberapa saat.

"Bu..."

"Iya?"

"Saya rasa..."

"...sudah waktunya."

Siti Maryam tidak langsung bertanya.

Seolah beliau telah memahami maksud putranya.

"Mau menemui Adzra?"

"Iya."

"Bukan untuk meminta kembali."

"Bukan untuk mengganggu hidupnya."

"Saya hanya ingin..."

"...menyampaikan permintaan maaf yang seharusnya sudah saya ucapkan sejak dulu."

Di seberang sana terdengar isak yang sangat pelan.

Siti Maryam menutup matanya.

Air mata syukur jatuh tanpa mampu ia tahan.

"Kalau itu niatmu..."

"...perbaiki dulu niatmu kepada Allah."

"Jangan datang membawa harapan untuk diterima."

"Datanglah membawa tanggung jawab."

Ghazi mengangguk, meski ibunya tidak dapat melihatnya.

"Insyaallah, Bu."

Telepon berakhir.

Ghazi menatap jendela ruang kerjanya.

Untuk pertama kalinya...

Keputusan itu tidak lagi terasa menakutkan.

Masih ada gugup.

Masih ada rasa tidak pantas.

Tetapi kini...

Ia tahu apa yang harus dilakukan.

Bukan sebagai mantan suami.

Melainkan sebagai seorang muslim yang ingin menyelesaikan amanahnya kepada sesama manusia.

Sementara itu, di Klinik Arafah Medika, Adzra kembali mengenakan stetoskopnya.

Nomor antrean berikutnya telah dipanggil.

Ia sama sekali tidak mengetahui...

Bahwa sebuah keputusan besar baru saja lahir di tempat yang berbeda.

Keputusan yang akan mempertemukan masa lalu dan masa kini...

bukan untuk mengulang luka,

melainkan untuk menuntaskan sebuah permintaan maaf.

Bersambung...

1
Elyanna
yuk update lagiiiii
Anonim
cerita cewek lemah lagi ? cewek gampang dibujuk lagi? ah kusooo
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!